Lewati ke konten utama
Jumat, 10 Juli 2026 / 24 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Ketika Debat Kehilangan Adab

4 menit baca 46 dibaca
Ahmad Yani, M.A

Oleh: Ahmad Yani, M.A

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat/Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Ketika Debat Kehilangan Adab
Ilustrasi dua orang yang sedang berdebat melampiaskan emosinya dan tampak tak bisa mengontrol diri. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di era media sosial, semua orang bisa berdebat. Namun, tidak semua orang siap berdialog.

Kita menyaksikan bagaimana sekarang ini ruang publik, termasuk di media televisi, dipenuhi silang pendapat yang keras, emosional, cepat, dan sering kali dangkal.

Argumen dipertajam, tetapi adab ditanggalkan. Yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan kemenangan atau sekadar pengakuan.

Padahal dalam tradisi intelektual Islam, debat (jadal) bukan sekadar adu logika. Ia adalah bagian dari jalan panjang pencarian kebenaran yang diikat oleh wahyu.

Alquran tidak menutup ruang debat, justru membukanya dengan syarat yang tegas. Allah berfirman, yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik (ahsan).” (QS. An-Nahl: 125)

Bahkan terhadap pihak yang berbeda keyakinan, etika tetap menjadi fondasi. Sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Ankabut ayat 46, yang artinya: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik.”

Dua ayat tersebut cukup untuk menegaskan satu hal penting. Dalam Islam, cara lebih utama daripada sekadar isi argumen. Kebenaran tidak boleh disampaikan dengan cara yang merusak nilai kebenaran itu sendiri.

Baca juga: Cinta dan Kekerasan: Kelembutan Hati yang Berubah Arah

Lebih jauh, Alquran juga mengingatkan bahaya debat tanpa ilmu. Allah berfirman, yang artinya: “Dan di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman: 20)

Pastinya ayat ini terasa sangat relevan hari ini, ketika banyak perdebatan dibangun di atas potongan informasi, asumsi, bahkan emosi.

Sejarah Islam klasik menunjukkan wajah yang berbeda. Para ulama klasik berdebat dengan tajam, tetapi tetap menjaga kehormatan satu sama lain.

Imam Asy-Syafi’i dengan rendah hati mengakui kemungkinan salah dalam pendapatnya. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa debat bisa menjadi ibadah jika diniatkan untuk mencari kebenaran, tetapi berubah menjadi penyakit hati jika didorong oleh riya’ dan ambisi diri.

Artinya sangat jelas, bahwa sejak awal Islam tidak hanya mengajarkan cara berpikir, tetapi juga cara berbeda.

Namun, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Debat sering kehilangan arah. Ia tidak lagi menjadi sarana tabayyun (klarifikasi), tetapi berubah menjadi panggung pembenaran diri.

Dalam banyak kasus, orang tidak benar-benar ingin memahami lawannya. Mereka hanya menunggu giliran untuk membalas.

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahaya ini jauh sebelumnya. Beliau bersabda, yang artinya: “Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat” (HR Tirmidzi)

Dalam hadis lain, beliau bersabda, yang artinyta: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar.” (HR Abu Dawud)

Pesan ini bukan melarang debat secara total, tetapi menegaskan bahwa tidak semua debat layak dilanjutkan. Ada titik di mana mempertahankan adab lebih utama daripada mempertahankan argumen.

Baca juga: Mendidik Anak: Tafsir Parenting dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir

Bahkan Rasulullah SAW mengingatkan tentang bahaya karakter dalam berdebat/ Beliau bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak bicara, berlebih-lebihan, dan suka berdebat.” (HR Tirmidzi)

Jika kita jujur, problem debat hari ini bukan pada kurangnya kecerdasan, tetapi pada kurangnya kerendahan hati.

Banyak orang ingin didengar, tetapi sedikit yang mau mendengar. Banyak yang ingin menang, tetapi sedikit yang benar-benar ingin menemukan kebenaran.

Psikologi modern menyebut fenomena ini sebagai “confirmation bias”, kecenderungan hanya menerima informasi yang menguatkan keyakinan sendiri.

Sementara teori komunikasi menekankan bahwa dialog seharusnya bertujuan mencapai pemahaman bersama, bukan dominasi satu pihak.

Realitas digital justru mendorong sebaliknya. Kita hidup dalam “ruang gema” yang memperkuat suara sendiri dan melemahkan empati terhadap yang berbeda.

Di sinilah ajaran Islam menemukan relevansinya. Ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa krisis umat bukan pada banyaknya perbedaan, tetapi pada kegagalan mengelolanya. Tanpa “adabul-ikhtilaf (etika dalam berbeda), perbedaan berubah menjadi perpecahan.

Padahal Alquran telah memberi pedoman yang sangat jelas dan tegas. Dalam surat Al-Baqarah ayat 83, Allah berfirman, yang artinya: “Dan ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik.”

Ayat ini tampak sederhana, tetapi dalam praktiknya sangat menantang, terutama ketika kita berada dalam perbedaan yang tajam.

Maka yang kita butuhkan hari ini bukan lebih banyak debat, tetapi debat yang lebih beradab.

Baca juga: Membaca Akar Masalah dan Meminimalisir Konflik Sosial

Debat yang tidak sekadar mempertajam argumen, tetapi juga melembutkan hati. Debat yang tidak hanya menguji logika, tetapi juga mengasah kejujuran. Debat yang tidak memecah, tetapi justru mempertemukan.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah debat bukanlah siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling dekat dengan kebenaran dan paling mampu menjaga akhlaknya.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.