Profil MUI
Lahir dari Persatuan untuk Umat
Perjalanan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bermula pada sebuah momentum bersejarah di Jakarta, 26 Juli 1975 atau bertepatan dengan 7 Rajab 1395 H. Melalui Musyawarah Nasional I Ulama se-Indonesia, lahirlah sebuah kesepakatan agung untuk mendirikan wadah tunggal bagi para ulama, zu’ama, dan cendekiawan Muslim.
Di bawah kepemimpinan sosok legendaris, Prof. Dr. Hamka (Buya Hamka) sebagai Ketua Umum pertama, MUI hadir untuk menyatukan barisan organisasi kemasyarakatan besar seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya. Kehadirannya bukan sekadar organisasi, melainkan jembatan yang menyatukan gerak langkah ulama dalam membimbing umat serta menjadi mitra strategis dalam mengawal pembangunan nasional.
Visi Besar dan Misi Kemandirian
MUI bergerak dengan visi besar untuk mewujudkan tatanan kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan yang diberkahi—sebuah cita-cita akan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Kami bermimpi tentang Indonesia yang tidak hanya adil dan makmur secara materi, tetapi juga memperoleh rida dan ampunan Allah SWT.
Untuk mencapai hal tersebut, MUI menjalankan misi suci dalam menggerakkan kepemimpinan umat secara efektif. Kami hadir untuk membina umat Islam dengan menanamkan fondasi akidah yang kokoh, syariah yang terjaga, serta akhlak mulia sebagai identitas bangsa.
Lima Pilar Pengabdian (Khitah)
Dalam setiap napas pengabdiannya, MUI memegang teguh lima peran kunci yang menjadi pedoman arah perjuangan:
Warasatul Anbiya (Pewaris Nabi): Menjadi garda terdepan dalam meneruskan tugas mulia para nabi untuk menyebarkan risalah Islam yang menyejukkan.
Mufti (Pemberi Fatwa): Menjadi rujukan hukum keagamaan yang otoritatif, memberikan fatwa dan nasihat bagi umat serta pemerintah demi maslahat bersama.
Khadim al-Ummah (Pelayan Umat): Menempatkan diri sebagai pembimbing yang mendengar dan memperjuangkan aspirasi umat Islam di seluruh penjuru negeri.
Al-Tajdid (Pelopor Pembaruan): Menjadi motor penggerak pemikiran Islam yang dinamis, melakukan pemurnian ajaran agar tetap relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Amar Makruf Nahi Munkar: Berdiri tegak sebagai penegak kebaikan dan pencegah kemunkaran, memastikan nilai-nilai kebajikan tetap menjadi ruh dalam kehidupan berbangsa.
Hingga hari ini, MUI terus berkomitmen menjadi pelita yang menjaga moralitas bangsa dan memastikan nilai-nilai keislaman serta kebangsaan berjalan beriringan demi kejayaan Indonesia.