Ujian Solidaritas Kemanusiaan di Tengah Musibah Bencana Alam
Admin
Penulis
Jakarta, MUI Digital—Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir-akhir ini telah menguji ketahanan bangsa Indonesia. Ratusan nyawa melayang, ribuan rumah hancur, dan jutaan jiwa terdampak.
Namun di tengah kepedihan yang mendalam, muncul secercah harapan dari spirit solidaritas yang mengalir deras di antara masyarakat Indonesia. Para influencer, artis, dan masyarakat umum berlomba-lomba menggalang dana dan menyalurkan bantuan, tidak menunggu instruksi atau iming-iming penghargaan.
Ferry Irwandi, misalnya, berhasil mengumpulkan lebih dari sepuluh miliar rupiah hanya dalam waktu 24 jam melalui live streaming, dengan puluhan ribu orang ikut berpartisipasi. Ini adalah bukti bahwa jiwa kedermawanan dan kepedulian sosial masih mengalir kuat dalam darah bangsa ini.
Hal ini menunjukkan bagaimana gotong royong kerakyatan dan solidaritas kemanusiaan mengakar kuat dalam denyut kehidupan masyarakat. Akhirnya, sejumlah kesedihan dan kepedihan yang dirasakan para korban di sana menjadi duka bersama rakyat Indonesia.
Islam membangun fondasi solidaritas melalui prinsip tolong-menolong yang tegas. Islam mengenalnya dengan konsep ta'awun, suatu konsep tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa yang menjadi prinsip fundamental yang tak terpisahkan.
Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Al-Maidah ayat 2, sebagaimana berikut:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Ayat ini menegaskan bahwa tolong-menolong dalam kebaikan menjadi salah satu perintah langsung dari Allah yang tidak boleh diabaikan, terutama ketika saudara kita tertimpa musibah.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menggambarkan bagaimana persaudaraan yang erat di antara umat Islam layaknya satu-kesatuan tubuh yang saling merasakan. melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Nu'man bin Basyir, Rasulullah bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuh yang lain akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Muslim)
Hadits ini menunjukkan bagaimana ikatan persaudaraan mereflekasikan solidaritas yang mendalam. Ketika saudara kita di Aceh dan Sumatera tertimpa bencana, maka sejatinya seluruh umat Islam merasakan kepedihan yang sama dan terpanggil untuk memberikan pertolongan.
Faktanya, dana yang terkumpul melalui gelombang solidaritas memberikan secercah harapan baru bagi para korban bencana. Tiap rupiah yang tersalurkan menjadi modal nyata untuk membangun kembali apa yang telah hilang.
Bagi mereka yang kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarga tercinta, perasaan terisolasi dan putus asa adalah musuh terbesar.
Di tengah reruntuhan dan lumpur, gelombang solidaritas terus mengalir dari seluruh penjuru negeri memberikan kekuatan baru untuk bangkit.
Terhadap solidaritas tersebut, Rasulullah SAW memberikan motivasi spiritual melalui hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.
Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” (HR Muslim)
Hadits ini memberikan jaminan bahwa setiap pertolongan yang kita berikan kepada korban bencana, baik berupa donasi, tenaga, atau dukungan moral akan dibalas oleh Allah dengan pertolongan yang berlipat ganda di dunia dan akhirat.
Dengan demikian, solidaritas yang terbangun di tengah musibah adalah ujian sekaligus berkah. Ujian untuk membuktikan apakah nilai-nilai Islam benar-benar tertanam dalam perilaku nyata. Dan berkah karena kita diingatkan tentang hakikat kehidupan dan pentingnya persaudaraan.(Rozi, ed: Nashih)