Lewati ke konten utama
Kamis, 13 Agustus 2026 / 29 Shafar 1448 H
Jadwal memuat...
Google Ads
Opini

Menanam di Ujung Zaman

5 menit baca 89 dibaca
Yoga Rifai Hamzah

Oleh: Yoga Rifai Hamzah

Pegiat literasi dan lingkungan, Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Pekalongan, dan Humas Komunitas Pohon Indonesia

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menanam di Ujung Zaman
Ilustrasi seseorang yang menanam pohon sebagai tanda kepeduliannya pada kelestarian lingkungan. Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Sebuah hadis yang sangat masyhur sering kali menghiasi lembar-lembar brosur lingkungan. Namun ironisnya, ia jarang berhasil mengubah cara para dai berkhutbah di atas mimbar. Bunyinya teramat optimistis, melintasi batas logika keduniawian: “Jika hari kiamat telah tiba dan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”

Kenyataannya, ruang-ruang dakwah harian kita bekerja dengan cara lain. Saban kali tema akhir zaman diangkat, narasi yang laku di pasaran hampir selalu berupa kecemasan. Umat disuguhi deretan tanda kehancuran fisik, api yang berkobar, dan kepasrahan total yang melumpuhkan nalar kritis.

Eskatologi, yang semestinya menjadi penyulut etos kerja di sisa waktu, kerap menyusut maknanya menjadi sekadar alasan teologis untuk angkat tangan. Umat menjadi acuh pada kerusakan lingkungan di sekelilingnya, memaklumi sungai yang menghitam atau hutan yang gundul dengan sebaris kalimat pasrah: “Toh, dunia memang sudah tua dan mau kiamat.” Cara pandang yang lumpuh dan fatalistik inilah yang perlu didudukkan kembali secara proporsional.

Hadis tentang bibit kurma di ujung zaman itu sejatinya tidak sedang berbicara tentang pohon, melainkan cetak biru mentalitas seorang mukmin. Pesannya teramat benderang: harapan tidak boleh kalah oleh rasa takut. Selama denyut nadi masih dikandung badan dan ruang hidup masih tersisa, sekecil apa pun kesempatan berbuat baik, manusia dilarang untuk berhenti.

Agama tidak mengutus kita ke dunia untuk menjadi penonton pasif yang menghitung hari menuju kehancuran, melainkan mengisi setiap jengkal waktu yang tersisa dengan amal yang membawa kemaslahatan bagi seluruh makhluk.

Sangat manusiawi jika hari ini banyak di antara kita yang dihinggapi rasa lelah yang teramat dalam—sebuah keputusasaan ekologis yang akut (climate despair).

Bagaimana mungkin tidak patah arang ketika menyaksikan bentang alam dirusak secara masif dan terstruktur oleh syahwat ekonomi? Sungai-sungai dicemari limbah industri, kawasan hulu digunduli demi komoditas, dan pesisir utara tanah Jawa perlahan tenggelam dikepung rob menahun.

Baca juga: Kepedulian Ekologis dalam Perspektif Hadis Nabi

Di hadapan skala kerusakan yang begitu raksasa, muncul pertanyaan yang wajar: Apakah masih ada gunanya satu atau dua batang pohon yang kita tanam hari ini? Pada situasi semacam ini, keimanan harus hadir sebagai jangkar harapan.

Dalam perspektif etika keagamaan, manusia tidak pernah dibebani tugas mahaberat untuk menyelamatkan seluruh isi dunia sendirian. Kita bukan pahlawan tunggal. Tanggung jawab yang diminta dari kita adalah melakukan bagian kecil yang berada di dalam jangkauan kendali diri.

Kita mungkin tidak memiliki kuasa birokrasi untuk memulihkan ribuan hektare hutan yang telanjur gundul di hulu, atau menghentikan seluruh gurita pencemaran industri di hilir. Namun, kita selalu memiliki pilihan dan kemampuan untuk merawat selembar mata air di dekat tempat tinggal, menanam beberapa bibit di pekarangan, meminimalkan sumbangan sampah harian keluarga, atau mengetuk kesadaran takmir rumah ibadah agar mulai berhemat air.

Lawan sejati dari krisis lingkungan hari ini bukan sekadar lambatnya inovasi teknologi atau lemahnya penegakan hukum, melainkan hilangnya harapan di dalam dada manusia. Dan tugas terbesar otoritas keagamaan saat ini adalah memastikan harapan itu tidak padam tergerus kepasrahan yang keliru.

Logika ibadah memiliki timbangannya sendiri yang amat berbeda dengan logika pasar keduniawian. Dalam kalkulasi ekonomi harian, menanam pohon beberapa menit sebelum dunia hancur adalah kesia-siaan yang bodoh. Pohon itu tidak akan pernah sempat tumbuh besar, tidak akan sempat menghasilkan buah untuk dipanen, dan bayang-rindangnya tak akan sempat dinikmati oleh siapa pun.

Namun, agama melangkah jauh melampaui pragmatisme hasil akhir. Nilai kemuliaan sebuah amal tidak pernah diukur dari seberapa besar hasil fisik yang tampak di mata manusia, melainkan dari kemurnian niat, kesungguhan ikhtiar, dan ketaatan yang utuh saat proses itu dikerjakan.

Seorang umat beriman tidak menanam sebatang pohon karena ia yakin akan memanen buahnya besok pagi. Ia menanam semata-mata karena tahu bahwa menjaga denyut kehidupan adalah bagian paling hakiki dari bentuk pengabdiannya kepada Sang Pencipta semesta.

Baca juga: Green Waqf: Menghidupkan Warisan Tradisi Ekologis Rasulullah SAW

Kita mungkin tidak akan pernah menyaksikan seluruh hasil dari ikhtiar merawat bumi yang dirintis hari ini, tetapi hal itu tidak mengurangi barang sebutir zarah pun nilai ibadah dari setiap cucuran keringat yang diteteskan ke atas tanah.

Kementerian Agama dan ormas-ormas Islam memegang peran yang sangat strategis untuk merombak cara pandang dakwah publik secara nasional. Ada ruang kultural yang luas untuk memperkaya perspektif ratusan ribu dai, penyuluh agama, pendeta, pastor, pandita, bhikkhu, dan segenap pembimbing umat di seluruh pelosok negeri.

Urusannya bukanlah menyeragamkan isi khutbah atau doktrin teologis, melainkan menyatukan frekuensi nilai universal yang hidup di semua agama: bahwa merawat alam ciptaan Tuhan adalah mandat iman yang tidak bisa ditawar.

Ketika mimbar-mimbar suci dan rumah ibadah mulai dipenuhi narasi yang menumbuhkan optimisme ekologis dan keteladanan nyata, agama akan tampil dengan wajah yang sangat relevan dalam menjawab tantangan zaman yang kian genting.

Menanam di ujung zaman pada akhirnya bukan lagi perkara teknis tentang bagaimana menyelamatkan sebatang pohon agar tidak mati. Ini adalah sebentuk maklumat moral untuk memastikan bahwa hingga embusan napas terakhir, manusia tetap memilih jalan yang digariskan langit: menjadi penjaga kehidupan yang setia, dan menolak dengan keras untuk menjadi penyebab kehancuran di atas bumi.

Kita memang tidak pernah diberi hak oleh Tuhan untuk menentukan kapan dunia ini akan berakhir. Namun, kita selalu diberi kebebasan penuh untuk menentukan bagaimana mengisi sisa waktu yang dipinjamkan-Nya—apakah dengan merawat tanah yang dipijak ini agar tetap teduh, atau membiarkan seluruh kehidupan di sekeliling kita perlahan padam dan menghilang di depan mata.

`
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.
Google Ads
Google Ads