Doa dan Dzikir Terbaik Jamaah Haji saat di Arafah
Abd. Hakim Abidin
Penulis
Admin
Editor
Jakarta, MUI Digital — Hari Arafah merupakan puncak ibadah haji. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
“Haji itu adalah
Arafah.” (HR Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan
bahwa waktu wukuf di Padang Arafah adalah saat paling agung dalam seluruh
rangkaian manasik haji. Karena secara tidak langsung momentum di Arafah ini
menjadi bagian inti dari haji itu sendiri.
Biasanya pada hari Arafah
para jamaah haji berkumpul dalam keadaan tunduk, penuh harap, memperbanyak doa,
dzikir, istighfar, dan tangisan taubat di hadapan Allah SWT.
Namun, di antara dzikir dan doa paling utama yang sangat dianjurkan dibaca ketika berada di Arafah adalah dzikir tauhid yang diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW.
Baca juga: Bacaan Dzikir dan Doa saat Berada di Bukit Shafa dan Marwa
Dalam kitab Al-Mushannaf,
Ibnu Abi Syaibah mencatat riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu
wajhah, disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:
أَكْثَرُ دُعَائِي وَدُعَاءِ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي بِعَرَفَةَ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ،
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Doa yang paling
banyak aku panjatkan dan begitu juga para nabi sebelumku di Hari Arafah adalah:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ
وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
(Tiada Tuhan yang berhak disembah selain
Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya
segala puji. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).”
Kelanjutan hadis ini disebutkan
oleh Ibnu Abi Syaibah ada doa lainnya yang berbunyi sebagaimana berikut:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَفِي بَصَرِي
نُورًا، اللَّهُمَّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَأَعُوذُ بِكَ
مِنْ وَسْوَاسِ الصَّدْرِ وَشَتَاتِ الْأَمْرِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ، اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي اللَّيْلِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ
فِي النَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ مَا تَهُبُّ بِهِ الرِّيَاحُ، وَمِنْ شَرِّ
بَوَائِقِ الدَّهْرِ
“Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya pada pendengaranku, dan cahaya pada penglihatanku. Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan aku berlindung kepada-Mu dari bisikan hati yang buruk, dari kekacauan urusan, dan dari fitnah kubur. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang masuk pada malam hari, dari keburukan yang masuk pada siang hari, dari keburukan yang dibawa oleh hembusan angin, dan dari segala bencana serta malapetaka zaman.” (Al-Mushannaf [Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam], juz 6, h. 84)
Baca juga: Doa saat Sa’i di Antara Shafa dan Marwa
Dalam periwayatan yang
berbeda namun substansinya sama, hadis tentang dzikir sebagaimana disebutkan di
atas, dicatat juga oleh ath-Thabrani dalam Ad-Du‘a’, at-Tirmidzi dalam As-Sunan,
dan Imam Malik dalam Al-Muwaththa’.
Adapun yang paling
kuat riwayatnya adalah dzikir tauhid tersebut tanpa disertai doa. Menurut
sebagian ulama, dzikir tauhid itu sendiri sudah mengandung doa.
Karena itu, dzikir yang dianjurkan untuk dibaca di Arafah, dianjurkan pula sebaiknya juga dibaca oleh siapa pun pada Hari Arafah di mana pun berada.
Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami‘ at-Tirmidi, Al-Mubarakfuri menyebutkan bahwa hadis terkait dzikir di Hari Arafah tersebut memiliki sanad yang hasan atau baik, bahkan juga ditegaskan dalam riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang para perawinya tsiqah.
Baca juga: 4 Waktu Penting Mustajabnya Doa, Jangan Diabaikan
Penjelasan ini semakin
menegaskan bahwa dzikir tauhid tersebut memang sangat dianjurkan dibaca di Hari
Arafah, khususnya oleh jamaah haji ketika sedang wukuf di Arafah.
Kiranya pada Hari
Arafah, baik bagi kita semua untuk membaca dzikir dan doa di atas dengan hati
yang hadir, penuh keyakinan, penuh harap, dan penuh ketundukan kepada Allah SWT.