Lewati ke konten utama
Kamis, 10 September 2026 / 28 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Khutbah Jumat: Mencintai dan Dicintai Rasulullah
Foto: Pinterest
Khutbah

Khutbah Jumat: Mencintai dan Dicintai Rasulullah

Khutbah Jumat: Mencintai dan Dicintai Rasulullah

/ 28 Rabiul Awal 1448 H 5 menit baca 95 dibaca
Admin

Oleh: Admin

Admin Admin Editor: Admin

Oleh: KH Arif Hidayat, S.Q, M.Hum, Anggota Dewan Pertimbangan MUI Kota Tangerang

السَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُه

اَلْحَمَدُ ِللَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ الْعَظِيْمِ الْجَبَّارِ الْعَالِمِ بِمَا فِي الْضَمَائِرِ وَخَفِيِّ الأَسْرَارِ أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى النِّعَمِ وَتَوَلَّى كَالأَمْطَارِ وَأَشْكُرُهُ شُكْرَعِبَادِهِ الأخْيَارِ وَأَشْهَدُ أنْ لَّا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ الكَرِيْمُ الغَفَّارُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مَحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المُصْطَفَى المُخُتَارُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمِّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مُتَلاَزِمَيْنِ مَا دَامَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ أَمَّا بَعْدُ فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ.

إِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ، أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ)

Sidang Jumat yang Berbahagia,

Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Dan pada hari yang mulia ini pula, tak henti-hentinya khatib mengingatkan, untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Mengapa? Sikap saling mengingatkan ini akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman. Inilah intisari firman Allah SWT:

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (QS. Adz-Dzariyat: 55)

Sidang Jumat yang Berbahagia,

Bulan Rabiul Awal yang kita tempuh saat ini adalah bulan ketika lahirnya manusia mulia, utusan Allah SWT, yaitu Nabi Muhammad SAW. Beliau diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Dalam surat As-Saba’ ayat 28, Allah SWT berfirman:

 وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. As-Saba’: 28)

Ayat ini menjelaskan empat pokok penting yang perlu dipahami: adanya utusan Allah, yaitu Rasulullah Muhammad SAW, Allah sebagai pengutus, seluruh manusia sebagai yang diutus kepadanya, dan risalah yang penuh rahmat.

Rasulullah SAW bukan hanya sekadar pembawa rahmat, melainkan kepribadian beliau sendiri adalah rahmat. Kemuliaan beliau disampaikan dengan pujian yang agung oleh Allah SWT. Kemuliaan sifat Rasulullah saw tercermin dalam kesehariannya beliau berdakwah. Sehingga Islam dikenal sebagai agama yang mengajarkan kepada kemaslahatan dunia dan akhirat.

Hal ini perlu dipahami bahwa pengertian rahmat pada diri Rasulullah SAW adalah ajaran tentang persamaan, persatuan dan kemuliaan umat manusia, hubungan sesama manusia, hubungan sesama pemeluk agama, dan hubungan antaragama. Rasulullah SAW mengajarkan untuk saling menghargai, saling menolong, menjaga persaudaraan, perdamaian dengan menitikberatkan pada ajaran akhlakul karimah, sopan santun, dan tepo seliro.

Sidang Jumat yang Berbahagia,

Sebagaimana telah dijelaskan, visi pendidikan Rasulullah SAW adalah terciptanya kedamaian dan keselamatan dunia dan akhirat. Sepantasnya sebagai umatnya, kita semua kaum muslimin bersyukur atas diutusnya Rasulullah SAW dan senantiasa mencintai beliau dengan sepenuh hati, dengan kecintaan yang sebenar-benarnya.

Walaupun tidak ada aturan yang menjelaskan cara mencintai Rasul secara khusus, namun kecintaan terhadap Rasulullah SAW dapat dibuktikan dengan beberapa hal, di antaranya dengan memperbanyak membaca shalawat. Sebagaimana diperintahkan dalam Alquran surat Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi:

 اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Para sahabat Rasulullah SAW telah membuktikan kecintaannya terhadap Rasulullah SAW secara nyata. Pertama, Ali bin Abi Thalib menggantikan Rasulullah SAW saat pengepungan oleh kaum Quraisy pada saat Rasulullah SAW hendak hijrah.

Kedua, berkaitan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj. Ketika tidak ada satupun orang yang percaya kepada Rasulullah SAW telah di-Isra’ Mi’raj-kan, Abu Bakar Ash-Shidiq lah orang yang pertama kali meyakini akan kebenaran tersebut.

Ketiga, Umar Bin Khattab tidak rela Rasulullah SAW dikabarkan telah meninggal, sehingga siapa pun yang berani mengatakan berita itu akan dipenggal kepalanya oleh beliau.

Keempat, Umu Sulaym mengumpulkan keringat Rasulullah SAW dan mengabadikannya. Selain memperbanyak bacaan shalawat, cara kita mencintai Rasulullah SAW adalah dengan mengikuti sunnah-sunnahnya. Baik berupa perkataan, perbuatan, maupun segala kebiasaan sikap Rasulullah SAW dengan jalan memperbanyak bershalawat dan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah SAW, semoga kita semua menjadi orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah SAW.

Dikisahkan dalam kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi, Syekh Syibli mendatangi Ibnu Mujahid. Secara spontan, Ibnu Mujahid merangkul dan mencium kening Syekh Syibli. Syekh Syibli pun bertanya tentang hal itu. Syekh Mujahid menceritakan bahwa ia pernah bermimpi dan melihat Rasulullah SAW mencium kening Syekh Syibli.

Dalam mimpinya Ibnu Mujahid bertanya kepada Rasulullah SAW, hal apa yang menyebabkan Rasulullah saw begitu mencintai Syekh Syibli. Rasulullah SAW menjawab bahwa Syekh Syibli selalu membaca dua ayat terakhir surat at-Taubah dan shalawat setiap selesai shalat fardhu.

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Dan membaca shalawat:

 صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّد

Kemudian Ibnuu Mujahid menanyakan akan hal itu terhadap Syekh Syibli dan ternyata beliau selalu mengamalkan apa yang diceritakan Rasulullah SAW dalam mimpi Ibnu Mujahid. Melihat kisah tersebut, bukan hanya berapa banyak shalawat yang dibaca, tetapi konsisten, terus-menerus dan kecintaan sebenar-benarnya kepada Rasulullah SAW-lah yang dapat menjadikan kita semua dikenal oleh Rasulullah SAW dan akan mendapatkan cintanya.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu bershalawat dan menjalankan sunnah Rasulullah SAW sebagai bukti cinta kita. Dan kita semua akan mendapatkan cinta dan syafaat dari beliau, Rasulullah Muhammad SAW. Amin.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Allah Ta’ala menjamin rahmat dan balasan kebaikan bagi hamba-Nya yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan. Maka, mencintai seseorang yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk meneladaninya adalah perbuatan yang sungguh sangat mulia.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga kalian menjadikan aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR Bukhari)

Mencintai Nabi SAW, sungguh kebahagiaan duniawi dan ukhrawi yang akan diperoleh. Nabi SAW bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu: (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” (HR Bukhari)

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjukku), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami maksud dari seseorang yang mencintai suatu kaum yang tidak pernah berjumpa dengannya sekalipun.” Lalu Rasulullah SAW bersabda:

المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang itu akan bersama siapa yang ia cintai.” (HR Bukhari)

Syekh al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Jika seseorang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka kendatipun amalannya tidak sebaik yang dilakukan oleh kaum tersebut sebab keterkaitan hati dengan mereka. Kiranya rasa cinta itu memotivasi agar berbuat serupa.”

Oleh karenanya, makna cinta yang sesungguhnya kepada Nabi SAW adalah mengamalkan apa yang diamalkan oleh beliau. Dan bahwa mencintai Nabi SAW adalah ibadah.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

BAGIKAN: