Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada pembatasan Selat Hormuz telah memicu efek domino yang mengancam kelumpuhan suplai energi dunia.
Jeritan harga BBM
dan pembatasan stok mulai terasa di beberapa negara. Lalu di tengah ancaman
krisis yang membuat mobilitas fisik terbatas, muncul satu pertanyaan yang patut
diperhatikan: Bagaimana napas pengaderan tetap bisa berhembus, terimbas krisis
atau semakin eksis?
Bagi umat Islam,
krisis bukanlah alasan untuk berhenti. Justru dalam tekanan, Islam harus hadir
sebagai rahmatan lil’alamin melalui strategi yang membumi, efisien, dan
solutif bagi mereka yang terhimpit ekonomi dan keterbatasan teknologi.
Dalam konteks ini, kita bisa merujuk pada sirah Rasulullah dan para sahabat yang mengawali Islam dengan penuh keterbatasan selama 13 tahun di Makkah, dengan intimidasi, boikot, dan masih sedikit pengikut. Mereka tidak pernah berhenti untuk mengader, bahkan
sahabat-sahabat yang masuk Islam di fase Makkiyah memiliki ketahanan mental
kuat, militan, dan berani.
Artinya kondisi ancaman krisis yang masih wacana dan belum terjadi sepenuhnya, tidak menjadikan para kader untuk berhenti mengader. Ini harus dijadikan momentum untuk bisa merekrut dan mengader banyak orang agar lebih bisa memahami dan melaksanakan Islam secara lebih mendalam.
Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Membangun Ketahanan Umat Menghadapi Krisis Global
Pengaderan di
masa krisis adalah pengaderan yang menghasilkan “intan”, bukan “arang”. Tekanan
yang tinggi akan mengubah arang menjadi intan yang berkilau dan keras. Kita
tidak butuh banyak orang yang hanya aktif saat kondisi nyaman, kita butuh
kader-kader militan yang mampu “berlari” saat dunia diperintahkan “berhenti”.
Momentum ini
harus kita ambil untuk merekrut sebanyak-banyaknya jiwa yang sedang haus akan
ketenangan dan kepastian hidup. Islam memiliki semua jawaban atas kegalauan
dunia.