Mengapa Allah Memanggil Manusia ke Baitullah?
Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Dalam tradisi tasawuf, haji tidak dipahami sekadar perjalanan fisik menuju Makkah, melainkan perjalanan ruhani menuju Allah. Ka’bah hanyalah titik lahiriah, sedangkan tujuan sejati haji adalah penyucian hati dan kehancuran ego manusia di hadapan Tuhan.
Karena itu, para sufi memandang bahwa tidak
semua orang yang datang ke Baitullah benar-benar “berhaji”. Banyak tubuh sampai
ke Ka’bah, tetapi hatinya tetap berputar mengelilingi dunia. Imam Al-Ghazali
menjelaskan bahwa hakikat ibadah bukan terletak pada gerakan fisik semata,
melainkan pada kehadiran hati dan perubahan batin. Haji sejati adalah ketika
manusia keluar dari dirinya sendiri untuk masuk ke hadirat Allah.
Dalam perspektif tasawuf, problem terbesar manusia bukan kemiskinan, bukan kelemahan fisik, bahkan bukan kebodohan. Problem terbesar manusia adalah ego atau nafsu yang membuat dirinya merasa besar, penting, dan mandiri dari Tuhan. Karena itu, seluruh rangkaian haji sesungguhnya adalah proses penghancuran ego secara perlahan.
Baca juga: Isyarat Alquran dan Penjelasan Neurosains Modern tentang Ubun-Ubun sebagai Pusat Kebohongan
Makna di Balik Rangkaian Manasik Haji
Ihram menjadi simbol pertama dari kematian
identitas duniawi manusia. Ketika seseorang menanggalkan pakaian kebesaran dan
hanya memakai dua lembar kain putih, sesungguhnya ia sedang dilatih memasuki
kesadaran kefanaan. Semua atribut sosial runtuh: jabatan, kekayaan,
popularitas, bahkan simbol intelektualitas. Di hadapan Allah, manusia kembali
telanjang sebagaimana saat ia dilahirkan dan sebagaimana kelak saat ia
dikuburkan.
Para sufi sering menyebut ihram sebagai
“kafan kehidupan”. Sebab sejak memakai ihram, manusia seakan sedang berkata:
“Ya Allah, aku datang meninggalkan dunia dan segala kesombonganku.”
Dalam tasawuf, perjalanan menuju Allah
selalu dimulai dari penghancuran “aku”. Selama manusia masih penuh dengan
dirinya sendiri, ia tidak akan mampu dipenuhi oleh cahaya ketuhanan. Karena itu, Abu Yazid al-Busthami pernah berkata: “Ketika aku lenyap dari diriku, barulah
aku mengenal Tuhanku.”
Makna ini tampak dalam thawaf. Secara lahiriah manusia mengelilingi Ka’bah, tetapi secara batin seorang hamba sedang belajar bahwa pusat hidup bukan dirinya, melainkan Allah.
Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga
Modernitas menjadikan manusia hidup dalam
orbit ego: seluruh hidup berputar pada ambisi pribadi, citra diri, dan
kepentingan duniawi. Haji datang untuk menghancurkan orbit tersebut.
Dalam pandangan sufi, thawaf adalah simbol bahwa seluruh kehidupan seharusnya bergerak mengelilingi cinta kepada Allah. Sebagaimana planet beredar pada pusat gravitasinya, demikian pula ruh manusia hanya akan tenang jika “beredar” di sekitar Tuhan.
Al-Qur’an menegaskan, “Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d: 28)
Manusia modern sebenarnya bukan hanya
mengalami krisis ekonomi atau sosial, tetapi juga krisis ruhani. Manusia memiliki
banyak hiburan, tetapi sedikit ketenangan. Memiliki banyak koneksi, tetapi
kehilangan makna hidup. Dalam bahasa tasawuf, hati manusia telah terlalu
dipenuhi dunia sehingga kehilangan kemampuan merasakan “kehadiran” Allah.
Puncak perjalanan haji terdapat pada wukuf di Arafah. Dalam tradisi sufi, Arafah dipahami sebagai momentum ma’rifah, yakni saat manusia mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Di padang terbuka ini jutaan manusia berdiri tanpa kemewahan dunia, membawa dosa, luka, harapan, dan ketakutannya masing-masing.
Baca juga: Doa dan Dzikir Terbaik Jamaah Haji saat di Arafah
Di Padang Arafah, manusia menyadari bahwa
seluruh kebanggaan dunia pada akhirnya tidak memiliki arti di hadapan kematian.
Jabatan tidak bisa memperpanjang umur. Kekayaan tidak mampu menolak ajal.
Popularitas tidak dapat menyelamatkan manusia dari kehampaan batin.
Karena itu, banyak jamaah menangis di Arafah
bukan semata karena dosa, tetapi karena untuk pertama kalinya mereka
benar-benar melihat betapa kecil dirinya di hadapan Allah. Tangisan seperti itu
menyiratkan kelembutan hati yang lahir setelah runtuhnya hijab kesombongan.
Demikian pula ritual melempar jumroh bukan
sekadar simbol mengusir setan eksternal, melainkan peperangan melawan setan
dalam diri manusia sendiri: keserakahan, riya’, iri hati, cinta dunia, dan hawa
nafsu.
Para sufi menjelaskan bahwa iblis paling berbahaya bukan yang berada di luar manusia, tetapi ego yang bercokol di dalam dirinya. Sebab itu, jihad terbesar dalam Islam adalah jihad melawan hawa nafsu (diri sendiri).
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Haji juga mengajarkan zuhud, bukan berarti
membenci dunia, tetapi dalam arti tidak diperbudak dunia. Seorang hamba boleh
memiliki harta, tetapi hatinya tidak boleh dimiliki harta. Ia boleh hidup di
dunia, tetapi ruhnya tetap tertuju kepada Allah.
Di titik inilah haji menjadi sangat relevan
bagi manusia modern. Dunia hari ini mendorong manusia untuk terus mengejar pencapaian
material tanpa henti. Akibatnya, jiwa menjadi lelah. Manusia sibuk mempercantik
citra luar, tetapi mengabaikan kerusakan batinnya sendiri.
Tasawuf melihat bahwa akar dari kegelisahan modern adalah keterputusan manusia dari dimensi ilahiah. Hati manusia diciptakan untuk mengenal Allah. Ketika hati terlalu dipenuhi dunia, ia kehilangan ketenteraman.
Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran
Karena itu, haji sejatinya adalah
perjalanan pulang. Pulang dari kesombongan menuju ketundukan. Pulang dari
kebisingan dunia menuju keheningan ruhani. Pulang dari ego menuju Allah.
Dan mungkin di situlah rahasia terdalam haji bahwa manusia baru benar-benar menemukan dirinya ketika ia kehilangan dirinya di hadapan Tuhan. Wallahu a’lam.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.