Menyelami Pesan Tersembunyi di Balik Surat Al-Muddatstsir
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ada sebuah pola yang sangat mendasar, sebuah “ruang jeda” yang dialami oleh Nabi Muhammad di awal-awal mengemban tugas kenabian dan kerasulan ketika sejarah manusia berada di persimpangan jalan.
Membaca Alquran
bukan sekadar sebagai deretan teks, melainkan sebuah panduan gerakan
perubahan. Jika diresapi lebih dalam, tentu akan menemukan sebuah dinamika yang
sangat kaya. Seperti saat kita mencermati awal dua surat dengan dua panggilan
yang sangat pribadi, sangat hangat, namun mengemban konsekuensi peradaban yang
sangat besar: Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir.
Keduanya diawali
dengan sapaan yang mirip, yaitu panggilan kepada seorang manusia yang sedang
berselimut. Namun, jika kita melihat lebih dalam, ada perbedaan gagasan yang
sangat mendasar di balik keduanya.
Dari “Inward-Looking” Menuju “Outward-Looking”
Di dalam surat
Al-Muzzammil, Allah menyapa Rasulullah yang sedang menghadapi pergumulan
internal, sebuah kesendirian yang membutuhkan penguatan jiwa. Maka, resep yang
diberikan Allah adalah tindakan-tindakan yang bersifat “ke dalam” (inward-looking),
yakni dengan seruan qiyamul lail, membaca Alquran secara tartil,
berdzikir, tawakal dan menyusun kembali kekuatan spiritual.
Ini adalah proses
pendinginan. Sebelum seorang pemimpin melangkah menggelegakkan perubahan di
ruang publik, ia harus menyelesaikannya dulu dengan dirinya sendiri. Kualitas
kepemimpinan di luar sangat ditentukan oleh kedalaman ikhtiar di dalam. Harus
selesai urusan kediriannya.
Namun, Islam
tidak berhenti di ruang kesendirian. Lalu masuklah kita pada surat Al-Muddatstsir. Panggilan yang sama: “Wahai
orang yang berkemul atau berselimut”, tetapi dengan mandat yang berbeda. Di
sini, fokusnya berubah secara tegas menjadi “ke luar” (outward-looking).
Rasulullah tidak lagi diminta untuk sekedar memikirkan dan menguatkan diri,
melainkan:
قم فأنذر
“Bangunlah,
lalu berilah peringatan!”
Jelas sekali ini adalah perintah untuk berinteraksi dengan kenyataan, menghadapi masalah sosial, dan menawarkan sebuah alternatif tata kehidupan baru di tengah kehidupan jahiliyah.
Baca juga: Manifestasi Tawakal Fase Makkah
Tiga Pilar
Perubahan Sosial
Surat
Al-Muddatstsir adalah awal perintah untuk memberikan peringatan kepada manusia
dan masyarakat tentang perubahan tatanan kehidupan sosial yang sesuai dengan Sang
Pencipta kehidupan. Perintah ini berat, tapi sudah dibekali dengan tiga pilar
utama yang sebelumnya diberikan dalam surat Al-‘Alaq, Al-Qalam, dan Al-Muzzammil.
Setiap gerakan
yang berhasil mengubah sejarah dengan mampu mentransformasi masyarakat dari
jurang ketimpangan menuju keadilan selalu ditopang oleh tiga pilar utama,
sebagai berikut:
Pertama, gagasan
dan nilai antitesis. Adanya cara memandang baru yang secara mendasar berbeda,
bahkan berhadapan langsung, dengan “status quo” yang mapan namun tidak adil
(tidak adil).
Kedua, hadirnya
sekelompok “aktor inti” (para penggerak inti). Manusia-manusia yang tidak hanya
meyakini gagasan-gagasan tersebut di dalam kepala, tetapi juga siap menanggung
risiko atas keyakinannya dalam kenyataan sehari-hari.
Ketiga, transmisi
nilai yang konsisten. Bagaimana gagasan yang semula berada di ruang-ruang
sempit dan terbatas, dialirkan secara bertahap sehingga menjadi milik
masyarakat luas.
Sejarah mencatat,
dahulu para Nabi, mulai dari Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Rasulullah selalu
memulai gerakan dengan mengambil jarak (distantif) dari kebiasaan bernilai
rendah di sekitar. Mereka menjaga fitrah. Mereka memilih tidak larut dalam arus
utama yang merusak, demi benih merawat kebenaran yang kelak akan disemaikan.
Para nabi
tersebut, meskipun hidup dalam lingkungan sosio-religius masyarakat yang
musyrik, kafir atau penyembah-penyembah berhala, namun mereka dari sejak
awalnya tidak pernah terlibat dalam penyembahan berhala. Hidupnya dari sejak
kecil mengikuti nuraninya yang suci (fitrah) dan terlindung dari sifat atau pencemaran
nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakatnya. Karena itu nilai-nilai
kehidupan yang dipraktikkan, tidaklah sama atau bahkan bertentangan dengan
kultur dan adat istiadat masyarakat.
Pola yang sama
juga tercermin dalam sejarah kehidupan Rasulullah, bahkan distansi nilai-nilai
kehidupan tersebut begitu jelas, meskipun belum ada wahyu yang turun. Pada
tahap yang paling awal Rasulullah adalah sosok, yang sesuai dengan fitrahnya,
menolak dan mengambil jarak terhadap moralitas, serta nilai-nilai dan keyakinan
masyarakat Arab jahiliyah.
Berikutnya, beliau mengalami kristalisasi keyakinan dan nilai-nilai serta moralitas Islam, seiring dengan turunnya ayat-ayat pertama surat Al-Alaq, Al-Qalam, dan Al-Muzammil. Proses ini kemudian berlanjut dengan kristalisasi orientasi dan nilai-nilai baru bagi para sahabat, sehingga memunculkan dialog, dialektika, pengajaran dan pembelajaran kehidupan, dalam spektrum spasial sosial yang sangat terbatas.
Baca juga: Mengapa Sukses Besar Selalu Dimulai dari Sabar dan Hijrah?
“Darul
Arqam” dan Tenun Kepemimpinan
Proses transmisi
ini tidak terjadi dalam semalam. Di Makkah, Rasulullah membangun sebuah
ekosistem pembinaan dan kaderisasi yang sangat intensif selama kurang lebih
tiga tahun secara diam-diam. Di dalamnya terjadi proses pembentukan karakter (character
building) yang sangat kokoh.
Sahabat-sahabat
awal tidak hanya melihat Rasulullah sebagai seorang teman berdiskusi, tetapi
menumbuhkan sebuah kesadaran otoritas. Himbauan beliau diterima sebagai arah
langkah, dan arah langkah beliau diyakini sebagai jalan keselamatan.
Keteguhan seorang
Bilal bin Rabah. Ketika dihimpit batu di bawah terik matahari Makkah, atau
ketabahan keluarga Yasir, bukanlah nekat tanpa alasan. Itu adalah buah dari
pembentukan jiwa (inward-looking) yang telah selesai pada tahap awal.
Ketika jiwa sudah terisi penuh oleh keyakinan tauhid, penderita fisik di luar
tidak lagi sanggup mengerdilkan semangat mereka.
Membaca Arah
Hari Ini
Apa pesan
pentingnya bagi kita hari ini?
Sebuah gerakan perubahan
yang berdampak luas tidak pernah lahir dari ketergesa-gesaan di permukaan. Ia
membutuhkan keseimbangan yang presisi antara kedalaman spiritual dan ketajaman
respons sosial.
Kita tidak bisa melakukan intervensi sosial yang substantif (surat Al-Muddatstsir) tanpa terlebih dahulu menuntaskan konsolidasi jiwa dan keimanan (surat Al-Muzzammil). Namun di sisi lain, kita juga tidak boleh betah berlama-lama nyaman dalam “selimut kesalehan” individu, ketika kenyataan di luar memanggil-manggil hadirnya keadilan dan perbaikan.
Baca juga: Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia
Tugas kita hari
ini adalah menyerap energi dari pencerahan malam, kejernihan dzikir, ketajaman
munajat di sepertiga akhir malam untuk kemudian bangkit dan menggerakkan
perubahan di masyarakat yang kehausan spiritual. Menata kehidupan sosial
bermasyarakat agar sesuai dengan petunjuk tartil Alquran.
Sebab, peradaban
Islam tidak dibangun oleh mereka yang memilih untuk tetap berselimut, melainkan
oleh mereka yang berani bangun, melangkah, dan menghadirkan kebermanfaatan bagi
sesama.
Surat Al-Muddatstsir memerintahkan Rasulullah dan umat Islam untuk bangun dari segala bentuk kenyamanan diri agar memberikan peringatan kepada umat yang kebanyakan lalai dan tidak tahu jalan pulang, yakni menuju ridha Allah.