Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Hakikat di Balik Syariat Doa

3 menit baca 1.303 dibaca
Badrut Tamam, M.A

Oleh: Badrut Tamam, M.A

Dosen Institut Darul Ulum Banyuanyar (IDB) Pamekasan

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Hakikat di Balik Syariat Doa
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Islam adalah agama yang memiliki ajaran yang sangat detail. Tidak ada agama lain yang selengkap agama Islam. Semua lini kehidupan tidak ada yang tidak ada aturan syariatnya. Mulai dari urusan yang besar seperti pemerintahan hingga urusan yang sangat kecil, seperti makan, Islam memiliki aturan.

Di antara aturan yang sangat melekat pada kehidupan adalah adanya anjuran berdoa di setiap kesempatan. Ada doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum dan sesudah buang hajat, doa masuk dan keluar masjid, doa masuk dan keluar rumah, doa sebelum dan sesudah bangun tidur, dan seterusnya.

Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis

Dari semua ajaran syariat Islam, semuanya memiliki dua dimensi yang sering dilupakan atau tidak diketahui oleh banyak muslim.

Dua dimensi tersebut adalah dimensi syariah dan dimensi hakikat. Kedua dimensi ini ibarat dua sisi mata uang, saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.

Bahkan ada ungkapan yang sangat masyhur di kalangan pengamal tasawuf:

الشريعة بلا حقيقة عاطلة، والحقيقة بغير شريعة باطلة 

Bahwa syariat tanpa hakikat menjadi kosong, dan hakikat tanpa syariat adalah batil. Begitu juga dalam berdoa, ada dimensi syariat dan juga ada dimensi hakikat.

Dalam tradisi tasawuf, syariat dan hakikat didefinisikan sebagai berikut:

 الشريعة أمر بالتزام العبودية، والحقيقة مشاهدة الربوبية

“Syariat adalah perintah terhadap setiap hamba untuk terus menghamba, sementara hakikat adalah menyaksikan peran Allah di setiap sesuatu di alam semesta ini.”    

Baca juga: 4 Waktu Penting Mustajabnya Doa, Jangan Diabaikan

Bersyariat dalam berdoa adalah membaca doa di setiap kesempatan sesuai dengan doa yang dianjurkan atau dicontohkan oleh Nabi. Karena dengan berdoa saat dianjurkan oleh agama itulah berarti menghamba kepada Allah.

Konsistensi berdoa adalah salah satu bukti kesetiaan kepada Allah. Karena hanya yang setia kepada ajaran agama yang bisa konsisten mengamalkan ajarannya.

Tetapi berdoa saja tidak sempurna. Karena berdoa adalah bagian dari bersyariat yang sejatinya tidak lengkap jika tidak dibarengi dengan hakikat. Sehingga doa yang dipanjatkan sebaiknya dibarengi dengan berhakikat.

Lalu, bagaimana berhakikat dalam berdoa?

Sebagaimana disebutkan di awal bahwa berhakikat berarti menyadari dan menyaksikan peran Allah di setiap langkah yang dilalui seorang hamba. Dalam konteks berdoa, berhakikat berarti menyadari dan merasakan peran Allah dari doa yang dipanjatkan, seperti doa sebelum makan yang dikenal oleh khalayak umum adalah;

اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار

“Ya Allah, berkahilah untuk kami di dalam sesuatu yang telah engkau rizkikan kepada kami, dan jagalah kami dari api neraka”.

Doa ini mengajarkan kita bahwa apa yang akan dimakan adalah rezeki dari Allah; ada peran Allah dalam hadirnya makanan di hadapan kita, bukan semata hasil kerja kita sebagai manusia.

Baca juga: Allah Memuji Seorang Mukmin yang Sabar Menghadapi Ujian Hidup

Ini sejatinya mengajarkan kita agar selalu menyaksikan peran Allah di setiap apa pun yang kita lakukan. Jika saat kita makan kita sadar bahwa makanan tersebut murni pemberian Allah, maka itu adalah hakikat.

Contoh lain seperti ketika seorang muadzin mengumandangkan kalimat:

 حي على الصلاة حي على الفلاح

Lalu kita yang mendengarkan dianjurkan menjawab dengan kalimat:

لاحول ولاقوة إلا بالله

Jawaban ini berarti tidak ada kemampuan menghindar dari dosa dan tidak ada kemampuan melakukan ketaatan seperti shalat kecuali dengan bantuan Allah semata.

Baca juga: Ikhtiar dan Doa bagi Jamaah Haji agar Mendapatkan Predikat Mabrur

Jika mulut melafazkan doa dan dzikir, sementara tidak ada kesadaran akan peran Allah, maka itu tidak sempurna alias kosong.

Doa itu menjadi sempurna dan tidak kosong jika lisan berucap doa dan dibarengi dengan kesadaran dari dalam jiwa akan peran Allah dalam langkah kehidupan.

Dari kesadaran itulah akan lahir syukur yang tulus. Inilah yang membuat sebuah doa menjadi istimewa. Sehingga Rasulullah bersabda:

إن الله لا يقبل دعاء من كل قلب غافل لاهي

Bahwa sesungguhnya Allah tidak menerima doa yang dipanjatkan dengan hati kosong. Wallahu a’lam.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.