Lewati ke konten utama
Selasa, 13 Oktober 2026 / 2 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Menjemput Pertolongan Allah dengan Memuliakan Kaum Lemah
Ilustrasi seorang muslim memperhatikan anak-anak yatim. Foto: Pinterest
Opini

Menjemput Pertolongan Allah dengan Memuliakan Kaum Lemah

Menjemput Pertolongan Allah dengan Memuliakan Kaum Lemah

/ 2 Jumadil Awal 1448 H 9 menit baca 87 dibaca
KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Kemajuan sebuah masyarakat mudah terlihat dari gedung-gedungnya, pertumbuhan ekonominya, dan luasnya jaringan para pemimpinnya. Namun, mutu peradaban memerlukan ukuran yang lebih mendasar, yaitu bagaimana masyarakat itu memperlakukan orang-orang yang paling sedikit memiliki kemampuan untuk membela diri.

Pernyataan ini relevan bagi keluarga, masjid, pesantren, dunia usaha, hingga penyelenggara negara. Di tengah penghormatan terhadap kekayaan dan pengaruh, mereka yang tidak memiliki keduanya mudah kehilangan perhatian. Pekerjaannya dibutuhkan, tetapi kesejahteraannya luput dari perhitungan. Kehadirannya diterima, tetapi suaranya jarang didengar.

Rasulullah SAW memberikan teladan yang menyentuh persoalan ini. Dalam sebuah riwayat sahih, beliau menanyakan seseorang yang biasa membersihkan masjid setelah tidak lagi melihatnya. Para sahabat menyampaikan bahwa orang tersebut telah meninggal. Beliau mempertanyakan mengapa mereka tidak memberitahukannya, kemudian meminta ditunjukkan kuburnya dan menyalatkannya di sana.

Kisah tersebut tercantum dalam Shahih Bukhari, no. 458, dan Shahih Muslim, no. 956. Terdapat keraguan perawi mengenai apakah orang tersebut perempuan atau laki-laki. Namun, inti peristiwanya jelas, bahwa Rasulullah SAW mengenali, memperhatikan, dan menghormati seseorang yang pekerjaannya mungkin dianggap sederhana oleh masyarakat.

Peristiwa itu memperlihatkan kedalaman perhatian Nabi. Orang yang membersihkan masjid mempunyai tempat dalam ingatan beliau. Ketidakhadirannya diperhatikan, kepergiannya dipandang sebagai kehilangan, dan jasanya memperoleh penghormatan.

Dalam kerangka inilah sabda berikut harus direnungkan:

ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carikanlah untukku orang-orang yang lemah. Sesungguhnya kalian diberi rezeki dan pertolongan karena orang-orang lemah di antara kalian.” (HR Abu Dawud)

Kata “ibghuni” (ابْغُونِي) mengandung perintah aktif untuk mencari. Muhammad Syamsul Haq al-Adzim Abadi dalam ‘Aun al-Ma‘bud menjelaskan “carikanlah untukku”, dengan makna “perhatian” kepada orang-orang yang dipandang lemah karena keadaan hidup mereka.

Ada gerak yang penting dalam perintah tersebut, yaitu mendekat, mengenali, dan memperhatikan. Kepedulian tidak selalu dapat menunggu orang datang mengajukan permohonan. Sebagian orang terlalu menjaga kehormatannya untuk meminta. Sebagian lainnya tidak mengetahui ke mana harus mencari bantuan, atau takut kesulitannya justru menjadi bahan pembicaraan.

Seorang pekerja mungkin tetap tersenyum ketika biaya pengobatan keluarganya belum tersedia. Seorang ibu tetap mengantar anak ke sekolah meskipun kebutuhan dapurnya menipis. Seorang santri tetap mengikuti pelajaran ketika orang tuanya sedang kesulitan memenuhi biaya pendidikan. Kesusahan tidak selalu mempunyai suara yang keras. Karena itu, ia memerlukan kepekaan untuk dikenali.

Istilah “lemah” pun tidak patut dijadikan label yang merendahkan seseorang. Dalam penerapan sosial masa kini, kerentanan dapat lahir dari kemiskinan, penyakit, usia lanjut, hambatan akses, atau ketimpangan posisi tawar. Seseorang mungkin memiliki kecakapan dan kemauan yang kuat, tetapi keadaan membuatnya sulit memperoleh kesempatan dan mempertahankan hak.

Hadis tersebut sekaligus mengoreksi anggapan bahwa keberhasilan hanya ditentukan oleh mereka yang mempunyai sumber daya besar.

Dalam riwayat lain diterangkan dimensi spiritualnya. Nabi SAW bersabda:

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا، بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

“Sesungguhnya Allah menolong umat ini melalui orang-orang lemahnya: melalui doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” (HR Nasa’i)

Doa, shalat, dan keikhlasan merupakan sumbangan yang tidak dapat dihitung dengan ukuran ekonomi. Orang yang tidak mampu memberi banyak secara material tetap dapat memiliki kedudukan mulia di hadapan Allah.

Dalam Fath al-Bari, Ibn Hajar menukil penjelasan Ibn Baththal bahwa orang-orang lemah dapat mempunyai keikhlasan doa dan kekhusyukan ibadah yang kuat karena hati mereka lebih jauh dari keterikatan kepada kemegahan dunia. Ia juga mengutip al-Muhallab yang menjelaskan bahwa sabda Nabi tersebut bertujuan menumbuhkan kerendahan hati, menghilangkan kesombongan, dan mencegah penghinaan terhadap seorang muslim.

Ibn Hajar kemudian menunjukkan bahwa kelebihan manusia dapat berbeda. Mungkin seseorang unggul dalam keberanian, sedangkan yang lain mempunyai kelebihan dalam doa dan keikhlasan.

Namun, di sini perlu juga dicatat, bahwa penjelasan ini tidak menjadikan kemiskinan sebagai jaminan kesalehan. Ia mengingatkan bahwa kedudukan sosial tidak cukup untuk menilai mutu seseorang. Kekayaan tidak membuktikan kemuliaan, sebagaimana keterbatasan ekonomi tidak membuktikan rendahnya martabat.

Bagi seorang pemimpin, kesadaran tersebut mendidik kerendahan hati. Ia tetap wajib bekerja dengan pengetahuan, perencanaan, dan tanggung jawab. Namun, keberhasilan tidak selayaknya melahirkan perasaan bahwa seluruh hasil merupakan miliknya sendiri. Ada kerja banyak orang yang menopangnya, ada hak-hak yang harus dijaganya, dan ada pertolongan Allah yang tidak berada dalam kendalinya.

Terkait hal itu, Alquran sudah meletakkan dasar yang sejalan. Allah SWT berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka pada pagi dan petang dengan mengharapkan keridhaan-Nya.” (QS. Al-Kahf: 28)

Ibn Katsir menjelaskan bahwa perintah ini mencakup kebersamaan dengan orang-orang yang mengingat Allah, baik kaya maupun miskin, kuat maupun lemah. Kehormatan dalam ruang keagamaan tidak ditentukan oleh kemampuan ekonomi orang yang hadir di dalamnya.

Pesannya terasa dekat dengan kehidupan kita. Orang sederhana semestinya merasa diterima di majelis ilmu. Anak dari keluarga miskin semestinya memperoleh penghormatan yang sama di sekolah. Jamaah yang tidak mampu menyumbang semestinya tetap mendapatkan perhatian dalam kehidupan masjid.

Kebersamaan itu perlu disertai pengelolaan sumber daya yang adil. Allah berfirman:

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

“Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Konteks langsung ayat ini ialah pembagian harta “fai’”, yaitu harta yang diperoleh dari pihak lawan tanpa peperangan. Ibn Katsir menjelaskan penyalurannya kepada pihak-pihak yang disebutkan dalam ayat, termasuk anak yatim, orang miskin, dan musafir.

Lalu, dari ketentuan tersebut dapat ditarik pelajaran sosial bahwa pengelolaan kekayaan perlu memperhatikan mereka yang mudah tersisih dari manfaatnya.

Pada titik ini, kepedulian berkembang menjadi tanggung jawab kelembagaan. Beasiswa memerlukan kriteria yang adil. Bantuan memerlukan pendataan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pekerja memerlukan pembayaran hak secara tepat waktu. Orang yang mengalami perlakuan tidak layak memerlukan saluran pengaduan yang aman. Ketulusan memperoleh daya jangkau yang lebih luas ketika diwujudkan dalam tata kelola.

Surat Al-Ma‘un mempertegas hubungan antara keberagamaan dan tanggung jawab tersebut. Allah berfirman:

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ. وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong pemberian makanan kepada orang miskin.” (QS. Al-Ma‘un: 2–3)

Ibn Katsir menjelaskan bahwa menghardik anak yatim mencakup menzaliminya dan tidak memberikan haknya. Teguran terhadap orang yang tidak mendorong pemberian makanan juga memperlihatkan pentingnya menggerakkan kepedulian bersama.

Seseorang mungkin belum mampu menanggung seluruh kebutuhan orang lain, tetapi dapat mempertemukannya dengan pihak yang mampu membantu. Guru dapat membuka jalan beasiswa, imam dapat menggerakkan jamaah, dan pengurus dapat memperbaiki prosedur pelayanan. Kepedulian mempunyai ruang bagi hampir setiap orang.

Keteladanan Aplikatif

Sejarah Indonesia memberikan contoh konkret. Menurut catatan sejarah yang diterbitkan situs resmi Muhammadiyah, Kiai Sudja’ mengajukan gagasan pendirian rumah sakit, rumah miskin, dan rumah yatim dalam rapat Muhammadiyah pada 17 Juni 1920. Sebagian peserta menyampaikan keberatan, tetapi KH Ahmad Dahlan mendukungnya. Pada 13 Januari 1923, Roemah Miskin didirikan, disusul peresmian rumah sakit pertama Muhammadiyah pada 15 Februari 1923.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana kesadaran keagamaan melahirkan pelayanan sosial yang berkelanjutan. Kepedulian memerlukan keberanian memulai, kesediaan mengurus, dan ketekunan mempertahankan manfaatnya. Sesudah rasa haru dalam sebuah acara santunan berlalu, kebutuhan manusia tetap berlangsung.

Pemikiran para pakar membantu memperjelas arah pemberdayaan ini. Amartya Sen menekankan bahwa kesejahteraan perlu dinilai melalui kemampuan dan kesempatan nyata seseorang untuk menjalani kehidupan yang bernilai. Pendapatan penting, tetapi kesehatan dan keadaan lain turut menentukan apa yang dapat dilakukan seseorang.

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan bantuan perlu dilihat dari perubahan kehidupan penerimanya. Apakah seorang anak dapat melanjutkan sekolah? Apakah orang sakit memperoleh pengobatan? Apakah pekerja meningkatkan keterampilan? Apakah penyandang disabilitas memperoleh akses yang memungkinkan kemandirian? Jumlah bantuan yang tersalurkan perlu diikuti perhatian terhadap manfaat yang bertahan.

Dimensi psikologisnya juga penting. Penelitian Anandi Mani, Sendhil Mullainathan, Eldar Shafir, dan Jiaying Zhao dalam Science pada 2013 menemukan bahwa beban persoalan keuangan dapat mengurangi sumber daya mental yang tersedia untuk tugas lain. Temuan ini menunjukkan pengaruh keadaan kekurangan terhadap kinerja kognitif dalam konteks penelitian, bukan rendahnya kecerdasan bawaan orang miskin.

Implikasinya, pelayanan perlu memahami beban yang sedang dihadapi seseorang. Prosedur yang rumit dapat menambah kesulitan orang yang perhatiannya sudah terbagi antara pekerjaan, biaya pengobatan, dan kebutuhan keluarga. Pendampingan yang sabar serta persyaratan yang proporsional membantu mereka memperoleh hak secara lebih efektif.

Dari pembacaan ini, kita dapat memahami kemungkinan dampak sosial kepedulian terhadap kaum lemah. Penghormatan membantu menumbuhkan rasa memiliki. Perlindungan hak memperkuat kepercayaan. Akses pendidikan dan kesehatan membuka peluang kemandirian. Saluran pengaduan yang aman membantu mengoreksi ketimpangan kuasa. Semua itu merupakan analisis sosial atas nilai hadis, yang penerapannya tetap perlu dievaluasi sesuai keadaan masyarakat.

Bagi pesantren, masjid, dan lembaga pendidikan, langkahnya dapat dimulai dari keseharian: mengenal pekerja, mendengar kesulitan mereka, menjaga kerahasiaan keadaan keluarga, serta memastikan bantuan tidak bergantung pada kedekatan pribadi. Anak-anak dan santri pun belajar bahwa kepemimpinan mencakup kemampuan melindungi orang yang paling sulit membela dirinya.

Dalam seluruh proses itu, martabat penerima harus dijaga. Ia berhak memahami bantuan yang diberikan, menyampaikan kebutuhan, dan menentukan persetujuan atas dokumentasi dirinya. Kesulitannya tidak patut dijadikan bahan tontonan atau alasan untuk menuntut kepatuhan.

Menghormati kaum lemah harus berjalan bersama usaha mengatasi keadaan yang melemahkan mereka. Doa dan keikhlasan mereka dihargai, sementara akses, kesempatan, dan haknya diperjuangkan. Dengan demikian, keberkahan akan terus hadir.

Sebuah Nasihat

Memperhatikan kaum duafa, anak-anak yatim, dan keluarga fakir miskin selayaknya menjadi tradisi dalam kehidupan kita. Luangkan waktu untuk menjumpai mereka. Tanyakan keadaan mereka, dengarkan kebutuhannya, lalu hadirkan pertolongan sesuai kemampuan. Kedekatan semacam ini menjaga kepekaan hati sekaligus menghidupkan pesan Nabi di atas: “Carikanlah untukku orang-orang yang lemah.”

Perhatian yang tulus dapat menjadi sebab datangnya pertolongan dan rezeki dari Allah. Dalam bahasa pengharapan, kepedulian itu mengetuk pintu langit. Kita berusaha meringankan kesulitan sesama sambil memohon agar Allah membimbing dan menolong kehidupan kita. Di tengah ikhtiar yang kita susun, ada doa dan keikhlasan orang-orang sederhana yang patut dihargai.

Ketika hendak membuka usaha, misalnya, sertakan kepedulian sosial sejak awal. Carilah saudara kita yang sedang kesulitan, cukupkan makanannya, bantu kebutuhan pakaiannya, atau bukakan kesempatan bekerja. Hadirkan bantuan yang membuat mereka lebih sehat, terawat, dan tenang. Dengarkan apa yang benar-benar mereka perlukan, agar kebaikan kita memberi manfaat sekaligus menjaga kehormatannya.

Demikian pula ketika hendak menikah atau menyelenggarakan suatu hajat. Sediakan ruang dalam anggaran dan perhatian kita untuk berbagi kebahagiaan. Di tengah persiapan acara, ingatlah keluarga yang kesulitan membeli makanan, anak yatim yang membutuhkan perlengkapan sekolah, atau orang sakit yang belum mampu berobat. Kebahagiaan kita menjadi lebih luas maknanya ketika turut menghadirkan kelegaan dalam kehidupan orang lain.

Lakukanlah dengan ikhlas, disertai ikhtiar yang sungguh-sungguh dan doa kepada Allah. Kita boleh berharap keberkahan atas usaha, pernikahan, dan hajat yang sedang dipersiapkan, sementara bentuk serta waktu pertolongan tetap berada dalam kebijaksanaan-Nya. Kepedulian itu pun layak diteruskan sesudah hajat selesai, sehingga tumbuh menjadi kebiasaan yang menetap.

Alangkah indahnya apabila setiap rencana besar dalam hidup disertai pertanyaan sederhana: siapa yang dapat kita ringankan bebannya dan kita bahagiakan hari ini?

Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada teladan Rasulullah SAW yang memperhatikan seseorang yang membersihkan masjid. Di balik pekerjaan yang jarang disebut, ada manusia yang berhak dikenali dan dihormati. Di balik keterbatasan seseorang, mungkin ada doa yang tulus dan keteguhan yang tidak kita ketahui.

Kekuatan umat tumbuh ketika mereka memperoleh tempat yang bermartabat: didengar saat kesulitan, dilindungi ketika rentan, dan dibantu untuk mandiri. Dengan memuliakan mereka, kita menjalankan tanggung jawab kepada sesama sekaligus berharap memperoleh pertolongan dari Allah, sumber segala rezeki dan keberkahan.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads