Khutbah Jumat: Mengambil Ibrah Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Rabiul Akhir
Khutbah Jumat: Mengambil Ibrah Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Rabiul Akhir
Oleh: Admin
Editor: Admin
Oleh: Drs KH Amin Munawar, M.A, Ketua 1 MUI Kota Tangerang
Khutbah I
الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السَّلَامِ وَأَفْهَمَناَ
بِشَرِيْعَةِ النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ ذُوالْجَلَالِ وَالْاِ
كْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ، الَلّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ
وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّ يْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيٰٓاَيُّهَا
الْإِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ. قاَلَ تَعَالٰى فِى
الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ
مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: (يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ
لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ
وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا).
وقال اللّٰهُ تَعَالَى أَيْضًا:
(هُوَ الَّذِيْٓ اَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ
اَهْلِ الْكِتٰبِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِاَوَّلِ الْحَشْرِۗ مَا ظَنَنْتُمْ اَنْ
يَّخْرُجُوْا وَظَنُّوْٓا اَنَّهُمْ مَّانِعَتُهُمْ حُصُوْنُهُمْ مِّنَ اللّٰهِ
فَاَتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوْا وَقَذَفَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ
الرُّعْبَ يُخْرِبُوْنَ بُيُوْتَهُمْ بِاَيْدِيْهِمْ وَاَيْدِى الْمُؤْمِنِيْنَۙ
فَاعْتَبِرُوْا يٰٓاُولِى الْاَبْصَارِ).
Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Melalui
mimbar khutbah Jumat singkat siang hari ini, marilah kita hubungkan jiwa dan
raga kita kepada Allah SWT, karena atas segala limpahan anugerah dan percikan
rahmat, serta karunia Allah yang senantiasa dicurahkan kepada kita, yang alhamdulillah
sampai detik yang berbahagia ini, tiada kata yang paling indah yang dapat kita
ucapkan dan tiada ungkapan yang paling indah yang dapat kita ungkapkan,
melainkan ucapan dan ungkapan penuh rasa syukur kepada Allah SWT.
Alhamdulillah,
kita dapat duduk simpuh penuh dengan khidmat, ikhlas, dan rela meninggalkan semua
dan segala aktivitas kita, kesibukan kita, waktu istirahat kita, tugas pokok
penting dan berbagai hal lainnya.
Semua itu kita
tinggalkan dengan niat suci, langkah suci, dan pakaian kia serba suci, kemudian
kita tundukan kepala kita di tempat yang suci dan mulia ini dalam rangka berdialog
langsung dengan yang Maha Suci melalui shalat Jumat di siang hari ini. Semoga
shalat Jumat kita dan termasuk ibadah-ibadah lain, baik fardhu maupun sunnah,
senantiasa diterima Allah SWT.
Selanjutnya, semoga shalawat serta salam senantiasa dilimpahkan kepada kepada junjungan kita,
Nabi Besar Muhammad SAW, juga kepada keluarga dan kepada para sahabatnya, serta
kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik mereka yang masih hidup maupun
yang telah mendahului kita.
Dan satu
hal yang tak henti-hentinya khatib akan selalu berpesan kepada kita semua:
marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah dengan senantiasa bersungguh-sungguh
melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Hadirin
Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Ketahuilah,
bahwa bulan Rabiul Akhir bukanlah bulan biasa. Bulan ini adalah bulan yang
mengandung sejarah, bulan yang mengandung nilai historis, bulan yang tidak akan
pernah terlupakan oleh umat Islam, karena betapa pentingnya peristiwa yang
terjadi pada bulan Rabiul Akhir ini.
Dalam
sejarah, disebutkan bahwa bulan Rabiul Akhir menyimpan sejarah penting, seperti
turunnya surat Al-Hasyr dan terjadinya Perang Buhran.
Adapun pelajaran
utamanya yang bisa dipetik nantinya adalah tentang kewaspadaan terhadap
pengkhianatan, pentingnya persatuan, ketegasan dalam kebenaran, serta keadilan dalam memimpin.
Yang jelas,
bulan Rabiul Akhir memotivasi umat untuk meneladani perjuangan Rasulullah SAW
dalam membangun peradaban yang berkeadilan.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Salah satu
peristiwa besar di bulan ini adalah turunnya surat Al-Hasyr. Surat ini
diwahyukan berkaitan dengan pengusiran kaum Yahudi bani Nadhir dari Madinah
setelah mereka berkhianat dan mencoba membunuh Nabi. Ini mengajarkan kita untuk
waspada terhadap kemunafikan dan pengkhianatan dari dalam (musuh dalam selimut).
Allah SWT berfirman:
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَخْرَجَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنْ أَهْلِ
ٱلْكِتَٰبِ مِن دِيَٰرِهِمْ لِأَوَّلِ ٱلْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنتُمْ أَن يَخْرُجُوا۟
ۖ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمْ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ
مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا۟ ۖ وَقَذَفَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُوْنَ
بُيُوْتَهُمْ بِأَيْدِيْهِمْ وَأَيْدِى ٱلْمُؤْمِنِيْنَ فَٱعْتَبِرُوا۟
يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَبْصَٰرِ
“Dialah
yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung
mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka
akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat
mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka
(hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan
ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan
tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian
itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.” (QS:
AL-Hasyr: 2)
Dari sini umat
Islam harus belajar untuk selalu waspada (paham kerja intelijen/analisis
situasi) dan menjaga persatuan kaum muslimin, serta meyakini bahwa tipu daya
musuh akan dikembalikan kepada musuh mereka sendiri.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Peristiwa
besar yang kedua adalah terjadinya Perang Buhran. Perang ini merupakan ekspedisi
militer yang terjadi di wilayah Buhran pada tahun 3 Hijriyah.
Pada saat itu, Rasulullah SAW mendapat informasi tentang
rencana Bani Sulaim yang berpotensi mengancam keamanan kaum muslimin. Beliau
kemudian berangkat bersama sekitar 300 sahabat menuju Buhran untuk memastikan
keadaan tersebut.
Namun, setibanya di Buhran, Bani Sulaim telah berpencar
sehingga tidak terjadi pertempuran. Rasulullah SAW pun kembali ke Madinah tanpa
pertumpahan darah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak
bertindak gegabah dalam menghadapi ancaman, tetapi memastikan keadaan terlebih
dahulu dan tidak memaksakan peperangan ketika tidak diperlukan.
Dari peristiwa ini kita belajar pentingnya tabayyun,
kehati-hatian, dan pengendalian diri. Di tengah derasnya arus informasi, jangan
mudah percaya dan jangan tergesa-gesa menyebarkan berita yang belum jelas.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menjaga kedamaian dan mencegah konflik juga
merupakan bentuk keberanian dan akhlak mulia.
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Kita harus
memahami dengan benar bahwa peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah
bukan memulai perang. Namun peperangan yang dilakukan oleh Nabi adalah dalam
rangka membela diri.
Saat di
Makkah, Allah SWT malah memerintahkan Nabi untuk tidak melawan. Namun setelah
hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad dan pengikutnya diizinkan untuk berperang
melawan orang-orang yang selama ini memerangi kaum muslimin. Hal ini ditegaskan
dalam surat Al-Hajj ayat 39:
اُذِنَ لِلَّذِيۡنَ يُقٰتَلُوۡنَ بِاَنَّهُمۡ ظُلِمُوۡا
ؕ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَـصۡرِهِمۡ لَـقَدِيۡرُ
“Diizinkan
(berperang) kepada orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka
dizalimi. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa membela mereka.”
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Selain
untuk membela diri, terjadinya peperangan di zaman Nabi adalah untuk memberi
pelajaran terhadap musuh yang mencari gara-gara atau bersekongkol mengganggu
umat Islam meskipun sudah ada perjanjian atau kerja sama. Peperangan itu adalah
untuk melakukan penertiban atau penghukuman agar perjanjian yang telah
dilakukan tidak dilanggar.
Di samping
itu, peperangan di zaman nabi juga terjadi guna menggagalkan rencana musuh yang
mengancam keselamatan kaum muslim.
Hadirin
Sidang Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Selain
diizinkannya Nabi Muhammad berperang dalam rangka membela diri, Allah juga
telah menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad untuk menjadi pelindung semua
golongan termasuk mereka yang berbeda agama. Hal ini termaktub dalam surat
At-Taubah ayat 6:
وَاِنْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ
فَاَجِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلٰمَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهٗۗ ذٰلِكَ
بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَࣖ
“Jika
seseorang di antara orang-orang musyrik ada yang meminta pelindungan kepada
engkau (Nabi Muhammad), lindungilah dia supaya dapat mendengar firman Allah
kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena
sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.”
Ma’syiral
Muslimin Rahimakumullah,
Kenapa kita
perlu mengambil pelajaran atau ibrah dari peristiwa-peristiwa penting yang
terjadi di masa lalu? Tidak lain adalah sebagai bekal untuk menghadapi masa
depan.
Kesuksesan
yang terjadi dalam sejarah perlu dicontoh dan diwujudkan dalam kehidupan saat
ini, sementara kegagalan dalam sejarah harus menjadi pelajaran dan diusahakan
dengan sekuat tenaga untuk tidak terulang kembali.
Semoga
hadirnya bulan Rabiul Akhir ini menjadi momentum untuk terus belajar dari
sejarah dan memahaminya dengan benar. Mudah-mudahan kita termasuk golongan
orang-orang yang sukses dalam mengarungi kehidupan ini dengan belajar dari
sejarah. Amin
Demikian
khutbah Jumat yang bisa khatib sampaikan. Semoga bisa membawa manfaat dan
keberkahan bagi kita semua, dan semoga kita digolongkan Allah sebagai hamba
yang istiqamah dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin
ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ
وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم،
وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ
لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah
II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ،
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا
أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ
عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ
وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم
ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ
وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ
وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً
وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.