Ketika Dolar Naik dan Hati Ikut Panik
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Di tengah kompleksitas problem global hari ini, manusia hidup dalam tekanan ekonomi yang tidak ringan. Nilai tukar dolar menguat di banyak negara berkembang. Harga kebutuhan pokok naik. Biaya pendidikan meningkat. Cicilan terasa semakin berat. Lapangan kerja semakin kompetitif.
Di media sosial, kemewahan dipertontonkan tanpa jeda, sementara di balik layar banyak orang diam-diam memikul kecemasan finansial, kelelahan mental, dan kegelisahan hidup.
Baca juga: Jaminan Petunjuk Allah bagi Pendakwah
Bank Indonesia melalui
kurs JISDOR pada Mei 2026 mencatat rupiah sempat berada di kisaran Rp17.700 per
dolar AS. Angka itu mungkin terlihat sebagai statistik ekonomi biasa, tetapi
dampaknya terasa langsung di dapur masyarakat: harga barang impor naik, biaya
produksi meningkat, usaha kecil tertekan, dan daya beli masyarakat melemah.
Namun yang menarik,
problem terbesar manusia hari ini ternyata bukan hanya tekanan ekonomi, tetapi
juga tekanan psikologis dan spiritual.
Kita hidup di zaman
ketika manusia memiliki lebih banyak fasilitas dibanding generasi mana pun
sebelumnya, tetapi justru semakin sulit menemukan ketenangan.
Teknologi mempercepat
hidup manusia, tetapi tidak selalu memperdalam makna hidupnya. Dunia makin
terkoneksi, namun hati manusia justru semakin mudah merasa sepi, rapuh, dan
kehilangan arah.
Psikolog sosial Jonathan Haidt menjelaskan bahwa manusia modern mengalami krisis makna akibat budaya materialisme, kompetisi sosial digital, dan hilangnya kedalaman relasi spiritual. Manusia modern sangat sibuk mengejar pencapaian, tetapi sering kehilangan kemampuan menikmati kehidupan itu sendiri.
Baca juga: Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah yang Istimewa
Berbagai riset modern
memperlihatkan kenyataan yang serupa. Daniel Kahneman bersama Matthew
Killingsworth dan Barbara Mellers dalam penelitian tahun 2023 menunjukkan bahwa
pendapatan memang berkaitan dengan meningkatnya kebahagiaan pada sebagian besar
orang.
Namun demikian,
penelitian itu juga menegaskan bahwa tambahan uang tidak otomatis menghilangkan
kekosongan jiwa dan penderitaan psikologis. Artinya, uang dapat membantu
mengurangi sebagian tekanan hidup, tetapi tidak selalu mampu menghadirkan
ketenangan batin.
Gallup dalam State
of the World’s Emotional Health Report 2024 mencatat bahwa tingkat stres
dan kecemasan global masih sangat tinggi. Banyak manusia hari ini hidup lebih
nyaman secara materi, tetapi lebih rapuh secara emosi.
Dalam konteks tekanan
finansial, studi Ryu dan Fan tahun 2022 dalam Journal of Family and Economic
Issues menemukan hubungan kuat antara kecemasan finansial dan tekanan
psikologis. Semakin besar kekhawatiran seseorang terhadap uang, semakin tinggi
pula distress mental yang dialaminya.
Karena itu, problem ekonomi hari ini bukan lagi sekadar soal angka dan statistik, tetapi juga menyangkut kualitas tidur, stabilitas emosi, keharmonisan keluarga, bahkan kesehatan spiritual manusia.
Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Di Indonesia,
persoalan ini semakin penting dibaca dengan jernih. OJK dan BPS melalui SNLIK
2024 mencatat bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru sekitar
65,43 persen. Ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih menghadapi
tantangan dalam memahami pengelolaan keuangan secara sehat, bijak, dan
produktif.
Pada dasarnya Islam
tidak pernah mengajarkan sikap anti terhadap kekayaan. Islam justru mendorong
kerja keras, produktivitas, tanggung jawab finansial, dan kemandirian ekonomi.
Banyak sahabat Nabi
SAW merupakan pengusaha sukses dan memiliki kekuatan ekonomi yang besar. Namun,
Islam juga mengingatkan bahwa uang bukan pusat seluruh makna kehidupan.
Di sinilah ungkapan
hikmah populer yang banyak beredar terasa relevan:
بِالْمَالِ
يُمْكِنُكَ أَنْ تَشْتَرِيَ الْمِسْكَنَ وَلَيْسَ الْبَيْتَ، وَالْمَرْكَزَ
وَلَيْسَ الِاحْتِرَامَ، وَالسَّرِيرَ وَلَيْسَ النَّوْمَ، وَالْكِتَابَ وَلَيْسَ
الْفَهْمَ، وَالدَّوَاءَ وَلَيْسَ الشِّفَاءَ
“Dengan uang engkau
bisa membeli tempat tinggal, tetapi bukan rumah yang penuh kehangatan. Bisa
membeli kedudukan, tetapi bukan kehormatan. Bisa membeli ranjang, tetapi bukan
tidur yang nyenyak. Bisa membeli buku, tetapi bukan pemahaman. Bisa membeli obat,
tetapi bukan kesembuhan.”
Secara ilmiah perlu dijelaskan bahwa ungkapan ini bukan hadis Nabi SAW dan tidak ditemukan dalam kitab-kitab turats klasik yang mu‘tabar. Lebih tepatnya, ini disebut sebagai hikmah kontemporer anonim. Meski demikian, substansi maknanya sangat dekat dengan pesan besar Alquran dan sunnah.
Baca juga: Menjaga Amanah di Tengah Kompleksitas Industri Keuangan
Alquran, misalnya,
tidak hanya berbicara tentang rumah sebagai bangunan fisik, tetapi tentang sakinah
yakni ketenangan jiwa dalam keluarga:
وَمِنْ
آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan pasangan untuk kalian agar kalian
memperoleh ketenangan padanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta
dan kasih sayang.” (QS.
Ar-Rum: 21)
Pastinya makna ayat
ini sangat dalam. Alquran tidak mengatakan agar manusia hidup mewah, tetapi
agar manusia hidup tenang. Karena itu banyak rumah besar kehilangan kehangatan,
sementara rumah sederhana justru penuh cinta dan ketenteraman.
Menyangkut hal itu, Imam
Ibn Katsir menjelaskan:
أَيْ
لِتَأْلَفُوا وَتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Agar kalian merasa tenteram dan nyaman dengannya.”
Baca juga: Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Hari ini manusia
mungkin bisa membeli rumah besar, tetapi belum tentu mampu menghadirkan suasana
pulang di dalamnya.
Ruang tamu semakin
indah, tetapi percakapan keluarga semakin sedikit. Kasur semakin empuk, tetapi
hubungan suami istri semakin dingin. Foto keluarga tampak bahagia di media
sosial, tetapi hati para penghuninya saling jauh.
Karena itu, relevan
dengan hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda:
فَاظْفَرْ
بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Pilihlah pasangan
yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaq ‘Alaih)
Jadi, hadis ini bukan sekadar berbicara tentang memilih pasangan, tetapi fondasi ketahanan keluarga. Agama melahirkan kesabaran, amanah, pengorbanan, dan kemampuan bertahan ketika badai ekonomi datang.
Baca juga: Pembelaan Allah Itu Pasti
Begitu pula tentang
kehormatan. Di zaman modern, manusia mungkin dapat membeli popularitas,
pencitraan, bahkan pengaruh sosial. Namun kehormatan sejati tidak lahir dari
uang, melainkan dari integritas dan akhlak.
Allah SWT berfirman:
مَنْ كَانَ
يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا
“Barang
siapa menghendaki kemuliaan, maka milik Allah seluruh kemuliaan.” (QS. Fathir: 10)
Imam Hasan al-Basri pernah
berkata:
مَنْ
طَلَبَ الْعِزَّ بِغَيْرِ طَاعَةِ اللَّهِ أَذَلَّهُ اللَّهُ
“Barang siapa
mencari kemuliaan bukan dengan ketaatan kepada Allah, maka Allah akan
menghinakannya.”
Nasihat ini terasa sangat relevan di era media sosial. Banyak manusia tampak besar di layar, tetapi kecil di mata keluarganya sendiri. Banyak yang terkenal, tetapi tidak dipercaya. Banyak yang viral, tetapi kehilangan harga diri.
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Demikian pula tentang
ketenangan hidup. Salah satu penyakit modern yang meningkat tajam hari ini
adalah insomnia, kecemasan kronis, dan kelelahan mental.
Tekanan ekonomi,
persaingan hidup, ketidakpastian masa depan, serta ketergantungan digital
membuat banyak manusia kehilangan kualitas istirahat dan ketenangan batinnya.
Padahal Alquran
menyebut malam sebagai ruang ketenangan dan pemulihan manusia:
وَجَعَلْنَا
نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
“Dan Kami jadikan
tidur kalian untuk beristirahat.” (QS. An-Naba’: 9)
Namun menariknya, Alquran
tidak hanya berbicara tentang tidur secara biologis, tetapi juga tentang
ketenangan hati sebagai fondasi ketenteraman hidup. Karena itu, Allah SWT
berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ
اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Ayat ini seakan memberi isyarat bahwa akar kegelisahan manusia bukan semata problem eksternal, tetapi juga orientasi hati yang kehilangan pusat ketenangannya.
Baca juga: Isyarat Alquran dan Penjelasan Neurosains Modern tentang Ubun-Ubun sebagai Pusat Kebohongan
Dalam konteks ini, menarik untuk menyimak penjelasan Ibn Qayyim al-Jauziyyah. Dalam Madarij as-Salikin,
ketika membahas penyakit hati dan ketergantungan kepada selain Allah, beliau
menulis:
فَكُلَّمَا
كَانَ الْعَبْدُ أَشَدَّ تَعَلُّقًا بِغَيْرِ اللَّهِ كَانَ أَشَدَّ عَذَابًا
وَهَمًّا وَغَمًّا
“Semakin kuat
ketergantungan seorang hamba kepada selain Allah, semakin besar pula
penderitaan, kegelisahan, dan kesedihannya.” (Madarij as-Salikin, tahqiq Muhammad Hamid al-Fiqi, Jilid 3, h.
156)
Dalam penjelasan lain
beliau juga berkata:
وَفِي
الْقَلْبِ فَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا شَيْءٌ أَلْبَتَّةَ إِلَّا مَحَبَّةُ اللَّهِ
وَالْإِنَابَةُ إِلَيْهِ وَذِكْرُهُ وَصِدْقُ التَّعَلُّقِ بِهِ
“Di dalam hati
manusia ada kekosongan yang tidak akan pernah dapat dipenuhi oleh apa pun
selain cinta kepada Allah, kembali kepada-Nya, mengingat-Nya, dan ketulusan
bergantung kepada-Nya.” (Madarij
as-Salikin, Jilid 3, h. 157)
Penjelasan Ibnul Qayyim ini terasa sangat aktual di tengah kehidupan modern hari ini. Banyak manusia mengira bahwa ketenangan akan hadir ketika seluruh target finansial tercapai. Namun realitas justru menunjukkan sebaliknya: semakin besar ketergantungan hati kepada materi, semakin besar pula rasa takut kehilangan, kecemasan terhadap masa depan, dan tekanan psikologis yang dipikul.
Baca juga: Memahami Hadis Nabi Berqurban Satu Ekor Domba untuk Satu Keluarga
Karena itu, tidak sedikit orang yang secara ekonomi terlihat sukses, tetapi hidupnya dipenuhi kegelisahan, sulit tidur, dan kehilangan rasa damai.
Dalam konteks ini,
nasihat Imam Hasan al-Basri juga penting untuk direnungkan. Beliau berkata:
هَوِّنُوا
عَلَى أَنْفُسِكُمُ الدُّنْيَا تَهُنْ عَلَيْكُمُ اللَّيَالِي
“Ringankanlah
ketergantungan kalian kepada dunia, niscaya malam-malam kalian terasa tenang.”
Atsar (ucapan/perbuatan dari sahabat nabi/tabi’in) ini
disebutkan oleh Abu Nu‘aim dalam Hilyah al-Auliya’, jilid 2, h. 148,
tepatnya dalam pembahasan tentang zuhud dan ketenangan hati para ulama
terdahulu.
Jika diperhatikan,
nasihat ini pada dasarnya tidak mengajak manusia meninggalkan dunia atau
membenci harta, tetapi mengingatkan agar dunia tidak menguasai hati. Sebab
sering kali yang membuat manusia sulit tidur bukan semata sedikitnya harta,
melainkan berlebihan memikirkan harta.
Artinya, semakin hati bergantung penuh kepada dunia, semakin mudah manusia gelisah oleh perubahan pasar, jabatan, komentar manusia, dan standar sosial yang terus berubah.
Baca juga: Cara Seorang Mukmin Bertakwa di Tengah Musibah
Tidak aneh jika banyak
orang mengejar uang demi memperoleh ketenangan, tetapi justru kehilangan
ketenangan karena uang itu sendiri.
Hal ini sejalan dengan
penjelasan Imam an-Nawawi ketika mensyarah hadis Nabi SAW:
لَيْسَ
الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan bukanlah
karena banyaknya harta, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.”
Dalam Syarh Shahih
Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan:
مَعْنَاهُ
أَنَّ الْغِنَى الْحَقِيقِيَّ غِنَى النَّفْسِ وَقَنَاعَتُهَا
“Maknanya: kekayaan
sejati adalah kekayaan jiwa dan sifat qana‘ah.” (Syarh Shahih Muslim, jilid 7, h. 140)
Jadi orang yang
hatinya qana‘ah dipastikan akan merasa cukup meskipun hartanya tidak banyak,
sedangkan orang yang tamak akan terus merasa miskin walaupun hartanya melimpah.
Di sinilah letak salah satu problem besar manusia modern. Standar hidup terus meningkat, tetapi rasa cukup semakin menghilang. Rumah diperbesar, tetapi hati semakin sempit. Penghasilan meningkat, tetapi kecemasan ikut meningkat. Teknologi semakin canggih, tetapi kualitas hubungan keluarga justru melemah.
Baca juga: Arsitektur Baru Ekonomi Syariah: Industri Keuangan, Teknologi, dan Daya Saing
Maka Islam tidak hanya
berbicara tentang bagaimana mencari harta, tetapi juga bagaimana menjaga hati
ketika memiliki harta. Sebab yang paling melelahkan dalam hidup bukan selalu
sedikitnya uang, tetapi hati yang tidak pernah merasa cukup.
Ketika dolar naik,
harga melambung, dan tekanan hidup terasa semakin berat, seorang mukmin tidak
diajarkan untuk panik tanpa arah. Sepatutnya tetap bekerja, berikhtiar,
memperbaiki literasi finansial, menjaga usaha halal, dan menguatkan
keluarganya. Lalu di saat yang sama, ia tidak menyerahkan seluruh ketenangan
hidupnya kepada angka kurs, saldo rekening, atau nilai pasar.
Memang uang dapat menopang kehidupan, tetapi tidak selalu mampu menenangkan kehidupan. Dan yang membuat manusia tetap kuat bukan hanya isi dompetnya, melainkan kejernihan hati, keteguhan iman, keluasan jiwa, dan akhlak yang tetap hidup ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.