“Wisata Religi” sebagai Alternatif Menyembuhkan Jiwa di Tengah Dunia yang Lelah
Oleh: Ahmad Yani, M.A
Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di tengah dunia yang bergerak cepat, manusia modern menghadapi kelelahan yang tidak selalu tampak secara fisik. Ia hadir dalam bentuk kecemasan, kehampaan makna, hingga krisis spiritual yang sunyi namun menggerus dari dalam. Dalam konteks ini, “wisata religi” sepertinya bukan lagi sekadar perjalanan geografis menuju tempat suci, melainkan perjalanan eksistensial menuju kesehatan spiritual (spiritual well-being).
Islam sejak awal telah
mengenalkan konsep perjalanan yang sarat makna. Allah SWT berfirman, yang
artinya: “Katakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah
bagaimana akibat orang-orang terdahulu.’” (QS. Al-An‘am: 11)
Ayat ini menjadi dalil
perlunya eksplorasi fisik, sekaligus juga refleksi batin. Sebab, sebuah perjalanan
menjadi sarana tafakkur untuk menghubungkan pengalaman empiris dengan
kesadaran spiritual.
Dalam tradisi Islam,
perjalanan spiritual sering kali dikaitkan dengan proses “tazkiyatun nafs”
(penyucian jiwa). Kunjungan ke tanah suci, makam para ulama, atau tempat
bersejarah Islam bukan sekadar ritual, melainkan medium transformasi diri.
Nabi Muhammad SAW
bersabda, yang artinya: “Janganlah kalian melakukan perjalanan jauh kecuali
ke tiga masjid: Masjidil haram, Masjidku ini (Nabawi) dan Masjid Al-Aqsha.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan
bahwa perjalanan menuju tempat suci memiliki nilai spiritual yang istimewa. Di
sana, manusia mengalami “disrupsi rutinitas”, yakni keluar dari zona nyaman
duniawi untuk memasuki ruang kontemplatif.
Menurut Imam al-Ghazali,
hati manusia ibarat cermin yang dapat berkarat oleh dosa dan kelalaian. Dalam kitabnya,
Ihya’ Ulumuddin, ia menekankan pentingnya “’uzlah” (menepi dan menyepi)
dan “rihlah” (perjalanan) sebagai sarana membersihkan hati dari
distraksi dunia.
Senada dengan itu,
Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam menyatakan, bahwa bagaimana
mungkin hati akan bercahaya jika gambaran dunia masih terpantul di dalamnya?
Wisata religi, dalam hal ini, menjadi ruang untuk menghapus “pantulan dunia” dan menggantinya dengan kesadaran ilahi.
Baca juga: Renungan Muslim Fans Bola Pasca Perhelatan Piala Dunia
Dimensi Kesehatan
Spiritual dalam Perspektif Alquran
Alquran mengaitkan
ketenangan jiwa dengan kedekatan kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam
firman-Nya, yang artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan
bahwa kesehatan spiritual tidak dapat dipisahkan dari “dzikrullah”.
Wisata religi menyediakan lingkungan yang kondusif untuk memperbanyak dzikir,
doa, dan refleksi diri.
Lebih jauh, konsep “qalbun
salim” atau hati yang sehat menjadi indikator utama keselamatan manusia,
Allah berfirman, yang artinya: “(yaitu) pada hari ketika harta dan anal-anak
tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Dengan demikian, maka di sini perlu disadari bahwa “wisata religi” bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi bagian dari ikhtiar menjaga “kesehatan hati” sebagai inti eksistensi manusia.
Baca juga: Intimidasi dan Kekerasan Verbal: Antara Lisan dan Kezaliman
Spiritualitas di
Era Modern
Ulama kontemporer, Prof
Quraish Shihab menekankan bahwa spiritualitas Islam bersifat integratif, yakni tidak
memisahkan antara ibadah ritual dan pengalaman hidup. Dalam konteks wisata
religi, beliau melihatnya sebagai momentum “recharging spiritual” di
tengah kehidupan modern yang cenderung materialistik.
Sementara itu, Syekh Yusuf
al-Qaradawi memandang bahwa perjalanan dalam Islam memiliki fungsi “tarbiyah
ruhiyah” (pendidikan spiritual), yang memperkuat iman melalui pengalaman
langsung, bukan sekadar teori.
Wisata religi juga
menjadi sarana “hijrah psikologis”, berpindah dari kondisi lalai menuju
kesadaran ilahi. Ini relevan dengan kebutuhan manusia modern yang sering
mengalami “spiritual emptiness”.
Dalam psikologi,
kesehatan spiritual sering dikaitkan dengan “meaning-making” atau pencarian
makna hidup. Viktor Frankl, seorang psikolog eksistensial, menegaskan bahwa
manusia dapat bertahan dalam kondisi apa pun selama ia memiliki makna hidup.
Dan wisata religi menyediakan ruang untuk itu, setidaknya ruang refleksi untuk memahami tujuan hidup, ruang ritual ibadah untuk menciptakan ketenangan
mental , dan ruang komunitas spiritual untuk memperkuat rasa keterhubungan.
Penelitian dalam positive psychology juga menunjukkan bahwa praktik spiritual seperti doa, dzikir, dan meditasi religius dapat menurunkan tingkat stres, meningkatkan kebahagiaan, dan memperkuat resiliensi psikologis. Dalam konteks ini, wisata religi berfungsi sebagai “terapi spiritual” alami.
Baca juga: Ketika Debat Kehilangan Adab
Namun demikian,
penting untuk dicatat bahwa wisata religi tidak boleh berhenti pada simbol dan
formalitas. Sebab tanpa refleksi, ia berpotensi menjadi sekadar wisata biasa
dengan label religius.
Imam al-Ghazali
mengingatkan bahwa ibadah tanpa kehadiran hati hanyalah gerakan kosong. Maka,
esensi wisata religi terletak pada transformasi diri dari lalai menjadi sadar, dari
gelisah menjadi tenang, dan dari orientasi egoistik menjadi ilahiah.
Wisata religi
sejatinya adalah perjalanan pulang ke dalam diri. Ia mengajarkan bahwa
kesehatan sejati tidak hanya terletak pada tubuh yang kuat, tetapi pada jiwa
yang tenang dan hati yang hidup.
Di tengah dunia yang bising, mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar liburan, tetapi perjalanan yang menyembuhkan. Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya butuh tempat untuk pergi, tetapi juga punya alasan untuk kembali, dengan jiwa yang lebih utuh.