Menjemput “Qaulan Tsaqilan”: Rahasia Kata yang Mengguncang Dunia
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah kita mendengar atau membaca sebuah kalimat yang seketika membuat bulu kuduk merinding, mengubah cara memandang hidup dalam sekejap, atau bahkan mampu menggerakkan jutaan orang untuk melakukan perubahan besar?
Di era digital hari ini, kita kebanjiran
kata-kata. Setiap hari, miliaran twit, takarir (caption), qoute
dan video pendek diproduksi. Namun, jujur saja: berapa banyak dari kata-kata
itu yang benar-benar bernyawa? Sebagian besar menguap begitu saja, hilang
tersapu algoritma. Riuh tapi hampa dan bising tapi tak membekas.
Ada rahasia besar yang sengaja Allah bocorkan dalam Alquran tentang bagaimana menyusun kata-kata yang tidak hanya didengar telinga, tapi menghunjam ke lubuk hati dan meruntuhkan keangkuhan zaman. Rahasia itu bernama “qaulan tsaqilan” (perkataan yang berat).
Baca juga: Seni “Tabattul” di Era Digital
Bukan Sekadar Retorika, Ini Soal “Bobot”
Ketika Allah SWT berfirman dalam surat
Al-Muzzammil, ayat 5, yang artinya: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan
kepadamu perkataan yang berat (qaulan tsaqilan).” (QS. Al-Muzzammil: 5), maka
sesungguhnya ayat ini tidak sekadar sedang membicarakan teknik pidato,
retorika, intonasi atau keindahan rima bahasa.
Hakikatnya, qaulan tsaqilan adalah
kata-kata yang memiliki pengaruh besar. Ia bagaikan peluru ideologi yang
presisi. Di masa awal Islam, kata-kata yang dibawa Rasulullah SAW begitu berat
karena ia menantang “status quo” kezaliman jahiliyah, mengungkap berhala
pemikiran, dan menawarkan sistem penjelas kehidupan yang revolusioner.
Namun, perhatikan urutannya. Allah tidak langsung
memberikan qaulan tsaqilan begitu saja. Perintah itu turun persis
setelah proses untuk membelah malam melalui qiyamul lail dan membedah
wahyu melalui tartilul qur’an .
Artinya, wibawa sebuah kata di ruang publik (siang hari) ditentukan oleh seberapa intim interaksi kita dengan Allah, Sang Pencipta, di ruang privat (malam hari) melalui shalat malam dan tilawah Alquran dengan tartil.
Baca juga: Tartil Alquran: Fondasi Spiritual dan Intelektual yang Menopang Peradaban Islam
Memoles Permata di Keheningan Malam
Mengapa qiyamul lail dan tartilul qur’an
menjadi syarat mutlak lahirnya kata-kata yang berbobot?
Bayangkan sebuah permata mentah yang baru diambil
dari bumi. Ia buram karena tertutup lumpur dan kotoran. Begitulah jiwa dan
pikiran kita yang setiap hari terpapar polusi informasi, ambisi duniawi, ego
pribadi, dan pencitraan.
Ketika seorang pejuang dakwah, seorang penulis,
atau seorang pemimpin bersujud di segmen malam, ia sedang “menggosok”
permatanya. Di bawah siraman ketenangan malam, kotoran ego itu luruh. Motifnya
dimurnikan hanya untuk Allah.
Saat ia membaca Alquran
dengan tartil, ia sedang menyerap kebenaran berlapis-lapis yang disediakan oleh
Alquran. Sebab ia adalah Al-Furqan, yakni pisau analisis kritis untuk membedah
realitas masyarakat. Ia adalah Al-Kitab, yakni struktur ilmu pengetahuan yang
kaku dan terorganisasi. Ia juga adalah An-Nur, yaitu cahaya yang
memberikan kejelasan arah dan strategi.
Ketika jiwa telah bersih dan pikiran telah terisi oleh metodologi yang Allah siapkan, maka apa pun yang keluar dari lisannya tidak akan lagi menjadi omong kosong. Kata-katanya menjelma menjadi doa yang makbul, opininya menjadi referensi yang mencerahkan, dan argumentasinya menjadi pelita di tengah kegelapan post-truth.
Baca juga: Menjahit Napas Perjuangan Dakwah Melampaui Batas Usia
Panggilan untuk Mengambil Bagian
Sahabat, dunia saat ini sedang mengalami krisis
wacana akut yang bermakna. Umat Islam mendominasi secara kuantitas, namun
kita sering kali gagap dan defensif saat harus menerapkan nilai-nilai Islam ke
dalam panggung sains, ekonomi, sosiologi, dan teknologi modern. Kita
kekurangan manusia dengan kapasitas qaulan tsaqilan.
Tantangan dakwah modern di ruang siber dan ruang
akademik membutuhkan qaulan tsaqilan. Jangan biarkan jemari kita hanya
mengetik narasi yang dangkal. Jangan biarkan lisan kita hanya memproduksi
kritik tanpa solusi.
Mari ubah strategi. Jika selama ini kita lelah
mengejar metrik algoritma dan popularitas semu, namun kata-kata tetap tak
berdaya, saatnya kita kembali pada strategi yang terkandung dalam surat Al-Muzzammil.
Bangun oase malam dengan menyisihkan waktu di saat
manusia lain terlelap. Sedot kekuatan Allah dari Yang Maha Kuasa. Di situlah
ketahanan mental dan ketabahan hati di-upgrade dan di-update.
Pertajam intelektualitas lewat Alquran. Jangan
hanya membaca teksnya, melainkan serap juga metodologinya. Jadikan Alquran
sebagai kompas utama untuk merumuskan “sistem penjelas” atas segala
permasalahan karut-marut modern.
Ketika kita konsisten menegakkan rumusan
Al-Muzzammil ini, kita sebenarnya sedang menduplikasi strategi perang pemikiran
yang digunakan oleh manusia teragung di muka bumi ini, yaitu Rasulullah SAW.
Tengoklah kembali bagaimana Rasulullah SAW
menggunakan qaulan tsaqilan sebagai senjata utama di fase awal dakwah
Makkah.
Pada saat itu, beliau tidak memiliki tentara,
tidak memegang tampuk kekuasaan, dan tidak didukung oleh logistik yang
melimpah. Lawan yang menghadap adalah para dedengkot Quraisy yang menguasai
panggung retorika, politik dan ekonomi Arab. Namun, mengapa kata-kata
Rasulullah yang keluar dari bibir beliau begitu mematikan bagi kesombongan
jahiliyah?
Jawabannya adalah karena setiap kalimat yang diucapkannya
telah diisi “daya ledak spiritual” lewat tangisan di lorong malam.
Ketika Rasulullah berdiri di atas bukit Shafa dan
memahami kebenaran, kata-katanya tidak mengandung keraguan sedikit pun.
Qaulan tsaqilan
itu bekerja seperti sinar laser, menembus tirani, memerdekakan mental para
budak seperti Bilal, dan meruntuhkan dogma-dogma kuno yang telah berurat akar
selama berabad-abad.
Bahkan musuh bebuyutan seperti Umar bin Khattab pun tersungkur hatinya, bukan karena tebasan pedang, melainkan karena getaran magis dari untaian ayat Alquran yang ia dengar.
Baca juga: Ketika Doa dalam Qiyamul Lail “Belum Terkabul”
Demikianlah kedahsyatan “senjata” qaulan tsaqilan. Ia tidak menghancurkan fisik manusia, melainkan menaklukkan jiwa dan merombak total isi kepala mereka.
Rasulullah SAW telah membuktikan bahwa kata-kata
yang lahir dari rahim qiyamul lail dan tartilul qur’an mampu
merevolusi sebuah bangsa yang jahiliyah menjadi guru peradaban dunia hanya
dalam waktu dua dekade.
Dunia hari ini sudah jenuh dengan gangguan tanpa
makna. Mereka sedang menunggu narasi baru, gagasan segar, dan pemikiran
bernyawa dari para dai yang memiliki qaulan tsaqilan. Tantangan zaman
kita mungkin berbeda media dengan zaman Makkah, namun rumusan penaklukannya
tetap sama.
Mari jemput qaulan tsaqilan di atas sajadah malam ini. Isilah “senjata” kata-kata dengan peluru spiritual dan intelektual yang presisi. Lalu, izinkan Allah yang mengambil alih untuk menggetarkan hati manusia dan memenangkan pertarungan wacana melalui jemari dan kata-kata besok pagi!