Lewati ke konten utama
Senin, 6 Juli 2026 / 20 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Antara Istiqamah dan Ketergantungan Hati

10 menit baca 2.514 dibaca
Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Oleh: Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Antara Istiqamah dan Ketergantungan Hati
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ramadhan telah berlalu. Seiring dengan hal itu, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan: Apakah yang pergi itu Ramadhan ataukah hati kita yang perlahan ikut menjauh?

Selepas Ramadhan, suasana batin seorang mukmin sering kali berubah secara perlahan namun pasti. Yang sebelumnya terasa hangat, kini mulai dingin dan serasa merenggang. Yang dulu ringan, kini terasa berat.

Tilawah yang dulu mengalir bak air, kini tersendat seperti jalur Puncak Bogor di musim padat. Qiyamullail yang dulu penuh air mata, kini perlahan tergantikan oleh kantuk, rasa malas, dan kelelahan. Lalu dalam diam, muncul satu kegelisahan yang sulit diungkapkan: Apakah aku sedang mundur?

Mungkin pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh inti terdalam perjalanan spiritual manusia. Sebab yang sedang diuji bukan sekadar konsistensi amal, tetapi struktur ketergantungan hati (i‘timad al-qalb).

Baca juga: Setelah Ramadhan Berlalu, Apakah Jiwa Kita Berubah?

Apakah kita selama ini benar-benar berjalan menuju Allah ataukah diam-diam berjalan menuju rasa puas terhadap diri sendiri karena amal yang telah kita lakukan?

Ketika Amal Menjadi Sandaran yang Rapuh

Di sinilah hikmah pertama Imam Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam al-‘Atha’iyyah hadir sebagai penjernih yang tajam:

مِنْ عَلَامَةِ الاِعْتِمَادِ عَلَى العَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ

“Di antara tanda bersandar kepada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan.”

Kalimat ini, jika direnungkan dengan jujur, membuka banyak rahasia dalam diri kita. Mengapa ketika kita jatuh, kita merasa jauh? Mengapa ketika kita berdosa, kita merasa tidak layak kembali? Mengapa ketika amal berkurang, kita merasa seolah seluruh jalan telah tertutup?

Jawabannya sederhana namun sangat mendasar: karena kita telah menjadikan amal sebagai sandaran, bukan Allah.

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Tetap Istiqamah dalam Kebaikan Meski Ramadhan Telah Usai

Syekh Aḥmad ibn ‘Ajibah dalam Iqadh al-Himam fi Syarh al-Hikam menjelaskan bahwa orang yang bersandar kepada amal akan menjadikan amal sebagai sumber harapannya.

Ketika amal itu retak, harapan pun ikut runtuh. Ia seperti seseorang yang berdiri di atas sesuatu yang rapuh, sekali goyah, seluruh dirinya kehilangan keseimbangan.

Sebaliknya, orang yang bersandar kepada Allah tidak pernah benar-benar jatuh. Ia mungkin tergelincir dalam amal, melemah dalam ibadah, tetapi tidak tergelincir dalam harapan.

Bahkan sering kali, justru setelah jatuh itulah ia merasakan kedekatan yang lebih jujur kepada Allah. Karena ia sadar bahwa yang ia butuhkan bukan hanya amal, tetapi rahmat-Nya.

Paradoks Spiritual: Ketika Dosa Menyelamatkan, Amal Membinasakan

Para ulama salaf memahami hakikat ini dengan sangat dalam. Disebutkan dalam sebuah riwayat: “Seorang hamba melakukan dosa, lalu ia masuk surga karenanya. Dan seorang melakukan kebaikan, lalu ia masuk neraka karenanya.”

Ketika ditanya bagaimana hal itu bisa terjadi, mereka menjawab:

“Ia melakukan dosa, lalu dosa itu selalu di hadapannya, ia menangis, menyesal, merendah, dan kembali kepada Allah. Maka dosa itu menjadi sebab keselamatannya. Sedangkan yang satunya melakukan kebaikan, lalu ia merasa bangga, ujub, dan melihat dirinya lebih baik. Maka amal itu menjadi sebab kebinasaannya.”

Inilah paradoks spiritual yang tidak dipahami oleh logika biasa. Dalam dunia materi, keberhasilan selalu lebih baik daripada kegagalan. Namun, dalam dunia ruh, yang menyelamatkan bukan hasil, melainkan keadaan hati.

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Spirit Ramadhan untuk Membangun Bangsa

Diriwayatkan bahwa Sufyan as-Tsauri berkata bahwa tangisan seorang pendosa lebih aku sukai daripada kesombongan seorang ahli ibadah. Pernyataan ini bukan merendahkan ibadah, tetapi mengingatkan bahwa ibadah tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi hijab yang halus yang justru menjauhkan seorang hamba dari Allah tanpa ia sadari.

Seruan Allah untuk yang Merasa Jauh

Kesadaran ini ditegaskan secara sangat kuat dalam Alquran:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

Artinya: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa.” (QS. Az-Zumar: 53)

Perhatikan dengan saksama bagaimana Allah memulai ayat ini. Dia tidak memanggil al-mu’minin (orang yang beriman) atau al-muthi‘in (orang yang taat), tidak pula mendahului seruan ini dengan nada murka, penolakan dan ancaman.

Sebaliknya, Dia memanggil mereka dengan sebutan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang “ya ‘ibadi” (wahai hamba-hamba-Ku), bahkan kepada mereka yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri.

Dalam perspektif manusia, mungkin merekalah yang paling jauh. Namun, dalam perspektif Allah, justru merekalah yang lebih dahulu dipanggil. Panggilan hangat sebagai pembukaan jalan pulang.

Imam Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat ini termasuk awsa‘ ayat al-raja’, atau ayat paling luas dalam membuka harapan.

Keumuman lafaz “يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا” (Allah mengampuni seluruh dosa) menunjukkan bahwa seluruh dosa berada dalam cakupan ampunan Allah selama hamba tidak menutup pintu itu dengan keputusasaan.

Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Quran menegaskan bahwa larangan “لَا تَقْنَطُوا” (janganlah kalian berputus asa) menunjukkan bahwa berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, karena ia merupakan bentuk su’ al-dhann billah (buruk sangka kepada Allah).

Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menggarisbawahi bahwa putus asa adalah tanda lemahnya ma‘rifat. Sedangkan Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa ayat ini adalah panggilan penuh kasih (nida’ rahmah), bukan sekadar larangan, tetapi ajakan untuk kembali.

Baca juga: Memaafkan dan Silaturahim: Spirit Ramadan dalam Perspektif Akhlak dan Fikih Sosial

 Ayat ini mengajarkan kepada kita satu prinsip agung dalam perjalanan ruhani, bahwa tidak ada dosa yang mampu mengalahkan rahmat Allah, kecuali ketika seorang hamba berhenti berharap kepada-Nya. Dan selama harapan itu masih ada, maka pintu itu belum pernah benar-benar tertutup.

Pada titik ini, kita mulai memahami bahwa masalah utama pasca Ramadhan bukan sekadar menurunnya grafik amal ibadah, tetapi kekeliruan dalam memahami korelasi antara amal dan rahmat Allah.

Di sini kita memahami satu prinsip besar: bukan dosa yang paling berbahaya, akan tetapi putus asa.

Amal kita dan Rahmat Allah: Meluruskan Cara Pandang

Kesalahpahaman ini diluruskan secara tegas oleh Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ

Artinya: “Tidak ada seorang pun yang akan dimasukkan ke dalam surga karena amalnya.” Para sahabat bertanya, ‘Termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Termasuk aku, kecuali jika Allah meliputiku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini adalah revolusi dalam cara berpikir spiritual. Ia menghancurkan asumsi paling mendasar manusia: bahwa keselamatan adalah hasil dari usaha, akumulasi amal, dan prestasi ibadahnya.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa amal tidak mungkin sebanding dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepada manusia sejak ia diciptakan.

Baca juga: Mengetuk Pintu Langit: Muhasabah dan Ikhtiar Menjaga Ibu Pertiwi

Bagaimana mungkin sesuatu yang terbatas menjadi harga bagi sesuatu yang tidak terbatas? Oleh karena itu, surga tidak pernah diberikan sebagai kompensasi, tetapi sebagai karunia.

Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menambahkan bahwa amal tetap penting, tetapi posisinya bukan sebagai penyebab hakiki, melainkan sebagai sebab lahiriah. Ia seperti pintu yang diketuk, tetapi yang membukakan adalah Allah.

Di sinilah keseimbangan antara usaha dan ketergantungan menemukan bentuknya yang paling murni. Amal tidak ditinggalkan, tetapi tidak dijadikan sandaran. Harapan tidak diletakkan pada diri, tetapi pada Allah.

Inilah inti pendidikan ruhani Islam, yaitu membina manusia agar aktif dalam ketaatan, tetapi kosong dari rasa memiliki; giat dalam ibadah, tetapi tidak mabuk oleh prestasinya sendiri.

Jika ditarik ke dalam kerangka maqashid as-syari‘ah, hikmah ini memiliki makna yang sangat luas. Syariat tidak pernah dimaksudkan sekadar untuk memperbanyak gerakan lahiriah, tetapi untuk menjaga agama dalam makna yang paling dalam: menjaga hubungan hamba dengan Allah, menjaga hati dari penyimpangan, dan menjaga jiwa dari kehancuran akibat salah sandaran.

Dalam konteks ini, ibadah-ibadah Ramadhan sesungguhnya bukan hanya latihan amal, tetapi latihan takhalli dan tahalli: mengosongkan hati dari ketergantungan palsu, lalu mengisinya dengan tauhid, harap, khauf, taubat, dan tawakal.

Maka ketika pasca Ramadhan seseorang diuji dengan penurunan semangat, bisa jadi itu bukan tanda penolakan, melainkan bagian dari pendidikan ilahi agar ia naik dari sekadar menikmati ibadah menuju mengenal Rabb yang disembah dalam ibadah itu.

Dalam konteks pendidikan jiwa (tazkiyah an-nafs), Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin menegaskan bahwa orang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan bersandar kepada amalnya. Ia melihat ketaatan sebagai karunia, bukan prestasi. Ia tidak bangga ketika taat, dan tidak putus asa ketika jatuh. Sebab fokusnya bukan pada dirinya, tetapi pada Allah yang membolak-balikkan hati.

Di sini, kita juga menemukan satu pelajaran penting dari kehidupan para ulama salaf. Diriwayatkan bahwa mereka selama enam bulan setelah Ramadhan masih terus berdoa agar amal Ramadhan mereka diterima, dan enam bulan berikutnya berdoa agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan.

Baca juga: Hikmah Ramadhan, Kiai Cholil: Menanam Tanaman adalah Ibadah hingga Hari Kiamat

Perihal yang mereka pikirkan bukan semata banyaknya amal yang telah dikerjakan, tetapi apakah amal itu diterima, apakah hati mereka tetap hidup, dan apakah Allah masih berkenan menarik mereka ke pintu ketaatan.

Ini menunjukkan bahwa orang-orang saleh terdahulu tidak pernah merasa aman dengan amalnya sendiri. Justru semakin tinggi amal, semakin besar rasa takutnya; semakin banyak ibadah, semakin kuat pengharapannya kepada rahmat Allah.

Dalam dunia modern, pendekatan ini memiliki kemiripan tertentu dengan konsep growth mindset yang dikembangkan oleh Carol Dweck. Ia menjelaskan bahwa individu yang sehat secara psikologis tidak melihat kegagalan sebagai identitas, tetapi sebagai proses.

Namun Islam melampaui itu. Kegagalan dalam Islam bukan hanya ruang belajar, tetapi pintu kembali kepada Allah. Di sinilah letak keistimewaannya: ia tidak berhenti pada kesehatan mental, tetapi naik menjadi kesehatan ruhani.

Maka seorang mukmin yang matang secara spiritual tidak akan runtuh hanya karena satu kesalahan. Ia tidak mengukur dirinya dari performa sesaat, tetapi dari “trajektori suluk” menuju Allah yakni niat awal, cara pandang, dan arah perjalanan.

Kadang ia naik, kadang ia turun. Kadang ia kuat, kadang ia lemah. Namun selama arah hatinya masih kepada Allah, dan selama ia tidak putus dari harapan, maka ia belum keluar dari jalan.

Di sinilah keseimbangan itu menjadi jelas: amal tetap dikerjakan, tetapi tidak dijadikan sandaran; harapan tetap dijaga, tetapi tidak diletakkan pada diri.

Istiqamah: Bergantung, Bukan Sekadar Bertahan

Dalam konteks inilah makna istiqamah mengalami redefinisi yang mendalam. Ia bukan lagi sekadar konsistensi dalam amal, tetapi konsistensi dalam bergantung kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

“Dan tidaklah keberhasilanku melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)

Imam at-Thabari dalam Jami‘ al-Bayan menjelaskan bahwa taufik adalah kemampuan melakukan kebaikan yang Allah ciptakan dalam diri hamba.

Artinya, bahkan kemampuan untuk beramal pun bukan milik kita. Kita hanya menjalani, tetapi Allah yang memberi daya. Kita hanya mengetuk, tetapi Allah yang membuka. Kita hanya melangkah, tetapi Allah yang meneguhkan.

Maka jika suatu hari kita mampu bangun malam, itu bukan karena kita kuat, tetapi karena Allah membangunkan kita.

Jika suatu hari kita mampu menangis dalam doa, itu bukan karena hati kita lembut dengan sendirinya, tetapi karena Allah melembutkannya.

Dan jika suatu hari kita tidak mampu melakukan semua itu, maka yang hilang bukan sekadar amal, tetapi mungkin kita sedang diuji untuk menemukan kembali Allah sebagai sandaran.

Baca juga: Khutbah: Takwa dan Kepedulian Sosial

Kondisi diri seorang hamba pasca Ramadhan menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Sebab momentum ini bukan sekadar fase turunnya “grafik ibadah”, tetapi masa evaluasi yang paling jujur.

Tidak bisa dipungkiri, pada bulan Ramadhan, suasana kolektif mendukung kita: masjid hidup, ayat-ayat menggema, lingkungan mendorong, dan waktu seperti ikut menjadi saksi bagi kebaikan.

Lalu setelah Ramadhan, yang tersisa adalah siapa diri kita sebenarnya ketika suasana itu berkurang. Pertanyaannya kemudian adalah: Apakah kita tetap mencari Allah, ataukah ternyata selama ini kita lebih menikmati suasananya daripada Rabb-nya?

Yakinlah bahwa Allah Selalu Ada Membersamai Kita

Barangkali inilah pelajaran terbesar dari perjalanan pasca Ramadhan: bahwa kita tidak dituntut untuk selalu kuat, tetapi dituntut untuk selalu kembali (mina al ‘aidin).

Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan prestasi, tetapi perjalanan tauhid, pergeseran arah hati, dari rasa mampu menuju kesadaran akan ketergantungan hanya kepada-Nya.

Dan karena itu pula Allah memperkenalkan Diri-Nya sebagai Ash-Shamad, tempat bergantung segala makhluk, Dzat yang dibutuhkan oleh semuanya, tetapi tidak membutuhkan siapa pun. Kepada-Nya seluruh doa naik, kepada-Nya seluruh harapan tertuju, dan kepada-Nya seluruh kegelisahan seharusnya bermuara.

Mungkin saja dalam momen-momen ketika kita merasa paling lemah, paling jauh, dan paling tidak layak, di situlah kita sedang diajarkan satu hakikat paling jujur bahwa kita tidak pernah benar-benar kuat.

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Antara Identitas Keislaman dan Komitmen terhadap Syariat

Di situlah Allah sedang membersihkan kita dari satu penyakit paling halus yaitu merasa bisa tanpa-Nya padahal sejatinya kita hanya ditolong dan dibimbing Allah. La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim. Tidak ada daya untuk taat dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pertolongan-Nya.

Maka selama kita masih mau kembali, selama kita masih berusaha gigih melakukan yang terbaik semata karena Allah, selama kita masih berharap, selama itu pula jalan ini tidak akan pernah tertutup. Sebab yang menyelamatkan kita bukan amal kita, tetapi Allah.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.