Antara Istiqamah dan Ketergantungan Hati
Oleh: Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ramadhan telah berlalu. Seiring dengan hal itu, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan: Apakah yang pergi itu Ramadhan ataukah hati kita yang perlahan ikut menjauh?
Selepas Ramadhan,
suasana batin seorang mukmin sering kali berubah secara perlahan namun pasti.
Yang sebelumnya terasa hangat, kini mulai dingin dan serasa merenggang. Yang
dulu ringan, kini terasa berat.
Tilawah yang dulu
mengalir bak air, kini tersendat seperti jalur Puncak Bogor di musim padat. Qiyamullail
yang dulu penuh air mata, kini perlahan tergantikan oleh kantuk, rasa malas,
dan kelelahan. Lalu dalam diam, muncul satu kegelisahan yang sulit diungkapkan:
Apakah aku sedang mundur?
Mungkin pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh inti terdalam perjalanan spiritual manusia. Sebab yang sedang diuji bukan sekadar konsistensi amal, tetapi struktur ketergantungan hati (i‘timad al-qalb).
Baca juga: Setelah Ramadhan Berlalu, Apakah Jiwa Kita Berubah?
Apakah kita selama ini
benar-benar berjalan menuju Allah ataukah diam-diam berjalan menuju rasa puas
terhadap diri sendiri karena amal yang telah kita lakukan?
Ketika Amal Menjadi
Sandaran yang Rapuh
Di sinilah hikmah
pertama Imam Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Al-Hikam al-‘Atha’iyyah
hadir sebagai penjernih yang tajam:
مِنْ
عَلَامَةِ الاِعْتِمَادِ عَلَى العَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ
الزَّلَلِ
“Di antara tanda
bersandar kepada amal adalah berkurangnya harapan ketika terjadi kesalahan.”
Kalimat ini, jika
direnungkan dengan jujur, membuka banyak rahasia dalam diri kita. Mengapa
ketika kita jatuh, kita merasa jauh? Mengapa ketika kita berdosa, kita merasa
tidak layak kembali? Mengapa ketika amal berkurang, kita merasa seolah seluruh
jalan telah tertutup?
Jawabannya sederhana namun sangat mendasar: karena kita telah menjadikan amal sebagai sandaran, bukan Allah.
Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Tetap Istiqamah dalam Kebaikan Meski Ramadhan Telah Usai
Syekh Aḥmad ibn ‘Ajibah dalam Iqadh al-Himam fi Syarh al-Hikam menjelaskan bahwa orang yang bersandar kepada amal akan menjadikan amal sebagai sumber harapannya.
Ketika amal itu retak,
harapan pun ikut runtuh. Ia seperti seseorang yang berdiri di atas sesuatu yang
rapuh, sekali goyah, seluruh dirinya kehilangan keseimbangan.
Sebaliknya, orang yang
bersandar kepada Allah tidak pernah benar-benar jatuh. Ia mungkin tergelincir
dalam amal, melemah dalam ibadah, tetapi tidak tergelincir dalam harapan.
Bahkan sering kali,
justru setelah jatuh itulah ia merasakan kedekatan yang lebih jujur kepada
Allah. Karena ia sadar bahwa yang ia butuhkan bukan hanya amal, tetapi
rahmat-Nya.
Paradoks Spiritual:
Ketika Dosa Menyelamatkan, Amal Membinasakan
Para ulama salaf
memahami hakikat ini dengan sangat dalam. Disebutkan dalam sebuah riwayat: “Seorang
hamba melakukan dosa, lalu ia masuk surga karenanya. Dan seorang melakukan
kebaikan, lalu ia masuk neraka karenanya.”
Ketika ditanya
bagaimana hal itu bisa terjadi, mereka menjawab:
“Ia melakukan dosa,
lalu dosa itu selalu di hadapannya, ia menangis, menyesal, merendah, dan
kembali kepada Allah. Maka dosa itu menjadi sebab keselamatannya. Sedangkan
yang satunya melakukan kebaikan, lalu ia merasa bangga, ujub, dan melihat
dirinya lebih baik. Maka amal itu menjadi sebab kebinasaannya.”
Inilah paradoks spiritual yang tidak dipahami oleh logika biasa. Dalam dunia materi, keberhasilan selalu lebih baik daripada kegagalan. Namun, dalam dunia ruh, yang menyelamatkan bukan hasil, melainkan keadaan hati.
Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Spirit Ramadhan untuk Membangun Bangsa
Diriwayatkan bahwa Sufyan as-Tsauri berkata bahwa tangisan seorang pendosa lebih aku sukai daripada kesombongan seorang ahli ibadah. Pernyataan ini bukan merendahkan ibadah, tetapi mengingatkan bahwa ibadah tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi hijab yang halus yang justru menjauhkan seorang hamba dari Allah tanpa ia sadari.
Seruan Allah untuk
yang Merasa Jauh
Kesadaran ini
ditegaskan secara sangat kuat dalam Alquran:
قُلْ
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ
رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
Artinya: “Katakanlah:
Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
seluruh dosa.” (QS. Az-Zumar: 53)
Perhatikan dengan
saksama bagaimana Allah memulai ayat ini. Dia tidak memanggil al-mu’minin (orang
yang beriman) atau al-muthi‘in (orang yang taat), tidak pula mendahului
seruan ini dengan nada murka, penolakan dan ancaman.
Sebaliknya, Dia
memanggil mereka dengan sebutan yang sangat lembut dan penuh kasih sayang “ya
‘ibadi” (wahai hamba-hamba-Ku), bahkan kepada mereka yang telah melampaui
batas terhadap diri mereka sendiri.
Dalam perspektif
manusia, mungkin merekalah yang paling jauh. Namun, dalam perspektif Allah,
justru merekalah yang lebih dahulu dipanggil. Panggilan hangat sebagai pembukaan
jalan pulang.
Imam Fakhruddin al-Razi
dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat ini termasuk awsa‘ ayat
al-raja’, atau ayat paling luas dalam membuka harapan.
Keumuman lafaz “يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا” (Allah
mengampuni seluruh dosa) menunjukkan bahwa seluruh dosa berada dalam cakupan
ampunan Allah selama hamba tidak menutup pintu itu dengan keputusasaan.
Imam al-Qurthubi dalam
Al-Jami‘ li Ahkam al-Quran menegaskan bahwa larangan “لَا تَقْنَطُوا” (janganlah kalian berputus asa) menunjukkan
bahwa berputus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar, karena ia merupakan
bentuk su’ al-dhann billah (buruk sangka kepada Allah).
Buya Hamka dalam Tafsir
al-Azhar menggarisbawahi bahwa putus asa adalah tanda lemahnya ma‘rifat.
Sedangkan Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa
ayat ini adalah panggilan penuh kasih (nida’ rahmah), bukan sekadar
larangan, tetapi ajakan untuk kembali.
Baca juga: Memaafkan dan Silaturahim: Spirit Ramadan dalam Perspektif Akhlak dan Fikih Sosial
Pada titik ini, kita
mulai memahami bahwa masalah utama pasca Ramadhan bukan sekadar menurunnya
grafik amal ibadah, tetapi kekeliruan dalam memahami korelasi antara amal dan
rahmat Allah.
Di sini kita memahami
satu prinsip besar: bukan dosa yang paling berbahaya, akan tetapi putus asa.
Amal kita dan
Rahmat Allah: Meluruskan Cara Pandang
Kesalahpahaman ini
diluruskan secara tegas oleh Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan dalam
Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:
لَنْ
يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ
مِنْهُ وَفَضْلٍ
Artinya: “Tidak ada
seorang pun yang akan dimasukkan ke dalam surga karena amalnya.” Para sahabat
bertanya, ‘Termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Termasuk
aku, kecuali jika Allah meliputiku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.’” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Hadis ini adalah
revolusi dalam cara berpikir spiritual. Ia menghancurkan asumsi paling mendasar
manusia: bahwa keselamatan adalah hasil dari usaha, akumulasi amal, dan prestasi
ibadahnya.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa amal tidak mungkin sebanding dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepada manusia sejak ia diciptakan.
Baca juga: Mengetuk Pintu Langit: Muhasabah dan Ikhtiar Menjaga Ibu Pertiwi
Bagaimana mungkin
sesuatu yang terbatas menjadi harga bagi sesuatu yang tidak terbatas? Oleh
karena itu, surga tidak pernah diberikan sebagai kompensasi, tetapi sebagai
karunia.
Ibn Hajar al-‘Asqalani
dalam Fath al-Bari menambahkan bahwa amal tetap penting, tetapi
posisinya bukan sebagai penyebab hakiki, melainkan sebagai sebab lahiriah. Ia seperti
pintu yang diketuk, tetapi yang membukakan adalah Allah.
Di sinilah
keseimbangan antara usaha dan ketergantungan menemukan bentuknya yang paling
murni. Amal tidak ditinggalkan, tetapi tidak dijadikan sandaran. Harapan tidak
diletakkan pada diri, tetapi pada Allah.
Inilah inti pendidikan
ruhani Islam, yaitu membina manusia agar aktif dalam ketaatan, tetapi kosong
dari rasa memiliki; giat dalam ibadah, tetapi tidak mabuk oleh prestasinya
sendiri.
Jika ditarik ke dalam
kerangka maqashid as-syari‘ah, hikmah ini memiliki makna yang sangat
luas. Syariat tidak pernah dimaksudkan sekadar untuk memperbanyak gerakan
lahiriah, tetapi untuk menjaga agama dalam makna yang paling dalam: menjaga
hubungan hamba dengan Allah, menjaga hati dari penyimpangan, dan menjaga jiwa
dari kehancuran akibat salah sandaran.
Dalam konteks ini,
ibadah-ibadah Ramadhan sesungguhnya bukan hanya latihan amal, tetapi latihan takhalli
dan tahalli: mengosongkan hati dari ketergantungan palsu, lalu
mengisinya dengan tauhid, harap, khauf, taubat, dan tawakal.
Maka ketika pasca
Ramadhan seseorang diuji dengan penurunan semangat, bisa jadi itu bukan tanda
penolakan, melainkan bagian dari pendidikan ilahi agar ia naik dari sekadar
menikmati ibadah menuju mengenal Rabb yang disembah dalam ibadah itu.
Dalam konteks
pendidikan jiwa (tazkiyah an-nafs), Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin
menegaskan bahwa orang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan bersandar
kepada amalnya. Ia melihat ketaatan sebagai karunia, bukan prestasi. Ia tidak
bangga ketika taat, dan tidak putus asa ketika jatuh. Sebab fokusnya bukan pada
dirinya, tetapi pada Allah yang membolak-balikkan hati.
Di sini, kita juga menemukan satu pelajaran penting dari kehidupan para ulama salaf. Diriwayatkan bahwa mereka selama enam bulan setelah Ramadhan masih terus berdoa agar amal Ramadhan mereka diterima, dan enam bulan berikutnya berdoa agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan.
Baca juga: Hikmah Ramadhan, Kiai Cholil: Menanam Tanaman adalah Ibadah hingga Hari Kiamat
Perihal yang mereka
pikirkan bukan semata banyaknya amal yang telah dikerjakan, tetapi apakah amal
itu diterima, apakah hati mereka tetap hidup, dan apakah Allah masih berkenan
menarik mereka ke pintu ketaatan.
Ini menunjukkan bahwa
orang-orang saleh terdahulu tidak pernah merasa aman dengan amalnya sendiri.
Justru semakin tinggi amal, semakin besar rasa takutnya; semakin banyak ibadah,
semakin kuat pengharapannya kepada rahmat Allah.
Dalam dunia modern,
pendekatan ini memiliki kemiripan tertentu dengan konsep growth mindset
yang dikembangkan oleh Carol Dweck. Ia menjelaskan bahwa individu yang sehat
secara psikologis tidak melihat kegagalan sebagai identitas, tetapi sebagai
proses.
Namun Islam melampaui
itu. Kegagalan dalam Islam bukan hanya ruang belajar, tetapi pintu kembali
kepada Allah. Di sinilah letak keistimewaannya: ia tidak berhenti pada
kesehatan mental, tetapi naik menjadi kesehatan ruhani.
Maka seorang mukmin
yang matang secara spiritual tidak akan runtuh hanya karena satu kesalahan. Ia
tidak mengukur dirinya dari performa sesaat, tetapi dari “trajektori suluk”
menuju Allah yakni niat awal, cara pandang, dan arah perjalanan.
Kadang ia naik, kadang
ia turun. Kadang ia kuat, kadang ia lemah. Namun selama arah hatinya masih
kepada Allah, dan selama ia tidak putus dari harapan, maka ia belum keluar dari
jalan.
Di sinilah
keseimbangan itu menjadi jelas: amal tetap dikerjakan, tetapi tidak dijadikan
sandaran; harapan tetap dijaga, tetapi tidak diletakkan pada diri.
Istiqamah:
Bergantung, Bukan Sekadar Bertahan
Dalam konteks inilah
makna istiqamah mengalami redefinisi yang mendalam. Ia bukan lagi sekadar
konsistensi dalam amal, tetapi konsistensi dalam bergantung kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
وَمَا
تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ
“Dan tidaklah
keberhasilanku melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)
Imam at-Thabari dalam Jami‘
al-Bayan menjelaskan bahwa taufik adalah kemampuan melakukan kebaikan yang
Allah ciptakan dalam diri hamba.
Artinya, bahkan
kemampuan untuk beramal pun bukan milik kita. Kita hanya menjalani, tetapi
Allah yang memberi daya. Kita hanya mengetuk, tetapi Allah yang membuka. Kita
hanya melangkah, tetapi Allah yang meneguhkan.
Maka jika suatu hari
kita mampu bangun malam, itu bukan karena kita kuat, tetapi karena Allah
membangunkan kita.
Jika suatu hari kita
mampu menangis dalam doa, itu bukan karena hati kita lembut dengan sendirinya,
tetapi karena Allah melembutkannya.
Dan jika suatu hari kita tidak mampu melakukan semua itu, maka yang hilang bukan sekadar amal, tetapi mungkin kita sedang diuji untuk menemukan kembali Allah sebagai sandaran.
Baca juga: Khutbah: Takwa dan Kepedulian Sosial
Kondisi diri seorang hamba pasca Ramadhan menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Sebab momentum ini bukan sekadar fase turunnya “grafik ibadah”, tetapi masa evaluasi yang paling jujur.
Tidak bisa dipungkiri,
pada bulan Ramadhan, suasana kolektif mendukung kita: masjid hidup, ayat-ayat
menggema, lingkungan mendorong, dan waktu seperti ikut menjadi saksi bagi
kebaikan.
Lalu setelah Ramadhan,
yang tersisa adalah siapa diri kita sebenarnya ketika suasana itu berkurang. Pertanyaannya
kemudian adalah: Apakah kita tetap mencari Allah, ataukah ternyata selama ini
kita lebih menikmati suasananya daripada Rabb-nya?
Yakinlah bahwa Allah
Selalu Ada Membersamai Kita
Barangkali inilah
pelajaran terbesar dari perjalanan pasca Ramadhan: bahwa kita tidak dituntut
untuk selalu kuat, tetapi dituntut untuk selalu kembali (mina al ‘aidin).
Pada akhirnya,
perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan prestasi, tetapi perjalanan tauhid,
pergeseran arah hati, dari rasa mampu menuju kesadaran akan ketergantungan
hanya kepada-Nya.
Dan karena itu pula
Allah memperkenalkan Diri-Nya sebagai Ash-Shamad, tempat bergantung
segala makhluk, Dzat yang dibutuhkan oleh semuanya, tetapi tidak membutuhkan
siapa pun. Kepada-Nya seluruh doa naik, kepada-Nya seluruh harapan tertuju, dan
kepada-Nya seluruh kegelisahan seharusnya bermuara.
Mungkin saja dalam momen-momen ketika kita merasa paling lemah, paling jauh, dan paling tidak layak, di situlah kita sedang diajarkan satu hakikat paling jujur bahwa kita tidak pernah benar-benar kuat.
Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Antara Identitas Keislaman dan Komitmen terhadap Syariat
Di situlah Allah
sedang membersihkan kita dari satu penyakit paling halus yaitu merasa bisa
tanpa-Nya padahal sejatinya kita hanya ditolong dan dibimbing Allah. La haula
wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim. Tidak ada daya untuk taat dan
tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pertolongan-Nya.
Maka selama kita masih mau kembali, selama kita masih berusaha gigih melakukan yang terbaik semata karena Allah, selama kita masih berharap, selama itu pula jalan ini tidak akan pernah tertutup. Sebab yang menyelamatkan kita bukan amal kita, tetapi Allah.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.