Inilah 4 Doa yang Dapat Diamalkan di Hari “Rabu Wekasan”
Jakarta, MUI Digital — Rabu Wekasan atau Rebo Wekasan merupakan hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Dalam sebagian tradisi masyarakat, hari tersebut sejak masa Jahiliah hingga sekarang kerap dikaitkan dengan datangnya musibah, malapetaka, atau kesialan.
Anggapan semacam ini perlu diluruskan.
Sebagian kalangan masih meyakini bahwa bulan Safar identik dengan datangnya
kesialan, bahkan ada yang menghindari bepergian pada bulan itu. Padahal,
keyakinan yang mengaitkan suatu waktu tertentu dengan datangnya keburukan
secara pasti termasuk “thiyarah” yang dilarang dalam Islam.
Kendati demikian, sejumlah ulama tasawuf menganjurkan umat Islam agar memperbanyak doa dan amal kebaikan ketika memasuki bulan Safar, termasuk pada Rabu terakhir bulan tersebut. Amalan ini bukan karena meyakini Safar sebagai bulan pembawa sial, melainkan sebagai bentuk ikhtiar untuk memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan kepada Allah.
Baca juga: Safar dan Keyakinan tentang Larangan Menikah, Bagaimana Pandangan Islam?
Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H)
dalam kitabnya menuturkan:
أَنَّ الْأَسْبَابَ الْمَكْرُوهَةَ
إِذَا وُجِدَتْ فَإِنَّ الْمَشْرُوعَ الِاشْتِغَالُ بِمَا يُرْجَى بِهِ دَفْعُ
الْعَذَابِ الْمَخُوفِ مِنْهَا. مِنْ أَعْمَالِ الطَّاعَاتِ وَالدُّعَاءِ،
وَتَحْقِيقِ التَّوَكُّلِ عَلَى اللَّهِ وَالثِّقَةِ بِهِ، فَإِنَّ هَذِهِ الْأَسْبَابَ
كُلَّهَا مُقْتَضِيَاتٌ لَا مُوجِبَاتٌ وَلَهَا مَوَانِعٌ تَمْنَعُهَا.
فَأَعْمَالُ الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَالدُّعَاءُ وَالتَّوَكُّلُ مِنْ أَعْظَمِ مَا
يُسْتَدْفَعُ بِهِ
“Apabila terdapat sebab-sebab yang
dikhawatirkan dapat mendatangkan keburukan, maka yang disyariatkan adalah
menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang diharapkan dapat menolak azab atau
bahaya tersebut, seperti melakukan berbagai ketaatan, berdoa, menyempurnakan
tawakal kepada Allah, dan meneguhkan kepercayaan kepada-Nya. Sebab-sebab itu
pada hakikatnya hanyalah faktor yang berpotensi menimbulkan suatu akibat, bukan
sesuatu yang pasti mewujudkannya, karena masih terdapat berbagai penghalang
yang dapat mencegah terjadinya akibat tersebut. Oleh karena itu, amal
kebajikan, ketakwaan, doa, dan tawakal termasuk sarana terbesar guna menolak
berbagai keburukan.” (Lathaif al-Ma’arif
[Beirut: Al-Maktab al-Islami], vol. 1, h. 132)
Oleh karena itu, tidak ada salahnya umat Islam berdoa di momen hari “Rabu Wekasan”. Dalam tulisan ini penulis menyertakan setidaknya ada empat doa yang dapat diamalkan di hari tersebut, tentunya dengan berlandaskan pada apa yang telah dilakukan oleh para ulama saleh terdahulu.
Baca juga: Kajian Hadis: Benarkah Bulan Safar Membawa Sial?
Berikut empat bacaan doa yang dimaksud, dilengkap
dengan teks Arab, latin, terjemah, serta faedahnya berdasarkan keterangan para
ulama:
1. Doa Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki
Syekh Abdul Hamid Quddus al-Makki
asy-Syafi’i (wafat 1335 H) dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur secara
khusus menganjurkan membaca doa pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai salah
satu bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai marabahaya
dan bala. Beliau mengatakan:
فَمَنْ أَرَادَ السَّلَامَةَ
وَالْحِفْظَ مِنْ ذَلِكَ فَلْيَدْعُ أَوَّلَ يَوْمٍ مِنْ صَفَرٍ وَكَذَا فِي آخِرِ
أَرْبِعَاءِ مِنْهُ بِهَذَا الدُّعَاءِ، فَمَنْ دَعَا بِهِ دَفَعَ اللهُ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَنْهُ شَرَّ ذَلِكَ الْبَلَاءِ
“Barang siapa menghendaki keselamatan
dan perlindungan dari hal ini, hendaknya ia berdoa pada hari pertama bulan
Safar, demikian pula pada hari Rabu terakhir bulan Safar, dengan doa ini (doa
yang akan disebutkan). Barang siapa membacanya, niscaya Allah Subhanahu wa
Ta’ala akan menolak darinya keburukan bala tersebut.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 91)
Doa tersebut menjadi salah satu ikhtiar
untuk memohon keselamatan serta perlindungan kepada Allah dari berbagai
keburukan dan bala. Adapun lafadz doanya adalah sebagaimana berikut:
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ
شَرِّ هَذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَأَعُوذُ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ،
وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْرَتِكَ أَنْ تُجِيرَنِي وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي
وَأَهْلِي وَأَحِبَّائِي، وَمَا تُحِيطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي مِنْ شَرِّ هَذِهِ
السَّنَةِ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيهَا، وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّ شَهْرِ
صَفَرَ، يَا كَرِيمَ النَّظَرِ، وَاخْتِمْ لِي فِي هَذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ
بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ وَالسَّعَادَةِ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِي
وَالأَهْلِ وَمَا تَحُوطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِي وَجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَصَلَّى
اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Wa shallallāhu Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin
wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi ajma’īn. A’ūdzu billāhi min syarri hādzaz-zamāni wa
ahlihi, wa a’ūdzu bijalālika wa jalāli wajhika, wa kamāli jalāli qudratika an
tujīranī wa wālidayya wa aulādī wa ahlī wa aḥibbā’ī, wa mā tuḥīṭuhu syafaqatu
qalbī min syarri hādzihis-sanati, wa qinī syarra mā qadhaita fīhā, washrif
‘annī syarra syahri Shafar, yā Karīman-nadhari, wakhtim lī fī hādzasy-syahri
wad-dahri bis-salāmati wal-‘āfiyati was-sa’ādati lī wa liwālidayya wa aulādī
wal-ahli wa mā taḥūṭuhu syafaqatu qalbī wa jamī’il-muslimīn. Wa shallallāhu
Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Semoga Allah Ta’ala
melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta seluruh
keluarga dan para sahabat beliau. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan
zaman ini dan orang-orang yang hidup di dalamnya. Aku juga berlindung dengan
keagungan-Mu, keagungan wajah-Mu, dan kesempurnaan keagungan kekuasaan-Mu, agar
Engkau melindungi diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku,
orang-orang yang kucintai, serta siapa pun yang tercakup dalam kasih sayang
hatiku dari keburukan tahun ini. Lindungilah aku dari keburukan segala sesuatu
yang telah Engkau tetapkan di dalamnya, dan jauhkanlah dariku keburukan bulan
Safar, wahai Dzat Yang Mahamulia perhatian-Nya. Akhirilah bulan ini dan
perjalanan usiaku dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi diriku,
kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang tercakup dalam
kasih sayang hatiku, serta seluruh kaum Muslimin. Semoga Allah Ta’ala
melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta
keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut:
Dar al-Hawi], h. 91-92)
Doa ini memuat permohonan perlindungan yang cukup luas, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga kedua orang tua, anak, keluarga, orang-orang tercinta, dan seluruh kaum muslimin. Di dalamnya juga terdapat permohonan agar Allah mengakhiri perjalanan waktu seseorang dengan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan. Karena itu, doa ini patut untuk diperhatikan dan diamalkan.
Baca juga: Berdoalah Saja, Jangan Mengatur Allah!
2. Doa Syekh Ahmad bin Umar ad-Dairabi
Doa berikutnya dinukil dari Syekh Ahmad
bin Umar ad-Dairabi al-Ghunaimi asy-Syafi’i (wafat 1151 H). Kandungan doanya
berisi permohonan agar Allah mencukupi segala urusan, memberikan rahmat, serta
melindungi seseorang dari berbagai keburukan maupun bencana yang mungkin bisa terjadi
pada hari itu. Adapun lafaz doanya adalah sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ يَا شَدِيدَ الْقُوَى،
وَيَا شَدِيدَ الْمِحَالِ، يَا عَزِيزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيعُ خَلْقِكَ.
اكْفِنِي مِنْ جَمِيعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ، يَا مُتَفَضَّلُ،
يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ، يَا مَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، ارْحَمْنِي
بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اَللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ
وَأَخِيهِ، وَجَدِّهِ وَأَبِيهِ، وَأُمِّهِ وَبَنِيهِ؛ اكْفِنِي شَرَّ هَذَا
الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيهِ، يَا كَافِي الْمُهِمَّاتِ، يَا دَافِعَ
البَلِيَّاتِ. فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ،
وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا
بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَصَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allāhumma yā Syadīdal-quwā, wa yā
Syadīdal-miḥāl, yā ‘Azīzu dzallat li’izzatika jamī’u khalqika, ikfinī min
jamī’i khalqika, yā Muḥsinu yā Mujammilu, yā Mutafadhdhilu, yā Mun’imu yā
Mukrimu, yā man lā ilāha illā Anta, irḥamnī biraḥmatika yā Arḥamar-rāḥimīn.
Allāhumma bisirril-Ḥasani wa akhīhi, wa jaddihi wa abīhi, wa ummihi wa banīhi,
ikfinī syarra hādzal-yaumi wa mā yanzilu fīhi, yā Kāfiyal-muhimmāt, yā Dāfi’
al-baliyyāt, fasayakfīkahumullāhu wa Huwas-Samī’ul-‘Alīm, wa ḥasbunallāhu wa
ni’mal-wakīl, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-‘Aliyyil-‘Aẓīm. Wa shallallāhu
Ta’ālā ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, wahai Dzat Yang
Mahakuat, wahai Dzat Yang Mahadahsyat kekuasaan-Nya. Wahai Dzat Yang
Mahaperkasa, seluruh makhluk-Mu tunduk di hadapan keperkasaan-Mu. Cukupkanlah
aku dari seluruh makhluk-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Berbuat Baik, Yang Mahaindah,
Yang Maha Memberi Karunia, Yang Maha Memberi Nikmat, dan Yang Maha Memuliakan.
Wahai Dzat yang tiada Tuhan selain Engkau, kasihilah aku dengan rahmat-Mu,
wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. Ya Allah, dengan rahasia
kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, kakeknya, ayahnya, ibunya, serta
anak-anaknya, lindungilah aku dari keburukan hari ini dan segala sesuatu yang
turun atau terjadi di dalamnya. Wahai Dzat Yang Mencukupi segala urusan
penting, wahai Dzat Yang Menolak segala bencana. Maka, Allah akan mencukupkanmu
(dengan pelindungan-Nya) dari (kejahatan) mereka. Dia Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung. Tiada daya
dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.
Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami
Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Mujarobat
ad-Dairabi al-Kabir [Beirut: al-Maktabah as-Tsaqafiyyah], h. 79)
Keutamaan yang terkandung dalam doa ini tampak pada permohonan perlindungan dari keburukan, pencukupan dalam berbagai urusan, serta peneguhan sikap tawakal kepada Allah. Hal demikian juga tergambar dari bacaan hasbunallahu wa ni’mal-wakil, yakni pengakuan bahwa Allah merupakan sebaik-baik tempat berserah dan berlindung. Jadi, substansi doa ini tidak lain adalah menyandarkan segala urusan kepada Allah SWT. Karena itu, selayaknya kita memperhatikan dan mengamalkannya.
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
3. Doa Syekh Ahmad bin Ali al-Buni
Doa ketiga dikutip dari Syekh Ahmad bin Ali
al-Buni al-Maliki (wafat 622 H). Doa ini berisi permohonan kepada Allah melalui
nama-nama-Nya yang indah dan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, dengan harapan
supaya diberikan penjagaan serta keselamatan dari berbagai cobaan. Adapun
lafaznya sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى، وَبِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ، وَبِحُرْمَةِ نَبِيِّكَ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَحْفَظَنِي وَأَنْ
تُعَافِيَنِي مِنْ بَلَائِكَ، يَا دَافِعَ الْبَلَايَا، يَا مُفَرِّجَ الْهَمِّ،
وَيَا كَاشِفَ الْغَمِّ. اكْشِفْ عَنِّي مَا كُتِبَ عَلَيَّ فِي هَذِهِ السَّنَةِ
مِنْ هَمٍ أَوْ غَمٍ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا
Allāhumma innī as’aluka bi-asmā’ikal-ḥusnā,
wa bi-kalimātikat-tāmmāti, wa biḥurmati Nabiyyika Sayyidinā Muḥammadin shallallāhu
‘alaihi wa sallam an taḥfaẓanī wa an tu’āfiyanī min balā’ika, yā
Dāfi‘al-balāyā, yā Mufarrijal-hammi, wa yā Kāsyifal-ghammi, iksyif ‘annī mā
kutiba ‘alayya fī hādzihis-sanati min hammin au ghammin, innaka ‘alā kulli
syai’in qadīr. Wa shallallāhu ‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi
wa sallama taslīman.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku
memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang indah, dengan kalimat-kalimat-Mu
yang sempurna, dan dengan kemuliaan Nabi-Mu, junjungan kami Nabi Muhammad SAW,
semoga Engkau senantiasa menjagaku dan menyelamatkanku dari segala cobaan-Mu.
Wahai Dzat Yang Menolak segala bencana, wahai Dzat Yang Menghilangkan segala
kesusahan, dan wahai Dzat Yang Menyingkap segala kesedihan, singkirkanlah
dariku segala kesusahan dan kesedihan yang telah ditetapkan menimpaku pada
tahun ini. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Allah
melimpahkan rahmat dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kami Nabi
Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa
as-Surur [Beirut: Dar al-Hawi], h. 97)
Sebagaimana doa yang disebutkan sebelumnya, doa ini secara khusus juga mengandung permohonan agar Allah memberikan penjagaan, kesehatan, dan keselamatan dari berbagai cobaan. Di samping itu, terdapat permohonan supaya segala kesusahan dan kesedihan yang mungkin terjadi disingkirkan oleh Allah. Dan memang demikianlah Allah mengajarkan kepada kita agar hanya memohon dan mengadu kepada-Nya.
Baca juga: Doa Daf’ul Bala
4. Doa Lain yang Diamalkan oleh Sebagian
Kalangan Saleh
Selain tiga doa di atas, menurut Syekh
Abdul Hamid Quddus al-Makki asy-Syafi’I, terdapat lafadz doa lain yang juga
diamalkan oleh sebagian orang saleh. Sebagaimana pada umumnya, doa ini diawali
dengan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu doa dilanjutkan dengan permohonan
keselamatan dari berbagai ketakutan dan bencana, terpenuhinya kebutuhan,
pengampunan keburukan, serta tercapainya kebaikan di dunia dan setelah
kematian.
Berikut lafadz doa yang dimaksud:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ صَلَاةٌ تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ،
وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ
السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا
أَقْصَى الْغَايَاتِ، مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ
الْمَمَاتِ. اَللّٰهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا شَرَّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ،
وَمَا يَخْرُجُ مِنَ الْأَرْضِ. إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَصَلَّى
اللَّهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muḥammadin ṣalātan
tunjīnā bihā min jamī’il-ahwāli wal-āfāti, wa taqḍī lanā bihā jamī’al-ḥājāti,
wa tuṭahhirunā bihā min jamī’is-sayyi’āti, wa tarfa’unā bihā a’lad-darajāti, wa
tuballighunā bihā aqshal-ghāyāti, min jamī’il-khairāti fil-ḥayāti wa
ba’dal-mamāti. Allāhummashrif ‘annā syarra mā yanzilu minas-samā’i, wa mā
yakhruju minal-ardhi, innaka ‘alā kulli syai’in qadīr, wa shallallāhu Ta’ālā
‘alā Sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa shaḥbihi wa sallam.
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat
kepada junjungan kami Nabi Muhammad, dengan rahmat yang dengannya Engkau
menyelamatkan kami dari segala ketakutan dan bencana, memenuhi seluruh
kebutuhan kami, menyucikan kami dari segala keburukan, mengangkat kami ke derajat
yang paling tinggi, serta menyampaikan kami kepada puncak segala kebaikan, baik
dalam kehidupan maupun setelah kematian. Ya Allah, jauhkanlah dari kami
keburukan segala sesuatu yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi.
Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Semoga Allah Ta’ala
melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, beserta
keluarga dan para sahabatnya.” (Kanzun Najah wa as-Surur [Beirut:
Dar al-Hawi], h. 97-98)
Kandungan doa ini mencakup permohonan yang
cukup luas, mulai dari keselamatan dari bencana, terpenuhinya berbagai
kebutuhan, terbebas dari keburukan, hingga memperoleh kebaikan dalam kehidupan
dan setelah kematian. Jadi, sebagaimana layaknya tiga doa yang disebutkan
sebelumnya, doa ini juga bisa diamalkan di momen hari “Rabu Wekasan”.
Bagaimanapun, di sini perlu dicatat dan ditegaskan kembali bahwa membaca doa pada momen “Rabu Wekasan” hendaknya ditempatkan sebagai bentuk ikhtiar, tawakal, serta permohonan perlindungan kepada Allah, bukan lantaran meyakini bahwa hari “Rabu Wekasan” atau Rabu terakhir bulan Safar ini secara pasti membawa kesialan.
Baca juga: Bencana Alam, Kerusakan Lingkungan, dan Pengertian Bala' dalam Alquran
Sebagaimana keterangan yang telah
diuraikan sebelumnya, tatkala seorang muslim mengkhawatirkan datangnya suatu
keburukan, yang dianjurkan ialah memperbanyak ketaatan, doa, ketakwaan, dan
tawakal kepada Allah. Sebab, hanya Allah-lah yang menentukan datang atau
terhindarnya seseorang dari suatu musibah.
Jadi, empat doa di atas dapat diamalkan sebagai bagian dari munajat kepada Allah, baik diamalkan pada momen “Rabu Wekasan” maupun waktu lainnya, dengan tetap meneguhkan keyakinan bahwa keselamatan, perlindungan, dan segala kebaikan semata-mata berada dalam kekuasaan Allah. Wallahu a‘lam bis shawab.