Video Ben-Gvir Siksa Aktivis Bongkar Hasbara Israel di Mata Dunia
Miftahul Jannah
Penulis
Admin
Editor
Tel Aviv, MUI Digital – Video yang diunggah Menteri Keamanan Nasional Israel sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, menuai kecaman internasional setelah memperlihatkan para aktivis armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla dalam kondisi berlutut, mata tertutup, dan tangan terikat di Pelabuhan Ashdod.
MUI Digital mengutip laporan Aljazeera, pada Senin (25/5/2026), rekaman tersebut dinilai memperlihatkan wajah nyata perlakuan aparat Israel terhadap aktivis internasional yang berupaya menembus blokade Gaza melalui jalur laut.
Video itu juga disebut-sebut menjadi pukulan serius bagi kampanye propaganda Israel yang dikenal dengan istilah “Hasbara”.
Pasukan angkatan laut Israel sebelumnya mencegat kapal-kapal armada kemanusiaan itu di perairan internasional dekat Siprus.
Sedikitnya 430 peserta dilaporkan ditahan, sementara puluhan aktivis melakukan mogok makan sebagai bentuk solidaritas terhadap ribuan tahanan Palestina di penjara Israel.
Sejumlah negara seperti Italia, Prancis, Belanda, Kanada, dan Spanyol dilaporkan memanggil duta besar Israel dan mengecam perlakuan yang dianggap melanggar martabat manusia.
Peneliti kebijakan Palestina dari Al-Shabaka, Fathi Nimer, menilai video tersebut telah meruntuhkan narasi yang selama ini dibangun Israel melalui Hasbara.
“Hasbara pada dasarnya adalah propaganda negara untuk memperindah citra pendudukan. Namun video ini justru memperlihatkan realitas yang sulit disembunyikan,” ujarnya seperti dikutip Aljazeera.
Menurutnya, pemerintah Israel lebih mengkhawatirkan dampak citra global dibanding substansi pelanggaran yang terjadi.
Ia juga menyebut anggaran Hasbara Israel meningkat drastis dari sekitar 15 juta dolar AS pada 2023 menjadi proyeksi 700 juta dolar AS pada 2026.
Akademisi dan pengamat urusan Israel, Mtanes Shehadeh, mengatakan video tersebut memberikan bukti langsung mengenai kekerasan struktural dalam pemerintahan Israel saat ini.
Baca juga: 'Aku Cinta Indonesia' Kesan Petugas Bandara Jeddah Asal Pakistan Atas Kedermawanan Jamaah Haji
“Masalah utama bagi Israel adalah dunia kini melihat realitas sebenarnya secara langsung,” katanya.
Di sisi lain, respons Amerika Serikat juga menuai sorotan. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, mengkritik Ben-Gvir karena dianggap mencoreng martabat negaranya. Namun kritik itu dinilai tidak menyentuh akar persoalan pelanggaran hak asasi manusia.
Pemerintah AS bahkan menjatuhkan sanksi terhadap empat penyelenggara Global Sumud Flotilla dan menyebut misi tersebut sebagai “flotilla pro-teror”.
Kebijakan ini memunculkan tudingan standar ganda karena Washington dianggap melindungi pejabat-pejabat sayap kanan Israel dari pertanggungjawaban hukum internasional.
Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, Mustafa Barghouti, menyebut perlakuan terhadap para aktivis internasional itu hanya gambaran kecil dari kondisi yang selama ini dialami tahanan Palestina.
“Adegan ini mencerminkan fasisme pemerintahan Israel secara keseluruhan, bukan hanya Ben-Gvir,” ujarnya.
Baca juga: Senyum Damiri Tetap Lebar, Meski Kehilangan Jempol Kaki saat Jalani Haji di Tanah Suci
Kelompok hak asasi manusia melaporkan hampir 100 warga Palestina meninggal dalam tahanan Israel sejak Oktober 2023 di tengah tuduhan penyiksaan, kelaparan, serta pengabaian layanan medis.
Sementara itu, mantan Wakil Presiden Parlemen ,Eropa, Luisa Morgantini, menilai pemanggilan duta besar saja tidak cukup. Ia mendesak negara-negara Eropa menghentikan penjualan senjata kepada Israel dan mendukung langkah hukum internasional terhadap para pemimpin Israel.
Para analis menilai armada-armada kemanusiaan yang terus mencoba menembus blokade Gaza telah berhasil membuka perhatian dunia terhadap kondisi di Palestina, sekaligus mempercepat isolasi diplomatik Israel di mata publik internasional.