Menanam di Ujung Zaman
Oleh: Yoga Rifai Hamzah
Pegiat literasi dan lingkungan, Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Pekalongan, dan Humas Komunitas Pohon Indonesia
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Sebuah hadis yang sangat masyhur sering kali menghiasi lembar-lembar brosur lingkungan. Namun ironisnya, ia jarang berhasil mengubah cara para dai berkhutbah di atas mimbar. Bunyinya teramat optimistis, melintasi batas logika keduniawian: “Jika hari kiamat telah tiba dan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”
Kenyataannya, ruang-ruang dakwah harian
kita bekerja dengan cara lain. Saban kali tema akhir zaman diangkat, narasi
yang laku di pasaran hampir selalu berupa kecemasan. Umat disuguhi deretan
tanda kehancuran fisik, api yang berkobar, dan kepasrahan total yang
melumpuhkan nalar kritis.
Eskatologi, yang semestinya menjadi
penyulut etos kerja di sisa waktu, kerap menyusut maknanya menjadi sekadar
alasan teologis untuk angkat tangan. Umat menjadi acuh pada kerusakan
lingkungan di sekelilingnya, memaklumi sungai yang menghitam atau hutan yang
gundul dengan sebaris kalimat pasrah: “Toh, dunia memang sudah tua dan
mau kiamat.” Cara pandang yang lumpuh dan fatalistik inilah yang perlu
didudukkan kembali secara proporsional.
Hadis tentang bibit kurma di ujung zaman
itu sejatinya tidak sedang berbicara tentang pohon, melainkan cetak biru
mentalitas seorang mukmin. Pesannya teramat benderang: harapan tidak boleh
kalah oleh rasa takut. Selama denyut nadi masih dikandung badan dan ruang hidup
masih tersisa, sekecil apa pun kesempatan berbuat baik, manusia dilarang untuk
berhenti.
Agama tidak mengutus kita ke dunia untuk
menjadi penonton pasif yang menghitung hari menuju kehancuran, melainkan
mengisi setiap jengkal waktu yang tersisa dengan amal yang membawa kemaslahatan
bagi seluruh makhluk.
Sangat manusiawi jika hari ini banyak di
antara kita yang dihinggapi rasa lelah yang teramat dalam—sebuah keputusasaan
ekologis yang akut (climate despair).
Bagaimana mungkin tidak patah arang ketika menyaksikan bentang alam dirusak secara masif dan terstruktur oleh syahwat ekonomi? Sungai-sungai dicemari limbah industri, kawasan hulu digunduli demi komoditas, dan pesisir utara tanah Jawa perlahan tenggelam dikepung rob menahun.
Baca juga: Kepedulian Ekologis dalam Perspektif Hadis Nabi
Di hadapan skala kerusakan yang begitu
raksasa, muncul pertanyaan yang wajar: Apakah masih ada gunanya satu atau dua
batang pohon yang kita tanam hari ini? Pada situasi semacam ini, keimanan harus
hadir sebagai jangkar harapan.
Dalam perspektif etika keagamaan, manusia
tidak pernah dibebani tugas mahaberat untuk menyelamatkan seluruh isi dunia
sendirian. Kita bukan pahlawan tunggal. Tanggung jawab yang diminta dari kita
adalah melakukan bagian kecil yang berada di dalam jangkauan kendali diri.
Kita mungkin tidak memiliki kuasa birokrasi
untuk memulihkan ribuan hektare hutan yang telanjur gundul di hulu, atau
menghentikan seluruh gurita pencemaran industri di hilir. Namun, kita selalu
memiliki pilihan dan kemampuan untuk merawat selembar mata air di dekat tempat
tinggal, menanam beberapa bibit di pekarangan, meminimalkan sumbangan sampah
harian keluarga, atau mengetuk kesadaran takmir rumah ibadah agar mulai
berhemat air.
Lawan sejati dari krisis lingkungan hari
ini bukan sekadar lambatnya inovasi teknologi atau lemahnya penegakan hukum,
melainkan hilangnya harapan di dalam dada manusia. Dan tugas terbesar otoritas
keagamaan saat ini adalah memastikan harapan itu tidak padam tergerus
kepasrahan yang keliru.
Logika ibadah memiliki timbangannya sendiri
yang amat berbeda dengan logika pasar keduniawian. Dalam kalkulasi ekonomi
harian, menanam pohon beberapa menit sebelum dunia hancur adalah kesia-siaan
yang bodoh. Pohon itu tidak akan pernah sempat tumbuh besar, tidak akan sempat
menghasilkan buah untuk dipanen, dan bayang-rindangnya tak akan sempat
dinikmati oleh siapa pun.
Namun, agama melangkah jauh melampaui
pragmatisme hasil akhir. Nilai kemuliaan sebuah amal tidak pernah diukur dari
seberapa besar hasil fisik yang tampak di mata manusia, melainkan dari
kemurnian niat, kesungguhan ikhtiar, dan ketaatan yang utuh saat proses itu
dikerjakan.
Seorang umat beriman tidak menanam sebatang pohon karena ia yakin akan memanen buahnya besok pagi. Ia menanam semata-mata karena tahu bahwa menjaga denyut kehidupan adalah bagian paling hakiki dari bentuk pengabdiannya kepada Sang Pencipta semesta.
Baca juga: Green Waqf: Menghidupkan Warisan Tradisi Ekologis Rasulullah SAW
Kita mungkin tidak akan pernah menyaksikan
seluruh hasil dari ikhtiar merawat bumi yang dirintis hari ini, tetapi hal itu
tidak mengurangi barang sebutir zarah pun nilai ibadah dari setiap cucuran
keringat yang diteteskan ke atas tanah.
Kementerian Agama dan ormas-ormas Islam
memegang peran yang sangat strategis untuk merombak cara pandang dakwah publik
secara nasional. Ada ruang kultural yang luas untuk memperkaya perspektif
ratusan ribu dai, penyuluh agama, pendeta, pastor, pandita, bhikkhu, dan
segenap pembimbing umat di seluruh pelosok negeri.
Urusannya bukanlah menyeragamkan isi khutbah
atau doktrin teologis, melainkan menyatukan frekuensi nilai universal yang
hidup di semua agama: bahwa merawat alam ciptaan Tuhan adalah mandat iman yang
tidak bisa ditawar.
Ketika mimbar-mimbar suci dan rumah ibadah
mulai dipenuhi narasi yang menumbuhkan optimisme ekologis dan keteladanan
nyata, agama akan tampil dengan wajah yang sangat relevan dalam menjawab
tantangan zaman yang kian genting.
Menanam di ujung zaman pada akhirnya bukan
lagi perkara teknis tentang bagaimana menyelamatkan sebatang pohon agar tidak
mati. Ini adalah sebentuk maklumat moral untuk memastikan bahwa hingga embusan
napas terakhir, manusia tetap memilih jalan yang digariskan langit: menjadi
penjaga kehidupan yang setia, dan menolak dengan keras untuk menjadi penyebab
kehancuran di atas bumi.
Kita memang tidak pernah diberi hak oleh Tuhan untuk menentukan kapan dunia ini akan berakhir. Namun, kita selalu diberi kebebasan penuh untuk menentukan bagaimana mengisi sisa waktu yang dipinjamkan-Nya—apakah dengan merawat tanah yang dipijak ini agar tetap teduh, atau membiarkan seluruh kehidupan di sekeliling kita perlahan padam dan menghilang di depan mata.
`