Ketika “Personal Branding” Menggeser “Wa Rabbaka Fakabbir”
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah berdiri di atas panggung publik, lalu mendadak merasa kerdil?
Di hadapan Anda,
duduk berderet para tokoh, pimpinan lembaga, pejabat publik, hingga jenderal
dengan pangkat berbintang di pundaknya. Dalam hitungan detik sebelum pengeras
suara menyala, kerap muncul getaran halus yang menyusup ke dalam batin: rasa
canggung, tegang, atau perasaan inferior di hadapan menterengnya atribut
duniawi para pendengar.
Bagi siapa saja
yang mengambil peran di ruang publik, khususnya para dai, muballigh, dan
pengemban misi dakwah, situasi seperti ini adalah ujian ketenangan jiwa yang
sangat nyata. Lantas, bagaimana seorang pejuang dakwah mengelola ruang batinnya
ketika mental diuji oleh megahnya panggung dunia?
Jawabannya
terangkum indah dalam resep ilahi yang diabadikan dalam surat Al-Muddatsir ayat
3: “Wa rabbaka fakabbir”, “Dan pada Rabbmu, agungkanlah!”.
Konteks
Perintah Ilahi kepada Rasulullah SAW
Untuk memahami
daya magis dari ayat ini, kita harus ditarik kembali ke fase awal sejarah
kenabian. Ketika surat Al-Muddatsir diturunkan, Nabi Muhammad SAW baru saja
melewati perjumpaan pertama yang menggetarkan dengan Malaikat Jibril di Gua
Hira. Beliau kembali ke rumah dalam keadaan gemetar, diselimuti rasa takut dan
cemas yang mendalam atas beban kenabian yang begitu berat, hingga meminta sang
istri, Khadijah r.ha, untuk menyelimutinya.
Di tengah kondisi
psikologis yang masih terguncang dan diselimuti kain, Allah SWT tidak
memberikan perintah untuk beristirahat dengan tenang. Allah justru menyerukan
ayat-ayat yang membangunkan kesadaran dan membakar semangat dakwah.
Setelah perintah
untuk bangkit dan memberi peringatan, “Qum fa-andzir”, Allah langsung
memancangkan kalimat: “Wa rabbaka fakabbir!”.
Allah SWT Maha
Mengetahui tantangan seperti apa yang akan dihadapi oleh Rasulullah SAW di luar
rumah. Nabi akan keluar menghadapi peradaban jahiliyah yang penuh kesombongan,
struktur sosial yang tertindas, serta para pembesar Quraisy yang angkuh dengan
harta, nasab, dan kekuasaan geopolitik pasar Ukaz. Jika hati Rasulullah SAW
masih diliputi rasa gentar atau menganggap besar kekuasaan elite Quraisy tersebut,
pergerakan dakwah akan layu sebelum berkembang.
Maka, perintah “Warabbaka fakabbir” adalah suntikan imunitas mental dan dekonstruksi total atas kebesaran duniawi. Allah seolah-olah menegaskan: “Wahai Muhammad, sebesar apa pun ancaman Abu Jahal, sekuat apa pun pengaruh Abu Lahab, dan semewah apa pun peradaban para penguasa Makkah, semuanya kerdil di hadapan keagungan Tuhanmu. Maka agungkanlah Rabbmu di dalam dada dan narasi dakwahmu!”.
Baca juga: Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!
Mengurai
Fenomena “Personal Branding”
Di era digital
dan ruang publik modern saat ini, perintah “Warabbaka fakabbir”
menemukan medan ujian baru yang sangat subtil: fenomena “personal branding”.
Di satu sisi,
seorang penyampai kebenaran memang membutuhkan kredibilitas, kerapian
penampilan, dan artikulasi bahasa yang baik agar pesannya dapat diterima
publik. Namun, ada garis batas yang sangat tipis antara membangun reputasi demi
efektivitas pesan dakwah dengan membangun citra demi membesarkan ego pribadi.
Inilah paradoks
yang sering terjadi di atas panggung maupun di media sosial. Banyak dai atau public
speaker terjebak dalam arus personal branding yang berlebihan. Mereka
tampil anggun, pandai merangkai retorika, dan memiliki citra visual yang
memukau, namun di dalam hatinya tumbuh dahaga akan pujian, jumlah pengikut (followers),
serta pengakuan atas kehebatan dirinya.
Surat
Al-Muddatsir ayat 3 harus dihadirkan sebagai koreksi mendasar atas jebakan ini.
Jika personal branding seolah berfokus pada narasi: “Agungkanlah aku
dan kehebatanku” (Fakabbir nafsi), maka ayat ini menegaskan prinsip
utama dakwah: “Agungkanlah Rabbmu” (Wa Rabbaka fakabbir).
Ketika seorang pembicara publik bertakbir tetapi batinnya disibukkan oleh impresi manusia terhadap citra dirinya, tentu keberkahan narasinya akan tergerus. Dakwah berubah menjadi sekadar pertunjukan bakat (talent show), dan podium bertransformasi menjadi panggung kebanggaan diri.
Baca juga: Menyelami Pesan Tersembunyi di Balik Surat Al-Muddatstsir
Nasihat Para
Ulama
Bila kita membaca
penjelasan para ulama tafsir, ayat singkat yang dibahas di atas pada dasarnya
menyimpan kedalaman makna yang sangat terstruktur dalam meredam bahaya
pencitraan ego.
Syaikh
Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menggarisbawahi bahwa mengagungkan Allah adalah
manifestasi tauhid yang paling mendasar. Maksud utama dari gerakan dakwah dan
peringatan (indzar) yang diperintahkan kepada Nabi tiada lain adalah
memastikan agar hati manusia kembali terhubung kepada Sang Pencipta, bukan
tertambat pada pesona sang pendakwah.
Gagasan ini
diperkaya dengan memetakan dua dimensi penting dari perintah bertakbir. Pertama
adalah dimensi pembersihan, yakni membebaskan pikiran dan tindakan kita dari
segala bentuk penyekutuan, terutama ketergantungan psikologis pada figur
manusia dan kekaguman pada kehebatan diri sendiri. Kedua adalah dimensi
penataan niat, di mana seluruh narasi yang disampaikan murni ditujukan untuk
mencari ridha Allah, bukan demi memburu pujian atau tepuk tangan publik.
Penjelasan tersebut selaras dengan Tafsir at-Tahlili yang memberikan penekanan pada aspek ketahanan mental (resilience). Ketika seseorang mengagungkan Allah di atas segalanya, lahir sebuah kepribadian yang tangguh dan tidak mudah goyah. Sebab dalam kalkulasi iman seorang mukmin, tidak ada ukuran kebesaran manusia, baik penyampai maupun pendengar pesan yang sanggup menandingi keagungan-Nya.
Baca juga: Manifestasi Tawakal Fase Makkah
Mengubah Cara
Pandang
Mengapa rasa
canggung atau perasaan kerdil itu bisa muncul saat menaiki podium? Sering kali
jawabannya sederhana: karena kita terjebak memandang atribut, baik atribut
milik pendengar maupun “personal brand” yang ingin ditampilkan. Sepertinya
kita lupa pada pelajaran dalam surat Al-Muddatsir bahwa seluruh atribut duniawi
itu semu di hadapan keagungan Allah.
Lebih dari itu,
kita juga kerap lupa pada hakikat eksistensial manusia yang diabadikan dalam
awal wahyu, surat Al-’Alaq: “Khalaqal-insāna min ‘alaq”. Baik
sang pembicara di atas panggung maupun para pejabat berderet di kursi VIP, kita
semua diciptakan dari segumpal darah, segenggam tubuh yang bermula dari air
mani yang hina.
Mari kita cermati
secara objektif. Setinggi apa pun jabatan seseorang atau sebanyak apa pun
bintang di pundaknya, atribut tersebut hanyalah formalitas administratif. Di
balik pakaian dinas dan posisi mentereng itu, ia adalah manusia biasa yang
memiliki keterbatasan, kekhawatiran, dan kelemahan batin yang sama seperti
kita. Bahkan semakin tinggi posisi seseorang, sering kali semakin besar beban
ruhani yang harus ia pikul.
Oleh karena itu,
ketika seorang juru dakwah bersiap menaiki podium, ada dua transformasi sikap
batin yang perlu dihadirkan.
Pertama, kelola
rasa takut dengan merekonstruksi orientasi penilaian. Tanyakan pada diri
sendiri: mana yang lebih dikhawatirkan, dinilai tidak sempurna oleh manusia,
atau dinilai lalai oleh Allah karena enggan menyampaikan amanah?
Ketika pandangan
Allah dijadikan sebagai tolok ukur utama, keberadaan ribuan pasang mata di
hadapan kita berubah menjadi peluang untuk berkolaborasi dalam kebaikan, bukan
lagi sumber intimidasi.
Kedua, posisikan
diri sebagai pembawa solusi atas ketegangan jiwa. Seperti Rasulullah SAW yang
membawa Alquran sebagai obat bagi masyarakat Makkah yang gelisah, pesan
spiritual yang kita sampaikan hari ini bisa jadi adalah jawaban atas persoalan
mendasar yang sedang dihadapi oleh para pendengar, termasuk para pejabat tinggi
yang sedang dilanda ketegangan jiwa.
Ketika kata-kata
yang keluar bukan didorong oleh ego personal branding atau niat
memamerkan keahlian, melainkan lahir dari kesadaran bersandar pada Allah, maka
gagasan tersebut akan bertransformasi menjadi petunjuk yang menenangkan dan
menggerakkan.
Di samping ujian
rasa takut, ada risiko lain yang tak kalah berbahaya di panggung dakwah:
hadirnya sifat “thagha”, yaitu perasaan melampaui batas, ambisi pribadi,
atau merasa diri besar ketika berada di puncak panggung popularitas.
Ketika sifat “thagha”
dan dahaga akan pengakuan “brand” diri menyusup ke dalam dada,
pertolongan dan hikmah Allah akan surut. Ilmu dan persiapan yang telah
dirancang dengan matang bisa mendadak menguap di atas podium. Narasi yang
disampaikan pun akan terasa hambar, kehilangan daya gugah, dan hanya menjadi retorika
kosong yang tidak menyentuh batin pendengar.
Oleh karena itu, setiap kali rasa cemas atau benih kesombongan itu menyapa, paksakan diri untuk kembali bersujud, sebagaimana Rasulullah SAW senantiasa menjaga kerendahan hatinya di hadapan Allah. Lalu kembalikan seluruh sandaran kepada-Nya melalui doa dan permohonan petunjuk, agar pesan yang disampaikan tetap terjaga keutuhan dan keikhlasannya.