Lewati ke konten utama
Rabu, 1 Juli 2026 / 15 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Indikasi Ketidakharmonisan AS-Israel

5 menit baca 733 dibaca
Dr Yanuardi Syukur

Oleh: Dr Yanuardi Syukur

Pengurus Komisi HLNKI MUI/Dosen Antropologi Universitas Khairun

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Indikasi Ketidakharmonisan AS-Israel
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Israel, yang selama tujuh dekade lebih dikenal sebagai aliansi strategis yang tak terpisahkan, kini tengah menghadapi ujian terberat sepanjang sejarah.

Ketegangan terbuka antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak hanya mempermalukan kedua pemimpin di panggung dunia, tetapi juga mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh.

Apa yang dulu dibangun di atas kepentingan bersama dan ikatan emosional, kini berubah menjadi ajang saling serang antara keduanya.

Untuk memahami kompleksitas keretakan ini, kita dapat membaginya ke dalam tiga gagasan utama, yakni runtuhnya citra Israel secara global, bentrokan kepentingan Trump dan Netanyahu, serta implikasi politik domestik dan masa depan aliansi.

Baca juga: Israel Menuju Negara yang Terisolasi

Krisis Kepercayaan Global terhadap Israel dan Netanyahu

Sebelum perseteruan Trump-Netanyahu memuncak, citra Israel di mata dunia internasional sebenarnya sudah berada di titik nadir. Survei komprehensif yang dilakukan Pew Research Center pada periode 8 Februari hingga 13 Mei 2026, yang dipublikasikan oleh Laura Silver dan Laura Clancy pada 4 Juni 2026, mengungkapkan data yang mencengangkan.

Di 36 negara yang disurvei, median 67% orang dewasa memiliki pandangan tidak menguntungkan terhadap Israel. Sementara hanya 25% yang masih memandang positif.

Sentimen negatif ini sangat kuat di negara-negara Eropa seperti Italia, Spanyol, dan Belanda, di mana mayoritas bahkan menyatakan sangat tidak menguntungkan. Di kawasan Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Turki, angka ketidaksukaan bahkan menembus 80 hingga 95 persen.

Lebih buruk lagi, kepercayaan terhadap kepemimpinan Benjamin Netanyahu untuk melakukan hal yang benar dalam urusan dunia juga anjlok. Pew mencatat bahwa mayoritas di Australia, Kanada, Prancis, Jerman, dan Inggris Raya menyatakan tidak percaya sama sekali pada Perdana Menteri Israel tersebut.

Dibandingkan dengan tahun 2025, sentimen negatif terhadap Netanyahu meningkat drastis di 13 negara, termasuk Korea Selatan yang melonjak dari 64% menjadi 76%.

Kondisi ini menciptakan latar belakang yang sempurna bagi tekanan internasional terhadap Israel, sekaligus mengurangi ruang gerak Netanyahu untuk meminta simpati global. Ketika dunia sudah muak, setiap langkah agresif Israel akan semakin sulit dijustifikasi.

Baca juga: Provokasi Berantai Israel Mengancam Dunia

Bentrokan Kepentingan Trump dan Netanyahu

Puncak ketidakharmonisan terjadi ketika prioritas geopolitik Trump dan Netanyahu bertabrakan secara frontal terkait perang melawan Iran dan kesepakatan damai.

Yashraj Sharma dalam laporannya di Al Jazeera pada 18 Juni 2026 menulis bahwa Israel sangat murka dengan kesepakatan AS-Iran yang melegitimasi penghentian permusuhan di Lebanon.

Netanyahu bersumpah tidak akan menarik pasukan dari wilayah Lebanon yang diduduki, sementara Trump justru mendesak agar perang segera diakhiri demi stabilitas ekonomi global dan kepentingan pemilu AS. Trump secara terbuka menyatakan, “Saya tidak senang dengan invasi dan penanganan Israel terhadap Hizbullah,” dan meminta Netanyahu agar lebih bertanggung jawab.

Ketegangan ini semakin personal dan eksplosif. Frank Andrews di CBS News pada 19 Juni 2026 mengutip percakapan telepon di mana Trump membentak Netanyahu, “Apa-apaan yang kau lakukan?” Lalu dikatakan dengan tegas, “Kau benar-benar gila. Kau akan berada di penjara jika bukan karena aku.”

Bahkan di hadapan publik, dalam konferensi pers G7 di Prancis, Trump dengan sinis menyebut Netanyahu sebagai “the very small partner” (mitra yang sangat kecil) dan melontarkan pernyataan kontroversial, “Tanpa saya, tidak akan ada Israel.”

Baca juga: Mengapa Amerika Tunduk pada Israel?

Ruth Margalit dalam analisis di The New Yorker pada 19 Juni 2026 menyebut bahwa kesepakatan Iran ini adalah “bencana” bagi Israel karena tidak membatasi program nuklir dan rudal Iran, serta justru mencairkan dana Iran yang dibekukan.

Perbedaan mendasarnya terletak pada visi bahwa Trump ingin mengakhiri “forever wars” (perang abadi) seperti Perang Afganistan (2001-2021) dan Perang Irak (2003-2011, serta keterlibatan lanjutan melawan ISIS). Sementara itu, Netanyahu menganggap perang ini sebagai “life's mission” (misi seumur hidup) untuk menggulingkan rezim Iran sekaligus mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, yang dapat dibayangkan, seperti kata Trump, “Jika Iran punya bom nuklir, Israel bisa tamat!”

Implikasi Domestik di Israel dan Nasib Aliansi Masa Depan

Keretakan dengan AS bukan hanya masalah diplomatik, tetapi telah berdampak langsung pada peta politik domestik Israel dan masa depan jabatan Netanyahu.

Margalit (The New Yorker, 19 Juni 2026) mencatat fenomena langka, yaitu popularitas Trump di kalangan warga Israel jatuh bebas dari rating positif 58% menjadi negatif 16% hanya dalam hitungan minggu pasca-kesepakatan.

Di antara pendukung setia Netanyahu, popularitas Trump bahkan turun hingga 50 poin. Survei terbaru menunjukkan bahwa partai Likud pimpinan Netanyahu kehilangan kursi, sementara partai oposisi Yashar pimpinan Gadi Eisenkot justru menguat empat kursi dalam sepekan.

Ini menandakan bahwa rakyat Israel mulai menyalahkan Netanyahu atas hilangnya dukungan dari sekutu terbesarnya.

Baca juga: 8 Dusta Amerika Serikat dalam Perang Iran

Secara historis, perseteruan antara presiden AS dan PM Israel bukanlah hal baru. Yashraj Sharma mengingatkan bahwa konflik Eisenhower vs. Ben-Gurion (1956) dan Obama vs. Netanyahu (2015) tidak pernah menghentikan aliran bantuan militer AS.

Namun, analis senior Carnegie Endowment, Aaron David Miller, yang dikutip CBS News (19 Juni 2026), memperingatkan bahwa Trump memiliki cara unik untuk “menghukum” Netanyahu, yakni dengan secara terbuka menyatakan, “…bahwa hubungan AS-Israel sedang menderita bukan karena saya, Donald Trump, tetapi karena Benjamin Netanyahu.”

Hal ini bisa menjadi pukulan telak menjelang pemilu Israel. Sementara itu, Yossi Mekelberg dari Chatham House (via Al Jazeera) menambahkan bahwa Israel kini mulai dipandang sebagai “beban” (burden) bagi AS, bukan lagi sebagai aset strategis seperti dulu.

Ketidakharmonisan AS-Israel saat ini dapat dipahami bukan sekadar perselisihan ego antara dua pemimpin keras kepala. Ini adalah cerminan dari perubahan fundamental dalam lanskap geopolitik global, di mana kepentingan nasional AS mulai berbenturan dengan ambisi ekspansionis Israel.

Memang, tidak bisa dimungkiri ada pandangan bahwa ini bagian dari sandiwara sebab terkadang retorika keduanya ibaratnya seperti peribahasa Jawa yang populer di Indonesia yang bunyinya: “esuk dhele, sore tempe” (pagi kedelai, sore tempe). Inkonsisten, suka berubah pendirian dalam waktu singkat.

Baca juga: Perang Kawasan Teluk dan Ancaman Ekonomi Syariah–Halal

Dengan citra Israel yang terpuruk di mata dunia, kepercayaan publik yang runtuh terhadap Netanyahu, dan kini hilangnya payung perlindungan dari Washington, masa depan aliansi ini berada di ujung tanduk.

Allah SWT dalam firman-Nya telah mengingatkan tentang kelompok yang terlihat bersatu tetapi hatinya bercerai-berai:

تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah.” (QS. Al-Hasyr: 14)

Artinya, hubungan AS-Israel saat ini sedang menunjukkan gejala kerapuhan yang selama ini tersembunyi di balik retorika aliansi strategis dan persahabatan abadi.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.