Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Istimewa
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Dalam tradisi Islam, waktu bukan sekadar hitungan astronomis yang bergerak dari detik ke detik. Alquran memandang waktu sebagai bagian dari ayat-ayat Allah yang memiliki nilai, kehormatan, dan fungsi spiritual tertentu.
Karena itu, Islam mengenal adanya waktu-waktu mulia (al-azminah al-fadhilah), tempat-tempat mulia (al-amkinah al-fadhilah), dan amal-amal tertentu yang memiliki keutamaan lebih besar dibanding lainnya.
Di antara waktu yang
paling agung dalam kalender Islam adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Menariknya, di tengah masyarakat modern hari ini, manusia justru semakin kehilangan sensitivitas terhadap “kesucian waktu”. Kalender kehidupan lebih banyak diatur oleh ritme ekonomi, target industri, agenda politik, promosi digital, hingga tren media sosial.
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Manusia modern sangat mudah mengingat tanggal konser, jadwal liga olahraga dunia, momentum diskon besar, atau peristiwa hiburan global, tetapi sering lupa bahwa dalam Islam ada hari-hari yang oleh Allah dan Rasul-Nya justru disebut lebih mulia dan lebih bernilai daripada hari-hari lainnya.
Fenomena ini
sesungguhnya berkaitan erat dengan krisis spiritual manusia modern. Laporan
World Health Organization tahun 2022 mencatat bahwa lebih dari 970 juta orang
di dunia mengalami gangguan kesehatan mental, dengan gangguan kecemasan (anxiety
disorders) dan depresi menjadi kasus terbesar secara global.
WHO juga menyebutkan
bahwa setelah pandemi COVID-19 terjadi peningkatan signifikan gangguan
kecemasan dan depresi hingga sekitar 25 persen di berbagai negara.
Sementara itu, riset global yang diterbitkan oleh Gallup dalam Global Emotions Report 2023 menunjukkan bahwa tingkat stres, kecemasan, dan kesedihan masyarakat dunia tetap berada pada angka tinggi meskipun dunia mulai pulih dari pandemi. Banyak manusia hidup dalam kemajuan teknologi, tetapi tidak menemukan ketenangan batin.
Baca juga: Pergi Haji
Fenomena lain yang
semakin banyak dibahas para ilmuwan sosial adalah loneliness epidemic
(epidemi kesepian). Pada tahun 2023, Surgeon General Amerika Serikat, Vivek
Murthy, menerbitkan laporan resmi berjudul Our Epidemic of Loneliness and
Isolation yang menyebut bahwa kesepian kronis kini menjadi ancaman serius
kesehatan publik, bahkan dampaknya terhadap kesehatan dinilai setara dengan
merokok beberapa batang rokok per hari.
Psikolog sosial
Amerika, Jonathan Haidt, dalam bukunya The Anxious Generation (2024)
menjelaskan bagaimana budaya digital dan penggunaan media sosial yang
berlebihan melahirkan generasi yang lebih mudah cemas, rapuh secara emosional,
sulit fokus, dan kehilangan kedalaman relasi sosial maupun spiritual.
Dalam konteks inilah,
Islam sebenarnya telah lama menghadirkan mekanisme spiritual yang sangat luar
biasa: momentum-momentum ibadah yang berfungsi sebagai spiritual reset bagi
manusia.
Ramadhan, Jumat,
sepertiga malam, hari Arafah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan
contoh bagaimana syariat membangun ritme ruhani agar manusia tidak tenggelam
sepenuhnya dalam materialisme dunia.
Karena itu para ulama
sejak dahulu menyebut momentum seperti ini sebagai “mawashim at-tho’ah”,
yakni musim-musim ketaatan. Dan salah satu musim ibadah terbesar itu adalah
sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah; hari-hari ketika manusia diajak kembali
memperbaiki hubungan dengan Allah melalui dzikir, pengorbanan, ketundukan, dan
amal saleh.
Keagungan hari-hari
ini bahkan diabadikan langsung oleh Allah Ta‘ala dalam sumpah-Nya pada awal surat
Al-Fajr:
وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ
عَشْرٍ
“Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Dalam disiplin ilmu
tafsir, sumpah Allah terhadap sesuatu menunjukkan adanya kemuliaan dan
keagungan perkara tersebut. Imam al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan
bahwa Allah tidak bersumpah kecuali dengan sesuatu yang memiliki kedudukan
besar.
Mayoritas mufassir
dari generasi sahabat, tabi‘in, dan para imam tafsir menjelaskan bahwa yang
dimaksud dengan “Walayalin ’asyr” adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Imam ath-Thabari dalam Jamiʿ al-Bayan meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma bahwa beliau menafsirkan ayat tersebut sebagai sepuluh hari
Dzulhijjah. Begitu juga Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qurʾan al-’Adhim
menegaskan bahwa inilah pendapat yang benar.”
Keutamaan ini kemudian
dipertegas oleh hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma. Rasulullah SAW bersabda:
مَا
مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ
الْأَيَّامِ
“Tidak ada
hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”
Para sahabat bertanya:
وَلَا
الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟
“Tidak juga jihad
di jalan Allah?”
Beliau menjawab:
الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ
فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR Bukhari)
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Imam Ibn Hajar
al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa keutamaan sepuluh hari
pertama Dzulhijjah karena pada waktu itu berkumpul seluruh induk ibadah besar
dalam Islam, yakni shalat, puasa, sedekah, dan haji.
Menariknya, berbagai
penelitian psikologi kontemporer menunjukkan bahwa praktik spiritual dan ibadah
memiliki dampak nyata terhadap kesehatan jiwa manusia. Penelitian yang
diterbitkan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health tahun 2020
menunjukkan bahwa individu yang memiliki rutinitas spiritual dan keterlibatan
aktif dalam kegiatan keagamaan cenderung memiliki tingkat depresi lebih rendah,
daya tahan psikologis lebih baik, dan tingkat harapan hidup yang lebih tinggi.
Sementara penelitian
dalam Journal of Religion and Health tahun 2021 menjelaskan bahwa
aktivitas seperti doa, meditasi spiritual, dzikir, dan puasa berkorelasi
positif terhadap penurunan tingkat stres dan peningkatan psychological
well-being.
Dalam Islam, seluruh rangkaian ibadah di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sesungguhnya membentuk pendidikan ruhani yang sangat mendalam. Puasa melatih pengendalian diri, takbir membangun kesadaran tauhid, ibadah qurban mendidik keikhlasan dan pengorbanan, ibadah haji mengajarkan kesetaraan dan ketundukan, sedangkan dzikir menenangkan hati yang gelisah.
Baca juga: Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah
Demikian itu merupakan proses pembinaan jiwa. Dan Allah menegaskan, bahwa hati seorang hamba akan
mendapatkan ketenangan dengan mengingat-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ
اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Al-Ra‘d: 28)
Para sahabat dan ulama
memahami sepuluh hari pertama Dzulhijjah bukan sekadar rangkaian hari mulia
yang diperingati secara simbolik, tetapi sebagai momentum besar untuk
memperkuat hubungan dengan Allah dan menghidupkan syiar Islam di tengah
masyarakat.
Oleh karena itu, ketika Dzulhijjah tiba, yang tampak bukan hanya peningkatan ibadah personal, tetapi juga hadirnya atmosfer dzikir yang hidup di ruang sosial umat.
Baca juga: Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern
Dalam riwayat Imam
al-Bukhari disebutkan:
وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ
الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا
“Dahulu Ibn ‘Umar
dan Abu Hurairah keluar menuju pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah
sambil mengumandangkan takbir, lalu orang-orang ikut bertakbir mengikuti takbir
keduanya.”
Atsar (amalan sahabat) ini memberikan gambaran
sangat menarik tentang bagaimana generasi awal Islam membangun budaya spiritual
yang menyatu dengan kehidupan sosial. Pasar yang identik dengan aktivitas
ekonomi, transaksi, dan kesibukan dunia tidak membuat mereka lalai dari dzikir
kepada Allah. Justru di tengah keramaian itulah syiar tauhid dihidupkan.
Takbir pada masa itu
bukan hanya terdengar di masjid atau majelis ibadah, tetapi juga menggema di
rumah-rumah, jalan-jalan, dan pusat-pusat aktivitas masyarakat. Dzulhijjah
benar-benar hadir sebagai musim dzikir yang membentuk suasana ruhani umat.
Gambaran ini menunjukkan bahwa spiritualitas dalam Islam tidak dibangun dengan menjauh dari kehidupan sosial, tetapi dengan menghadirkan nilai-nilai ketuhanan di tengah dinamika kehidupan itu sendiri. Begitulah para ulama salaf memandang Dzulhijjah sebagai momentum tazkiyat an-nafs (pembersihan jiwa) dan percepatan amal saleh. Semangat itu tampak dalam kesungguhan ibadah mereka.
Baca juga: Urgensi Ukhuwah Islamiyah di Tengah Luka Sejarah dan Harapan Kebangkitan
Imam ad-Darimi meriwayatkan tentang tabi‘in besar, Sa‘id bin Jubair rahimahullah:
كَانَ
سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَتْ أَيَّامُ الْعَشْرِ اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا
حَتَّى مَا يَكَادُ يُقْدَرُ عَلَيْهِ
“Sa‘id bin Jubair
apabila telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah, beliau bersungguh-sungguh
dalam ibadah dengan kesungguhan yang sangat hingga hampir-hampir tidak mampu
lagi menambahnya.”
Sekali lagi, riwayat
seperti ini menunjukkan bahwa generasi awal Islam memandang Dzulhijjah sebagai
musim ibadah yang sangat besar. Dengan kata lain, mereka tidak membiarkan
hari-hari mulia berlalu tanpa peningkatan kualitas ibadah. Mereka tidak ingin
satu hari pun berlalu tanpa tambahan amal, dzikir, tilawah, puasa, dan qiyamullail.
Para ulama itu memahami bahwa ada momentum tertentu dalam kehidupan yang harus disambut dengan keseriusan ruhani, karena boleh jadi di sanalah Allah membuka pintu ampunan, keberkahan, dan perubahan besar dalam hidup seorang hamba.
Baca juga: Urgensi Akhlak Mulia dalam Kepemimpinan
Lalu apa hikmah besar
dari kemuliaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini? Berikut di antaranya:
Pertama, Dzulhijjah mengajarkan bahwa manusia
membutuhkan momentum untuk kembali kepada Allah. Sebab hidup tidak boleh sepenuhnya
dikuasai rutinitas dunia.
Kedua, Dzulhijjah mendidik manusia tentang makna
pengorbanan. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam mengajarkan bahwa cinta kepada
Allah harus berada di atas cinta pada apa pun.
Ketiga, Dzulhijjah mengajarkan kesetaraan manusia. Saat
haji, manusia datang dengan pakaian ihram yang sederhana; tidak ada perbedaan
status sosial, jabatan, atau kekayaan di hadapan Allah.
Keempat, Dzulhijjah mengingatkan bahwa kebahagiaan
sejati bukan sekadar materi, tetapi kedekatan dengan Allah dan kebermaknaan
hidup.
Karena itu, amaliah
yang dianjurkan pada hari-hari ini bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga amal
sosial dan pembinaan akhlak.
Dianjurkan memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, tahmid, dan tahlil. Begitu juga memperbanyak baca Alquran dan memperbanyak puasa sunnah, terutama puasa Arafah.
Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga
Selain itu, dianjurkan
pula memperbanyak sedekah dan membantu sesama. Lalu menjaga hubungan keluarga
dan silaturahim. Dan tak kalah penting, berniat menyiapkan qurban terbaik
sebagai syiar ketakwaan.
Allah Ta‘ala
berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَنْ
يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah, dan siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran
Jadi, sepuluh hari
pertama bulan Dzulhijjah benar-benar mengingatkan kita bahwa hidup bukan
sekadar kompetisi ekonomi dan pencapaian material. Ada kebutuhan jiwa yang
tidak pernah bisa dipenuhi oleh teknologi, popularitas, ataupun kekayaan.
Artinya, manusia membutuhkan makna dan ketenangan dalam hidup, dengan mendekatkan hubungan dengan Allah. Bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Dan bulan Dzulhijjah ini menjadi momentum besar yang paling tepat untuk melakukan hal itu.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.