Menghidupkan Kembali Makna Syukur dalam Perspektif Alquran dan Sains Modern
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di tengah derasnya arus kehidupan modern, manusia semakin terbiasa menghitung apa yang belum dimiliki, tetapi semakin jarang berhenti untuk merenungi dan mensyukuri apa yang telah ada.
Kita hidup di era di
mana akses terhadap kebutuhan, bahkan keinginan, semakin mudah, namun rasa
cukup justru semakin sulit ditemukan. Inilah paradoks zaman. Kelimpahan tidak
selalu melahirkan ketenangan, dan kemajuan tidak otomatis menghadirkan
kebahagiaan.
Data global memperlihatkan ironi ini secara terang. World Happiness Report 2023 dan 2024 menunjukkan bahwa peningkatan kesejahteraan material tidak selalu sejalan dengan kualitas kebahagiaan subjektif.
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Gallup Global
Emotions Report 2023 mencatat
bahwa tingkat stres, kekhawatiran, dan emosi negatif masih tinggi secara
global. Bahkan World Health Organization (WHO) dalam laporan 2022–2024
menegaskan meningkatnya gangguan kecemasan, depresi, serta fenomena loneliness
epidemic, wabah kesepian yang melanda banyak masyarakat modern.
Kita menyaksikan dunia
yang semakin canggih, tetapi jiwa manusia kerap terasa semakin rapuh. Kemudahan
hidup meluas, tetapi kegelisahan batin justru menguat. Di sinilah tampak sebuah
krisis yang tidak kasat mata, namun nyata dirasakan: “krisis syukur”.
Menariknya, fenomena
ini tidak hanya dibahas dalam perspektif spiritual, tetapi juga telah menjadi
perhatian serius dalam dunia psikologi modern. Robert A. Emmons—pakar positive
psychology dari University of California—dalam riset panjangnya menegaskan
bahwa syukur (gratitude) bukan sekadar emosi sesaat, tetapi kekuatan
psikologis yang fundamental.