ISO Pesantren: Antara Standar Mutu dan Ruh Pendidikan
Oleh: Dr Muhammad Irfanudin Kurniawan, M.Ag
Penulis buku “Organisme Pesantren” dan Dosen Manajemen Pendidikan Islam Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Mungkin kita tidak pernah membayangkan sebuah pesantren dengan sistem antrean pendaftaran berbasis barcode, atau yang diaudit secara berkala oleh lembaga sertifikasi internasional. Itu bukan fiksi. Itulah realitas yang mulai terjadi di sejumlah pesantren di Indonesia.
Fenomena tersebut menandai babak baru dalam
sejarah panjang pendidikan Islam di Nusantara: era standardisasi mutu.
Pertanyaannya, apakah ISO akan menjadi “baju baru” yang memperkuat jati diri
pesantren, atau justru menjadi “rompi” asing yang membuat pesantren kehilangan
identitasnya?
Pesantren telah ada sejak abad ke-15 di
tanah Jawa. Selama berabad-abad, sistem pendidikannya dibangun di atas fondasi
hubungan personal antara kiai dan santri, keteladanan, dan tradisi lisan yang
diwariskan turun-temurun. Mutu diukur bukan dari dokumen, tetapi dari
keberkahan ilmu dan keteladanan sang guru.
Namun zaman berubah. Tuntutan akuntabilitas publik, persaingan antarinstitusi, dan kebutuhan akan pengakuan eksternal membuat pesantren mulai melirik standar mutu formal. Di sinilah ISO masuk sebagai sebuah tawaran.
Baca juga: Menemukan “Mengapa” Pesantren Bertahan di Tengah Perubahan
Tentang ISO untuk Pesantren
ISO (International Organization for
Standardization) adalah organisasi nonpemerintah yang menetapkan standardisasi
internasional di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Untuk lembaga
pendidikan, standar yang paling relevan adalah ISO 21001:2018, sebuah sistem
manajemen organisasi pendidikan yang disesuaikan dari ISO 9001:2015.
Apa bedanya dengan ISO 9001? ISO 9001
adalah standar umum untuk sistem manajemen mutu di berbagai jenis organisasi.
Sementara ISO 21001 dirancang khusus untuk sektor pendidikan, dengan fokus pada
peningkatan kepuasan peserta didik, tenaga pendidik, dan pemangku kepentingan
lainnya.
Beberapa pesantren telah melangkah lebih maju. Pesantren Modern Syahid Bogor menjadi pelopor awal dengan ISO 9001:2000 pada 2008. Dayah Jeumala Amal di Aceh menjadi pesantren pertama di Indonesia yang menerapkan ISO 9001:2015. Universitas Nurul Jadid (Unuja) meraih ISO 21001 pada 2020 sebagai perguruan tinggi pertama berbasis pesantren dengan sertifikasi ini. Menyusul kemudian Pesantren Nurul Jadid Paiton, YIA Depok, Pesantren Al-Hamidiyah, dan Pesantren Al-Andalus yang masing-masing meraih sertifikasi ISO pada 2024-2025.
Baca juga: Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren
Pesantren Darunnajah: Pengalaman Awal
dan Langkah ke Depan
Salah satu pesantren yang telah menapaki
jalur standardisasi mutu sejak awal adalah Pesantren Darunnajah. Pada tahun
2012, SMK Darunnajah Pabuaran berhasil meraih sertifikasi ISO 9001:2008 untuk
sistem manajemen mutu dari SAI Global, lembaga sertifikasi internasional yang
berkantor pusat di Australia. Proses ini dimulai dengan pelatihan auditor
internal, penyusunan dokumen, audit internal, hingga certification audit
pada Desember 2012.
Pengalaman Darunnajah menunjukkan bahwa
sertifikasi ISO bukanlah hal yang mustahil bagi lembaga berbasis pesantren.
Yang diperlukan hanyalah komitmen dan kesiapan untuk membenahi tata kelola
secara sistematis. Kini, Universitas Darunnajah (UDN) melalui Lembaga
Penjaminan Mutu (LPM) secara aktif menggelar audit mutu internal untuk menjaga
dan meningkatkan kualitas akademik dan administrasi.
Komitmen terhadap mutu juga tercermin dalam penyelenggaraan “International Conference on Pesantren (ICOP)” dan berbagai workshop manajemen pesantren yang rutin digelar sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem mutu yang berkelanjutan.
Baca juga: Dompet Infak Santri sebagai Strategi Jemput Bola Optimalisasi Potensi ZIS
Budaya Mutu: Antara Filosofi dan Praktik
Dalam sebuah diskusi tentang ISO pesantren,
seorang narasumber menyampaikan analogi yang menarik: “Budaya mutu yang ideal
itu seperti parkir, kalau masih perlu tulisan, masih perlu petugas yang
mengarahkan, itu berarti budaya mutu belum terbentuk.” Artinya, budaya mutu
yang sesungguhnya adalah ketika semua warga sudah memahami dan menjalankan
tanpa perlu diingatkan.
Pesantren Nurul Jadid, misalnya, mendapat
apresiasi dari auditor ISO 21001:2018 atas komitmennya dalam membangun budaya
mutu. Auditor menyatakan bahwa budaya mutu merupakan kunci bagi organisasi
untuk memberikan layanan yang memuaskan kepada masyarakat.
Yang menarik, penerapan ISO di pesantren tidak serta-merta menghilangkan nilai-nilai tradisional. PP. AIS (Aqobah International School) berhasil menggabungkan nilai-nilai spiritual khas pesantren dengan sistem manajemen modern berbasis mutu global. Ini menunjukkan bahwa ISO dan ruh pesantren bisa berjalan beriringan.
Baca juga: Bisakah Pondok Pesantren Dibantu Dana dari APBN?
Tiga Level Penerapan ISO di Pesantren
Berdasarkan pengalaman pesantren-pesantren
yang telah menerapkan ISO, setidaknya ada tiga level penerapan:
Level 1: Kepatuhan administratif. Pada
level ini, pesantren mulai menyusun dokumen-dokumen prosedur operasional
standar (SOP), formulir-formulir, dan catatan-catatan administratif. Ini adalah
tahap paling dasar, di mana pesantren belajar untuk menuliskan apa yang
dikerjakan dan mengerjakan apa yang dituliskan.
Level 2: Perbaikan proses. Pada level ini,
pesantren mulai menggunakan siklus PDCA (Plan, Do, Check,
Act) atau PPEPP (Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Evaluasi,
Pengendalian) untuk memperbaiki proses secara berkelanjutan. Nurul Jadid,
misalnya, telah mengintegrasikan sistem manajemen mutu internasional ini dalam
tata kelola kelembagaannya.
Level 3: Budaya mutu. Pada level tertinggi ini, mutu bukan lagi sekadar kepatuhan terhadap standar, tetapi telah menjadi karakter dan kebiasaan seluruh warga pesantren. Inilah yang disebut sebagai budaya mutu, ketika seseorang menjalankan prosedur bukan karena diawasi, tetapi karena itu sudah menjadi kesadaran.
Baca juga: Arsitektur Baru Ekonomi Syariah: Industri Keuangan, Teknologi, dan Daya Saing
Manfaat dan Tantangan
Sertifikasi ISO telah membawa sejumlah
manfaat bagi pesantren. Pertama, pengakuan eksternal bahwa pesantren telah
dikelola dengan standar mutu yang diakui secara internasional. Kedua, seluruh
kegiatan pendidikan berjalan lebih terstruktur, terukur, efisien, dan
profesional. Ketiga, pengelolaan pesantren tidak hanya diaudit oleh auditor
internal, tetapi juga eksternal, yang mendorong akuntabilitas yang lebih
tinggi. Keempat, ISO memastikan adanya mekanisme peningkatan mutu yang
berkelanjutan.
Namun demikian, penerapan ISO di pesantren
juga menghadapi tantangan. Biaya sertifikasi dan pemeliharaan tidak sedikit,
sementara pesantren terbiasa dengan pengelolaan yang sederhana dan hemat.
Pesantren dengan tradisi lisan yang kuat
perlu beradaptasi dengan budaya dokumentasi yang ketat. Diperlukan tenaga yang
memahami ISO dan mampu mengintegrasikannya dengan sistem pesantren, yang tidak
selalu tersedia.
Selain itu, tidak semua elemen pesantren menerima perubahan sistem manajemen yang dianggap asing. Dan yang paling mendasar, ada kekhawatiran bahwa standardisasi akan membuat pesantren kehilangan kekhasannya, bahwa nilai dan jiwa pesantren akan tergerus oleh formalitas administrasi.
Baca juga: Pola Pendidikan Humanis: Sintesa Antara Kekerasan dan Kasih Sayang
Menuju Pesantren Berstandar Dunia
KH Sofwan Manaf, Presiden Universitas
Darunnajah, menargetkan bahwa pada tahun 2054 lembaganya akan menjadi institusi
dengan reputasi dunia. Ini bukan sekadar mimpi. Dengan komitmen terhadap budaya
mutu, target itu bisa menjadi kenyataan.
Namun, ada satu hal yang perlu diingat: ISO
adalah alat, bukan tujuan. Standar mutu membantu pesantren untuk mengelola
dirinya dengan lebih baik, tetapi ruh pesantren, keikhlasan, kesederhanaan,
kemandirian, ukhuwah, dan pengabdian, tetaplah yang utama.
Seperti yang diingatkan oleh Majelis
Masyayikh, peningkatan mutu berkelanjutan bukanlah konsep baru dalam tradisi
pesantren. Melalui adab, kedisiplinan, ketekunan belajar, serta semangat
perbaikan diri yang tidak pernah berhenti, pesantren sejak dulu telah
menerapkan prinsip yang kini dikenal sebagai continuous quality improvement.
ISO hanyalah bingkai. Isinya ruh pendidikan pesantren, tetaplah milik pesantren itu sendiri.