Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern

6 menit baca 1.264 dibaca
Khoirul Anam, S.Sos.I

Oleh: Khoirul Anam, S.Sos.I

Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern
Ilustrasi seseorang menangis dalam munajatnya kepada Allah. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ketika mendengar kata “hijrah”, apa yang pertama kali terbersit di pikiran Anda?

Sebagian besar dari kita mungkin akan langsung membayangkan sebuah perjalanan fisik. Dalam sejarah Islam, hijrah ini seperti kisah heroik kaum Muhajirin yang mengemas barang-barang mereka, meninggalkan rumah serta kampung halaman mereka di Makkah.

Penindasan kaum kafir Quraisy yang awalnya tidak seberapa, ternyata dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan berubah menjadi lebih keras, dan semakin menghebat. Kondisi ini membuat situasi semakin mendesak. Tiada tempat lagi bagi kaum Muhajirin di Makkah.

Baca juga: Antara Begadang dan Qiyamul Lail

Keadaan yang demikian itu tidak membuat kaum Muhajirin menyerah, melainkan justru memotivasi mereka untuk memikirkan cara meloloskan diri dari tekanan dan siksaan tersebut.

Dan dalam kondisi seperti itu, maka turunlah surat Az-Zumar yang mengisyaratkan perlunya berhijrah. Allah SWT berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.(QS. Az-Zumar: 10)

Karena berbagai ancaman terus diarahkan kepada Nabi SAW dan orang-orang beriman yang mengikutinya, maka melalui petunjuk Allah, akhirnya Nabi memutuskan untuk  mencari perlindungan di luar Makkah. Sehingga terjadilah hijrah kaum muslimin ke Habsyah, Thaif, dan kemudian ke Madinah.

Inilah hijrah fisik terbesar yang terekam dalam sejarah peradaban Islam. Namun demikian, makna hijrah bisa dipahami secara lebih luas.

Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Wasilah Mengukur Rasa Butuh kepada Allah

Para pakar bahasa klasik, termasuk di antaranya Ibnu Faris, menyebutkan bahwa akar kata hijrah adalah (ha-ja-ra) yang erat kaitannya dengan makna memutus hubungan dan meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain.

Namun, jika kita mendudukkan makna hijrah hanya sebatas perpindahan geografis, maka kita akan kehilangan esensi terbesarnya. Di era modern saat ini, ketika tidak ada lagi kewajiban kita untuk hijrah fisik ke Madinah, lalu apakah kemudian  esensi hijrah itu ikut sirna? Tentu di sini perlu memperluas maknanya.

Dua Makna Hijrah

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani, seorang ulama hadis terkemuka, pernah menawarkan sebuah definisi yang jauh lebih luas dan menyentuh maknanya jika dikaitkan dengan perkembangan zaman. Beliau menegaskan bahwa hijrah di dalam syariat pada hakikatnya adalah “meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah”.

Pernyataan ini didasarkan pada hadis Nabi berikut:

المهاجر من هجر ما نهى الله عنه

“Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.” (HR Bukhari dan Muslim )

Maka, dari sinilah hijrah dapat dimaknai menjadi dua spektrum besar, yakni “hijrah lahiriah” (fisik) dan “hijrah batiniah” (spiritual).

Menariknya, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hijrah batiniah adalah fondasi sekaligus akar bagi hijrah lahiriah.

Baca juga: Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?

Dengan kata lain, seseorang tidak akan pernah sukses untuk mengubah penampilan atau lingkungan luarnya jika ia sama sekali belum bisa memenangkan pertempuran dan pertarungan di dalam dirinya sendiri.

Hijrah batin adalah sebuah perjuangan spiritual untuk angkat kaki dari wilayah kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, beranjak dari belenggu ego hawa nafsu dan tipu daya setan, menuju keridhaan dan ampunan Allah.

“Destinasi” Hijrah

Dalam kitab Thariq al-Hijratain karya Imam Ibnu al-Qayyim, disebutkan bahwa seorang mukmin sejati sebenarnya dituntut untuk berhijrah setiap saat dan setiap waktu melalui dua jalur spiritual:

Pertama, hijrah menuju Allah. Ini adalah hijrahnya hati nurani. Sebuah kondisi di mana setiap detak jantung dan embusan napas kita senantiasa bergerak untuk mencari cinta-Nya, berserah diri (tawakal) kepada-Nya, bertaubat (inabah) kepada-Nya, dan merasa sangat butuh kepada Allah SWT dalam setiap urusan kita.

Kedua, hijrah menuju Rasulullah. Ini adalah komitmen kita untuk menyelaraskan setiap gerak-gerik, langkah dan tingkah laku, lahir dan batin kita dengan tuntunan dan panduan syariat Nabi kita Muhammad SAW.

Tanpa adanya upaya untuk mencontoh (mutaba’ah/ittiba’) kepada petunjuk Nabi SAW, maka amal ibadah kita yang secantik dan sebaik apa pun, hanya akan menjadi pemuas ego, nafsu, atau rutinitas tanpa makna yang hanya sekadar untuk memenuhi tuntutan acara dan upacara saja.

Dalam Rasail al-Junaid, ulama sufi legendaris, Junaid al-Baghdadi mengatakan:

الطُّرُقُ كُلُّهَا مَسْدُودَةٌ إِلَّا طَرِيقَ مَنِ اقْتَفَى آثَارَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Semua jalan menuju Allah itu tertutup, kecuali bagi mereka yang setia mengikuti jejak langkah Rasulullah.”

Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup

Lalu, bagaimana dengan hijrah fisik hari ini? Dalam catatan sejarah dan fiqih, perpindahan fisik tetap memiliki ruang tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi zaman.

Ada beberapa bentuk hijrah fisik yang dikenal dalam hal ini, yakni sebagai berikut:

Pertama, penyelamatan iman. Yaitu berpindah dari lingkungan yang mengekang kebebasan beragama menuju wilayah yang aman untuk beribadah.

Kedua, hijrah sosial. Yaitu mengambil jarak secara fisik dari lingkaran pertemanan yang toksik, menghindari circle kita yang dipenuhi oleh pelaku maksiat, atau lingkungan tempat kita tinggal yang penuh syubhat yang berpotensi untuk mendagrasi dan mengikis iman kita.

Ketiga, hijrah akhir zaman. Tentang hal ini Rasulullah SAW bahkan pernah menubuatkan bahwa di akhir zaman nanti, ketika fitnah dunia sudah merajalela, maka sebaik-baik tempat berlindung bagi umat Islam ketika itu adalah berhijrah ke negeri Syam (sekitar Palestina dan sekitarnya), mengikuti jejak tempat hijrahnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.

Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?

Tentu saja, aplikasinya hari ini mengenai hadis hijrah ke Syam tidak selalu dimaknai sebagai migrasi fisik secara massal, melainkan lebih ditekankan pada hijrah maknawi (spiritual, intelektual, dan pembelaan nilai). Memindahkan orientasi hidup dari materialisme dan fitnah dunia modern menuju nilai-nilai wahyu.

Fokus hari ini adalah memperkuat akidah, menjaga shalat, dan membentengi keluarga dari kerusakan moral. Menolak untuk tunduk kepada tekanan lingkungan yang melanggar syariat, berani menyuarakan kebenaran di tempat kita masing-masing, dan memiliki mentalitas untuk tidak takut rugi demi mempertahankan iman.

“Oase Pahala” yang Menghapus Masa Lalu

Mengapa Islam begitu memuliakan konsep hijrah hingga Allah menjanjikannya dalam puluhan ayat Alquran?

Jawabannya tidak lain adalah karena hijrah menuntut pengorbanan yang tidak murah. Ia butuh keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Bagi mereka yang berani melangkah, Allah menjanjikan kelapangan rezeki dan tempat yang mulia (QS. An-Nahl: 41 & QS. An-Nisa: 100). Bahkan dalam sebuah hadis yang sangat menenangkan, Rasulullah SAW memberikan garansi, beliau bersabda:

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟! وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا؟!

“Apakah kamu tidak tahu bahwa Islam itu menghapuskan dosa yang lalu, dan bahwa hijrah juga menghapuskan dosa-dosa yang sebelumnya?!” (HR Muslim)

Hijrah adalah tombol “reset” bagi kehidupan seorang manusia. Ia akan menghapus catatan-catatan kelam di masa lalu dan membuka lembaran baru yang putih bersih.

Baca juga: Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan

Kiranya kita tidak perlu menunggu momentum besar atau mengemas koper, mengemas barang-barang kita, dan pamit dengan sanak saudara untuk pindah negara demi sebuah “hijrah”.

Kita mulailah saja dari tempat duduk kita saat ini. Mulailah dengan “menghijrahi” atau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, meninggalkan tontonan yang tidak bermanfaat, memperbaiki kualitas shalat dan ibadah kita. Kemudian berusahalah selalu untuk menambah wawasan agama kita, dan meluruskan kembali arah hidup kita yang mungkin sempat berbelok entah ke mana.

Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya serta menjadi bagian dari golongan orang-orang yang hatinya selalu berhijrah menuju Allah SWT dan Rasulullah SAW. Amin.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.