Refleksi “War-rujza Fahjur” di Era Digital
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Bila kita ingin mengubah wajah sebuah bangsa, atau membangun sebuah peradaban besar, dari mana perubahan nyata itu harus dimulai? Apakah dari panggung yang megah, gedung yang mewah, atau justru dari ruang sunyi di dalam batin kita masing-masing?
Pertanyaan ini
rasanya tidak pernah usai untuk diperbincangkan. Kita sering begitu bersemangat
merancang perubahan besar di luar sana, namun sering kali alpa, apakah wadah
yang sedang kita pakai untuk membawa pesan kebaikan itu sudah benar-benar
bersih?
Bila menarik garis sejarah jauh ke belakang, akan menemukan sebuah jawaban yang sangat mendasar. Sebuah jawaban yang diturunkan pada masa-masa paling krusial dalam sejarah peradaban manusia: fase paling awal saat risalah Islam hadir di Makkah.
Baca juga: Menyucikan “Pakaian” dan Niat
Sebuah Pesan Dasar
dari Kota Makkah
Coba kita
membayangkan suasana di Makkah kala itu. Rasulullah baru saja kembali dari Gua
Hira, masih diselimuti rasa getar yang begitu hebat usai bertemu Malaikat
Jibril. Di tengah momen itu, turunlah surat Al-Muddatsir.
Di sana, ada
perintah untuk bangkit memberi peringatan (qum fa-andzir ). Namun, berlanjut
di ayat berikutnya, Allah menyelipkan sebuah fondasi yang sangat menentukan.
Allah berfirman:
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
“Dan perbuatan
dosa (menyembah berhala), tinggalkanlah!” (QS. Al-Muddatsir : 5)
Syaikh
Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, seorang ulama tafsir terkemuka dari abad ke-14
H membawa pada pemahaman yang sangat jernih dan berlapis mengenai ayat ini.
Disebutkan, secara
spesifik para sahabat dan tabi'in seperti Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ibnu Zaid
menjelaskan bahwa makna “ar-rujz” merujuk pada patung dan berhala. Menyangkut
hal ini, perintahnya tegas, yaitu putus secara total. Jangan ada selamanya,
baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun kecenderungan hati.
Secara luas, “ar-rujz”
adalah cerminan dari seluruh bentuk keburukan. Baik yang tampak maupun yang
tersembunyi, yang besar maupun yang kecil, mulai dari kemusyrikan hingga
penyimpangan moral paling halus di dalam jiwa.
Di sini
ditegaskan satu hal yang sangat mendasar, bahwa perintah ini sama sekali tidak
berarti Nabi Muhammad pernah menyembah berhala atau berbuat dosa. Sebab beliau
adalah sosok yang dijaga oleh Allah dari segala bentuk kemaksiatan (ma’shum).
Seruan ini tidak lain adalah bentuk “istimrar” atau sebuah penegasan agar kemurnian itu terus dipertahankan secara konsisten, sekaligus menjadi kiblat pencerahan bagi kita semua, umatnya. Dan pesan ini senada dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 1 yang artinya: “Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti orang-orang kafir…”.
Baca juga: Ketika “Personal Branding” Menggeser “Wa Rabbaka Fakabbir”
Menghadapi “Ar-rujz”
Zaman Sekarang
Bila dahulu di
Makkah berhala itu berwujud batu dan kayu yang disembah secara terbuka, hari
ini “ar-rujz” hadir dengan wajah yang jauh lebih halus. Ia menyusup
lewat layar ponsel pintar kita, bersembunyi di balik dorongan syahwat digital,
hingga menjelmakan diri dalam gaya hidup yang menjauhkan manusia dari Allah dan
nilai-nilai kebenaran.
Di zaman
sekarang, pintu kemaksiatan itu rasanya hanya sejarak sentuhan jari. Kita perlu
sadar, membersihkan dosa di dalam jiwa itu tidak seperti mengelap debu di atas
meja; ia menempel, mengendap, dan merusak daya jangkau batin kita.
Bila di era
terdahulu, guru saya, Ustadz Abdullah Said menggambarkan pesan yang terhambat
ini dengan analogi disket bervirus, maka dalam bahasa hari ini, fenomena
tersebut seperti sebuah sistem digital yang terinfeksi malware.
Malware adalah singkatan dari malicious software
(perangkat lunak berbahaya). Secara sederhana, malware adalah semua
jenis program atau kode komputer yang dibuat secara sengaja untuk merusak,
mengganggu, menginfeksi, atau mencuri data dari suatu perangkat (HP, komputer,
laptop, hingga server).
Ustadz Abdullah
mengatakan: “Seorang dai atau pembawa pesan yang tampil memberi peringatan,
namun alarmnya sendiri berlumur dosa, ibarat sistem operasi yang terserang
malware berat. Aplikasi sebaik apa pun yang ia jalankan akan terus mengalami ‘glitch’,
‘lag’, dan ‘system error’. Pesan dakwahnya tidak akan pernah bisa terkirim atau
diterima dengan jernih oleh masyarakat, karena sinyal dan penggerak datanya
sedang rusak.”
Menurut saya, ini adalah sebuah otokritik yang tajam bagi kita semua. Bagaimana mungkin pesan yang kita suara bisa menggerakkan dan mengubah keadaan, jika “perangkat batin” yang dipakai untuk menyampaikannya justru sedang mengalami kebocoran data moral dan kerusakan sistemik?
Baca juga: Bangunlah, lalu Berilah Peringatan!
Antara Niat
dan Ekosistem
Kita sering kali
menuntut seseorang untuk menjaga pandangan (ghadhdhul bashar), menahan
lisan dari ghibah, prasangka buruk, dan berbagai hal buruk lainnya. Namun,
apakah kita sudah menyediakan iklim yang mendukungnya?
Menjauhi dosa di
era modern bukan hanya soal ketahanan individu, melainkan soal bagaimana kita
merekayasa ekosistem. Kita perlu menghadirkan lingkungan yang kondusif, baik di
kampus, ruang kerja, maupun di dalam rumah tangga kita.
Misalnya, dengan
membangun batas-batas pergaulan yang sehat agar potensi fitnah dan godaan dapat
ditekan sedemikian rupa. Lalu mengisi hari dengan karya, sebab saat waktu kita
dipenuhi oleh aktivitas yang bermanfaat, maka tidak tersisa lagi ruang kosong
untuk sekadar bergunjing atau memproduksi dosa.
Begitu juga, kultur saling mengingatkan perlu dibangun dengan menghidupkan tradisi saling menegur dengan kasih sayang secara berkala.
Semua itu perlu dibangun, sebab, meminta seseorang bertahan dari dosa tanpa membenahi lingkungannya adalah sebuah tuntutan yang sangat berat.
Baca juga: Menyelami Pesan Tersembunyi di Balik Surat Al-Muddatstsir
Pada akhirnya,
keberhasilan sebuah gerakan kebaikan tidak pernah ditentukan oleh ketenaran, popularitas
melainkan sejauh mana integritas dan kemurnian jiwa yang dibawa oleh para
pelakunya.
Sebelum melangkah
lebih jauh untuk membenahi kerumitan di luar sana, ada baiknya kita berhenti
sejenak dan menengok ke dalam dada kita masing-masing. Berapa banyak berhala
modern berupa kesombongan, ambisi pribadi, atau kekhilafan tersembunyi yang
masih kita biarkan bersemayam?
Mari sejenak
merenung. Rasulullah yang sudah dijamin kesuciannya saja memohon ampunan tak
kurang dari seratus kali dalam sehari. Lalu, bagaimana dengan kita yang
bergelimang cela ini? Mampukah kita melangkah tanpa mengetuk pintu ampunan-Nya?
Mari kita mulai
menyucikan batin dari segala bentuk “ar-rujz”. Karena hanya dari
jiwa-jiwa yang bersih dan rendah hati itulah pertolongan Allah akan hadir, dan
layanan kebaikan akan menemukan jalan untuk menyentuh serta menggerakkan hati
nurani sesama.
Jejak kaki kita di atas tanah mungkin akan terhapus oleh angin dan hujan. Namun, jejak jari kita di atas layar akan menetap dan dihisab. Karena itu, mari kita pastikan bahwa apa yang kita tinggalkan di alam digital adalah jejak-jejak kebaikan yang membuat kita tersenyum penuh syukur saat mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak.