Hakikat di Balik Syariat Doa
Oleh: Badrut Tamam, M.A
Dosen Institut Darul Ulum Banyuanyar (IDB) Pamekasan
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Islam adalah agama yang memiliki ajaran yang sangat detail. Tidak ada agama lain yang selengkap agama Islam. Semua lini kehidupan tidak ada yang tidak ada aturan syariatnya. Mulai dari urusan yang besar seperti pemerintahan hingga urusan yang sangat kecil, seperti makan, Islam memiliki aturan.
Di antara aturan yang sangat melekat pada kehidupan adalah adanya anjuran berdoa di setiap kesempatan. Ada doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum dan sesudah buang hajat, doa masuk dan keluar masjid, doa masuk dan keluar rumah, doa sebelum dan sesudah bangun tidur, dan seterusnya.
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Dari semua ajaran syariat Islam, semuanya memiliki dua dimensi yang sering dilupakan atau tidak diketahui oleh banyak muslim.
Dua dimensi tersebut adalah dimensi syariah
dan dimensi hakikat. Kedua dimensi ini ibarat dua sisi mata uang, saling
melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.
Bahkan ada ungkapan yang sangat masyhur di
kalangan pengamal tasawuf:
الشريعة بلا
حقيقة عاطلة، والحقيقة بغير شريعة باطلة
Bahwa syariat tanpa hakikat menjadi kosong, dan hakikat tanpa syariat adalah batil. Begitu juga dalam berdoa, ada dimensi
syariat dan juga ada dimensi hakikat.
Dalam tradisi tasawuf, syariat dan hakikat
didefinisikan sebagai berikut:
الشريعة أمر
بالتزام العبودية، والحقيقة مشاهدة الربوبية
“Syariat adalah perintah terhadap setiap hamba untuk terus menghamba, sementara hakikat adalah menyaksikan peran Allah di setiap sesuatu di alam semesta ini.”
Baca juga: 4 Waktu Penting Mustajabnya Doa, Jangan Diabaikan
Bersyariat dalam berdoa adalah membaca doa
di setiap kesempatan sesuai dengan doa yang dianjurkan atau dicontohkan oleh
Nabi. Karena dengan berdoa saat dianjurkan oleh agama itulah berarti menghamba
kepada Allah.
Konsistensi berdoa adalah salah satu bukti
kesetiaan kepada Allah. Karena hanya yang setia kepada ajaran agama yang bisa
konsisten mengamalkan ajarannya.
Tetapi berdoa saja tidak sempurna. Karena
berdoa adalah bagian dari bersyariat yang sejatinya tidak lengkap jika tidak
dibarengi dengan hakikat. Sehingga doa yang dipanjatkan sebaiknya dibarengi
dengan berhakikat.
Lalu, bagaimana berhakikat dalam berdoa?
Sebagaimana disebutkan di awal bahwa
berhakikat berarti menyadari dan menyaksikan peran Allah di setiap langkah yang
dilalui seorang hamba. Dalam konteks berdoa, berhakikat berarti menyadari dan
merasakan peran Allah dari doa yang dipanjatkan, seperti doa sebelum makan yang
dikenal oleh khalayak umum adalah;
اللهم
بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار
“Ya Allah, berkahilah
untuk kami di dalam sesuatu yang telah engkau rizkikan kepada kami, dan jagalah
kami dari api neraka”.
Doa ini mengajarkan kita bahwa apa yang akan dimakan adalah rezeki dari Allah; ada peran Allah dalam hadirnya makanan di hadapan kita, bukan semata hasil kerja kita sebagai manusia.
Baca juga: Allah Memuji Seorang Mukmin yang Sabar Menghadapi Ujian Hidup
Ini sejatinya mengajarkan kita agar selalu
menyaksikan peran Allah di setiap apa pun yang kita lakukan. Jika saat kita
makan kita sadar bahwa makanan tersebut murni pemberian Allah, maka itu adalah
hakikat.
Contoh lain seperti ketika seorang muadzin
mengumandangkan kalimat:
حي على الصلاة
حي على الفلاح
Lalu kita yang mendengarkan dianjurkan
menjawab dengan kalimat:
لاحول
ولاقوة إلا بالله
Jawaban ini berarti tidak ada kemampuan menghindar dari dosa dan tidak ada kemampuan melakukan ketaatan seperti shalat kecuali dengan bantuan Allah semata.
Baca juga: Ikhtiar dan Doa bagi Jamaah Haji agar Mendapatkan Predikat Mabrur
Jika mulut melafazkan doa dan dzikir,
sementara tidak ada kesadaran akan peran Allah, maka itu tidak sempurna alias
kosong.
Doa itu menjadi sempurna dan tidak kosong
jika lisan berucap doa dan dibarengi dengan kesadaran dari dalam jiwa akan
peran Allah dalam langkah kehidupan.
Dari kesadaran itulah akan lahir syukur
yang tulus. Inilah yang membuat sebuah doa menjadi istimewa. Sehingga Rasulullah
bersabda:
إن
الله لا يقبل دعاء من كل قلب غافل لاهي
Bahwa sesungguhnya Allah tidak menerima doa yang dipanjatkan dengan hati kosong. Wallahu a’lam.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.