Wukuf di Arafah, Musyrif Diny Prof Niam: Momentum Refleksi Diri dan Simbol Kesetaraan Manusia
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Makkah, MUI Digital--Inti dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah pelaksanaan wukuf di Padang Arafah. Secara hukum fikih, setiap jamaah diwajibkan untuk hadir secara fisik di hamparan padang pasir tersebut pada waktu yang telah ditentukan.
Tanpa kehadiran fisik di tempat dan waktu yang sakral ini, ibadah haji seorang Muslim akan berdampak ketidakabsahan.
Musyrif Diny, Prof KH Asrorun Niam Sholeh menegaskan bahwa keutamaan Arafah muncul karena adanya perpaduan mutlak antara dua dimensi, yakni ruang dan waktu.
Baca juga: Menuju Puncak Haji, Prof Asrorun Niam Ingatkan Jamaah Optimalkan Doa di Hari Mustajab Arafah
"Yang pertama adalah tempat yang sudah ditentukan, tidak boleh kita keluar dari tempat yang ditentukan karena akan berdampak pada ketidakabsahan. Yang kedua adalah soal waktu. Keutamaan dua hal ini. Kalau kita berada di Arafah di luar waktu itu, ya seperti tanah biasa saja," ujar Prof Niam, Senin (25/5/2026).
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan oleh jutaan jamaah haji saat berada di momentum krusial tersebut?
Ketua MUI Bidang Fatwa ini menjelaskan bahwa Arafah adalah panggung besar untuk kontemplasi dan muhasabah (introspeksi diri).
Prof Niam menambahkan, secara spiritual, suasana wukuf merupakan miniatur atau simbolisasi dari Padang Mahsyar di hari kiamat kelak. Hal ini menjadi sebuah momen, di mana seluruh manusia yang telah wafat akan dibangkitkan kembali dalam situasi dan kondisi yang sepenuhnya setara.
Di Arafah, segala atribut duniawi dilepaskan. Jutaan jamaah bergerak dan berkumpul dengan mengenakan pakaian yang sama: dua helai kain putih tanpa jahitan bagi laki-laki.
Menurut Prof Niam, pakaian ihram ini adalah simbol ketegasan bahwa di hadapan Allah SWT, semua manusia berada di garis start yang sama.
"Tidak memiliki apa-apa kecuali badan dan pakaian yang melekat di badan dengan setara. Warna putih dua helai tanpa jahit itu sebagai simbol bahwa kita setara. Tidak ada kemuliaan karena jabatan, tidak ada kehebatan karena kekayaan," kata Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta.
Ia menambahkan, kesuksesan dan kebahagiaan manusia di hadapan Allah SWT hanya diukur dari kualitas ketakwaan dan optimalisasi amal saleh masing-masing individu selama hidup di dunia.
"Bukan karena kebaikan orang lain, bukan karena martabat orang tua, dan juga bukan karena jabatan yang kita pikul. Yang ada adalah ketakwaan," tegasnya.
Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah ini berharap pengalaman spiritual di Padang Arafah tidak menguap begitu saja setelah jamaah meninggalkan Tanah Suci.
Prof Niam menegaskan bahwa momentum kontemplasi ini harus melahirkan kesadaran baru untuk terus membangun dan menjaga semangat kesetaraan antar-sesama manusia.