Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global

16 menit baca 8.137 dibaca
KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D

Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Pada satu titik dalam sejarah modern, manusia menjadi sangat percaya kepada angka. Pertumbuhan ekonomi, indeks pembangunan manusia, nilai tukar, inflasi, angka kemiskinan, statistik kriminalitas, peringkat korupsi, hingga survei kebahagiaan disusun rapi, dibaca, dianalisis, lalu dijadikan dasar kebijakan.

Kita hidup dalam dunia yang semakin terukur. Namun, justru di tengah dunia yang serba terukur itu, ada satu kenyataan yang semakin sulit diukur: kegelisahan manusia.

Indonesia hari ini memperlihatkan sebuah paradoks yang tidak sederhana. Di satu sisi, pembangunan terus bergerak. Infrastruktur tumbuh, teknologi berkembang, pendidikan meluas, dan akses informasi terbuka hampir tanpa batas.

Di sisi lain, kegelisahan sosial terasa makin nyata. Tekanan nilai tukar rupiah bukan hanya urusan pasar uang, tetapi juga menyentuh rasa aman masyarakat.

Baca juga: Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis

Bank Indonesia sendiri beberapa kali menegaskan bahwa rupiah menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global, tensi geopolitik, dan dinamika ekonomi dunia yang belum stabil.

Dampaknya tidak berhenti pada angka-angka makroekonomi, tetapi masuk ke ruang hidup masyarakat: harga yang bergerak, daya beli yang tertekan, pekerjaan yang tidak selalu pasti, serta beban hidup keluarga kecil di banyak tempat.

Di saat yang sama, fenomena judi online, pinjaman online ilegal, penipuan digital, korupsi, dan krisis etika publik menunjukkan bahwa masalah bangsa tidak hanya terletak pada lemahnya sistem, tetapi juga pada melemahnya orientasi moral.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bahkan mencatat bahwa perjudian mendominasi 47,49% Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) tahun 2025. Angka ini bukan sekadar statistik kriminal, tetapi alarm sosial tentang rusaknya cara pandang sebagian masyarakat terhadap kerja, rezeki, dan makna keberhasilan.

Judi online bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah gejala perubahan mentalitas: dari kerja keras menuju jalan pintas; dari sabar menuju instan; dari ikhtiar menuju ilusi keberuntungan.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Satgas PASTI terus menindak praktik pinjaman online ilegal yang menjerat masyarakat dengan bunga mencekik, intimidasi, dan eksploitasi data pribadi.

Fenomena ini memperlihatkan rapuhnya literasi finansial sekaligus besarnya tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat.

Di sisi lain, tantangan korupsi juga belum selesai. Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perceptions Index/CPI) Indonesia tahun 2025 masih menunjukkan bahwa bangsa ini menghadapi persoalan serius dalam integritas, tata kelola, dan budaya amanah.

Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia

Korupsi bukan semata-mata penyimpangan individu, melainkan tanda rapuhnya rasa malu, lemahnya tanggung jawab moral, dan kaburnya orientasi pengabdian kepada kepentingan publik.

Dalam sosiologi klasik, Émile Durkheim menyebut keadaan semacam ini sebagai anomie: keterputusan antara nilai dan perilaku, antara norma yang diakui dan kenyataan yang dijalani.

Ketika masyarakat kehilangan pegangan moral yang kokoh, maka hukum menjadi lemah, keluarga menjadi rapuh, pendidikan kehilangan ruh, dan manusia mudah terseret oleh arus yang lebih kuat daripada nuraninya.

Islam membaca realitas ini dengan cara yang lebih dalam. Krisis tidak hanya dipahami sebagai fenomena ekonomi, sosial, atau politik, tetapi juga sebagai krisis ruhani.

Manusia bisa saja maju secara teknologi, tetapi mundur secara makna. Sebuah negeri bisa tumbuh secara fisik, tetapi rapuh secara batin.

Di sinilah Alquran menghadirkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam bukan sekadar sebagai sejarah, melainkan sebagai panduan abadi tentang bagaimana membangun negeri, menjaga generasi, dan memohon keberkahan dari Allah.

Awal Sebuah Peradaban

Bayangkan sebuah lembah yang sunyi. Tidak ada sungai yang mengalir. Tidak ada tanaman yang tumbuh. Tidak ada keramaian manusia. Secara logika, tempat itu tidak menjanjikan kehidupan. Namun di sanalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdiri.

Beliau tidak membawa pasukan, tidak membawa logistik besar, tidak membawa peta pembangunan modern, dan tidak membawa sistem ekonomi yang canggih. Yang beliau bawa adalah iman, kepatuhan, visi kenabian, dan doa.

Alquran mengabadikan doa beliau:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu siapa di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.’ Allah berfirman, ‘Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani azab neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.’”
(QS. Al-Baqarah: 126)

Doa ini bukan sekadar permohonan pribadi. Ia adalah visi peradaban. Ia menunjukkan bahwa pembangunan negeri dalam pandangan para nabi tidak dimulai dari ambisi kekuasaan, tetapi dari rasa takut kepada Allah, cinta kepada manusia, dan tanggung jawab terhadap masa depan generasi.

Baca juga: Optimis, Doa dan Tawakkal Menghadapi Musibah

Nabi Ibrahim memohon dua hal utama: keamanan dan rezeki. Urutannya sangat penting. Beliau memohon keamanan terlebih dahulu, baru kemudian rezeki.

Para mufassir membaca urutan ini dengan kedalaman yang luar biasa. Imam at-Thabari dalam Jami‘ al-Bayan menjelaskan bahwa makna “negeri yang aman” adalah negeri yang penduduknya dijauhkan dari rasa takut.

Keamanan bukan hanya bebas dari serangan fisik, tetapi juga rasa tenteram yang memungkinkan manusia beribadah, bekerja, belajar, membangun keluarga, dan hidup secara bermartabat.

Begitu juga Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim menegaskan bahwa Nabi Ibrahim mendahulukan keamanan sebelum rezeki karena rezeki tidak akan terasa nikmat bila manusia hidup dalam ketakutan. Kekayaan tidak menenangkan jika masyarakat diliputi ancaman, konflik, kriminalitas, dan kegelisahan.

Senada dengan para mufassir lainnya, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib juga menegaskan:

فَلَوْلَا الْأَمْنُ لَمْ يُجْلَبْ إِلَيْهَا مِنَ النَّوَاحِي وَتَعَذَّرَ الْعَيْشُ فِيهَا

“Maka seandainya tidak ada keamanan, niscaya tidak akan didatangkan kepadanya (negeri itu) berbagai kebutuhan dari berbagai penjuru, dan kehidupan di dalamnya pun akan menjadi sulit.” (Mafatih al-Ghaib [Beirut: Dar Ihya’ at-Turots al-‘Arabi], juz 4, h. 48)

Inilah pelajaran besar dari Nabi Ibrahim: negeri yang baik tidak cukup hanya makmur. Ia harus aman. Sebab kemakmuran tanpa keamanan akan melahirkan kecemasan.

Sebaliknya, keamanan tanpa keberkahan juga akan kehilangan arah. Maka doa Nabi Ibrahim menyatukan dua kebutuhan dasar manusia, yakni rasa aman dan kecukupan hidup.

Baca juga: Perang Kawasan Teluk dan Ancaman Ekonomi Syariah–Halal

Pentingnya Sebuah Keamanan

Keamanan sering tidak kita sadari ketika ia hadir. Ia baru terasa sangat mahal ketika hilang. Ketika rumah tidak lagi memberi rasa tenang, jalan tidak lagi terasa aman, ruang digital penuh penipuan, ekonomi tidak pasti, dan masyarakat saling curiga, barulah manusia sadar bahwa keamanan adalah nikmat besar yang tidak bisa digantikan oleh apa pun.

Pada dasarnya kemaslahatan hidup bertumpu pada keamanan. Ibadah membutuhkan ketenangan. Pendidikan membutuhkan stabilitas. Ekonomi membutuhkan kepastian. Keluarga membutuhkan rasa aman. Dakwah membutuhkan ruang sosial yang tertib. Bahkan kebebasan berpikir dan kreativitas tidak akan tumbuh dalam masyarakat yang diliputi rasa takut.

Rasulullah SAW pun mengingatkan betapa besar nilai keamanan dalam kehidupan manusia:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barang siapa di antara kalian memasuki pagi dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan ukuran kebahagiaan yang sangat sederhana, tetapi sering dilupakan oleh manusia modern: aman, sehat, dan cukup.

Baca juga: Menjaga Nalar Bangsa di Tengah Arus Perang Pemikiran

Banyak orang hari ini memiliki lebih dari cukup, tetapi tidak merasa tenang. Banyak yang memiliki fasilitas, tetapi kehilangan ketenteraman. Banyak yang tampak berhasil, tetapi batinnya gelisah.

Karena itu, keamanan dalam Islam bukan hanya keadaan politik, tetapi juga suasana jiwa dan kualitas hidup yang membuat manusia mampu beribadah dan menjalani kehidupan dengan benar.

Dalam konteks Indonesia, keamanan tetap harus disyukuri dan dijaga. Negeri ini, dengan segala kekurangannya, masih diberi ruang untuk beribadah, berdakwah, belajar, bekerja, dan membangun kehidupan bersama.

Namun demikian, tanda-tanda kegelisahan tidak boleh diabaikan. Kejahatan digital, judi online, penipuan, pinjaman ilegal, krisis etika publik, konflik sosial, dan rapuhnya adab dalam ruang publik adalah peringatan bahwa keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi tanggung jawab moral seluruh masyarakat.

Arti Keberkahan Rezeki

Setelah memohon keamanan, Nabi Ibrahim memohon rezeki:

وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ

“Dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan.”

Dalam Tafsir al-Qurthubi, kata “ats-tsamarāt” tidak hanya menunjuk pada buah-buahan secara harfiah, tetapi juga melambangkan kecukupan hidup, ketersediaan kebutuhan, dan kelapangan rezeki.

Doa ini sangat menarik karena dipanjatkan di tempat yang secara geografis tidak subur. Nabi Ibrahim seakan mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu tunduk kepada kalkulasi manusia.

Tempat yang tampak tandus bisa menjadi pusat kehidupan jika Allah berkehendak. Ruang yang tampak mustahil bisa melahirkan peradaban jika Allah menurunkan keberkahan.

Namun, ada sisi lain yang lebih dalam. Nabi Ibrahim mengaitkan permohonan rezeki dengan iman:

مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Yaitu siapa di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.”

Seakan beliau ingin menegaskan bahwa kesejahteraan sejati bukan hanya soal kelimpahan materi, melainkan soal arah hidup.

Rezeki yang tidak disertai iman bisa berubah menjadi fitnah. Kekayaan tanpa akhlak bisa menjadi alat kesombongan. Jabatan tanpa rasa takut kepada Allah bisa menjadi pintu kezaliman. Kemajuan ekonomi tanpa keadilan bisa melahirkan jurang sosial yang menyakitkan.

Baca juga: Hakikat di Balik Syariat Doa

Allah kemudian memberikan perspektif yang lebih luas:

وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا

“Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara.”

Ayat ini menunjukkan bahwa rezeki dunia bisa diberikan kepada siapa saja. Orang beriman bisa kaya, orang tidak beriman pun bisa kaya. Bangsa yang taat bisa maju, bangsa yang jauh dari iman pun bisa maju secara material.

Tetapi keberkahan adalah perkara lain. Keberkahan bukan sekadar banyaknya harta, melainkan kebaikan yang menetap, manfaat yang meluas, dan ketenangan yang menyertai.

Karena itu, dalam Islam, pembangunan ekonomi tidak boleh dipisahkan dari moralitas. Pertumbuhan harus disertai keadilan. Investasi harus dijaga dengan amanah. Kekuasaan ekonomi tidak boleh berubah menjadi alat eksploitasi.

Negara tidak cukup mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga harus menjaga martabat manusia. Masyarakat tidak cukup mengejar penghasilan, tetapi juga harus menjaga kehalalan, adab, dan tanggung jawab sosial.

Di sinilah doa Nabi Ibrahim sangat relevan bagi Indonesia. Negeri ini kaya sumber daya, besar jumlah penduduknya, luas wilayahnya, kuat tradisi sosialnya, dan dalam banyak hal memiliki modal peradaban yang luar biasa.

Namun demikian, semua itu tidak otomatis menjadi keberkahan bila tidak dijaga oleh iman, keadilan, ilmu, dan akhlak.

Sumber daya bisa menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi sumber konflik. Kekayaan alam bisa memakmurkan, tetapi juga bisa merusak bila dikelola tanpa amanah. Teknologi bisa mempercepat kebaikan, tetapi juga bisa mempercepat kerusakan bila tidak dikendalikan oleh nilai.

Baca juga: Menjawab Tekanan Ekonomi Lewat Kekuatan Pesantren

Dari Keamanan Negeri Menuju Keamanan Aqidah

Doa Nabi Ibrahim tidak berhenti pada keamanan fisik dan rezeki. Dalam ayat lain, beliau memohon sesuatu yang lebih dalam: keselamatan tauhid.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.’”
(QS. Ibrahim: 35)

Ayat ini bergerak dari keamanan negeri menuju keamanan hati. Yang memanjatkan doa ini bukan manusia biasa. Beliau adalah Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bapak para nabi, penghancur berhala, dan simbol tauhid sepanjang sejarah.

Baca juga: Menafsir Ulang Makna Kepemimpinan Suami, Tanggung Jawab, dan Etika Kuasa dalam Rumah Tangga

Meski latar belakang Ibrahim sedemikian mulia dan istimewa, namun beliau masih memohon agar dijauhkan dari kesyirikan. Di sinilah pelajaran besarnya: semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah, semakin besar rasa takutnya kehilangan hidayah.

Jika Nabi Ibrahim saja takut kepada fitnah kesyirikan, padahal beliau yang menghancurkan berhala dengan tangannya sendiri. Maka bagaimana dengan manusia hari ini yang hidup dalam badai fitnah digital, ideologi tanpa batas, budaya konsumtif, hiburan bebas tanpa henti, dan godaan dunia yang semakin halus?

Mewaspadai Berhala Modern

Ketika Alquran berbicara tentang berhala, tentu makna asalnya adalah patung atau benda yang disembah selain Allah. Namun, hakikat penyimpangan tauhid tidak berhenti pada bentuk fisik.

Intinya adalah ketika hati menggantungkan harapan, ketakutan, cinta, dan kepasrahan secara berlebihan kepada selain Allah. Berhala modern tidak selalu berbentuk batu. Ia bisa hadir sebagai uang, jabatan, popularitas, citra diri, ideologi, teknologi, bahkan ego pribadi.

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa inti tauhid adalah keterikatan hati sepenuhnya kepada Allah. Dari prinsip ini, para ulama memahami bahwa syirik tidak selalu dimulai dari ritual penyembahan yang tampak, tetapi bisa berawal dari ketergantungan hati yang keliru.

Ketika uang menjadi ukuran tertinggi nilai manusia, ketika jabatan menjadi tujuan hidup yang menghalalkan segala cara, ketika popularitas lebih dicintai daripada ridha Allah, ketika algoritma lebih menentukan perilaku daripada wahyu, maka manusia sedang menghadapi bentuk-bentuk perbudakan baru.

Teknologi bukan musuh. Media sosial bukan dosa bagi dirinya. Uang bukan keburukan. Jabatan juga bisa menjadi amanah. Namun, semuanya bisa berubah menjadi fitnah ketika mengambil posisi yang semestinya hanya milik Allah.

Ketika hati lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan keikhlasan, lebih gelisah kehilangan jabatan daripada kehilangan shalat, lebih peduli kepada citra publik daripada pandangan Allah, maka manusia sedang mengalami krisis orientasi spiritual.

Baca juga: Dua Sayap Peradaban Islam: Iqra’ dan Qalam

Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa at-Tanwir menegaskan bahwa doa Nabi Ibrahim menunjukkan perhatian besar terhadap kesinambungan tauhid pada generasi setelahnya.

Para nabi tidak hanya membangun masyarakat yang hidup, tetapi juga menjaga agar generasi tidak kehilangan arah. Sebab sebuah negeri bisa selamat dari krisis ekonomi, tetapi belum tentu selamat dari kerusakan moral.

Sebuah bangsa bisa maju secara teknologi, tetapi tetap kosong secara makna. Dan sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena miskin, melainkan karena kehilangan nilai, keadilan, dan ruh.

Di sinilah doa Nabi Ibrahim terasa sangat relevan bagi Indonesia hari ini. Ancaman terhadap aqidah dan moral tidak selalu datang dalam bentuk pemaksaan keyakinan. Ia sering hadir melalui gaya hidup: budaya konsumtif, normalisasi maksiat, candu hiburan, kekerasan verbal di ruang digital, perjudian, pornografi, penyimpangan, korupsi kecil yang dianggap biasa, kebohongan yang dibenarkan, dan hilangnya rasa malu. Semua itu perlahan mengikis sensitivitas hati.

Fenomena judi online, misalnya, bukan hanya masalah hukum. Ia juga masalah jiwa. Ia memperlihatkan bagaimana manusia modern mudah tergoda oleh janji instan, padahal kehidupan dibangun dengan ikhtiar, ilmu, kesabaran, dan tawakal.

Pinjaman online ilegal bukan hanya perkara transaksi, tetapi sering menjadi gambaran rapuhnya ketahanan ekonomi keluarga dan lemahnya literasi finansial.

Korupsi bukan hanya tindakan mengambil yang bukan haknya, tetapi tanda matinya rasa diawasi Allah. Maka doa “jauhkan aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala” hari ini bisa dibaca sebagai doa agar hati kita tidak diperbudak dunia, generasi kita tidak kehilangan kiblat moral, dan bangsa ini tidak berjalan tanpa ruh.

Baca juga: Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin

Doa sebagai Sumber Kekuatan

Di tengah krisis yang kompleks, doa sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak praktis. Ia tidak tampak seperti kebijakan. Ia tidak bisa ditampilkan dalam grafik. Ia tidak langsung muncul dalam statistik.

Namun, dalam Islam, doa bukan pelarian dari realitas. Doa adalah kekuatan ruhani untuk menghadapi realitas. Ia bukan pengganti ikhtiar, tetapi ruh yang menghidupkan ikhtiar. Ia bukan alasan untuk pasif, tetapi sumber keberanian untuk bergerak dengan benar.

Rasulullah SAW bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” (HR Abu Dawud)

Doa disebut ibadah karena di dalamnya ada pengakuan paling jujur tentang hakikat manusia: bahwa kita lemah, terbatas, dan membutuhkan Allah.

Orang yang berdoa tidak sedang melarikan diri dari tanggung jawab. Justru ia sedang menempatkan tanggung jawab pada fondasi yang benar: bekerja semampunya, berikhtiar sebaik-baiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Para nabi adalah manusia yang paling banyak berdoa, tetapi mereka juga manusia yang paling kuat ikhtiarnya.

Nabi Nuh berdakwah siang dan malam. Nabi Musa menghadapi Fir’aun. Nabi Yusuf mengelola krisis pangan. Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah dengan wahyu, strategi, akhlak, keberanian, dan kesabaran. Nabi Ibrahim membangun Makkah dengan kepatuhan, pengorbanan, pendidikan keluarga, dan doa.

Maka, doa untuk negeri bukan sikap pasif. Ia adalah bagian dari tanggung jawab iman. Seorang mukmin tidak boleh melihat negerinya rusak lalu hanya mencaci.

Seorang mukmin tidak boleh menyaksikan pemimpinnya keliru lalu hanya membenci. Ia tidak boleh melihat masyarakatnya lemah lalu hanya mencela.

Idealnya, seorang mukmin harus menasihati dengan hikmah, memperbaiki sesuai kapasitas, menjaga akhlak, menegakkan amanah, dan tetap mendoakan.

Baca juga: 4 Waktu Penting Mustajabnya Doa, Jangan Diabaikan

Di sinilah para ulama dahulu menaruh perhatian besar pada doa untuk pemimpin dan negeri. Imam al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah berkata:

وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى، وإذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله

“Apabila engkau melihat seseorang mendoakan keburukan atas penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu. Dan apabila engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut sunnah—insya Allah.” (Syarh as-Sunnah [Riyadh: Dar as-Shuma’i], h. 113)

Perkataan ini tidak berarti membenarkan kezaliman atau menutup pintu nasihat. Justru ia menunjukkan kedalaman fiqh sosial para ulama.

Mereka memahami bahwa rusaknya pemimpin akan berdampak luas kepada masyarakat, sementara baiknya pemimpin akan membawa kemaslahatan besar.

Karena itu, mendoakan pemimpin agar adil, takut kepada Allah, mencintai rakyat, dan berani berpihak kepada kebenaran adalah bagian dari kepedulian terhadap umat.

Indonesia dalam Harapan dan Doa

Indonesia adalah negeri yang besar. Ia memiliki jumlah penduduk muslim yang sangat besar, kekayaan alam yang luas, keragaman budaya yang indah, posisi geopolitik yang strategis, dan modal sosial yang tidak kecil.

Namun, kebesaran itu juga membawa tanggung jawab besar. Negeri ini tidak cukup dijaga oleh hukum, tetapi juga oleh akhlak. Tidak cukup dibangun oleh anggaran, tetapi juga oleh amanah. Tidak cukup digerakkan oleh teknologi, tetapi juga oleh nilai.

Kita membutuhkan pembangunan yang kuat, tetapi juga hati yang kuat. Kita membutuhkan ekonomi yang tumbuh, tetapi juga keadilan yang dirasakan. Kita membutuhkan digitalisasi, tetapi juga adab digital. Kita membutuhkan lembaga yang efektif, tetapi juga manusia yang takut kepada Allah.

Kita membutuhkan pemimpin yang kompeten, tetapi juga pemimpin yang bersih, adil, dan rendah hati. Kita membutuhkan rakyat yang kritis, tetapi juga rakyat yang beradab.

Doa Nabi Ibrahim mengajarkan tiga pilar besar: keamanan, rezeki, dan tauhid. Jika ketiganya dibaca dalam konteks kebangsaan, maka Indonesia membutuhkan stabilitas yang adil, kesejahteraan yang berkah, dan moralitas publik yang berakar pada iman.

Baca juga: Antara Syahadat dan Ketaatan

Stabilitas tanpa keadilan bisa menjadi tekanan. Kesejahteraan tanpa moral bisa menjadi keserakahan. Keberagamaan tanpa akhlak bisa berubah menjadi simbol kosong.

Maka doa untuk negeri harus melahirkan kerja nyata: memberantas korupsi dari diri sendiri, mendidik keluarga dengan iman, menjaga kejujuran dalam profesi, menolak judi dan riba yang merusak, memperkuat literasi digital, membela yang lemah, menolong yang miskin, serta menanamkan cinta tanah air yang berakar pada iman.

Cinta tanah air dalam Islam bukan slogan kosong. Ia tampak dalam kepedulian terhadap keamanan masyarakat, kejujuran dalam bekerja, kesungguhan mendidik generasi, keberanian menolak kerusakan, dan kesediaan mendoakan kebaikan bagi seluruh bangsa.

Seorang mukmin mencintai negerinya bukan karena negeri itu sempurna, tetapi karena di sanalah ia diberi amanah untuk beribadah, berdakwah, membangun keluarga, mendidik umat, dan menebar manfaat.

Doa yang Tulus

Kisah Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa peradaban tidak selalu dimulai dari sesuatu yang tampak besar. Ia bisa dimulai dari sebuah doa di lembah yang tandus. Dari seorang ayah yang taat. Dari seorang hamba yang yakin. Dari keluarga kecil yang dititipkan kepada Allah. Dari ketulusan yang tidak disaksikan manusia, tetapi dicatat oleh langit.

Hari ini, dunia tampak rumit. Krisis ekonomi, konflik geopolitik, perang, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, disrupsi teknologi, dan krisis moral saling bertaut.

Kita mungkin tidak mampu mengendalikan semuanya. Namun, kita masih bisa menjaga iman, memperbaiki diri, mendidik keluarga, bekerja dengan amanah, menolong sesama, menyuarakan kebenaran dengan hikmah, dan berdoa.

Doa bukan tanda kelemahan. Doa adalah tanda bahwa manusia masih tahu ke mana harus kembali. Doa bukan pengganti perjuangan. Doa adalah cahaya yang menjaga perjuangan agar tidak kehilangan arah.

Doa juga bukan sekadar kata-kata. Doa adalah pernyataan iman bahwa di atas segala kekuatan manusia, ada Allah Yang Maha Mengatur.

Maka, di tengah dunia yang semakin bising, mari kita hidupkan kembali doa Nabi Ibrahim dalam kehidupan kebangsaan kita: memohon negeri yang aman, rezeki yang berkah, pemimpin yang adil, masyarakat yang berakhlak, generasi yang bertauhid, dan hati yang tidak diperbudak oleh berhala-berhala modern.

Baca juga: Ibam dan Masa Depan Inovasi Indonesia yang Sedang Dipertaruhkan

Semoga Indonesia dijaga oleh Allah. Semoga negeri ini diberi keamanan yang menenteramkan, rezeki yang memberkahi, persatuan yang menguatkan, pemimpin yang adil, ulama yang ikhlas, rakyat yang sabar, generasi yang beriman, dan masa depan yang lebih bermartabat.

Semoga Palestina dan seluruh negeri kaum muslimin diberi pertolongan. Semoga dunia yang lelah oleh konflik kembali disentuh oleh rahmat, keadilan, dan kemanusiaan.

Bismillah. Dari doa yang tulus, semoga Allah membuka jalan perubahan.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَارْزُقْ أَهْلَهَا مِنَ الثَّمَرَاتِ، وَوَفِّقْ قَادَتَهَا لِلْعَدْلِ وَالصَّلَاحِ، وَاصْرِفْ عَنْهَا كُلَّ فِتْنَةٍ وَبَلَاءٍ، وَاحْفَظْ بِلَادَ الْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ، وَانْصُرِ الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي فِلَسْطِينَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، وَاجْعَلْ عَاقِبَةَ أُمُورِنَا رُشْدًا، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia. Jadikan ia negeri yang aman dan tenteram. Limpahkan rezeki yang berkah kepada penduduknya. Bimbing para pemimpinnya kepada keadilan dan kebaikan. Jauhkan negeri ini dari segala fitnah dan bencana. Jagalah seluruh negeri kaum muslimin. Tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas di Palestina dan di mana pun mereka berada. Jadikan akhir seluruh urusan kami berada dalam petunjuk-Mu, wahai Tuhan semesta alam.”

Amin. 

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.