Masjidil Haram Jadi Saksi Peringatan Setengah Abad Prof Niam: Istiqamah, Doa, dan Menebar Manfaat
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Depok, MUI Digital— Menembus usia setengah abad, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, memanjatkan doa khusus dari pelataran Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.
Di usia ke-50 ini, Prof Niam, sapaan akrabnya, merefleksikan arti kematangan hidup sekaligus memohon ketetapan hati (istiqamah) untuk terus mengabdi kepada umat dan bangsa.
Dalam momentum sakral tersebut, Prof Niam menyampaikan refleksi mendalam mengenai fase-fase usia manusia. Menurutnya, usia 40 tahun adalah masa paling strategis di mana arah hidup seseorang mulai terbaca dengan jelas.
"Sebenarnya usia yang paling strategis itu 40, berarti saya sudah lewat 10 tahun. Pada saat 40 itu akan ketahuan garis kemana dia mengarah, apakah syaqiyyun (celaka) am sa'id (bahagia). Dengan usia 40, Rasulullah diutus untuk menyampaikan risalah karena itu adalah usia kematangan," ujar Prof Niam dalam acara Tasyakur Yaumil Milad, Ahad (31/5/2026).
Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta ini memohon doa agar di sisa usianya senantiasa diberi kekuatan untuk istikamah, terutama di tiga jalur utama kehidupannya ini.
Pertama, khidmah ilmiyyah, dengan terus berkontribusi dalam dunia pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Baca juga: Pengakuan Eks Tentara Israel Bongkar Perilaku Keji Mereka di Gaza
Kedua, khidmah diniyyah, yakni tetap konsisten mengabdi untuk kepentingan agama dan kemaslahatan umat. Ketiga, keluarga sakinah, dengan menjaga keharmonisan rumah tangga serta memohon proses islah (perbaikan) yang tiada henti bagi keturunannya.
Sebagai manusia biasa, Prof Niam juga memanfaatkan momentum milad ini untuk bermuhasabah dan bertaubat.
Prof Niam menegaskan bahwa tidak ada manusia yang luput dari salah, namun yang membedakan adalah kemauan untuk memperbaiki diri.
"Sesempurna apa pun pasti akan pernah salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah orang yang bertaubat dan menyesali kesalahannya," ungkapnya.
Selain aspek spiritual, momen di Tanah Suci ini juga menjadi ajang syukuran atas indahnya tali persahabatan.
Didampingi sang istri tercinta, Prof Niam merayakan hari lahirnya bersama para sahabat karib yang telah membersamainya sejak usia belasan tahun, seperti Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI KH Miftahul Huda.
Baca juga: 9 WNI Relawan Gaza Dibebaskan, MUI Tegaskan Perlawanan terhadap Israel
Bagi Prof Niam, segala pencapaian duniawi tidak akan memiliki arti tanpa kehadiran ekosistem dan sahabat sejati yang saling mengingatkan dalam kebaikan.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah ini berharap, persahabatan yang telah terjalin selama puluhan tahun tersebut kelak membawa mereka menjadi salah satu dari tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah SWT di hari akhir, yakni orang-orang yang saling mencintai, bertemu, dan berpisah demi Allah (lillah).