Ketika Debat Kehilangan Adab
Oleh: Ahmad Yani, M.A
Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di era media sosial, semua orang bisa berdebat. Namun, tidak semua orang siap berdialog.
Kita menyaksikan
bagaimana sekarang ini ruang publik, termasuk di media televisi, dipenuhi silang
pendapat yang keras, emosional, cepat, dan sering kali dangkal.
Argumen dipertajam,
tetapi adab ditanggalkan. Yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan
kemenangan atau sekadar pengakuan.
Padahal dalam tradisi
intelektual Islam, debat (jadal) bukan sekadar adu logika. Ia adalah
bagian dari jalan panjang pencarian kebenaran yang diikat oleh wahyu.
Alquran tidak menutup
ruang debat, justru membukanya dengan syarat yang tegas. Allah berfirman, yang
artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik (ahsan).” (QS.
An-Nahl: 125)
Bahkan terhadap pihak
yang berbeda keyakinan, etika tetap menjadi fondasi. Sebagaimana ditegaskan
dalam surat Al-Ankabut ayat 46, yang artinya: “Dan janganlah kamu berdebat
dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik.”
Dua ayat tersebut cukup untuk menegaskan satu hal penting. Dalam Islam, cara lebih utama daripada sekadar isi argumen. Kebenaran tidak boleh disampaikan dengan cara yang merusak nilai kebenaran itu sendiri.
Baca juga: Cinta dan Kekerasan: Kelembutan Hati yang Berubah Arah
Lebih jauh, Alquran
juga mengingatkan bahaya debat tanpa ilmu. Allah berfirman, yang artinya: “Dan
di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk,
dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman: 20)
Pastinya ayat ini
terasa sangat relevan hari ini, ketika banyak perdebatan dibangun di atas
potongan informasi, asumsi, bahkan emosi.
Sejarah Islam klasik menunjukkan
wajah yang berbeda. Para ulama klasik berdebat dengan tajam, tetapi tetap
menjaga kehormatan satu sama lain.
Imam Asy-Syafi’i
dengan rendah hati mengakui kemungkinan salah dalam pendapatnya. Imam
Al-Ghazali mengingatkan bahwa debat bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk mencari
kebenaran, tetapi berubah menjadi penyakit hati jika didorong oleh riya’ dan
ambisi diri.
Artinya sangat jelas,
bahwa sejak awal Islam tidak hanya mengajarkan cara berpikir, tetapi juga cara
berbeda.
Namun, yang terjadi
hari ini justru sebaliknya. Debat sering kehilangan arah. Ia tidak lagi menjadi
sarana tabayyun (klarifikasi), tetapi berubah menjadi panggung
pembenaran diri.
Dalam banyak kasus,
orang tidak benar-benar ingin memahami lawannya. Mereka hanya menunggu giliran
untuk membalas.
Rasulullah SAW telah
mengingatkan bahaya ini jauh sebelumnya. Beliau bersabda, yang artinya: “Tidaklah
suatu kaum menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar
berdebat” (HR Tirmidzi)
Dalam hadis lain,
beliau bersabda, yang artinyta: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran
surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar.” (HR Abu
Dawud)
Pesan ini bukan melarang debat secara total, tetapi menegaskan bahwa tidak semua debat layak dilanjutkan. Ada titik di mana mempertahankan adab lebih utama daripada mempertahankan argumen.
Baca juga: Mendidik Anak: Tafsir Parenting dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir
Bahkan Rasulullah SAW mengingatkan
tentang bahaya karakter dalam berdebat/ Beliau bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya
orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat adalah
orang yang banyak bicara, berlebih-lebihan, dan suka berdebat.” (HR
Tirmidzi)
Jika kita jujur,
problem debat hari ini bukan pada kurangnya kecerdasan, tetapi pada kurangnya
kerendahan hati.
Banyak orang ingin
didengar, tetapi sedikit yang mau mendengar. Banyak yang ingin menang, tetapi
sedikit yang benar-benar ingin menemukan kebenaran.
Psikologi modern
menyebut fenomena ini sebagai “confirmation bias”, kecenderungan hanya
menerima informasi yang menguatkan keyakinan sendiri.
Sementara teori
komunikasi menekankan bahwa dialog seharusnya bertujuan mencapai pemahaman
bersama, bukan dominasi satu pihak.
Realitas digital
justru mendorong sebaliknya. Kita hidup dalam “ruang gema” yang memperkuat
suara sendiri dan melemahkan empati terhadap yang berbeda.
Di sinilah ajaran
Islam menemukan relevansinya. Ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi
menegaskan bahwa krisis umat bukan pada banyaknya perbedaan, tetapi pada
kegagalan mengelolanya. Tanpa “adabul-ikhtilaf” (etika dalam
berbeda), perbedaan berubah menjadi perpecahan.
Padahal Alquran telah
memberi pedoman yang sangat jelas dan tegas. Dalam surat Al-Baqarah ayat 83,
Allah berfirman, yang artinya: “Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang
baik.”
Ayat ini tampak
sederhana, tetapi dalam praktiknya sangat menantang, terutama ketika kita
berada dalam perbedaan yang tajam.
Maka yang kita butuhkan hari ini bukan lebih banyak debat, tetapi debat yang lebih beradab.
Baca juga: Membaca Akar Masalah dan Meminimalisir Konflik Sosial
Debat yang tidak sekadar mempertajam argumen, tetapi juga melembutkan hati. Debat yang tidak hanya menguji logika, tetapi juga mengasah kejujuran. Debat yang tidak memecah, tetapi justru mempertemukan.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah debat bukanlah siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling dekat dengan kebenaran dan paling mampu menjaga akhlaknya.