Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern

7 menit baca 2.115 dibaca
KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Di tengah derasnya arus kehidupan modern, manusia semakin terbiasa menghitung apa yang belum dimiliki, tetapi semakin jarang berhenti untuk merenungi dan mensyukuri apa yang telah ada.

Kita hidup di era di mana akses terhadap kebutuhan, bahkan keinginan, semakin mudah, namun rasa cukup justru semakin sulit ditemukan. Inilah paradoks zaman. Kelimpahan tidak selalu melahirkan ketenangan, dan kemajuan tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan.

Data global memperlihatkan ironi ini secara terang. World Happiness Report 2023 dan 2024 menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan material tidak selalu sejalan dengan kualitas kebahagiaan subjektif.

Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis

Gallup Global Emotions Report 2023 mencatat bahwa tingkat stres, kekhawatiran, dan emosi negatif masih tinggi secara global. Bahkan World Health Organization (WHO) dalam laporan 2022–2024 menegaskan meningkatnya gangguan kecemasan, depresi, serta fenomena loneliness epidemic, wabah kesepian yang melanda banyak masyarakat modern.

Kita menyaksikan dunia yang semakin canggih, tetapi jiwa manusia kerap terasa semakin rapuh. Kemudahan hidup meluas, tetapi kegelisahan batin justru menguat. Di sinilah tampak sebuah krisis yang tidak kasat mata, namun nyata dirasakan: “krisis syukur”.

Menariknya, fenomena ini tidak hanya dibahas dalam perspektif spiritual, tetapi juga telah menjadi perhatian serius dalam dunia psikologi modern. Robert A. Emmons—pakar positive psychology dari University of California—dalam riset panjangnya menegaskan bahwa syukur (gratitude) bukan sekadar emosi sesaat, tetapi kekuatan psikologis yang fundamental.

Dalam karyanya, Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier (2007), Robert A. Emmons menunjukkan bahwa individu yang melatih syukur secara konsisten cenderung lebih bahagia, lebih sehat, lebih kuat secara mental, dan lebih baik dalam relasi sosial.

Baca juga: Antara Istiqamah dan Ketergantungan Hati

Penelitian eksperimental bersama Michael McCullough (2003) bahkan menunjukkan bahwa praktik sederhana seperti gratitude journaling mampu meningkatkan optimisme dan kepuasan hidup secara signifikan. Artinya, syukur bukan hanya nilai moral, tetapi juga mekanisme ilmiah yang memperkuat keseimbangan jiwa.

Namun, di tengah budaya modern yang berorientasi pada pencapaian, konsumsi, dan perbandingan sosial, kemampuan untuk bersyukur justru semakin tergerus. Manusia didorong untuk terus “menjadi lebih” dan “memiliki lebih”, tetapi jarang diajarkan untuk “mensyukuri yang sudah ada”. Akibatnya, lahirlah satu kondisi paradoksal: kelimpahan tanpa ketenangan, dan keberlimpahan tanpa rasa cukup.

Di sinilah Alquran memberikan fondasi yang jauh lebih dalam. Syukur dalam Islam bukan sekadar teknik psikologis, tetapi inti dari kehambaan. Ia bukan pelengkap, tetapi fondasi. Ia bukan sekadar respons atas nikmat, tetapi cara pandang dalam memahami seluruh realitas kehidupan.

Baca juga: Membaca Geopolitik Timur Tengah dalam Perspektif Hadis Akhir Zaman

Allah SWT mengabadikan satu sosok agung dengan gelar yang sangat istimewa:

إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

“Sesungguhnya dia (Nabi Nuh) adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)

Ayat ini bukan sekadar pujian, tetapi legitimasi ilahi terhadap “maqām ruhiyyah” (derajat ruhani) yang tinggi: “‘abdan syakuran”. Menariknya, gelar ini tidak diberikan karena keberhasilan statistik dakwah, tetapi karena kualitas syukur.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah syukur yang dimaksud Alquran sama dengan pemahaman kita hari ini? Ataukah kita baru memahami permukaannya saja?

Alquran tidak berbicara tentang syukur secara teoritis, tetapi menghadirkan teladan konkret. Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah dalam waktu yang sangat panjang. Alquran mengonfirmasinya:

فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا

“Maka ia (Nabi Nuh) tinggal di tengah-tengah mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)

Menurut Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Adhim, ini menunjukkan kesabaran luar biasa dalam dakwah, meskipun pengikutnya sangat sedikit. Dalam logika modern, ini bisa dianggap kegagalan. Namun, Alquran justru memuliakannya sebagai hamba yang bersyukur.

Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran

Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an menjelaskan bahwa syukur Nabi Nuh tampak pada konsistensinya memuji Allah, menggunakan nikmat dalam ketaatan, dan tidak berpaling dari ibadah dalam kondisi apa pun.

Definisi ini dipertegas oleh Ibnu Hajar al-Haitsami dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

الشُّكْرُ هُوَ صَرْفُ الْعَبْدِ جَمِيعَ مَا أَنْعَمَ اللَّهُ بِهِ عَلَيْهِ إِلَى مَا خُلِقَ لِأَجْلِهِ

“Syukur adalah mengarahkan seluruh nikmat sesuai tujuan penciptaannya.”

Artinya, syukur bukan sekadar ucapan, tetapi kesadaran total, di hati, lisan, dan amal. Yang lebih mendalam, syukur Nabi Nuh justru lahir di tengah ujian. Beliau berdakwah ratusan tahun, ditolak kaumnya, bahkan anaknya sendiri tidak beriman. Namun, tetap bersyukur.

Di sinilah letak hakikat syukur. Bukan hasil dari kenyamanan, tetapi buah dari kedalaman iman. Alquran mengingatkan:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa manusia sering terjebak pada satu kekurangan, lalu melupakan ribuan nikmat lainnya. Beliau menegaskan:

أن الإنسان مجبول على النسيان وعلى الملالة، فإذا وجد نعمة نسيها في الحال وظلمها بترك شكرها، وإن لم ينسها فإنه في الحال يملها فيقع في كفران النعمة، وأيضا أن نعم الله كثيرة فمتى حاول التأمل في بعضها غفل عن الباقي.

“Sesungguhnya manusia diciptakan dengan tabiat mudah lupa dan mudah bosan. Apabila ia memperoleh suatu nikmat, sering kali ia segera melupakannya dan menzalimi nikmat itu dengan tidak mensyukurinya. Jika ia tidak melupakannya, maka ia cepat merasa bosan terhadap nikmat tersebut sehingga jatuh ke dalam pengingkaran nikmat. Selain itu, nikmat-nikmat Allah sangatlah banyak; ketika seseorang berusaha merenungi sebagian nikmat itu, ia sering lalai dari nikmat-nikmat lainnya.”

Inilah akar kegelisahan modern. Sebaliknya, Nabi Nuh melihat nikmat di tengah ujian. Bahkan dakwah itu sendiri beliau pandang sebagai nikmat:

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

“Dia (Nabi Nuh) berkata: ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam.” (QS. Nuh: 5)

Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam

Ibn al-Qayyim dalam Madarij as-Salikin menegaskan bahwa syukur sejati adalah melihat setiap keadaan sebagai peluang untuk taat. Beliau mengungkapkan:

وَكَذَلِكَ حَقِيقَتُهُ فِي الْعُبُودِيَّةِ. وَهُوَ ظُهُورُ أَثَرِ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَى لِسَانِ عَبْدِهِ: ثَنَاءً وَاعْتِرَافًاوَعَلَى قَلْبِهِ: شُهُودًا وَمَحَبَّةً. وَعَلَى جَوَارِحِهِ: انْقِيَادًا وَطَاعَةً

“Demikian pula hakikat syukur dalam penghambaan kepada Allah. Syukur ialah tampaknya pengaruh nikmat Allah pada diri hamba-Nya: Pada lisannya: berupa pujian dan pengakuan. Pada hatinya: berupa kesadaran, penyaksian, dan kecintaan. Pada anggota tubuhnya: berupa ketundukan dan ketaatan.”

Dapat dipahami dari sini, bahwa setiap keadaan dalam hidup seorang mukmin sejatinya adalah peluang untuk semakin dekat kepada Allah.

Konsep ini mencapai puncaknya dalam teladan Rasulullah SAW. Dalam hadis sahih disebutkan:

أنَّ نَبيَّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كان يَقومُ مِنَ اللَّيلِ حتَّى تَتَفَطَّرَ قدَماه، فقالت عائِشةُ: لمَ تَصنَعُ هذا يا رَسولَ اللهِ، وقد غَفَرَ اللهُ لكَ ما تَقدَّمَ مِن ذَنبِكَ وما تَأخَّرَ؟ قال: أفلا أُحِبُّ أن أكونَ عَبدًا شَكورًا، فلَمَّا كَثُرَ لَحمُه صَلَّى جالِسًا، فإذا أرادَ أن يَركَعَ قامَ فقَرَأ ثُمَّ رَكَعَ

“Sesungguhnya Nabi Allah SAW biasa bangun pada malam hari untuk beribadah hingga kedua telapak kaki beliau pecah-pecah. Maka Aisyah binti Abu Bakar berkata, ‘Mengapa engkau melakukan hal ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?’ Beliau menjawab, ‘Tidakkah aku senang menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?’ Ketika tubuh beliau mulai bertambah berat, beliau pun melaksanakan shalat sambil duduk. Jika hendak rukuk, beliau berdiri terlebih dahulu, lalu membaca bacaan, kemudian rukuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, ibadah Nabi bukan sekadar karena takut, tetapi sebagai ekspresi syukur.

Jika ditarik ke konteks hari ini, kita menemukan bahwa krisis terbesar manusia bukan kekurangan nikmat, tetapi kehilangan kesadaran terhadapnya. Alquran memperingatkan:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia

Imam al-Qurthubi menegaskan bahwa “kehidupan sempit” adalah hilangnya ketenangan, bukan sekadar kekurangan materi. Dan hilangnya ketenangan yang dimaksud di sini adalah karena berpaling dari agama. Hal ini ditegaskan di dalam tafsirnya, ­Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an sebagaimana berikut:

والمعرض عن الدين مستول عليه الحرص الذي لا يزال يطمح به إلى الازدياد من الدنيا، مسلط عليه الشح، الذي يقبض يده عن الإنفاق، فعيشه ضنك، وحاله مظلمة 

“Orang yang berpaling dari agama dikuasai oleh sifat rakus, yang terus-menerus mendorongnya untuk menambah kenikmatan dunia. Ia juga dikuasai oleh sifat kikir, yang membuat tangannya tertahan dari berinfak. Karena itu, kehidupannya sempit dan penuh kesesakan, sedangkan keadaannya gelap dan suram.”

Inilah yang oleh psikologi modern disebut existential vacuum—kehampaan makna. Namun, Alquran telah lama memberi jawabannya: kembali kepada Allah melalui syukur.

Maka, membangun habit of gratitude dalam perspektif Qur’ani tidak berhenti pada teknik, tetapi pada transformasi kesadaran: melihat nikmat sebagai karunia Allah, menggunakan nikmat dalam ketaatan, dan memandang setiap keadaan sebagai ruang ibadah.

Baca juga: Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren

Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan yang sangat mendalam: menjadi “‘abdan syakuran” bukan sekadar status spiritual, tetapi proyek kehidupan. Allah SWT menegaskan:

إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

“Ada yang bersyukur dan ada yang kufur.” (QS. Al-Insan: 3)

Maka pertanyaannya bukan lagi apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita memaknainya. Mungkin, di tengah dunia yang terus mendorong kita untuk memiliki lebih banyak, yang kita butuhkan bukanlah tambahan nikmat, melainkan kedalaman kesadaran untuk mensyukurinya. Agar kita tidak sekadar hidup, tetapi hidup dalam makna dan keberkahan. Tidak sekadar menjadi hamba, tetapi menjadi ‘abdan syakuran, seorang hamba yang banyak bersyukur.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.