Allah Memuji Seorang Mukmin yang Sabar Menghadapi Ujian Hidup
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Hidup tidak pernah berjalan lurus tanpa gelombang. Kadang lapang, kadang sempit. Hari ini seseorang tertawa, esok ia diuji dengan air mata.
Demikianlah sunnatullah
yang berlaku sejak manusia pertama hingga generasi terakhir. Tidak ada satu
zaman pun yang bebas dari persoalan. Bedanya hanya bentuk ujian, bukan
hakikatnya.
Dahulu orang diuji dengan paceklik, peperangan, dan perjalanan yang berat. Hari ini manusia diuji dengan tekanan ekonomi, persaingan hidup, keretakan keluarga, kecemasan mental, fitnah media sosial, dan ketidakpastian masa depan. Wajah ujian berubah, tetapi sumber takdir tetap sama, yaitu Allah SWT.
Baca juga: 5 Sikap Yang Dianjurkan Rasulullah SAW Saat Terkena Musibah
Bagi seorang mukmin, jalan terbaik untuk meraih ketakwaan di tengah kehidupan yang sarat persoalan bukanlah menghindar dari realitas, melainkan menghadapinya dengan iman yang kokoh, kesabaran yang teguh, dan keyakinan penuh kepada Allah.
Seorang mukmin harus memahami bahwa apa pun yang menimpanya tidak terjadi secara liar dan tanpa makna. Semua berada dalam ilmu dan ketentuan Allah. Alquran menegaskan:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي
الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا
ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di
bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz)
sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS.
Al-Hadid: 22)
Lalu di dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:
مَا أَصَابَ
مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ
قَلْبَهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa
kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia
akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11)
Ayat ini memberikan ketenangan bagi seorang mukmin. Bahwa musibah bukan tanda Allah membenci hamba-Nya. Bisa jadi justru jalan untuk menaikkan derajat, menghapus dosa, atau mengembalikan seorang hamba kepada-Nya.
Baca juga: 4 Hikmah yang Bisa Dipetik dari Musibah yang Dialami Umat Manusia
Terkait ayat ini, Ibnu
Katsir menjelaskan bahwa makna “kecuali dengan izin Allah” adalah dengan
perintah Allah, yakni berdasarkan takdir dan kehendak-Nya. Artinya, tidak ada
satu pun musibah yang terjadi di alam ini melainkan berada dalam ketentuan
Allah dan tidak keluar dari kehendak-Nya.
Lalu Ibnu Katsir
menerangkan:
أي ومن أصابته مصيبة فعلم أنها بقضاء الله وقدره فصبر
واحتسب واستسلم لقضاء الله هدى الله قلبه. وعوضه عما فاته من الدنيا هدى في قلبه
ويقينا صادقا، وقد يخلف عليه ما كان أخذ منه أو خيرا منه
“Artinya, siapa saja yang ditimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi karena qadha dan qadar Allah, kemudian ia bersabar, mengharap pahala, serta berserah diri kepada keputusan Allah, maka Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah juga akan mengganti apa yang hilang darinya dalam urusan dunia dengan hidayah di dalam hati dan keyakinan yang tulus. Bahkan, bisa jadi Allah menggantikan apa yang telah diambil darinya dengan sesuatu yang serupa atau yang lebih baik daripadanya.” (Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah], juz 8, h. 161)
Jadi, siapa saja yang ditimpa musibah lalu meyakini bahwa hal itu terjadi karena qadha dan qadar Allah, kemudian ia bersabar, mengharap pahala, dan berserah diri kepada keputusan-Nya, maka Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.
Baca juga: Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah
Allah akan mengganti
kehilangan duniawinya dengan petunjuk dalam hati, keyakinan yang benar, dan
ketenangan jiwa. Bahkan bisa jadi Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih
baik daripada apa yang telah diambil darinya.
Karena itu, selaras
dengan sikap sabar dalam menerima ketentuan Allah, lalu disebutlah dalam surat
Al-Baqarah ayat 156 tentang bagaimana layaknya seorang mukmin bersabar ketika
ditimpa musibah. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا
لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang apabila
ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan
sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.’” (QS.
Al-Baqarah: 156)
Ucapan “istirja’” ini adalah pengakuan bahwa diri, harta, keluarga, dan seluruh hidup ini adalah milik Allah. Karena itu, ketika Allah mengambil sesuatu dari kita, sejatinya Dia hanya mengambil milik-Nya sendiri. Maka sepatutnya seorang mukmin ikhlas menerima atas apa yang ditetapkan Allah kepadanya.
Baca juga: Ujian Solidaritas Kemanusiaan di Tengah Musibah Bencana Alam
Jika seorang mukmin memahami ini dengan benar, maka tentu ia akan selalu dalam kebaikan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat hadis shahih berikut:
عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ، لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ قَضَاءً
إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ، إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا
لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ
لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ
“Sungguh
menakjubkan urusan seorang mukmin. Allah tidak menetapkan suatu ketetapan
baginya melainkan semuanya baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia
bersabar, maka itu baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur,
maka itu pun baik baginya. Dan keadaan seperti ini tidak dimiliki kecuali oleh
seorang mukmin.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa seorang mukmin selalu berada dalam kebaikan. Saat diuji, ia bersabar, dan saat diberi nikmat, ia bersyukur. Dalam dua keadaan itu ia tetap mendapat pahala dan kemuliaan di sisi Allah. Wallahu a’lam bis shawab.