Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Menjahit Napas Perjuangan Dakwah Melampaui Batas Usia

6 menit baca 164 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menjahit Napas Perjuangan Dakwah Melampaui Batas Usia
Para remaja muslim, generasi penerus dakwah Islam, berdiskusi dalam majelis ilmu. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di berbagai ruang pergerakan, kita sering mendengar sebuah pekik yang menggetarkan: mengkader atau mati!

Harus diakui, kalimat ini punya daya kejut yang heroik. Ia menyalakan nyali, menguatkan semangat dan keberanian di dada setiap pejuang dakwah. Namun, mari sejenak menepi. Kita dinginkan kepala, lalu berpikir lebih jernih dan taktis.

Mari kita sadari satu hal, bahwa mengkader atau mati sejatinya bukanlah sebuah menu pilihan. Ini adalah konsekuensi logistik. Bila memilih untuk tidak mengkader, maka risiko yang niscaya hadir adalah matinya pergerakan itu sendiri.

Mengkader adalah ikhtiar penyambung pergerakan dan kehidupan. Ia adalah cara cerdas agar usia sebuah gagasan dan perjuangan bisa melangkah lebih jauh, melampaui batas usia biologi manusia yang menggagasnya.

Bayangkan sebuah pentas mahakarya. Panggungnya begitu megah, tata cahayanya indah, narasinya memukau. Tapi tiba-tiba, layar ditutup paksa di tengah pertunjukan semata-mata karena pemeran utama harus turun dari panggung. Apa yang terjadi? Penonton kecewa karena alur ceritanya terputus.

Begitu juga dengan harapan umat. Ketika perubahan yang kita ikhtiarkan belum tuntas menjadi kenyataan, lalu sang perintis harus purna tugas dari dunia ini, maka cita-cita mulia itu berisiko gugur sebelum mekar.

Oleh karena itu, mengkader bukanlah kerja sambilan. Ia adalah kerja utama peradaban. Kita tidak hanya sekadar mengumpulkan pengikut, tapi sedang menitipkan keberlanjutan masa depan.

Baca juga: Memaknai Hijrah sebagai Jalan Keluar dari Kebuntuan

Kita sedang memastikan bahwa saat lampu panggung perlahan redup, estafet perjuangan ini akan disambut oleh tangan-tangan baru yang lebih kuat, lebih tangguh, dan siap menuntaskan janji-janji kemerdekaan umat

Sebuah perjuangan yang sejati tidak boleh berhenti meski aktor utamanya telah undur diri. Napasnya harus terus berhembus. Dan satu-satunya cara untuk menjahit napas perjuangan itu agar melampaui batas usia kita adalah melalui jalan kaderisasi.

Secara filosofis, mengkader adalah antitesis dari keegoisan. Kita menolak untuk hanya membayangkan kejayaan di masa hidup kita sendiri.

Ibarat sebuah api di tengah malam yang dingin, kehangatan dan cahayanya tak akan pernah padam selama kayu bakar terus-menerus dipasok. Saat satu kayu bakar habis memburam menjadi abu, kayu yang baru telah siap menyala, memastikan terang tak lekas ditelan gulita.

Alam pun membuat keputusan ini melalui pohon pisan. Ia tidak berakhir begitu saja ketika masa hidupnya usai. Sebelum mati, ia telah memberikan banyak manfaat dan melahirkan tunas-tunas baru yang akan melanjutkan kehidupannya. Fenomena ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya regenerasi.

Dalam konteks kepemimpinan, pohon pisang mengingatkan bahwa setiap pemimpin hendaknya mempersiapkan kader-kader penerus yang mampu melanjutkan perjuangan, sehingga kesinambungan kehidupan dan kepemimpinan tetap terjaga.

Baca juga: Mendidik Anak: Tafsir Parenting dalam Kisah Nabi Musa dan Khidir

Jejak Emas: Saat Peradaban Dirajut oleh Sistem Pembinaan

Membicarakan kaderisasi dakwa tak akan pernah bisa dilepaskan dari lembaran emas sejarah. Sebagai pembelajar masa lalu, kita disadarkan bahwa Rasulullah SAW bukan sekadar pemimpin pergerakan atau orator ulung, beliau adalah seorang mahaguru dan pengkader/pendidik terhebat (al-murabbi al-awwal).

Kemenangan Islam yang membentang luas bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Ia adalah hasil dari desain kaderisasi yang sangat rapi. Melalui Darul Arqam, Rasulullah SAW menempa jiwa-jiwa tangguh.

Beliau tidak fokus mengukir sejarah di zamannya dengan bangunan tinggi, kekuasaan yang luas atau sibuk menyiapkan anak keturunannya. Ketika beliau wafat, pilar peradaban tidak runtuh. Mengapa? Karena estafet itu telah berpindah dengan mulus ke tangan para sahabat.

Para Sahabat ini tidak sekadar menikmati hasil perjuangan Nabi. Mereka meneruskan sistem tarbiyah (pembinaan) tersebut. Mereka menyebar ke Syam, Kufah, Mesir, hingga Yaman, mencetak generasi baru yang kita kenal sebagai tabi’in , yang kemudian melahirkan generasi tabi’ut tabi’in. Tiga generasi berturut-turut menjadi saksi bagaimana sebuah risalah dijaga, bukan oleh satu orang yang hidup abadi, melainkan oleh sistem kaderisasi yang tak pernah putus.

Baca juga: Ketika Doa dalam Qiyamul Lail “Belum Terkabul”

Dua Tragedi Sejarah: Memori Kelam Gagalnya Sebuah Kaderisasi

Namun, sejarah tak hanya menggoreskan tinta emas. Ia juga meninggalkan prasasti kelam tentang apa yang terjadi ketika kaderisasi mandek.

Ada dua tragedi monumental yang harus menjadi ketakutan terbesar setiap aktivis pergerakan dakwah: runtuhnya Andalusia dan jatuhnya Baghdad.

Di Barat, kita menyaksikan Tragedi Andalusia. Selama lebih dari delapan abad, Islam menyinari Eropa dari Spanyol. Namun, mengapa peradaban semegah itu bisa tersapu bersih? Jawabannya tragis: kegagalan menyiapkan generasi selanjutnya.

Di masa-masa akhir kejayaannya, terutama di era raja-raja kecil (muluukut thawaa-if ), para penguasa dan tokoh masyarakat terlena. Mereka sibuk memperindah tembok Istana Alhambra dan memperebutkan takhta, namun lupa membangun jiwa pemudanya. Proses kaderisasi terhenti. Alih-alih diwarisi ketangguhan mental dan kedalaman ilmu agama, generasi muda Andalusia saat itu justru dininabobokan oleh kemewahan dan gaya hidup hedonis.

Baca juga: Tiga Pilar Sistemik Siklus Kehidupan Seorang Mukmin

Ketika pasukan Reconquista menghancurkan gerbang kota, umat Islam tak lagi memiliki barisan pemuda setangguh Tariq bin Ziyad. Mereka rapuh dari dalam. Rantai peradaban itu putus karena tak ada lagi “kayu bakar” yang siap menjaga nyala api.

Di Timur, kepedihan yang sama mengukir runtuhnya Baghdad pada tahun 1258 . Dinasti Abbasiyah pernah mencapai puncak peradaban tertinggi, melahirkan Baitul Hikmah sebagai mercusuar ilmu pengetahuan dunia. Namun, menjelang akhir hayat kekhilafahan ini, sistem kaderisasi pemuda kehilangan ruh perjuangannya.

Para elit terjebak dalam zona nyaman, sementara para pemudanya tenggelam dalam pemahaman teologis yang elitis namun miskin aksi nyata. Daya juang mereka tumpul. Akibatnya sangat fatal. Ketika pasukan Mongol di bawah komando Hulagu Khan menetap, peradaban yang dibangun berabad-abad itu luluh lantak hanya dalam hitungan hari.

Sejarah mencatat dengan tangis, bagaimana air Sungai Tigris menghitam karena tinta jutaan buku yang dibuang, dan memerah karena darah jutaan umat.

Apa kesalahan terbesarnya? Tidak lain karena generasi penerus saat itu gagal dikader untuk memikul beban sejarah yang berat. Mereka terlalu rapuh untuk menghadapi kerasnya zaman.

Baca juga: “Mereset” Pemuka Agama Cabul

Menolak Meninggalkan Generasi Rapuh

Berkaca dari dua kutub sejarah tersebut, kita tahu betul bahwa mengkader itu bukan sekadar pilihan, melainkan program utama. Memang benar, mencetak kader menuntut rela berpayah-payah. Ia bukan proses produksi produk pabrikan yang selesai dalam semalam.

Mengkader adalah seni memahat peradaban yang membutuhkan waktu panjang, kesabaran, sistem yang terukur, dan air mata perjuangan.

Pada akhirnya, kita harus memilih: mengkader atau membiarkan perjuangan dakwah ini mati mengikuti jejak memilukan Andalusia dan Baghdad.

Allah Ta'ala telah memberikan teguran yang sangat tajam dalam Alquran. Allah berfirman, yang artinya: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka…” (QS. An-Nisa’: ​​9)

Ayat ini adalah peringatan sejarah. Meninggalkan generasi pelanjut yang lemah, seperti lemah pemahamannya, daya juangnya, dan kapasitasnya, adalah sebuah pengkhianatan terhadap risalah dakwah.

Baca juga: Tafsir Peradaban atas Doa Nabi Nuh

Maka, mari ubah lelah hari ini menjadi jaminan bagi masa depan. Mengkader penerus dakwah dengan penuh cinta dan kesabaran. Berhentilah sekadar menjadi tokoh sentral yang berdiri sendiri di bawah lampu sorot, dan mulai menjadi jembatan bagi kebangkitan orang lain.

Sejatinya kebesaran seorang pejuang tidak diukur dari seberapa banyak pengikutnya semasa ia hidup, melainkan dari seberapa tangguh kader yang ia tinggalkan setelah ia tiada. Mengkaderlah, karena di pundak generasi barulah, napas perjuangan dakwah dititipkan.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.