Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern
Oleh: Khoirul Anam, S.Sos.I
Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ketika mendengar kata “hijrah”, apa yang pertama kali terbersit di pikiran Anda?
Sebagian besar dari
kita mungkin akan langsung membayangkan sebuah perjalanan fisik. Dalam sejarah
Islam, hijrah ini seperti kisah heroik kaum Muhajirin yang mengemas
barang-barang mereka, meninggalkan rumah serta kampung halaman mereka di
Makkah.
Penindasan kaum kafir Quraisy yang awalnya tidak seberapa, ternyata dari hari ke hari dan dari bulan ke bulan berubah menjadi lebih keras, dan semakin menghebat. Kondisi ini membuat situasi semakin mendesak. Tiada tempat lagi bagi kaum Muhajirin di Makkah.
Baca juga: Antara Begadang dan Qiyamul Lail
Keadaan yang
demikian itu tidak membuat kaum Muhajirin menyerah, melainkan justru memotivasi
mereka untuk memikirkan cara meloloskan diri dari tekanan dan siksaan tersebut.
Dan dalam kondisi
seperti itu, maka turunlah surat Az-Zumar yang mengisyaratkan perlunya
berhijrah. Allah SWT berfirman:
قُلْ
يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ
هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌۗ اِنَّمَا يُوَفَّى
الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai
hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang
berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas.
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya
tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar: 10)
Karena berbagai
ancaman terus diarahkan kepada Nabi SAW dan orang-orang beriman yang
mengikutinya, maka melalui petunjuk Allah, akhirnya Nabi memutuskan untuk mencari perlindungan di luar Makkah. Sehingga
terjadilah hijrah kaum muslimin ke Habsyah, Thaif, dan kemudian ke Madinah.
Inilah hijrah fisik terbesar yang terekam dalam sejarah peradaban Islam. Namun demikian, makna hijrah bisa dipahami secara lebih luas.
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Wasilah Mengukur Rasa Butuh kepada Allah
Para pakar bahasa
klasik, termasuk di antaranya Ibnu Faris, menyebutkan
bahwa akar kata hijrah adalah
(ha-ja-ra) yang erat kaitannya dengan makna memutus hubungan dan meninggalkan suatu
tempat menuju tempat yang lain.
Namun, jika kita
mendudukkan makna hijrah hanya sebatas perpindahan geografis, maka kita akan kehilangan esensi terbesarnya. Di era modern saat ini, ketika
tidak ada lagi kewajiban kita
untuk hijrah fisik ke Madinah, lalu apakah kemudian esensi
hijrah itu ikut sirna? Tentu di sini perlu memperluas maknanya.
Dua Makna Hijrah
Al-Hafiz Ibnu
Hajar al-Asqalani, seorang ulama hadis terkemuka, pernah menawarkan sebuah
definisi yang jauh lebih luas dan menyentuh maknanya jika dikaitkan dengan
perkembangan zaman. Beliau menegaskan bahwa hijrah di dalam syariat pada
hakikatnya adalah “meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah”.
Pernyataan ini
didasarkan pada hadis Nabi berikut:
المهاجر من هجر
ما نهى الله عنه
“Seorang yang
berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.” (HR Bukhari dan Muslim )
Maka, dari sinilah
hijrah dapat dimaknai menjadi dua spektrum besar, yakni “hijrah lahiriah”
(fisik) dan “hijrah batiniah” (spiritual).
Menariknya, Ibnu Hajar menyebutkan bahwa hijrah batiniah adalah fondasi sekaligus akar bagi hijrah lahiriah.
Baca juga: Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?
Dengan kata lain, seseorang
tidak akan pernah sukses untuk
mengubah penampilan atau
lingkungan luarnya jika ia sama
sekali belum bisa memenangkan
pertempuran dan pertarungan di dalam dirinya sendiri.
Hijrah batin adalah
sebuah perjuangan spiritual untuk angkat kaki dari wilayah kemaksiatan menuju
ketaatan kepada Allah dan
Rasul-Nya, beranjak dari belenggu ego hawa nafsu dan tipu daya setan, menuju keridhaan dan ampunan Allah.
“Destinasi” Hijrah
Dalam kitab Thariq al-Hijratain karya Imam Ibnu al-Qayyim, disebutkan bahwa seorang mukmin sejati sebenarnya dituntut untuk berhijrah setiap saat dan setiap waktu melalui dua jalur spiritual:
Pertama, hijrah menuju Allah. Ini adalah hijrahnya hati nurani.
Sebuah kondisi di mana setiap detak jantung dan embusan napas kita senantiasa bergerak untuk mencari cinta-Nya, berserah diri (tawakal) kepada-Nya, bertaubat (inabah) kepada-Nya, dan merasa sangat
butuh kepada Allah SWT dalam setiap urusan kita.
Kedua, hijrah menuju Rasulullah. Ini adalah komitmen kita untuk menyelaraskan
setiap gerak-gerik, langkah
dan tingkah laku, lahir dan batin
kita dengan tuntunan dan
panduan syariat Nabi kita Muhammad SAW.
Tanpa adanya upaya
untuk mencontoh (mutaba’ah/ittiba’) kepada petunjuk
Nabi SAW, maka amal ibadah kita yang secantik dan sebaik apa pun, hanya akan menjadi pemuas
ego, nafsu, atau rutinitas tanpa makna yang hanya sekadar untuk memenuhi
tuntutan acara dan upacara saja.
Dalam Rasail
al-Junaid, ulama sufi legendaris, Junaid al-Baghdadi mengatakan:
الطُّرُقُ
كُلُّهَا مَسْدُودَةٌ إِلَّا طَرِيقَ مَنِ اقْتَفَى آثَارَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Semua jalan menuju Allah itu tertutup, kecuali bagi mereka yang setia mengikuti jejak langkah Rasulullah.”
Baca juga: Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup
Lalu, bagaimana dengan hijrah fisik hari ini? Dalam catatan sejarah dan fiqih, perpindahan fisik tetap memiliki ruang tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi zaman.
Ada beberapa bentuk
hijrah fisik yang dikenal dalam hal ini, yakni sebagai berikut:
Pertama, penyelamatan iman. Yaitu berpindah
dari lingkungan yang mengekang kebebasan beragama menuju wilayah yang aman
untuk beribadah.
Kedua, hijrah sosial. Yaitu mengambil jarak secara fisik dari lingkaran pertemanan yang toksik, menghindari circle kita yang
dipenuhi oleh pelaku maksiat, atau
lingkungan tempat kita
tinggal yang penuh syubhat yang berpotensi untuk mendagrasi dan
mengikis iman kita.
Ketiga, hijrah akhir zaman. Tentang hal ini Rasulullah SAW bahkan pernah menubuatkan bahwa di akhir zaman nanti, ketika fitnah dunia sudah merajalela, maka sebaik-baik tempat berlindung bagi umat Islam ketika itu adalah berhijrah ke negeri Syam (sekitar Palestina dan sekitarnya), mengikuti jejak tempat hijrahnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam.
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Tentu saja, aplikasinya hari ini mengenai hadis
hijrah ke Syam tidak selalu dimaknai sebagai migrasi fisik secara massal,
melainkan lebih ditekankan pada hijrah maknawi (spiritual, intelektual, dan
pembelaan nilai). Memindahkan orientasi hidup dari materialisme
dan fitnah dunia modern menuju nilai-nilai wahyu.
Fokus hari ini adalah
memperkuat akidah, menjaga shalat, dan membentengi keluarga dari kerusakan
moral. Menolak untuk tunduk kepada tekanan lingkungan yang
melanggar syariat, berani menyuarakan kebenaran di tempat kita masing-masing,
dan memiliki mentalitas untuk
tidak takut rugi demi
mempertahankan iman.
“Oase Pahala” yang
Menghapus Masa Lalu
Mengapa Islam begitu
memuliakan konsep hijrah hingga Allah menjanjikannya dalam puluhan ayat Alquran?
Jawabannya tidak lain
adalah karena hijrah menuntut pengorbanan yang tidak murah. Ia butuh keberanian
untuk keluar dari zona nyaman.
Bagi mereka yang
berani melangkah, Allah menjanjikan kelapangan rezeki dan tempat yang mulia
(QS. An-Nahl: 41 & QS. An-Nisa: 100). Bahkan dalam sebuah hadis yang sangat
menenangkan, Rasulullah SAW memberikan garansi, beliau bersabda:
أَمَا عَلِمْتَ
أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟! وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ
مَا كَانَ قَبْلَهَا؟!
“Apakah kamu
tidak tahu bahwa Islam itu menghapuskan dosa yang lalu, dan bahwa hijrah juga
menghapuskan dosa-dosa yang sebelumnya?!” (HR Muslim)
Hijrah adalah tombol “reset” bagi kehidupan seorang manusia. Ia akan menghapus catatan-catatan kelam di masa lalu dan membuka lembaran baru yang putih bersih.
Baca juga: Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan
Kiranya kita tidak
perlu menunggu momentum besar atau mengemas koper, mengemas barang-barang kita, dan pamit dengan
sanak saudara untuk pindah negara
demi sebuah “hijrah”.
Kita mulailah saja dari tempat duduk kita saat ini. Mulailah dengan “menghijrahi” atau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, meninggalkan tontonan yang tidak bermanfaat,
memperbaiki kualitas shalat dan ibadah kita. Kemudian berusahalah selalu untuk menambah wawasan
agama kita, dan meluruskan kembali
arah hidup kita yang mungkin sempat berbelok entah ke mana.
Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya serta menjadi bagian dari golongan orang-orang yang hatinya selalu berhijrah menuju Allah SWT dan Rasulullah SAW. Amin.