Front Lebanon dalam Pusaran Perundingan AS-Iran
Oleh: Dr Yanuardi Syukur
Pengurus Komisi HLNKI MUI/Dosen Antropologi Universitas Khairun
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani pada 18 Juni 2026 di Prancis secara gamblang mencantumkan Lebanon dalam klausul pertamanya.
Dokumen 14 poin yang diteken oleh Presiden
Donald Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian itu menyatakan adanya penghentian
operasi militer secara segera dan permanen di semua lini, termasuk Lebanon,
serta komitmen kedua negara untuk memastikan integritas teritorial dan
kedaulatan Lebanon.
Kehadiran Lebanon dalam perjanjian ini
bukan kebetulan. Michael Young, pakar Lebanon dari Carnegie Middle East Center, melihat bahwa Iran sengaja menempatkan Lebanon di awal kesepakatan karena ingin menegaskan bahwa integritas teritorial Lebanon sangat esensial
bagi keberhasilan nota kesepahaman tersebut (Al Jazeera, 21/6/2026).
Namun klausul ini menghadapi kenyataan
pahit. Israel dan Hizbullah, dua aktor yang secara langsung bertempur di
Lebanon selatan, tidak terlibat dalam penandatanganan dokumen tersebut.
Israel dengan tegas menyatakan tidak terikat dan terus melancarkan serangan udara bahkan setelah penandatanganan, yang memaksa Iran menunda pembicaraan lanjutan dengan AS di Swiss.
Baca juga: Pergeseran Geopolitik Timur Tengah
Serangan Israel yang terus berlanjut pascapenandatanganan—yang
telah menewaskan lebih dari 4.000 orang sejak Maret 2026 dan melukai lebih dari
12.000 lainnya, menurut data resmi Lebanon—menunjukkan bahwa gencatan senjata
di Lebanon masih sangat rapuh, belum solid.
Maka dari itu, jika tidak ada mekanisme
penegakan yang mengikat Israel, klausul ini berisiko menjadi sekadar deklarasi
simbolis yang tidak pernah terwujud di lapangan, alias eskalasi tetap akan
meletus.
Kemenangan Bersyarat bagi Hizbullah
Bagi Hizbullah, perjanjian ini disambut
sebagai kemenangan yang besar. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Kassem,
menyebutnya sebagai titik balik penting bagi Lebanon (pivotal point for
Lebanon) dan berterima kasih kepada Iran karena telah menghubungkan arena
Lebanon ke dalam kesepakatan serta memaksa Israel menghentikan agresinya dan
imperialisme-nya.
Hassan Nasrallah (1960-2024), Sekjen ketiga
Hizbullah, pernah berkata, “Selama ada imperialisme di dunia, perdamaian
permanen tidak mungkin akan terjadi.” (So long as there is imperialism in
the world, a permanent peace is impossible). Berarti, resistensi Hizbullah
tidak akan pernah berhenti selama masih ada imperialisme Israel.
Dalam konteks perjanjian AS-Iran, kelompok
yang didirikan pada 1982 dengan dukungan Iran ini melihat perjanjian tersebut
sebagai pengakuan atas peran mereka dalam konflik dan sebagai instrumen untuk
menekan penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon selatan, yang saat ini
masih menguasai sekitar 600 kilometer persegi wilayah tersebut sebagai apa yang
mereka sebut “zona penyangga keamanan”.
“Nota kesepahaman ini pada dasarnya memberikan Iran hampir semua yang diinginkannya dan Trump semua yang telah dimilikinya [sebelum menyerang Iran bersama Israel pada Februari],” kata James M. Dorsey, pakar kawasan di Rajaratnam School of International Studies Singapura. “Dan tentu saja, setidaknya pada tahap awal, ini tampak sebagai kemenangan bagi Hizbullah,” lanjut Dorsey.
Baca juga: Nasib Gencatan Senjata Gaza di Ujung Tanduk
Ujian sebenarnya dalam situasi seperti ini
adalah apakah AS akan benar-benar memaksa Israel menarik pasukannya dari
Lebanon selatan—dan apakah Trump bersedia mengatakan kepada Israel bahwa mereka
tidak memiliki pilihan lain.
Jika Israel benar-benar mundur, Hizbullah
dapat mengklaim keberhasilan membebaskan wilayah selatan dan memperoleh
kemenangan politik besar. Namun jika Israel tetap bertahan dan AS tidak
bertindak tegas, perjanjian ini justru akan menjadi bukti ketidakberdayaan Iran
dan sekutunya, yang berisiko melemahkan posisi Hizbullah di dalam negeri
Lebanon.
Pemerintah Lebanon Terjepit di Antara
Dua Kekuatan
Sementara itu, pemerintah Lebanon berada
dalam posisi yang sangat sulit. Presiden Lebanon Joseph Aoun berupaya menjaga
otonomi dengan menegaskan bahwa negosiasi langsung Lebanon-Israel di Washington
berlangsung terpisah dari pembicaraan AS-Iran di Swiss.
Mengutip Qatar News Agency
(24/6/2026), Aoun menyatakan bahwa, “…berbagai upaya sedang dilakukan untuk
konsolidasi gencatan senjata di Lebanon selatan, yang akan dilanjutkan dengan
penarikan pasukan Israel, pengerahan tentara Lebanon, kembalinya penduduk,
serta dimulainya rekonstruksi.”
Pemerintah Lebanon sebelumnya bahkan telah
memulai perundingan langsung dengan Israel mengenai pelucutan senjata Hizbullah
sebagai bagian dari upaya mencapai perdamaian—yang merupakan pembicaraan
langsung pertama antara kedua negara dalam lebih dari 30 tahun (Middle East
Eye, 23/6/2026).
Namun Hizbullah secara tegas menolak
perundingan tersebut dan menganggapnya sebagai sebuah pengkhianatan sekaligus
tindakan “menyerah” pada Israel—hal yang ditentang oleh Hizbullah sejak awal.
Laman ILNA (4/6/2026) mengutip Kassem yang mengecam negosiasi langsung antara pemerintah Lebanon dan musuh Israel, dan menyebut tindakan itu sebagai upaya untuk menundukkan Lebanon pada proyek Israel Raya. Ia menyatakan, “Kami bukan termasuk orang-orang yang mengkhianati kepercayaan para syuhada, tanah air, dan masa depan generasi.”
Baca juga: Indikasi Ketidakharmonisan AS-Israel
Di sisi lain, Lebanon memiliki kapasitas
yang sangat terbatas untuk menyelesaikan sendiri konflik mendasar antara Israel
dan Hizbullah, sehingga negara tersebut sangat bergantung pada dukungan
internasional dalam periode mendatang.
Situasi ini semakin rumit karena aliran
dana segar pascakesepakatan—termasuk pencairan aset Iran bernilai miliaran
dolar, izin ekspor minyak, dan dana rekonstruksi sebesar US$300 miliar untuk
Iran—berpotensi memperkuat posisi Hizbullah secara finansial.
Ketika ekonomi Iran dalam tekanan,
pemerintah Lebanon memiliki ruang untuk menekan Hizbullah. Namun, jika
pendapatan minyak Iran kembali mengalir tanpa hambatan, tekanan eksternal (yang
selama ini mempersulit pendanaan Hizbullah akan berkurang), dan proses
pelucutan senjata kelompok tersebut akan semakin sulit diwujudkan.
Artinya, resistensi Hizbullah tetap akan
terjadi, persis yang disampaikan Hasan Nasrallah dahulu yang dapat kita
bahasakan seperti ini: perdamaian sejati hanya muncul setelah hilangnya
imperialisme.
Tanpa Jaminan
Meskipun berpotensi memberikan keuntungan
bagi Hizbullah dan meskipun klausul Lebanon menjadi salah satu pencapaian
diplomatik Iran, tidak ada satu pun hasil yang dijamin dalam kesepakatan
AS-Iran. Israel dan Hizbullah tidak ikut menandatangani perjanjian tersebut,
dan pemerintah Lebanon pun tidak dilibatkan secara langsung.
Menurut Anthony Samrani, pemimpin redaksi surat kabar L’Orient-Le Jour di Beirut, skenario yang paling mungkin justru menjadi beban ganda bagi Lebanon, yakni terjadinya pendudukan Israel yang terus berlangsung dan Hizbullah yang tetap menantang negara.
Baca juga: Israel Menuju Negara yang Terisolasi
Lebanon Selatan akan tetap menjadi wilayah
yang dipenuhi perang dan penderitaan. Bahkan jika Beirut dan Tel Aviv akhirnya
mencapai kesepakatan, persoalan utama berikutnya adalah perebutan kekuasaan
antara negara Lebanon dan milisi Hizbullah.
Melihat dari perkembangan di atas, kita
bisa menyimpulkan bahwa Front Lebanon kelihatannya akan tetap menjadi variabel
kritis yang dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan perjanjian AS-Iran
secara keseluruhan.
Artinya, eskalasi Israel di Lebanon sudah pasti mengancam untuk merusak kesepakatan antara Teheran dan Washington serta berisiko menyebabkan destabilisasi regional lebih lanjut.