Lewati ke konten utama
Rabu, 5 Agustus 2026 / 21 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Ketika “Personal Branding” Menggeser “Wa Rabbaka Fakabbir”

7 menit baca 86 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Ketika “Personal Branding” Menggeser “Wa Rabbaka Fakabbir”
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Pernahkah berdiri di atas panggung publik, lalu mendadak merasa kerdil?

Di hadapan Anda, duduk berderet para tokoh, pimpinan lembaga, pejabat publik, hingga jenderal dengan pangkat berbintang di pundaknya. Dalam hitungan detik sebelum pengeras suara menyala, kerap muncul getaran halus yang menyusup ke dalam batin: rasa canggung, tegang, atau perasaan inferior di hadapan menterengnya atribut duniawi para pendengar.

Bagi siapa saja yang mengambil peran di ruang publik, khususnya para dai, muballigh, dan pengemban misi dakwah, situasi seperti ini adalah ujian ketenangan jiwa yang sangat nyata. Lantas, bagaimana seorang pejuang dakwah mengelola ruang batinnya ketika mental diuji oleh megahnya panggung dunia?

Jawabannya terangkum indah dalam resep ilahi yang diabadikan dalam surat Al-Muddatsir ayat 3: “Wa rabbaka fakabbir”, “Dan pada Rabbmu, agungkanlah!”.

Konteks Perintah Ilahi kepada Rasulullah SAW

Untuk memahami daya magis dari ayat ini, kita harus ditarik kembali ke fase awal sejarah kenabian. Ketika surat Al-Muddatsir diturunkan, Nabi Muhammad SAW baru saja melewati perjumpaan pertama yang menggetarkan dengan Malaikat Jibril di Gua Hira. Beliau kembali ke rumah dalam keadaan gemetar, diselimuti rasa takut dan cemas yang mendalam atas beban kenabian yang begitu berat, hingga meminta sang istri, Khadijah r.ha, untuk menyelimutinya.

Di tengah kondisi psikologis yang masih terguncang dan diselimuti kain, Allah SWT tidak memberikan perintah untuk beristirahat dengan tenang. Allah justru menyerukan ayat-ayat yang membangunkan kesadaran dan membakar semangat dakwah.

Setelah perintah untuk bangkit dan memberi peringatan, “Qum fa-andzir”, Allah langsung memancangkan kalimat: “Wa rabbaka fakabbir!”.

Allah SWT Maha Mengetahui tantangan seperti apa yang akan dihadapi oleh Rasulullah SAW di luar rumah. Nabi akan keluar menghadapi peradaban jahiliyah yang penuh kesombongan, struktur sosial yang tertindas, serta para pembesar Quraisy yang angkuh dengan harta, nasab, dan kekuasaan geopolitik pasar Ukaz. Jika hati Rasulullah SAW masih diliputi rasa gentar atau menganggap besar kekuasaan elite Quraisy tersebut, pergerakan dakwah akan layu sebelum berkembang.

Maka, perintah “Warabbaka fakabbir” adalah suntikan imunitas mental dan dekonstruksi total atas kebesaran duniawi. Allah seolah-olah menegaskan: “Wahai Muhammad, sebesar apa pun ancaman Abu Jahal, sekuat apa pun pengaruh Abu Lahab, dan semewah apa pun peradaban para penguasa Makkah, semuanya kerdil di hadapan keagungan Tuhanmu. Maka agungkanlah Rabbmu di dalam dada dan narasi dakwahmu!”.

Baca juga: Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!

Mengurai Fenomena “Personal Branding

Di era digital dan ruang publik modern saat ini, perintah “Warabbaka fakabbir” menemukan medan ujian baru yang sangat subtil: fenomena “personal branding”.

Di satu sisi, seorang penyampai kebenaran memang membutuhkan kredibilitas, kerapian penampilan, dan artikulasi bahasa yang baik agar pesannya dapat diterima publik. Namun, ada garis batas yang sangat tipis antara membangun reputasi demi efektivitas pesan dakwah dengan membangun citra demi membesarkan ego pribadi.

Inilah paradoks yang sering terjadi di atas panggung maupun di media sosial. Banyak dai atau public speaker terjebak dalam arus personal branding yang berlebihan. Mereka tampil anggun, pandai merangkai retorika, dan memiliki citra visual yang memukau, namun di dalam hatinya tumbuh dahaga akan pujian, jumlah pengikut (followers), serta pengakuan atas kehebatan dirinya.

Surat Al-Muddatsir ayat 3 harus dihadirkan sebagai koreksi mendasar atas jebakan ini. Jika personal branding seolah berfokus pada narasi: “Agungkanlah aku dan kehebatanku” (Fakabbir nafsi), maka ayat ini menegaskan prinsip utama dakwah: “Agungkanlah Rabbmu” (Wa Rabbaka fakabbir).

Ketika seorang pembicara publik bertakbir tetapi batinnya disibukkan oleh impresi manusia terhadap citra dirinya, tentu keberkahan narasinya akan tergerus. Dakwah berubah menjadi sekadar pertunjukan bakat (talent show), dan podium bertransformasi menjadi panggung kebanggaan diri.

Baca juga: Menyelami Pesan Tersembunyi di Balik Surat Al-Muddatstsir

Nasihat Para Ulama

Bila kita membaca penjelasan para ulama tafsir, ayat singkat yang dibahas di atas pada dasarnya menyimpan kedalaman makna yang sangat terstruktur dalam meredam bahaya pencitraan ego.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menggarisbawahi bahwa mengagungkan Allah adalah manifestasi tauhid yang paling mendasar. Maksud utama dari gerakan dakwah dan peringatan (indzar) yang diperintahkan kepada Nabi tiada lain adalah memastikan agar hati manusia kembali terhubung kepada Sang Pencipta, bukan tertambat pada pesona sang pendakwah.

Gagasan ini diperkaya dengan memetakan dua dimensi penting dari perintah bertakbir. Pertama adalah dimensi pembersihan, yakni membebaskan pikiran dan tindakan kita dari segala bentuk penyekutuan, terutama ketergantungan psikologis pada figur manusia dan kekaguman pada kehebatan diri sendiri. Kedua adalah dimensi penataan niat, di mana seluruh narasi yang disampaikan murni ditujukan untuk mencari ridha Allah, bukan demi memburu pujian atau tepuk tangan publik.

Penjelasan tersebut selaras dengan Tafsir at-Tahlili yang memberikan penekanan pada aspek ketahanan mental (resilience). Ketika seseorang mengagungkan Allah di atas segalanya, lahir sebuah kepribadian yang tangguh dan tidak mudah goyah. Sebab dalam kalkulasi iman seorang mukmin, tidak ada ukuran kebesaran manusia, baik penyampai maupun pendengar pesan yang sanggup menandingi keagungan-Nya.

Baca juga: Manifestasi Tawakal Fase Makkah

Mengubah Cara Pandang

Mengapa rasa canggung atau perasaan kerdil itu bisa muncul saat menaiki podium? Sering kali jawabannya sederhana: karena kita terjebak memandang atribut, baik atribut milik pendengar maupun “personal brand” yang ingin ditampilkan. Sepertinya kita lupa pada pelajaran dalam surat Al-Muddatsir bahwa seluruh atribut duniawi itu semu di hadapan keagungan Allah.

Lebih dari itu, kita juga kerap lupa pada hakikat eksistensial manusia yang diabadikan dalam awal wahyu, surat Al-’Alaq: “Khalaqal-insāna min ‘alaq. Baik sang pembicara di atas panggung maupun para pejabat berderet di kursi VIP, kita semua diciptakan dari segumpal darah, segenggam tubuh yang bermula dari air mani yang hina.

Mari kita cermati secara objektif. Setinggi apa pun jabatan seseorang atau sebanyak apa pun bintang di pundaknya, atribut tersebut hanyalah formalitas administratif. Di balik pakaian dinas dan posisi mentereng itu, ia adalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan, kekhawatiran, dan kelemahan batin yang sama seperti kita. Bahkan semakin tinggi posisi seseorang, sering kali semakin besar beban ruhani yang harus ia pikul.

Oleh karena itu, ketika seorang juru dakwah bersiap menaiki podium, ada dua transformasi sikap batin yang perlu dihadirkan.

Pertama, kelola rasa takut dengan merekonstruksi orientasi penilaian. Tanyakan pada diri sendiri: mana yang lebih dikhawatirkan, dinilai tidak sempurna oleh manusia, atau dinilai lalai oleh Allah karena enggan menyampaikan amanah?

Ketika pandangan Allah dijadikan sebagai tolok ukur utama, keberadaan ribuan pasang mata di hadapan kita berubah menjadi peluang untuk berkolaborasi dalam kebaikan, bukan lagi sumber intimidasi.

Kedua, posisikan diri sebagai pembawa solusi atas ketegangan jiwa. Seperti Rasulullah SAW yang membawa Alquran sebagai obat bagi masyarakat Makkah yang gelisah, pesan spiritual yang kita sampaikan hari ini bisa jadi adalah jawaban atas persoalan mendasar yang sedang dihadapi oleh para pendengar, termasuk para pejabat tinggi yang sedang dilanda ketegangan jiwa.

Ketika kata-kata yang keluar bukan didorong oleh ego personal branding atau niat memamerkan keahlian, melainkan lahir dari kesadaran bersandar pada Allah, maka gagasan tersebut akan bertransformasi menjadi petunjuk yang menenangkan dan menggerakkan.

Di samping ujian rasa takut, ada risiko lain yang tak kalah berbahaya di panggung dakwah: hadirnya sifat “thagha”, yaitu perasaan melampaui batas, ambisi pribadi, atau merasa diri besar ketika berada di puncak panggung popularitas.

Ketika sifat “thagha” dan dahaga akan pengakuan “brand” diri menyusup ke dalam dada, pertolongan dan hikmah Allah akan surut. Ilmu dan persiapan yang telah dirancang dengan matang bisa mendadak menguap di atas podium. Narasi yang disampaikan pun akan terasa hambar, kehilangan daya gugah, dan hanya menjadi retorika kosong yang tidak menyentuh batin pendengar.

Oleh karena itu, setiap kali rasa cemas atau benih kesombongan itu menyapa, paksakan diri untuk kembali bersujud, sebagaimana Rasulullah SAW senantiasa menjaga kerendahan hatinya di hadapan Allah. Lalu kembalikan seluruh sandaran kepada-Nya melalui doa dan permohonan petunjuk, agar pesan yang disampaikan tetap terjaga keutuhan dan keikhlasannya.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.