Menjahit Napas Perjuangan Dakwah Melampaui Batas Usia
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di berbagai ruang pergerakan, kita sering mendengar sebuah pekik yang menggetarkan: mengkader atau mati!
Harus diakui,
kalimat ini punya daya kejut yang heroik. Ia menyalakan nyali, menguatkan
semangat dan keberanian di dada setiap pejuang dakwah. Namun, mari sejenak
menepi. Kita dinginkan kepala, lalu berpikir lebih jernih dan taktis.
Mari kita sadari
satu hal, bahwa mengkader atau mati sejatinya bukanlah sebuah menu pilihan. Ini
adalah konsekuensi logistik. Bila memilih untuk tidak mengkader, maka risiko
yang niscaya hadir adalah matinya pergerakan itu sendiri.
Mengkader adalah
ikhtiar penyambung pergerakan dan kehidupan. Ia adalah cara cerdas agar usia
sebuah gagasan dan perjuangan bisa melangkah lebih jauh, melampaui batas usia
biologi manusia yang menggagasnya.
Bayangkan sebuah
pentas mahakarya. Panggungnya begitu megah, tata cahayanya indah, narasinya
memukau. Tapi tiba-tiba, layar ditutup paksa di tengah pertunjukan semata-mata
karena pemeran utama harus turun dari panggung. Apa yang terjadi? Penonton
kecewa karena alur ceritanya terputus.
Begitu juga
dengan harapan umat. Ketika perubahan yang kita ikhtiarkan belum tuntas menjadi
kenyataan, lalu sang perintis harus purna tugas dari dunia ini, maka cita-cita
mulia itu berisiko gugur sebelum mekar.
Oleh karena itu, mengkader bukanlah kerja sambilan. Ia adalah kerja utama peradaban. Kita tidak hanya sekadar mengumpulkan pengikut, tapi sedang menitipkan keberlanjutan masa depan.
Baca juga: Memaknai Hijrah sebagai Jalan Keluar dari Kebuntuan
Kita sedang memastikan bahwa saat lampu panggung perlahan redup, estafet perjuangan ini akan disambut oleh tangan-tangan baru yang lebih kuat, lebih tangguh, dan siap menuntaskan janji-janji kemerdekaan umat
Sebuah perjuangan
yang sejati tidak boleh berhenti meski aktor utamanya telah undur diri. Napasnya
harus terus berhembus. Dan satu-satunya cara untuk menjahit napas perjuangan
itu agar melampaui batas usia kita adalah melalui jalan kaderisasi.
Secara filosofis,
mengkader adalah antitesis dari keegoisan. Kita menolak untuk hanya
membayangkan kejayaan di masa hidup kita sendiri.
Ibarat sebuah api
di tengah malam yang dingin, kehangatan dan cahayanya tak akan pernah padam
selama kayu bakar terus-menerus dipasok. Saat satu kayu bakar habis memburam
menjadi abu, kayu yang baru telah siap menyala, memastikan terang tak lekas
ditelan gulita.
Alam pun membuat
keputusan ini melalui pohon pisan. Ia tidak berakhir
begitu saja ketika masa hidupnya usai. Sebelum mati, ia telah memberikan banyak
manfaat dan melahirkan tunas-tunas baru yang akan melanjutkan kehidupannya.
Fenomena ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya regenerasi.
Dalam konteks kepemimpinan, pohon pisang mengingatkan bahwa setiap pemimpin hendaknya mempersiapkan kader-kader penerus yang mampu melanjutkan perjuangan, sehingga kesinambungan kehidupan dan kepemimpinan tetap terjaga.
Baca juga: Mendidik Anak: Tafsir Parenting dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir
Jejak Emas:
Saat Peradaban Dirajut oleh Sistem Pembinaan
Membicarakan
kaderisasi dakwa tak akan pernah bisa dilepaskan dari lembaran emas sejarah.
Sebagai pembelajar masa lalu, kita disadarkan bahwa Rasulullah SAW bukan
sekadar pemimpin pergerakan atau orator ulung, beliau adalah seorang mahaguru
dan pengkader/pendidik terhebat (al-murabbi al-awwal).
Kemenangan Islam
yang membentang luas bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Ia adalah hasil dari
desain kaderisasi yang sangat rapi. Melalui Darul Arqam, Rasulullah SAW menempa
jiwa-jiwa tangguh.
Beliau tidak
fokus mengukir sejarah di zamannya dengan bangunan tinggi, kekuasaan yang luas
atau sibuk menyiapkan anak keturunannya. Ketika beliau wafat, pilar peradaban
tidak runtuh. Mengapa? Karena estafet itu telah berpindah dengan mulus ke
tangan para sahabat.
Para Sahabat ini tidak sekadar menikmati hasil perjuangan Nabi. Mereka meneruskan sistem tarbiyah (pembinaan) tersebut. Mereka menyebar ke Syam, Kufah, Mesir, hingga Yaman, mencetak generasi baru yang kita kenal sebagai tabi’in , yang kemudian melahirkan generasi tabi’ut tabi’in. Tiga generasi berturut-turut menjadi saksi bagaimana sebuah risalah dijaga, bukan oleh satu orang yang hidup abadi, melainkan oleh sistem kaderisasi yang tak pernah putus.
Baca juga: Ketika Doa dalam Qiyamul Lail “Belum Terkabul”
Dua Tragedi
Sejarah: Memori Kelam Gagalnya Sebuah Kaderisasi
Namun, sejarah
tak hanya menggoreskan tinta emas. Ia juga meninggalkan prasasti kelam tentang
apa yang terjadi ketika kaderisasi mandek.
Ada dua tragedi
monumental yang harus menjadi ketakutan terbesar setiap aktivis pergerakan
dakwah: runtuhnya Andalusia dan jatuhnya Baghdad.
Di Barat, kita
menyaksikan Tragedi Andalusia. Selama lebih dari delapan abad, Islam menyinari
Eropa dari Spanyol. Namun, mengapa peradaban semegah itu bisa tersapu bersih?
Jawabannya tragis: kegagalan menyiapkan generasi selanjutnya.
Di masa-masa akhir kejayaannya, terutama di era raja-raja kecil (muluukut thawaa-if ), para penguasa dan tokoh masyarakat terlena. Mereka sibuk memperindah tembok Istana Alhambra dan memperebutkan takhta, namun lupa membangun jiwa pemudanya. Proses kaderisasi terhenti. Alih-alih diwarisi ketangguhan mental dan kedalaman ilmu agama, generasi muda Andalusia saat itu justru dininabobokan oleh kemewahan dan gaya hidup hedonis.
Baca juga: Tiga Pilar Sistemik Siklus Kehidupan Seorang Mukmin
Ketika pasukan Reconquista menghancurkan gerbang kota, umat Islam tak lagi memiliki barisan pemuda setangguh Tariq bin Ziyad. Mereka rapuh dari dalam. Rantai peradaban itu putus karena tak ada lagi “kayu bakar” yang siap menjaga nyala api.
Di Timur,
kepedihan yang sama mengukir runtuhnya Baghdad pada tahun 1258 . Dinasti
Abbasiyah pernah mencapai puncak peradaban tertinggi, melahirkan Baitul Hikmah
sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dunia. Namun, menjelang akhir hayat
kekhilafahan ini, sistem kaderisasi pemuda kehilangan ruh perjuangannya.
Para elit
terjebak dalam zona nyaman, sementara para pemudanya tenggelam dalam pemahaman
teologis yang elitis namun miskin aksi nyata. Daya juang mereka tumpul.
Akibatnya sangat fatal. Ketika pasukan Mongol di bawah komando Hulagu Khan
menetap, peradaban yang dibangun berabad-abad itu luluh lantak hanya dalam
hitungan hari.
Sejarah mencatat
dengan tangis, bagaimana air Sungai Tigris menghitam karena tinta jutaan buku
yang dibuang, dan memerah karena darah jutaan umat.
Apa kesalahan terbesarnya? Tidak lain karena generasi penerus saat itu gagal dikader untuk memikul beban sejarah yang berat. Mereka terlalu rapuh untuk menghadapi kerasnya zaman.
Baca juga: “Mereset” Pemuka Agama Cabul
Menolak
Meninggalkan Generasi Rapuh
Berkaca dari dua
kutub sejarah tersebut, kita tahu betul bahwa mengkader itu bukan sekadar
pilihan, melainkan program utama. Memang benar, mencetak kader menuntut rela
berpayah-payah. Ia bukan proses produksi produk pabrikan yang selesai dalam
semalam.
Mengkader adalah
seni memahat peradaban yang membutuhkan waktu panjang, kesabaran, sistem yang
terukur, dan air mata perjuangan.
Pada akhirnya,
kita harus memilih: mengkader atau membiarkan perjuangan dakwah ini mati
mengikuti jejak memilukan Andalusia dan Baghdad.
Allah Ta'ala
telah memberikan teguran yang sangat tajam dalam Alquran. Allah berfirman, yang
artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya
mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka…” (QS. An-Nisa’:
9)
Ayat ini adalah peringatan sejarah. Meninggalkan generasi pelanjut yang lemah, seperti lemah pemahamannya, daya juangnya, dan kapasitasnya, adalah sebuah pengkhianatan terhadap risalah dakwah.
Baca juga: Tafsir Peradaban atas Doa Nabi Nuh
Maka, mari ubah
lelah hari ini menjadi jaminan bagi masa depan. Mengkader penerus dakwah dengan
penuh cinta dan kesabaran. Berhentilah sekadar menjadi tokoh sentral yang
berdiri sendiri di bawah lampu sorot, dan mulai menjadi jembatan bagi
kebangkitan orang lain.
Sejatinya kebesaran seorang pejuang tidak diukur dari seberapa banyak pengikutnya semasa ia hidup, melainkan dari seberapa tangguh kader yang ia tinggalkan setelah ia tiada. Mengkaderlah, karena di pundak generasi barulah, napas perjuangan dakwah dititipkan.