Setelah Ramadhan Berlalu, Apakah Jiwa Kita Berubah?
Oleh: Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Setiap tahun Ramadhan datang dengan membawa suasana spiritual yang khas dalam kehidupan umat Islam. Selama sebulan penuh, ritme kehidupan banyak orang berubah. Masjid-masjid menjadi lebih hidup, tilawah Alquran terdengar lebih sering, sedekah meningkat, dan banyak orang yang berusaha memperbaiki hubungan dengan Allah.
Ramadhan selalu datang disambut dengan gegap gempita, namun pergi dengan cara senyap. Ia hadir selama sebulan penuh, kemudian berlalu tanpa pengumuman yang panjang. Ketika ia benar-benar pergi, barulah banyak orang menyadari bahwa satu musim spiritual yang sangat berharga itu telah berakhir; momen terindah itu telah pergi menjauh.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Dalam situasi seperti ini, muncul satu pertanyaan penting yang seharusnya menjadi bahan refleksi setiap muslim: Apakah Ramadhan benar-benar meninggalkan perubahan dalam diri kita?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar refleksi emosional. Ini jelas menyentuh inti tujuan ibadah dalam Islam. Sebab dalam perspektif Alquran, ibadah tidak hanya dimaksudkan sebagai ritual yang bersifat temporer, tetapi sebagai sarana transformasi spiritual manusia.
Ramadhan sebagai Madrasah Tazkiyatun Nafs
Alquran menjelaskan dengan jelas tujuan dari ibadah puasa. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ