Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Rahasia Hidup Sehat dan Bahagia di Balik Langkah Kaki ke Masjid

5 menit baca 252 dibaca
Khoirul Anam, S.Sos.I

Oleh: Khoirul Anam, S.Sos.I

Dosen STIQ Ash-Shiddiq/Pengisi Kajian Alquran dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Quran Learning Centre

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Rahasia Hidup Sehat dan Bahagia di Balik Langkah Kaki ke Masjid
Seorang ayah dan anak berjalan hendak memasuki pintu masjid. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Pernahkah kita menghitung berapa jam waktu yang kita habiskan untuk duduk atau rebahan dalam sehari?

Di era serba digital ini, kita dimanjakan oleh segala macam kemudahan. Mau makan, tinggal klik aplikasi platform digital berbasis ekosistem multi-layanan. Begitu juga, kalau mau bayar apa pun, kita bisa memilih pakai aplikasi pembayaran digital.

Ketika akan belanja tidak perlu keluar rumah, bahkan bepergian jarak dekat pun kita lebih memilih naik motor daripada jalan kaki. Mengenai hal ini, dalam istilah medis, fenomena kurang gerak tersebut disebut sebagai gaya hidup sedenter (sedentary lifestyle).

Dampaknya tidak main-main. Tubuh yang jarang bergerak menjadi sarang penyakit, mulai dari obesitas, diabetes, hingga serangan jantung.

Di sisi lain, masyarakat urban saat ini makin individualis. Kita sering tidak kenal siapa tetangga di sebelah rumah kita sendiri. Stres dan kecemasan pun menjadi “menu” harian manusia modern.

Lantas, adakah solusi murah, praktis, sekaligus bernilai pahala untuk mengatasi krisis fisik dan sosial ini? Sebagai umat Islam, jawabannya sebenarnya ada di depan mata kita, bahkan dikumandangkan lima kali sehari: panggilan adzan menuju masjid!

Baca juga: Keteladanan Karakter Nabi Ibrahim sebagai Kompas Hidup di Tengah Arus Modernisasi

Tentang Janji di Akhirat dan Manfaat di Dunia  

Pada dasarnya keutamaan melangkah ke rumah Allah ini terekam indah dalam sebuah hadis agung yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam kitab Musnad sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، قَالَ: مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ عز وجل لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, disebutkan dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: Barang siapa yang pergi ke masjid pada awal pagi atau sore hari, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menyediakan baginya hidangan (persinggahan) di surga setiap kali ia pergi pada awal pagi atau sore hari.’”

Hadis yang juga disepakati kesahihannya oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim ini menyimpan makna teologis yang sangat mendalam.

Ulama besar Imam an-Nawawi dalam kitab syarahnya, Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim, menjelaskan bahwa kata “nuzul” dalam hadis tersebut berarti jamuan istimewa atau hidangan pembuka yang disajikan khusus untuk menyambut tamu kehormatan.

Senada dengan hal itu, Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari juga menegaskan kemuliaan bagi orang yang melangkahkan kaki  ke masjid.

Bayangkan, setiap kali kita melangkah ke masjid, Allah SWT langsung yang bertindak sebagai Tuan Rumah” yang menyiapkan karpet merah dan jamuan mewah untuk kita di surga kelak. Hebatnya lagi, pahala ini tidak dihitung secara borongan, melainkan per kedatangan. Jika kita rutin ke masjid lima kali sehari, berarti kita sedang memesan lima kali jamuan VIP di surga setiap harinya.

Baca juga: Menyelami Makna Hakiki Hijrah dalam Kehidupan Modern

Jika dari sisi akhirat kita dimanjakan dengan pahala, dari sisi dunia kita dihadiahi kesehatan medis. Berjalan kaki ke masjid secara rutin bertindak sebagai olahraga intensitas ringan-sedang yang paling konsisten menurut panduan kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Secara medis, berjalan kaki secara berulang dari pagi buta hingga malam hari jauh lebih sehat bagi pembuluh darah daripada olahraga berat yang hanya dilakukan sekali seminggu.

Saat kita berjalan ke masjid, jantung memompa darah lebih lancar, pembuluh darah melebar, dan risiko terkena stroke atau serangan jantung akan menurun drastis.

Bagi yang memiliki masalah gula darah, berjalan kaki setelah makan (seperti saat pergi shalat Zuhur, Ashar, atau Isya) adalah obat alami paling ampuh untuk menjaga kestabilan insulin.

Tidak hanya fisik, kesehatan mental kita pun terjaga. Berjalan kaki di waktu Subuh yang kaya oksigen bersih terbukti mampu menekan hormon kortisol (si pemicu stres) dan memicu hormon endorfin (si hormon bahagia).

Selain itu, sinkronisasi tubuh dengan alam di waktu fajar juga membuat tidur malam kita menjadi lebih nyenyak dan berkualitas.

Masjid sebagai Perekat Interaksi Sosial

Manfaatnya ternyata tidak berhenti di dalam tubuh kita saja, melainkan meluas ke lingkungan sekitar. Konsep kebersamaan ini sejalan dengan teori sosiologi Emile Durkheim mengenai solidaritas dan kesadaran kolektif manusia.

Ketika satu lingkungan kompak berjalan kaki ke masjid, sekat-sekat sosial langsung runtuh. Di atas sajadah, seorang direktur perusahaan, pejabat, petani, dan buruh cuci bisa berdiri sejajar di barisan shaf yang sama. Ego dilepaskan, diganti dengan jabat tangan dan senyuman hangat pascashalat.

Interaksi yang intens seperti ini akan menjadi katup pengaman” jika ada gesekan antartetangga. Masalah lingkungan biasanya bisa selesai melalui obrolan yang santai di teras masjid sebelum sempat menjadi konflik besar.

Masjid juga berfungsi sebagai “radar sosial”. Jika ada jamaah yang biasanya aktif kok tiba-tiba tidak kelihatan di masjid, tetangga akan langsung menyadarinya dan bertanya-tanya: di mana, ke mana atau mengapa. Rasa kepedulian seperti inilah yang menyelamatkan masyarakat dari kecenderungan individualisme.

Bahkan dari sisi keamanan, lingkungan yang warganya rajin berjalan kaki ke masjid—terutama di waktu rawan seperti pada waktu Subuh dan malam hari (Isya)—secara tidak langsung menciptakan sistem pengawasan keamanan lingkungan yang alami.

Baca juga: Shalat Kita: Sebuah Rutinitas “Menggugurkan Kewajiban” atau “Dialog yang Dirindukan”?

Hal ini sejalan dengan teori kriminologi Jane Jacobs mengenai konsep Eyes on the Street, di mana pergerakan aktif para pejalan kaki di jalanan, akan  secara otomatis mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan dan meningkatkan rasa aman bagi seluruh warga sebuah lingkungan.

Dari sini, kita menjadi tahu, ternyata sepotong hadis dari lisan insan mulia Rasulullah SAW belasan abad lalu bukan sekadar sebuah teks bacaan di kitab hadis. Hadis tersebut sesungguhnya adalah resep kehidupan yang komplet: panduan investasi akhirat, suplemen kesehatan fisik, sekaligus perekat keharmonisan sosial.

Jadi, ketika suara adzan kembali berkumandang, selayaknya kita matikan layar ponsel kita, segera pakai alas kaki yang terbaik, dan mulailah melangkah. Tubuh kita akan bugar, lingkungan kita akan aman, dan yang paling indah: jamuan mewah di surga sedang menanti kedatangan kita.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.