Tiga Pilar Sistemik Siklus Kehidupan Seorang Mukmin
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Setiap kali lembaran kalender Hijriyah berganti dan bulan Muharram menyapa, ingatan umat Islam seolah otomatis tertuju pada satu kata sarat makna: hijrah.
Kita mengenalnya
sebagai tonggak sejarah epik, saat Rasulullah SAW memindahkan episentrum
dakwahnya dari tanah tumpah darah di Makkah menuju pelukan Madinah. Namun, mari
kita selami lebih dalam. Dalam kacamata teologis, hijrah pantang berdiri
sendiri. Ia adalah bagian dari trilogi pergerakan agung, sebuah sinergi yang baru
akan hidup jika dikawal ketat oleh dua pilar utamanya: iman dan jihad.
Korelasi ketiga
pilar ini secara tegas termaktub dalam firman Allah SWT berikut:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ
اللهِ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman serta orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan
Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS.
Al-Baqarah: 218)
Begitu juga dalam
firman ini:
الَّذِينَ آمَنُواْ
وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ
دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20)
Baca juga: Hijrah Digital: Membangun Kesadaran Waktu yang Terbuang
Imam Ibnul Qayyim
al-Jauziyah dalam karyanya, Zaadul Ma’ad, merumuskan bahwa iman, hijrah,
dan jihad merupakan satu kesatuan sistemik yang tidak dapat dipisahkan.
Keimanan
seseorang tidak akan mencapai derajat kesempurnaan tanpa aktualisasi hijrah,
dan hijrah tidak akan terlaksana secara optimal tanpa adanya spirit jihad.
Sebaliknya, jihad tidak akan tegak tanpa fondasi iman dan semangat hijrah yang
kuat.
Hijrah
Maknawi: Manifestasi Iman dalam Kehidupan Modern
Hijrah pada hakikatnya adalah konsekuensi logis dari keimanan. Saat iman tertanam di dalam dada, akan muncul dorongan kuat untuk mengaktualisasikannya melalui perpindahan menuju kondisi yang lebih diridhai Allah. Hijrah dalam hal ini bermakna meninggalkan keburukan demi meraih kebaikan.
Baca juga: Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern
Dalam konteks
kekinian, hijrah maknawi didefinisikan sebagai transisi dari kemaksiatan menuju
ketaatan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
والمهاجر من هجر ما
نهى الله عنه
“Orang yang
berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang.” (HR Bukhari)
Mengaktualisasikan
hadis ini tidak menuntut kita untuk mengangkat koper dan bermigrasi ke negara
lain. Hijrah hari ini adalah transformasi total dari gaya hidup “jahiliyah”
menuju gaya hidup yang bersendikan syariat.
Transformasi tersebut
mencakup berbagai dimensi berikut:
Pertama, dimensi ekonomi. Hal ini tergambarkan,
misalnya saat seorang pedagang mulai berlaku jujur dalam timbangannya, atau
ketika seorang muslim berani mengambil keputusan ekstrem untuk keluar dari
jerat transaksi ribawi menuju sistem ekonomi syariah, seberat apa pun
risikonya.
Keyakinan
mendasarnya adalah: siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah
akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik.
Kedua, dimensi intelektual dan peradaban. Hal
ini diwujudkan dengan meninggalkan kebiasaan menghabiskan waktu untuk aktivitas
nirfaedah.
Penguatan halaqah
(majelis) keilmuan dengan semangat “iqra’” sebagai wahyu dan perintah
pertama dalam Islam menjadi fondasi esensial dalam membangun peradaban. Kita
tidak dapat berbicara tentang perjuangan dan peradaban yang agung apabila
umatnya masih kesulitan atau lengah dalam menjalankan perintah membaca.
Ketiga, dimensi ibadah
dan akhlak. Dengan kata lain, komitmen berpindah dari ritual yang tidak
konsisten menjadi ibadah yang terstruktur. Dari shalat yang berantakan menjadi
lebih istiqamah, beralih dari sekadar beribadah sendiri menjadi berjamaah di
masjid, serta membiasakan diri dengan amalan sunnah.
Demikian ini merupakan wujud nyata meninggalkan kemungkaran menuju akhlak mulia, dengan orientasi menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah, bukan sekadar merasa lebih suci dari orang lain.
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Jihad An-Nafs: Mesin Penggerak Perubahan
Iman itu pantang
diam. Ia bukan sekadar dogma pasif yang membuat kita egois dan menutup mata
dari realitas sosial di sekitar. Sebaliknya, iman yang bernyawa pasti mengusik
ketenangan; melahirkan kepedulian mendalam terhadap nasib umat dan memanggil
pemiliknya untuk turun tangan membawa perubahan.
Tentu, jalan
perbaikan ini terjal. Ada harga mahal yang harus dibayar: harta, waktu, bahkan
kenyamanan bersama orang-orang tercinta. Tetapi tepat di titik pengorbanan
inilah, syariat jihad hadir mengambil panggungnya. Adalah “jihad an-nafs”,
jihad melawan diri sendiri atau hawa nafsu inilah yang ditegaskan Nabi SAW
sebagai jihad yang paling utama.
Dalam kitab Hilyah
al-Auliya’, Abu Nu’aim al-Asbihani mengutip satu hadis yang diriwayatkan
dari Abi Dzarr. Disebutkan bahwa Abi Dzarr bertanya pada Nabi SAW tentang satu
jihad yang paling utama, lalu Nabi menjawabnya:
Rasulullah SAW
bersabda:
أن تجاهد نفسك وهواك فى ذات الله عز وجل
“(Jihad yang
paling utama) adalah kalau kamu berjihad melawan dirimu dan hawa nafsumu karena
Allah ‘Azza wa Jalla.”
Imam as-Suyuthi juga meyebutkan hadis yang sama dalam kitab Al-Jami’ as Shaghir melalui jalur riwayat ‘Amr bin ‘Ash, dengan sedikit redaksi hadis yang berbeda namun sama substansinya.
Baca juga: Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?
Jika direnungkan,
dalam konteks hari ini, tidak sedikit muncul distorsi luar biasa terhadap
pemaknaan jihad. Narasi-narasi luar sering kali membingkai jihad secara
reduktif sebagai tindakan ekstrem, radikal, atau murni pertumpahan darah, sebatas
“qital” (perang).
Narasi ini
pastinya dirancang agar umat Islam mengidap fobia terhadap agamanya sendiri dan
mengeliminasi kurikulum jihad dari kehidupan mereka.
Pada dasarnya,
tradisi kenabian mengajarkan bahwa esensi tertinggi dari jihad adalah
penaklukan diri sendiri. Tanpa kesungguhan menundukkan ego, logika
materialistis, dan hawa nafsu, komitmen hijrah hanya akan berhenti sebagai
retorika.
Tanpa jihad
an-nafs, ibadah kita akan tetap tidak konsisten, infak kita akan selalu
diiringi perhitungan matematis belaka, dan usia kita akan terbuang sia-sia.
Siklus Menuju
Kemenangan
Pemahaman
komprehensif terhadap trilogi iman, hijrah, dan jihad tidak boleh berhenti
sebagai diskursus intelektual atau perayaan seremonial di bulan Muharram.
Ketiganya adalah kurikulum aksi yang menuntut eksekusi, bukan sekadar bahan
kontemplasi.
Kita harus menyadari bahwa kembalinya peradaban Islam yang agung tidak akan lahir dari ruang-ruang seminar atau perdebatan wacana, melainkan dari sajadah, meja kerja, dan keseharian individu-individu yang telah tuntas menaklukkan hawa nafsunya sendiri.
Baca juga: Antara Begadang dan Qiyamul Lail
Oleh karena itu,
jangan biarkan Muharram tahun ini berlalu tanpa jejak. Mulailah memutar siklus
kejayaan tersebut hari ini juga dengan tiga langkah konkret:
Pertama, evaluasi fondasi iman (muhasabah).
Jangan berasumsi iman sedang baik-baik saja.
Cek kembali niat
dan ibadah harian. Apakah rutinitas sudah sepenuhnya berorientasi mencari ridha
Allah, atau sekadar menggugurkan kewajiban tanpa ruh?
Kedua, eksekusi hijrah. Jangan menunggu
momentum “siap” atau “sempurna” untuk berubah.
Pilih satu
kebiasaan buruk, gaya hidup nirfaedah, atau transaksi “ekonomi syubhat” yang
masih membelenggu hari ini, lalu tinggalkan dan putuskan rantainya tanpa
kompromi.
Ketiga, kibarkan semangat jihad (melawan kemungkaran
diri). Berubah itu mudah, yang berat adalah konsisten.
Bersiaplah menghadapi rasa malas, godaan masa lalu, atau cemoohan lingkungan. Jadikan jihad an-nafs sebagai senjata harian untuk memaksa diri tetap tegak di atas jalan syariat.
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup
Iman, hijrah, dan
jihad adalah roda yang harus terus berputar dalam kehidupan kita. Saat berhasil
menang di satu titik, kembalilah mengevaluasi iman, targetkan hijrah pada aspek
kehidupan yang lain, dan bertempurlah kembali dalam kebaikan.
Kini, pertanyaannya bukan lagi “Kapan umat Islam akan kembali berjaya?”, melainkan, “Apa satu kemaksiatan yang berani dihijrahkan hari ini?” dan “Apa jihad yang dilakukan untuk melakukan satu ketaatan kepada Allah dan Rasulullah?” Keputusan ada di tangan kita.