Tips Menguatkan Akal dan Hafalan dari Kitab “Khazinatul Asrar”
Tips Menguatkan Akal dan Hafalan dari Kitab “Khazinatul Asrar”
Jakarta, MUI Digital — Kemampuan mengingat merupakan salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Dengan ingatan, seseorang dapat menyimpan ilmu, menjaga pengalaman, memahami pelajaran, mengingat pesan guru, bahkan mempertahankan warisan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam tradisi Islam, persoalan daya ingat bukan hanya soal
psikologis atau kemampuan otak. Hal itu juga berkaitan dengan adab, kesungguhan
belajar, kebersihan jiwa, doa, keberkahan ilmu, dan hubungan seorang pencari
ilmu dengan Alquran.
Menariknya, persoalan tersebut dapat ditemukan dalam salah
satu pembahasan menarik dalam kitab Khazinatul Asrar Jalilatul Adzkar
karya Syekh Haqi an-Nazili. Dalam bab tentang berbagai keterangan yang
berkaitan dengan peningkatan akal, pemahaman, dan kekuatan hafalan, an-Nazili
menghimpun sejumlah riwayat, pendapat ulama, serta pengalaman yang disebut
sebagai “mujarrabat”, yakni amalan yang menurut pengalaman sebagian
ulama memberikan manfaat tertentu.
Yang menarik, pembahasannya menunjukkan bahwa para ulama terdahulu tidak memandang kemampuan menghafal sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Mereka menghubungkannya dengan Alquran, pengulangan, doa, kedisiplinan, serta keberkahan dari wahyu.
Menghafal dengan Bertahap
Salah satu keterangan yang dikutip oleh an-Nazili berasal dari
Abu al-‘Aliyah. Beliau memberikan nasihat agar seseorang mempelajari Alquran
lima ayat demi lima ayat. Keterangan tersebut juga dikaitkan dengan cara Nabi
Muhammad SAW menerima Alquran dari Malaikat Jibril AS secara bertahap. Abu al-‘Aliyah mengatakan:
تعلموا القرآن خمس آيات خمس آيات فإن النبي صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يأخذ من جبرائيل عليه الصلاة والسلام خمساً خمساً
كذا
“Pelajarilah Alquran lima ayat demi lima ayat, karena
Nabi SAW dahulu menerima Alquran dari Jibril AS lima ayat demi lima ayat.” (Khazinatul
Asrar [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah], h. 81).
Terlepas dari perincian penilaian sanad masing-masing
riwayat dalam kutipan tersebut, prinsip yang terkandung di dalamnya sangat
menarik. Secara implisit disebutkan bahwa hafalan yang kuat tidak bisa terlepas
dari proses yang bertahap dan berulang.
Inilah salah satu karakter penting pendidikan Islam yang
ideal, baik klasik maupun modern. Bahwa ilmu tidak selalu dikejar dengan prinsip
sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin. Sebaliknya, ilmu ditanam
sedikit demi sedikit sampai benar-benar melekat. Artinya, kealiman atau kepakaran
seseorang tidak terlepas dari proses panjang belajar.
Berdasarkan keterangan dalam riwayat di atas, lima ayat yang
dipahami dan diulang secara terus-menerus dapat lebih bermanfaat daripada
puluhan halaman yang dibaca sekali lalu hilang dari ingatan.
Kiranya, dalam konteks pendidikan modern, prinsip semacam
ini juga mempunyai relevansinya. Hafalan membutuhkan repetisi, konsistensi,
perhatian, dan jeda. Karena itu, tradisi “talaqqi”, “muraja’ah”
atau pengulangan yang telah lama dipraktikkan di pesantren sebenarnya menyimpan
prinsip pedagogis yang sangat penting. Sehingga, pendidikan ala pesantren tidak
bisa dipandang sebelah mata.
Dalam kitab Khazinatul Asrar, an-Nazili juga mengutip
keterangan yang dinisbatkan kepada Imam al-Ghazali mengenai ayat-ayat tertentu
yang bisa dijadikan amalan untuk dibaca dan ditulis sebagai bagian dari ikhtiar
untuk memperoleh kekuatan dalam menghafal ilmu.
Disebutkan,
Imam Ghazali mengatakan, bahwa barang siapa menginginkan hafalan
terhadap seluruh ilmu, baik ilmu yang mendalam maupun yang besar, hendaknya ia
menulis pada sebuah wadah yang bersih, beberapa ayat berikut:
Enam awal ayat surat Ar-Rahman:
الرَّحْمَٰنُ. عَلَّمَ الْقُرْآنَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ. عَلَّمَهُ
الْبَيَانَ. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ
يَسْجُدَانِ
“(Allah) Yang Maha Pengasih. Dia telah mengajarkan Alquran.
Dia menciptakan manusia. Dia mengajarinya pandai menjelaskan. Matahari dan
bulan beredar menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan tunduk
kepada-Nya.” (QS. Ar-Rahman: 1–6)
Lalu ayat-ayat berikut:
لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ. إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ
وَقُرْآنَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ. ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا
بَيَانَهُ
“Janganlah engkau menggerakkan lidahmu untuk membaca Alquran
karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya Kamilah yang akan
mengumpulkannya di dalam dadamu dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai
membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya Kamilah yang
akan menjelaskannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16–19)
Kemudian ditutup dengan dua ayat ini:
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ. فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ
“Bahkan, ia adalah Alquran yang mulia, yang tersimpan
dalam Lauh Mahfuz.” (QS. Al-Buruj: 21–22)
Al-Ghazali kemudian menganjurkan—setelah ayat-ayat di atas
ditulis dalam satu wadah—agar kemudian menuangkan air Zamzam di dalamnya. Lalu,
tulisan tersebut dihapus dengan air itu. Selanjutnya, air diminumkan kepada
anak atau siapa saja orang yang dikehendaki agar ia memiliki kemampuan
menghafal segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu. Insya Allah, dengan
keberkahan ayat-ayat yang mulia tersebut, kemampuan memahami dan menghafal ilmu
akan semakin kuat. (Khazinatul Asrar [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah],
h. 81).
Amalan ini disebutkan telah dipraktikkan oleh para ulama saleh
terdahulu dan dirasakan khasiatnya. Karena itu, hal ini disebut sebagai bagian
dari “mujarrabat”, yakni amalan yang telah terbukti mujarabnya.
Jika dikaji lebih dalam, pemilihan ayat-ayat tersebut secara
simbolik tentu sangat menarik. Ayat-ayat itu berbicara tentang pengajaran Alquran,
kemampuan manusia menerima pengetahuan, proses penerimaan wahyu, serta
pemeliharaan Alquran.
Namun demikian, di sini perlu digarisbawahi bahwa pesan yang dapat ditangkap dari tradisi tersebut bukan semata-mata kalau menulis ayat tertentu secara mekanis akan membuat seseorang menjadi jenius. Yang lebih mendasar adalah membangun hubungan spiritual dengan sumber ilmu, yaitu Alquran, sembari melakukan ikhtiar untuk belajar dan menghafal.
Menyatukan Akal dan Keberkahan
Judul bab yang dihimpun an-Nazili menyebut tiga hal penting;
“ziyadatul aql”, “alfahmu”, “quwwatul hifdhi”, yang artinya adalah
peningkatan akal, pemahaman, dan kekuatan hafalan.
Urutan dalam keterangan tersebut patut direnungkan. Bahwa hafalan
yang kuat itu ditopang dengan peningkatan akal dan pemahaman yang matang.
Dengan kata lain, seseorang dapat menghafal ribuan halaman tetapi belum tentu
memahami isinya. Sebaliknya, seseorang dapat memahami suatu gagasan tetapi
kehilangan detail jika tidak mempunyai daya ingat yang baik.
Walhasil, ilmu yang ideal membutuhkan ketiganya, yakni akal
yang jernih, pemahaman yang mendalam, dan ingatan yang kuat. Kemudian ketiga
kemampuan tersebut diarahkan kepada tujuan yang lebih tinggi, yaitu mengenal
Allah, memahami wahyu, memperbaiki akhlak, dan memberikan manfaat kepada
manusia.
Jika ilmu hanya untuk kebanggaan, hafalan dapat menjadi
beban. Jika ilmu untuk mencari kedudukan, kecerdasan dapat berubah menjadi
kesombongan. Tetapi jika ilmu diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan
memberi manfaat kepada sesama, maka hafalan, pemahaman, dan kecerdasan
memperoleh arah yang benar.
Demikianlah pelajaran penting yang dapat kita baca dari khazanah ulama dalam kitab Khazinatul Asrar. Bahwa menjaga kekuatan akal dan hafalan menyangkut pula perpaduan antara ikhtiar, disiplin, doa, adab, dan keberkahan ilmu. Bukan sekadar persoalan teknis belaka.