Rahasia Hidup Sehat dan Bahagia di Balik Langkah Kaki ke Masjid
Oleh: Khoirul Anam, S.Sos.I
Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah kita menghitung berapa jam waktu yang kita habiskan untuk duduk atau rebahan dalam sehari?
Di era serba digital
ini, kita dimanjakan oleh segala
macam kemudahan. Mau makan, tinggal klik aplikasi platform digital berbasis ekosistem multi-layanan. Begitu juga, kalau mau bayar apa pun, kita bisa memilih pakai aplikasi pembayaran digital.
Ketika akan belanja
tidak perlu keluar rumah, bahkan bepergian jarak dekat pun kita lebih memilih
naik motor daripada jalan kaki. Mengenai hal ini, dalam istilah medis, fenomena
kurang gerak tersebut disebut sebagai gaya hidup sedenter (sedentary
lifestyle).
Dampaknya tidak
main-main. Tubuh yang jarang bergerak menjadi sarang penyakit, mulai dari
obesitas, diabetes, hingga serangan jantung.
Di sisi lain,
masyarakat urban saat ini makin individualis. Kita sering tidak kenal siapa
tetangga di sebelah rumah kita sendiri. Stres dan kecemasan pun menjadi “menu” harian
manusia modern.
Lantas, adakah solusi murah, praktis, sekaligus bernilai pahala untuk mengatasi krisis fisik dan sosial ini? Sebagai umat Islam, jawabannya sebenarnya ada di depan mata kita, bahkan dikumandangkan lima kali sehari: panggilan adzan menuju masjid!
Baca juga: Keteladanan Karakter Nabi Ibrahim sebagai Kompas Hidup di Tengah Arus Modernisasi
Tentang Janji
di Akhirat dan Manfaat di Dunia
Pada dasarnya keutamaan
melangkah ke rumah Allah ini terekam indah dalam sebuah hadis agung yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam kitab Musnad sebagai
berikut:
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ
أَعَدَّ اللَّهُ عز وجل لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
“Diriwayatkan dari
Abu Hurairah, disebutkan dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: ‘Barang siapa yang pergi ke
masjid pada awal pagi atau sore hari, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menyediakan
baginya hidangan (persinggahan) di surga setiap kali ia pergi pada awal pagi
atau sore hari.’”
Hadis yang juga
disepakati kesahihannya oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim ini menyimpan
makna teologis yang sangat mendalam.
Ulama besar Imam an-Nawawi
dalam kitab syarahnya, Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim, menjelaskan
bahwa kata “nuzul” dalam hadis tersebut berarti jamuan istimewa atau
hidangan pembuka yang disajikan khusus untuk menyambut tamu kehormatan.
Senada dengan hal itu,
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari juga menegaskan kemuliaan
bagi orang yang melangkahkan
kaki ke masjid.
Bayangkan, setiap kali kita melangkah ke masjid, Allah SWT langsung yang bertindak sebagai “Tuan Rumah” yang menyiapkan karpet merah dan jamuan mewah untuk kita di surga kelak. Hebatnya lagi, pahala ini tidak dihitung secara borongan, melainkan per kedatangan. Jika kita rutin ke masjid lima kali sehari, berarti kita sedang memesan lima kali jamuan VIP di surga setiap harinya.
Baca juga: Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern
Jika dari sisi akhirat
kita dimanjakan dengan pahala, dari sisi dunia kita dihadiahi kesehatan medis.
Berjalan kaki ke masjid secara rutin bertindak sebagai olahraga intensitas
ringan-sedang yang paling konsisten menurut panduan kesehatan dari Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO).
Secara medis, berjalan
kaki secara berulang dari pagi buta hingga malam hari jauh lebih sehat bagi
pembuluh darah daripada olahraga berat yang hanya dilakukan sekali seminggu.
Saat kita berjalan ke
masjid, jantung memompa darah lebih lancar, pembuluh darah melebar, dan risiko
terkena stroke atau serangan jantung akan menurun drastis.
Bagi yang memiliki
masalah gula darah, berjalan kaki setelah makan (seperti saat pergi shalat
Zuhur, Ashar, atau Isya’) adalah obat alami paling ampuh untuk menjaga
kestabilan insulin.
Tidak hanya fisik,
kesehatan mental kita pun terjaga. Berjalan kaki di waktu Subuh yang kaya
oksigen bersih terbukti mampu menekan hormon kortisol (si pemicu stres) dan
memicu hormon endorfin (si hormon bahagia).
Selain itu, sinkronisasi
tubuh dengan alam di waktu fajar juga membuat tidur malam kita menjadi lebih
nyenyak dan berkualitas.
Masjid sebagai Perekat
Interaksi Sosial
Manfaatnya ternyata
tidak berhenti di dalam tubuh kita saja, melainkan meluas ke lingkungan
sekitar. Konsep kebersamaan ini sejalan dengan teori sosiologi Emile Durkheim
mengenai solidaritas dan kesadaran kolektif manusia.
Ketika satu lingkungan
kompak berjalan kaki ke masjid, sekat-sekat sosial langsung runtuh. Di atas
sajadah, seorang direktur perusahaan, pejabat, petani, dan buruh cuci bisa berdiri sejajar di barisan shaf yang sama. Ego dilepaskan,
diganti dengan jabat tangan dan senyuman hangat pascashalat.
Interaksi yang intens seperti ini akan menjadi “katup pengaman” jika ada
gesekan antartetangga. Masalah lingkungan biasanya bisa selesai
melalui obrolan yang santai di teras masjid
sebelum sempat menjadi konflik besar.
Masjid juga berfungsi
sebagai “radar sosial”. Jika ada jamaah yang biasanya aktif kok tiba-tiba tidak kelihatan di masjid, tetangga akan
langsung menyadarinya dan
bertanya-tanya: di mana, ke mana atau mengapa. Rasa kepedulian seperti inilah yang menyelamatkan masyarakat dari kecenderungan
individualisme.
Bahkan dari sisi keamanan, lingkungan yang warganya rajin berjalan kaki ke masjid—terutama di waktu rawan seperti pada waktu Subuh dan malam hari (Isya’)—secara tidak langsung menciptakan sistem pengawasan keamanan lingkungan yang alami.
Baca juga: Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?
Hal ini sejalan dengan teori kriminologi Jane Jacobs mengenai konsep “Eyes on the Street”, di mana pergerakan aktif para pejalan kaki di jalanan, akan secara otomatis mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan dan meningkatkan rasa aman bagi seluruh warga sebuah lingkungan.
Dari sini, kita
menjadi tahu, ternyata sepotong hadis dari lisan insan mulia Rasulullah SAW belasan abad
lalu bukan sekadar sebuah teks bacaan di kitab hadis. Hadis tersebut sesungguhnya adalah resep kehidupan yang komplet: panduan investasi akhirat, suplemen
kesehatan fisik, sekaligus perekat keharmonisan sosial.
Jadi, ketika suara adzan kembali berkumandang, selayaknya kita matikan layar ponsel kita, segera pakai alas kaki yang terbaik, dan mulailah melangkah. Tubuh kita akan bugar, lingkungan kita akan aman, dan yang paling indah: jamuan mewah di surga sedang menanti kedatangan kita.