Lewati ke konten utama
Minggu, 16 Agustus 2026 / 3 Rabiul Awal 1448 H
Jadwal memuat...
Berita

Inggris Dilaporkan tak Terima Sindiran Netanyahu Republik Islam Britaniya

4 menit baca 131 dibaca
Ilustrasi bendera Inggris
Ilustrasi bendera Inggris - Photo by Ian Taylor on Unsplash
Bagikan:

London, MUI Digital-Pemerintah Inggris dilaporkan melontarkan kecaman balik terhadap pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut Inggris sebagai “Republik Islam Inggris”.

Seorang juru bicara pemerintah menyebut pernyataan tersebut sama sekali tidak dapat diterima dan mengatakan masalah itu telah disampaikan kepada pemerintah Israel, dikutip dari Euronews, Ahad (16/8/2026).

Netanyahu melontarkan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara podcast di radio militer Israel. Dalam wawancara itu, ia juga berseloroh bahwa Inggris merupakan “republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir”.

Dalam wawancara tersebut, pemimpin Israel itu memuji Randolph Churchill, putra mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, atas pemberitaan positifnya mengenai Israel selama Perang Enam Hari pada 1967.

“Coba cari pemberitaan seperti itu sekarang, di negara yang disebut Republik Islam Inggris,” kata Netanyahu.

Pembawa acara kemudian memperkuat pernyataan tersebut dengan bertanya, “Bukankah seluruh Eropa sekarang sudah seperti itu?”

Netanyahu menyetujuinya. Ia kemudian menambahkan, “Ya, tetapi seseorang pernah mengatakan, ‘Republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir akan menjadi Republik Islam Britania Raya.’”

“Jadi, kami akan memastikan tidak ada republik Islam kedua di sini, di Iran,” lanjutnya.

Sebagai catatan, Republik Islam Pakistan telah menjadi negara berkekuatan nuklir sejak 1998.

Pernyataan Netanyahu tersebut menggemakan klaim serupa yang selama ini disampaikan sejumlah politisi dan aktivis dari kelompok kanan di Inggris maupun dunia internasional. Mereka menilai Inggris semakin berada di bawah pengaruh Islam.

Sebuah kelompok Yahudi Inggris dan Irlandia mengecam pernyataan perdana menteri Israel tersebut sebagai ucapan yang penuh kebencian dan memecah belah.

“Di saat antisemitisme, kebencian terhadap Muslim, dan perpecahan sosial menimbulkan ketakutan nyata di seluruh negeri kami, bahasa semacam ini berbahaya dan tidak bertanggung jawab,” kata Rabbi Charley Baginsky dan Rabbi Josh Lev, dua pemimpin Movement for Progressive Judaism.

“Perdana Menteri Netanyahu tidak berbicara atas nama umat Yahudi Inggris. Pernyataannya tidak mewakili kami,” kata mereka.

Gavin Barwell, mantan kepala staf Downing Street untuk Perdana Menteri Theresa May, mengatakan pernyataan Netanyahu merupakan Islamofobia yang terang-terangan.

“Mari berharap sekarang semua orang meninggalkan kepura-puraan yang masih dipertahankan sebagian pihak bahwa orang ini adalah teman Inggris,” tulis Barwell dalam sebuah unggahan di X.

Baca juga:“Scholasticide” Israel Menghancurkan Pendidikan di Gaza

Meskipun secara tradisional memiliki hubungan yang kuat, ketegangan antara pemerintah Israel dan Inggris meningkat sejak Partai Buruh yang berhaluan progresif berkuasa di Inggris pada 2024.

Di bawah mantan Perdana Menteri dari Partai Buruh, Keir Starmer, Inggris menghentikan sementara pembicaraan perdagangan bebas dengan Israel dan menangguhkan sejumlah lisensi ekspor senjata.

Seperti Prancis, Inggris juga menjatuhkan sanksi terhadap dua anggota kabinet Israel dari kelompok sayap kanan garis keras, Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.

Tahun lalu, Inggris bergabung dengan sejumlah negara sekutunya, termasuk Prancis dan Kanada, dalam mengakui negara Palestina.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham baru-baru ini meminta maaf atas respons awal Partai Buruh terhadap tindakan Israel di Gaza.

Ia mengakui bahwa partainya terlalu lambat menyerukan gencatan senjata. “Itulah sebabnya kita perlu berbuat lebih banyak, termasuk mempertimbangkan sanksi tambahan terhadap mereka yang terlibat dalam kekerasan di Gaza, serta mempertimbangkan langkah-langkah untuk melarang perdagangan barang dengan permukiman ilegal,” kata Burnham.

 Rodwan Abouharb, profesor madya hubungan internasional di University College London, mengatakan sindiran Netanyahu menandai titik terendah baru dalam hubungan Inggris-Israel.

Namun, menurutnya, pernyataan tersebut juga “menutupi adanya tumpang tindih yang cukup besar dalam tujuan kebijakan”kedua negara terkait Iran.

“Komentar Netanyahu mungkin lebih ditujukan untuk kepentingan domestik, yakni memperkuat koalisi pemerintahannya yang retak,” kata Abouharb kepada Aljazeera.

Juru bicara Muslim Council of Britain (MCB) mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pernyataan tersebut menunjukkan perlunya Inggris mengevaluasi kembali hubungannya dengan Israel.

“Memperkuat teori-teori konspirasi tentang Inggris menjadi bukti tambahan—jika masih diperlukan—bahwa Pemerintah Inggris perlu segera mengevaluasi kembali hubungannya dengan Israel. Pernyataan seperti ini bukanlah kata-kata dari sekutu dan mitra yang dapat diandalkan. Lagipula, Inggris bukan sebuah republik; kami adalah monarki konstitusional,” ujar juru bicara MCB.

Hubungan Inggris dan Israel dalam beberapa bulan terakhir semakin tegang, terutama sejak Andy Burnham menjabat sebagai perdana menteri Inggris dan mulai berkantor di Downing Street.

Beberapa pekan sebelum menjabat sebagai perdana menteri, Burnham meminta maaf atas respons awal Partai Buruh terhadap perang di Gaza. Ia mengatakan partainya perlu “berbuat lebih baik”.

Burnham mengecam serangan “mengerikan” kelompok Hamas pada 7 Oktober serta berbagai insiden antisemitisme “yang memprihatinkan” di Inggris. Namun, ia menegaskan bahwa sangat penting untuk “jelas dalam mengkritik apa yang telah terjadi di Gaza”.

“Penderitaan yang tak tertahankan di Gaza merupakan noda dalam hati nurani kita bersama,” kata Burnham pada awal Juli.

“Benar-benar tidak dapat diterima bahwa warga Palestina yang tidak bersalah, termasuk anak-anak, terus terbunuh,” lanjutnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah Inggris harus memberikan tekanan yang lebih besar kepada pemerintah Israel.