Menuju Puncak Haji, Prof Asrorun Niam Ingatkan Jamaah Optimalkan Doa di Hari Mustajab Arafah
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Makkah, MUI Digital--Musyrif Diny, Prof KH Asrorun Niam Sholeh mengimbau seluruh jamaah haji Indonesia untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin menjelang puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah pada 9 Djulhijjah.
Ketua MUI Bidang Fatwa ini mengingatkan bahwa momentum wukuf adalah waktu krusial yang harus diisi dengan pendekatan diri secara total kepada Allah SWT.
"Wukuf di Arafah adalah rukun utama dalam ibadah haji. Tanpa kehadiran fisik di Arafah pada tanggal tersebut, ibadah haji tidak sah. Karena itu, perlu kesiapan fisik dan mental yang matang," kata ulama yang akrab disapa Prof Niam di Makkah, Senin (25/5/2026).
Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta menekankan bahwa Hari Arafah merupakan waktu yang sangat istimewa, di mana rahmat Allah turun dan doa-doa dikabulkan.
Baca juga: Musyrif Diny: Sistem Penyembelihan hingga Distribusi Dam di Adahi Sangat Profesional
Oleh karena itu, Prof Niam meminta jamaah tidak menyia-nyiakan waktu selama berada di tenda Arafah dengan aktivitas yang kurang bermanfaat.
Prof Niam juga mengimbau kepada jamaah haji untuk memperbanyak amalan spiritual secara intensif, seperti membaca Alquran dan shalawat, berdzikir dan melakukan shalat sunnah serta melakukan muhasabah.
"Hari Arafah adalah hari yang mustajab di tempat yang mustajab. Sebaik-baik doa adalah doa di Hari Arafah. Gunakan waktu tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampun atas kesalahan, baik kepada Allah maupun kepada sesama," tegasnya.
Mengingat pergerakan jamaah menuju Arafah sudah mulai dilakukan secara berangsur sejak 8 Djulhijjah, Prof Niam mengingatkan pentingnya menjaga stamina.
Dia menekankan bahwa ketahanan fisik menjadi kunci utama agar jamaah bisa beribadah dengan khusyuk, termasuk saat melanjutkan rangkaian mabit (bermalam) di Muzdalifah dan Mina, hingga pelaksanaan lempar jumrah.
Baca juga: Petugas Haji Punya Dua Posisi Strategis, Prof Niam: Jaga Keseimbangan Tugas dan Spiritual
Terkait rangkaian setelah Arafah, Ketua Majelis Alumni IPNU ini mengapresiasi regulasi pergerakan jamaah yang tahun ini dibagi menjadi tiga skema demi mengurai kepadatan.
Ia meminta jamaah, terutama lansia dan yang sedang kurang sehat, untuk mematuhi jalur serta jadwal yang telah ditetapkan oleh maktab.
"Kepatuhan pada jadwal dan pengaturan yang telah ditetapkan adalah bagian dari menjaga keselamatan jamaah sekaligus tetap dalam koridor syariat," pungkasnya.