Qiyamul Lail sebagai Mode Jalan Keluar dari Keresahan Hidup
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah merasa sangat lelah dengan tumpukan masalah hidup yang datang bertubi-tubi?
Mulai dari
tekanan ekonomi, tuntutan kerja, hingga konflik yang tidak ada habisnya. Di
titik itu, rasanya kapasitas diri sudah tidak mampu lagi menampung semuanya.
Respons paling
manusiawi yang sering dilakukan biasanya adalah menarik diri dari dunia luar:
masuk kamar, mengunci pintu, lalu tidur berselimut. Istilah kerennya anak muda
sekarang, “healing” lewat tidur atau bed-rotting.
Menariknya, fase “menarik diri” dan “berselimut” ini juga pernah dialami oleh manusia paling mulia, Rasulullah SAW.
Baca juga: Al-Muzzammil: Misteri di Balik Sapaan “Orang Berselimut” pada Nabi
Di awal-awal masa
kenabian, ketika pundak beliau mulai memikul beban dakwah yang sangat berat,
jumlah pengikut masih bisa dihitung jari. Secara finansial dan panggung politik
pun, posisi beliau belum diperhitungkan di mata kaum Quraisy.
Ada momen di mana
tekanan batin itu begitu hebat, hingga Rasulullah SAW memilih untuk
menelungkupkan diri dan bersembunyi di balik selimutnya.
Tentu saja,
sekadar menarik diri dan berlama-lama di bawah selimut tidak akan pernah
menyelesaikan masalah. Sadar akan kondisi psikologis hamba-Nya, Allah SWT tidak
menegur beliau dengan keras, melainkan menyapa dengan nada yang sangat mesra: “Wahai
orang yang berselimut (Ya Ayyuhal Muzzammil)...”
Lalu dilanjutkan
di surat Al-Muzzammil ayat 2 dan 3, Allah langsung memberikan sebuah “resep”
yang luar biasa sebagai jalan keluar: “Bangunlah (untuk shalat) pada malam
hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit dari
separuh itu.”
Allah
memerintahkan Rasulullah untuk bangun di sepertiga malam dan mendirikan shalat
lail (Tahajud). Lalu mengapa malam hari? Tidak lain karena ketika dunia sedang
terlelap, di situlah waktu terbaik untuk men-cas ulang energi jiwa yang kering.
Shalat malam adalah modal spiritual paling dahsyat untuk menguatkan mental sebelum kembali bertarung menghadapi kerasnya realitas kehidupan di siang hari.
Baca juga: Surat Al-‘Alaq dan Konsep Syahadat
Mengapa Shalat
Malam Pernah Menjadi Kewajiban?
Banyak yang
mengira bahwa shalat lima waktu adalah perintah ibadah yang pertama kali turun
dalam Islam. Padahal, sejarah mencatat hal yang berbeda bahwa di awal fajar
kerasulan, sebelum perintah shalat lima waktu itu ada, Allah SWT memberikan
satu instruksi yang bersifat wajib dan mengikat bagi Rasulullah SAW dan para
sahabat, yaitu qiyamul lail (shalat malam).
Di hadapan tugas
kenabian yang sangat berat serta misi menyebarkan risalah yang begitu masif,
Rasulullah SAW dihadapkan pada realitas keterbatasan manusiawinya.
Beban itu kian terasa menghimpit ketika beliau harus menghadapi gelombang penolakan, perlawanan, hingga pertentangan keras dari pemuka kafir Quraisy.
Baca juga: Shalat Tahajud Lengkap: Tata Cara Hingga Doa
Dalam psikologi konflik modern, respons natural manusia saat diserang adalah bertahan atau balas menyerang. Namun, “kurikulum” Allah bekerja dengan cara yang sangat unik. Allah tidak serta-merta menyuruh Rasulullah untuk membalas perlakuan mereka, tidak juga menyuruhnya menyusun strategi perang atau melakukan pembelaan politik.
Sebaliknya, Allah
justru memerintahkan Rasulullah untuk masuk ke dalam “ruang sunyi” di sepertiga
malam melalui qiyamul lail. Allah hendak mengokohkan fondasi jiwa
kekasih-Nya terlebih dahulu sebelum beliau merombak tatanan dunia di siang
hari.
Shalat malam
diposisikan sebagai cermin spiritual bagi seorang hamba untuk merenungi hakikat
dirinya yang bermula dari “al-‘alaq”, segumpal darah yang
lemah, terbatas, dan tidak memiliki daya apa-apa.
Lewat untaian berdiri,
rukuk, sujud, dan duduk di keheningan malam, segala bentuk ego, kecemasan, dan
kesombongan manusiawi dikikis habis.
Di atas sajadah,
seorang hamba mengosongkan dan menfanakan dirinya, menyadari bahwa ia bukan
siapa-siapa di hadapan Sang Pencipta. Lalu pada titik kepasrahan total inilah,
pertolongan, petunjuk, dan taufik Allah justru akan turun.
Menariknya, ketika Allah sudah “turun tangan” memberikan petunjuk, solusi yang hadir sering kali datang dari arah yang sama sekali tidak terduga. Jalan keluar itu kerap berada di luar nalar manusia dan melompati segala kalkulasi logika.
Baca juga: 5 Keutamaan Shalat Tahajud yang Disarikan dari Alquran dan Hadits
Shalat Malam:
Kebutuhan Utama Para Penggerak Perubahan
Pada akhirnya,
harus disadari satu hal: qiyamul lail bukanlah beban ibadah, melainkan
sebuah kebutuhan mutlak. Ibadah ini adalah kebutuhan utama bagi Rasulullah SAW,
juga bagi siapa pun hari ini yang memosisikan diri sebagai pelanjut atau
pewaris estafet risalah Islam.
Ketika terjun ke
masyarakat untuk membawa perubahan, pasti akan berbenturan dengan kompleksnya
problematika umat dan beratnya tantangan dakwah.
Di titik itulah akan
sadar, semua hambatan itu mustahil bisa diurai hanya dengan mengandalkan
kalkulasi logika manusia atau kekuatan fisik semata. Ada wilayah-wilayah sulit
dalam hidup yang hanya bisa ditembus oleh intervensi Allah.
Secara fitrah
sosiologis dan logika psikologi, realitas ini membuktikan bahwa ketahanan
mental dan spiritual adalah modal paling utama (induk modal) dalam menghadapi
setiap tekanan eksternal.
Siapa pun hari ini, apakah seorang aktivis, pendidik, pemimpin institusi, atau pembawa misi perubahan yang sedang berjuang di jalan dakwah, tidak akan pernah bisa bertahan tanpa adanya ketenangan batin (inner peace) dan kejernihan pikiran (mental clarity). Di sinilah qiyamul lail hadir menawarkan diri sebagai sebuah sistem pendukung (support system) dan jalan keluar yang paling tangguh.
Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa
Malam hari adalah
waktu untuk melepaskan seluruh kelelahan ego, setelah seharian bertarung di
dunia nyata. Melalui shalat malam, jiwa di-cas ulang dengan energi
transendental langsung dari pusat ketenangan universal.
Jadi, jika hari
ini, merasa beban dakwah dan perjuangan hidup terasa semakin menghimpit, itu
adalah sinyal bahwa jiwa sedang merindukan keheningan sepertiga malam.
Jangan paksakan
logika yang terbatas untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Ambil wudhu,
bentangkan sajadah, dan penuhilah kebutuhan spiritual di hadapan Allah. Karena
dari sujud-sujud panjang di malam hari itulah, kekuatan besar untuk merubah
dunia di siang hari dilahirkan.
Nalar di Balik
Wajibnya Shalat Malam di Awal Islam
Seorang pakar
tafsir terkemuka, Imam Al-Qurthubi, menjelaskan mengapa ayat di awal surat Al-Muzzammil
itu bermakna wajib. Logikanya sangat kuat: redaksi ayat tersebut berbentuk
perintah langsung yang tegas.
Lebih dari itu,
sebuah ibadah sunnah (anjuran) tidak mungkin membatasi durasi waktu secara
detail dan ketat, seperti perintah untuk bangun separuh malam atau sepertiga
malam. Pembatasan waktu sedetail itu secara hukum fiqih menandakan bahwa ibadah
tersebut berstatus sangat penting dan wajib.
Fakta sejarah ini dipertegas oleh sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Ketika seorang sahabat bernama Sa’d bin Hisham bertanya tentang bagaimana shalat malamnya Rasulullah SAW, Aisyah menjawab retoris: “Tidakkah kamu membaca: ‘Yā ayyuhal-muzzammil’?” Sa’d menjawab, “Tentu.”
Baca juga: Retorika Alquran Menolak Tuduhan Gila
Aisyah kemudian
menjelaskan dengan indah: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan
Qiyamul Lail di awal surat ini, maka Nabi SAW dan para sahabat melakukannya
selama satu tahun penuh. Allah menahan (tidak menurunkan) penutup surat ini
selama dua belas bulan di langit, sampai akhirnya Allah menurunkan ayat yang
mengandung keringanan (takhfīf) di akhir surat tersebut (ayat 20). Maka setelah
itu, Qiyamul Lail berubah menjadi ibadah sunnah setelah sebelumnya wajib.”
Dapat dibayangkan
bagaimana beratnya perjuangan generasi pertama Islam. Selama setahun penuh, di
tengah dinginnya malam kota Makkah dan intimidasi yang mengintai, mereka
berdiri tegak di atas sajadah selama berjam-jam demi menunaikan perintah wajib
ini.
Baru setelah satu
tahun berlalu, Allah menurunkan ayat ke-20 sebagai bentuk kasih sayang dan
keringanan (at-takhfīf), sehingga status shalat malam berubah menjadi
sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan).
Meski status
hukumnya telah berubah menjadi sunnah, “ruh” dari qiyamul lail tidak
pernah pudar. Ia tetap menjadi inti spiritualitas Islam. Seperti yang
diabadikan dalam Alquran, yang artinya: “Sesungguhnya bangun di waktu malam
adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.”
(QS. Al-Muzzammil: 6)
Bagi Rasulullah SAW sendiri, shalat malam telah bergeser dari sebuah “kewajiban formal” menjadi sebuah kebutuhan dan kenikmatan spiritual. Beliau konsisten melakukannya hingga akhir hayat. Bahkan, ada satu momen yang membuat hati kita bergetar: ketika beliau shalat malam begitu lama hingga kakinya bengkak.
Baca juga: Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah
Saat ditanya
mengapa beliau masih beribadah sekeras itu padahal dosa-dosanya telah diampuni,
Rasulullah SAW memberikan jawaban yang menjadi tamparan halus bagi kita: “Afalā
akūnu ‘abdan syakūra? (Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?)”
Pertanyaan
retoris Nabi ini sesungguhnya adalah sebuah kunci jawaban bagi kehidupan kita.
Rasulullah ingin mengajarkan bahwa siapa pun yang ingin mentalnya kuat dalam
menjalani kerasnya hidup, dan siapa pun yang ingin menjadi hamba yang tahu diri
untuk bersyukur, ia akan menemukan jawabannya di sepertiga malam terakhir.
Qiyamul lail memang berstatus sunnah dalam kitab-kitab fiqih. Namun, ia bukan sunnah biasa. Ia adalah sebuah instrumen mutakhir yang disediakan Allah untuk menyehatkan jiwa yang lelah, mengobati pikiran yang stres, menguatkan semangat yang patah, dan memperbaiki kualitas hubungan kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.