Lewati ke konten utama
Rabu, 14 Oktober 2026 / 3 Jumadil Awal 1448 H
Jadwal memuat...
“Naza” dan Kesaksian dari Atap Tel Aviv
Poster resmi film NAZA, sebuah film dokumenter tahun 2026 yang ditulis dan disutradarai oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor. Film tersebut mengisahkan pembantaian massal warga sipil Palestina oleh pasukan Israel pada Perang Gaza, melalui 24 wawancara dengan pihak militer dan intelijen Israel yang disamarkan. Foto: ma.to
Opini

“Naza” dan Kesaksian dari Atap Tel Aviv

“Naza” dan Kesaksian dari Atap Tel Aviv

/ 3 Jumadil Awal 1448 H 7 menit baca 266 dibaca
Dr Yanuardi Syukur

Oleh: Dr Yanuardi Syukur

Pengurus Komisi HLNKI MUI/Dosen Antropologi Universitas Khairun

Admin Admin Editor: Admin

Jakarta, MUI Digital — Film “Naza” adalah dokumenter yang mengguncang dunia karena membongkar sistem di balik operasi militer Israel di Gaza melalui kesaksian 24 tentara dan personel intelijen Israel.

Film tersebut mengekspos sebuah sistem, bukan pelanggaran terisolasi, dengan menunjukkan bahwa pembunuhan massal warga sipil Palestina bukanlah produk sampingan yang tragis, melainkan perencanaan, kalkulasi, dan aksi yang diniatkan.

Film “Naza” bukan sekadar dokumenter. Ia adalah “gempuran moral” yang datang dari tempat yang paling tidak terduga, yakni dari dalam sistem militer Israel sendiri.

Dua puluh empat tentara dan personel intelijen Israel—orang-orang yang pernah menjadi bagian dari mesin perang—berbicara di depan kamera, dengan identitas disembunyikan, tentang bagaimana target dipilih, bagaimana serangan direncanakan, dan seberapa besar “toleransi” yang diberikan untuk kematian warga sipil. Mereka menyebutnya “Naza”, akronim dari “Nezek Agavi”, yaitu kerusakan tambahan (collateral damage). Sebuah eufemisme untuk kematian yang diperhitungkan.

Meskipun bukan tentang pengakuan bersalah, film ini memang menampilkan beragam sikap dari para narasumber. Beberapa dari mereka mengungkapkan perasaan bersalah dan penyesalan atas keterlibatan mereka. Namun, ada juga yang melihat diri mereka sebagai “roda gigi” dalam mesin perang yang diperlukan, dan sebagian lainnya berbicara dengan ketidakpedulian atau bahkan kebanggaan.

Film ini disutradarai oleh Yuval Abraham dan Rachel Szor, sineas Israel yang sebelumnya dikenal melalui film pemenang Oscar, No Other Land. Keduanya bukan figur yang mendukung kebijakan pemerintah Israel. Abraham secara eksplisit menyatakan bahwa ia merasa memiliki tanggung jawab sebagai warga Israel untuk mengungkap sistem yang ia nilai bertanggung jawab atas pembunuhan massal warga sipil Palestina.

Dalam tulisannya, “NAZA documentary about IDF tactics in Gaza prompts ‘treason’ accusations in Israel”, koresponden Timur Tengah Australian Broadcasting Corporation (ABC), Caitlin Kelly dan Sami Sockol (19/9/2026) menulis tentang intensi dua jurnalis tersebut dalam membuat film ini sebagai berikut:

“Abraham said he and Szor had felt a responsibility as Israelis to use their position and ability to gain confidence and bring ‘insider testimony’ into how the system looks like from the inside, the ‘system of killing’.”

(Abraham mengatakan bahwa ia dan Szor merasa memiliki tanggung jawab sebagai orang Israel untuk menggunakan posisi dan kemampuan mereka guna mendapatkan kepercayaan dan menghadirkan ‘kesaksian orang dalam’ tentang bagaimana sistem itu terlihat dari dalam, yakni ‘sistem pembunuhan’.)

Film ini diproduksi oleh The Guardian dan James Wilson, dengan Jonathan Glazer—sutradara The Zone of Interest yang dikenal kritis terhadap okupasi—sebagai produser eksekutif (China Daily, 17/9/2026).

Nilai strategis “Naza” terletak pada posisi para narasumbernya. Mereka adalah orang dalam. Mereka berbicara tentang sistem, bukan tentang insiden yang terisolasi. Wawancara dilakukan secara rahasia pada malam hari di atap-atap gedung Tel Aviv, dengan suara dan wajah disamarkan.

Film ini mengungkap bagaimana Israel menargetkan pejabat Hamas dengan bantuan kecerdasan buatan, serta bagaimana jumlah korban sipil yang diperkirakan tewas dihitung sebelum serangan diotorisasi (Kompas.id, 7/10/2026).

Kesaksian semacam ini memiliki bobot pembuktian yang berbeda dari laporan organisasi HAM atau liputan jurnalistik. Ia adalah pengakuan dari pelaku. Abraham menyatakan bahwa yang terpenting baginya adalah pernyataan para tentara dan perwira dalam film. Mereka berbicara dalam bahasa Ibrani karena mereka ingin mencapai populasi Israel. Mereka ingin orang-orang di rumah mendengar apa yang mereka lakukan di Gaza.

Respons dari Israel sangat keras. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut film ini “keterlaluan” (outrageous) dan menuduhnya berkontribusi pada hasutan antisemit global (global antisemitic incitement).

Menteri Kebudayaan Miki Zohar menuduh para sutradara melakukan “pengkhianatan terhadap negara” (treason against the state) dan menyerukan pencabutan kewarganegaraan mereka, bahkan menghubungi pihak berwenang untuk memprosesnya.

Kepala Staf Militer Eyal Zamir menyebut tuduhan dalam film itu sebagai “fitnah darah” (blood libels) dan memerintahkan tinjauan hukum terhadap kemungkinan kebocoran informasi rahasia (China Daily, 17/9/2026).

Juru Bicara IDF menolak keras tuduhan film tersebut, menyebutnya “menyesatkan” dan “berdasarkan kesalahan faktual yang substansial”. IDF menegaskan bahwa keputusan serangan hanya dibuat oleh personel manusia, bukan AI, dan bahwa mereka beroperasi sesuai hukum internasional serta menyelidiki dugaan pelanggaran.

Namun, reaksi yang demikian keras—termasuk ancaman pencabutan kewarganegaraan—justru menunjukkan bahwa film ini menyentuh sesuatu yang fundamental.

Di tingkat internasional, responsnya sangat berbeda. Film ini menerima standing ovation selama 24,5 menit di Festival Film Venesia ke-83, yang disebut sebagai salah satu yang terpanjang dalam sejarah festival tersebut, dan memenangkan Special Jury Prize.

Hamas, dalam pernyataan resminya, menyerukan agar ICC, badan-badan PBB, dan lembaga HAM mendokumentasikan kesaksian dalam film “Naza” dan memanfaatkannya dalam jalur investigasi serta akuntabilitas. Hamas menegaskan bahwa signifikansi kesaksian ini terletak pada fakta bahwa para narasumber “bekerja dari dalam establishment militer dan keamanan Zionis serta berpartisipasi dalam sistem pengawasan dan penargetan,” (MEMO, 16/9/2026).

 Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, menyoroti reaksi Israel terhadap film ini. Dalam sebuah pernyataan, Albanese menyebut reaksi “tak terkendali” Israel sebagai khas orang yang memiliki hati nurani kotor, karena mereka tahu apa yang telah mereka lakukan. Ia menambahkan bahwa reaksi tersebut merupakan sebuah penyingkapan bagi semua orang yang menganggap Israel sebagai negara normal.

Albanese juga menegaskan bahwa serangan terhadap Gaza telah menormalisasi genosida, sebagaimana dua puluh tahun perang melawan terorisme internasional menormalisasi penggunaan penyiksaan (Gazetta del Sud, 1/10/2026).

Lalu, apakah film ini dapat menjadi instrumen diplomasi melawan Israel?

Pertama, “Naza” dapat memperkuat advokasi hukum internasional. Kesaksian dari pelaku memiliki nilai pembuktian yang berbeda dari laporan pihak ketiga. Ia dapat digunakan sebagai bahan pendukung dalam komunikasi dengan ICC dan badan-badan HAM PBB untuk memperkuat argumen tentang adanya pola dan kebijakan sistematis, bukan insiden yang bersifat sporadis.

Kedua, “Naza” dapat menjadi instrumen diplomasi publik yang kuat. Film ini menyentuh hati dan membuka ruang refleksi. Penayangan di berbagai negara, termasuk Indonesia melalui KlikFilm mulai 16 Oktober 2026, dapat menjadi pintu masuk untuk mentransformasi empati menjadi pemahaman struktural tentang sistem yang melahirkan kekerasan terhadap warga sipil (Antara, 9/10/2026).

Direktur KlikFilm, Frederica, menyatakan bahwa pihaknya secara agresif memburu lisensi penayangan film dokumenter tersebut langsung dari pasar film internasional agar masyarakat Indonesia memiliki akses menonton karya tersebut di layar lebar.

Ketiga, “Naza” dapat memperkuat konsolidasi aliansi lintas agama. Kesaksian dari “orang dalam” Israel dapat menjadi bahan diplomasi yang efektif untuk menggalang dukungan dari komunitas lintas agama di berbagai negara. Film ini menunjukkan bahwa perjuangan Palestina bukanlah perjuangan satu kelompok agama, melainkan perjuangan kemanusiaan universal.

Namun demikian, kewaspadaan harus tetap dijaga. “Naza” jangan sampai berpotensi memiliki unintended consequences (dampak yang tidak diniatkan) yang menguntungkan Israel. Artinya, walaupun Israel berkata keras kepada film ini, tapi bisa saja film ini berisiko dibingkai oleh media dan pemerintah Barat sebagai bukti bahwa Israel adalah “demokrasi yang mengkritik diri sendiri” yang seolah-olah cukup direformasi dari dalam, bukan dihentikan sebagai sistem pendudukan dan apartheid.

Fokus pada kegelisahan moral tentara Israel juga dapat menggeser empati publik dari korban sipil Palestina ke pelaku. Narasi “tentara yang tidak nyaman” bisa menjadi tameng moral yang, tanpa disadari, menormalisasi kekerasan sebagai dilema etis individu, bukan sebagai kebijakan negara yang sistematis. Artinya, problem kita atas Israel adalah problem eksistensi negara yang menjajah dan terus memperluas wilayah jajahannya sampai sekarang, bukan sekadar eksistensi masalah satu atau dua orang individu yang merasa bersalah.

Karena itu, kita perlu berada dalam posisi yang jelas bahwa film “Naza” adalah instrumen, bukan tujuan. Film ini harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar, yakni konteks anti-penjajahan, hukum internasional, akuntabilitas, dan tuntutan atas akar masalah—pendudukan, apartheid, serta keterlibatan negara-negara pendukung Israel.

Jangan biarkan “Naza” berubah menjadi instrumen pencitraan ulang Israel. Sebaliknya, ia harus dimanfaatkan sebagai bukti testimonial untuk memperkuat seruan agar Mahkamah Kriminal Internasional, badan-badan PBB, dan lembaga HAM menggunakan kesaksian ini dalam investigasi kejahatan perang dan genosida di Gaza.

Langkah KlikFilm yang menghadirkan film ini di bioskop Indonesia mulai 16 Oktober 2026 patut diapresiasi. Namun, penayangannya harus disertai dengan pendampingan. Diskusi, bedah film, dan kontekstualisasi dalam kerangka hukum internasional dan fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina menjadi keniscayaan. Film ini harus menjadi pintu masuk untuk memahami sistem, bukan sekadar cerita tentang individu-individu yang merasa bersalah.

Film ini mengingatkan kita pada satu hal, bahwa kejahatan besar tidak selalu datang dari mereka yang secara terang-terangan jahat. Ia sering kali lahir dari sistem yang membuat orang biasa merasa bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah “prosedur”, “kalkulasi”, atau “kerusakan tambahan”. Film ini berguna, tentu saja, sebagai bukti yang cetho welo welo (baca: sangat jelas) terkait kebrutalan Israel yang harus dilawan secara internasional.

Satu hal, catatan yang paling penting dan lebih substansial adalah menghentikan penjajahan Israel atas Palestina sebagai isu utama, dan mendukung kemerdekaan Palestina. Kemudian, menjadikan cerita di atas atap Tel Aviv tentang ‘sistem pembunuhan massal’—sebuah kejahatan sistemik yang disengaja oleh negara—sebagai kekuatan untuk secara global menghentikan kolonialisme dan genosida Israel di tanah Palestina.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
BAGIKAN:
Google Ads