Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia

5 menit baca 1.276 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada pembatasan Selat Hormuz telah memicu efek domino yang mengancam kelumpuhan suplai energi dunia.

Jeritan harga BBM dan pembatasan stok mulai terasa di beberapa negara. Lalu di tengah ancaman krisis yang membuat mobilitas fisik terbatas, muncul satu pertanyaan yang patut diperhatikan: Bagaimana napas pengaderan tetap bisa berhembus, terimbas krisis atau semakin eksis?

Bagi umat Islam, krisis bukanlah alasan untuk berhenti. Justru dalam tekanan, Islam harus hadir sebagai rahmatan lil’alamin melalui strategi yang membumi, efisien, dan solutif bagi mereka yang terhimpit ekonomi dan keterbatasan teknologi.

Dalam konteks ini, kita bisa merujuk pada sirah Rasulullah dan para sahabat yang mengawali Islam dengan penuh keterbatasan selama 13 tahun di Makkah, dengan intimidasi, boikot, dan masih sedikit pengikut. Mereka tidak pernah berhenti untuk mengader, bahkan sahabat-sahabat yang masuk Islam di fase Makkiyah memiliki ketahanan mental kuat, militan, dan berani.

Artinya kondisi ancaman krisis yang masih wacana dan belum terjadi sepenuhnya, tidak menjadikan para kader untuk berhenti mengader. Ini harus dijadikan momentum untuk bisa merekrut dan mengader banyak orang agar lebih bisa memahami dan melaksanakan Islam secara lebih mendalam.

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Membangun Ketahanan Umat Menghadapi Krisis Global

Pengaderan di masa krisis adalah pengaderan yang menghasilkan “intan”, bukan “arang”. Tekanan yang tinggi akan mengubah arang menjadi intan yang berkilau dan keras. Kita tidak butuh banyak orang yang hanya aktif saat kondisi nyaman, kita butuh kader-kader militan yang mampu “berlari” saat dunia diperintahkan “berhenti”.

Momentum ini harus kita ambil untuk merekrut sebanyak-banyaknya jiwa yang sedang haus akan ketenangan dan kepastian hidup. Islam memiliki semua jawaban atas kegalauan dunia.

Mari pastikan bahwa di tengah gelapnya krisis energi dunia, cahaya ilmu di rumah-rumah kita justru menyala semakin terang. Dengan kata lain, pastikan bahwa dakwah tidak butuh bensin untuk sampai ke surga; ia hanya butuh ketulusan hati dan langkah kaki yang konsisten.

Migrasi Strategis

Selama ini, kita terbiasa dengan sentralisasi kegiatan di masjid besar atau kegiatan pembinaan dalam skala besar yang membutuhkan kendaraan untuk mencapainya dan pendanaan besar untuk kegiatannya.

Di tengah kelangkaan BBM, strategi harus berubah menjadi pengaderan berbasis wilayah atau daerah. Seperti sistem sel mikro, pembinaan umat tidak boleh lagi bergantung pada pertemuan besar.

Perlu mengaktifkan kembali pembinaan teras rumah yang hanya berjarak sepekan jalan kaki. Ini adalah model “pembinaan tanpa bensin” yang memastikan silaturahim tetap terjaga tanpa membebani dompet jamaah.

Para dai dan pengader adalah mereka yang bergerak secara gerilya dari satu kampung ke kampung lain. Menggunakan metode komunikasi lisan (getok tular) yang lebih dipahami oleh masyarakat bawah.

Krisis energi global adalah cara Allah memaksa kita untuk kembali ke akar: kedekatan antartetangga, kesederhanaan hidup, dan kekuatan solidaritas sosial.

Dengan mengubah strategi dari mobilitas fisik menjadi solidaritas basis, dakwah Islam tidak akan surut. Justru di saat dunia merana karena haus minyak, umat Islam harus tampil menawarkan mata air ketenangan dan solusi hidup yang nyata.

Baca juga: Perang Kawasan Teluk dan Ancaman Ekonomi Syariah–Halal

Sekali lagi, dakwah tidak selamanya butuh bensin untuk bergerak; ia butuh ketulusan hati dan langkah kaki yang konsisten menuju rumah-rumah umat.

Transformasi pengaderan di era krisis energi menuntut sebuah “Digital Leap” (Lompatan Digital) yang tidak hanya sekadar memindahkan pembinaan ke layar ponsel, tetapi juga menciptakan ekosistem rekrutmen yang visioner bagi generasi Z dan Alfa.

Di saat mobilitas fisik tercekik oleh mahal dan langkanya BBM, ruang siber harus menjadi “Darul Arqam” modern, yakni tempat persemaian ideologi yang canggih, interaktif, dan visual.

Aktivis pengaderan ditantang untuk meramu konten edukatif yang menyentuh realitas perut dan energi. Seperti tutorial kemandirian pangan hingga teologi efisiensi, lewat kemasan micro-learning yang estetik dan viral, sehingga pesan Islam sebagai solusi krisis tetap mampu menembus batas-sekat geografis tanpa perlu setetes pun bensin.

Kreativitas dan inovasi bukan lagi pilihan, melainkan syarat mutlak bagi eksistensi perkaderan agar tidak tergilas oleh zaman yang kian pragmatis.

Para pengader ulung harus mampu mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) hingga gamifikasi dalam kurikulum pembinaan mereka, guna menciptakan pengalaman belajar agama yang seru dan relevan bagi anak muda yang haus akan jati diri.

Strategi ini bertujuan untuk merebut atensi publik di tengah keriuhan informasi. Memastikan bahwa pesan-pesan rahmatan lil‘alamin tersampaikan sebagai narasi yang mendinginkan di tengah panasnya suhu geopolitik dunia.

Kita harus membuktikan bahwa dakwah Islam adalah gerakan yang paling adaptif; ia bisa bergerak lewat serat optik dengan kecepatan cahaya saat kendaraan di jalan raya terpaksa berhenti.

Baca juga: Peran MUI dalam Membangun Ekosistem Ekonomi Umat Berbasis Koperasi

Pada akhirnya, sinergi antara militansi spiritual dan kecanggihan digital akan melahirkan gelombang kader baru yang tangguh secara mental serta lincah secara teknologi.

Pengaderan di tengah ancaman krisis energi adalah momentum emas untuk mengedukasi masyarakat tentang gaya hidup Islam yang bersahaja namun berdaya saing tinggi.

Memadukan narasi sirah Nabi yang heroik dan visualisasi digital yang memukau berarti kita sedang membangun benteng pertahanan umat yang tidak akan goyah oleh fluktuasi harga minyak dunia.

Inilah saatnya para mujahid digital mengambil peran, memastikan bahwa setiap piksel di layar gawai umat adalah peluru hidayah yang mengajak pada ketaatan sepenuhnya dan solidaritas sosial yang tak bertepi.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.