Lewati ke konten utama
Selasa, 30 Juni 2026 / 14 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin

5 menit baca 1.439 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Urgensi Membaca bagi Seorang Pemimpin
Foto: Pinterest/Emmalyn Jane
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Pengulangan perintah “Iqra’” (Bacalah) sebanyak dua kali dalam fase awal surat Al-‘Alaq bukan sekadar pengulangan biasa tanpa maksud, melainkan sebuah pesan teologis yang menguatkan urgensi literasi dalam Islam.

Penekanan perintah membaca memberikan isyarat epistemologis yang tegas bahwa eksistensi sebuah peradaban tidaklah bertumpu pada akumulasi kekayaan material maupun dominasi kekuatan pertahanan fisik, melainkan pada penguasaan ilmu pengetahuan.

Penegasan ini menggeser paradigma peradaban dari supremasi militeristik dan ekonomi menuju supremasi intelektual yang berbasis pada nilai-nilai ketuhanan.

Baca juga: Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq

Melalui surat Al-‘Alaq, aktivitas membaca dan riset diposisikan sebagai pilar strategis yang memungkinkan suatu umat untuk melakukan lompatan kualitas guna menjadi peradaban yang mandiri, berwibawa, dan berpengaruh di panggung sejarah dunia.

Imam al-Maraghi (wafat 1371 H) menjelaskan bahwa kata iqra’ yang kedua dalam ayat ketiga dari surat Al-‘Alaq bermakna: “Lakukan apa yang telah Aku perintahkan, yaitu membaca.” Menurutnya, pengulangan fi'il amar atau kata perintah dalam satu surat ini tidak lain karena suatu bacaan tidak akan mendatangkan ilmu kecuali dengan diulang-ulang.

Pengulangan perintah Tuhan tersebut konteksnya adalah pengulangan objek yang dibaca. Dengan begitu, kemampuan membaca, atau dalam konteks sekarang identik dengan istilah literasi, menjadi kemampuan alamiah Nabi SAW.

Perintah membaca yang diturunkan hingga dua kali dalam surat Al-‘Alaq menghadirkan sebuah paradoks peradaban yang luar biasa. Di satu sisi, wahyu ini dialamatkan kepada Rasulullah yang secara lahiriah adalah seorang Ummi (“tidak bisa” membaca dan menulis), dan di sisi lain, ia hadir di tengah masyarakat Quraisy yang sedang berada pada puncak masa Jahiliyah.

Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban

Penekanan perintah membaca dalam kondisi tersebut merupakan sebuah “intervensi ilahiah” yang revolusioner. Allah tidak menunggu sebuah masyarakat menjadi terpelajar untuk menurunkan perintah literasi; justru Allah menjadikan literasi sebagai alat utama untuk meruntuhkan kegelapan jahiliyah.

Perintah ini menggeser otoritas kebenaran dari sekadar tradisi lisan dan fanatisme kesukuan menuju kebenaran yang berbasis pada verifikasi data, teks, dan “riset ketuhanan”.

Relevansi perintah ini terbukti menghasilkan sesuatu yang spektakuler dalam sejarah manusia. Dalam waktu singkat, bangsa yang sebelumnya tidak diperhitungkan secara geopolitik bertransformasi menjadi pemimpin sains dan kebudayaan dunia. Bahkan mampu mengalahkan bangsa Romawi dan Persia yang saat itu menjadi dua negara adidaya.

Perintah Iqra’ yang kedua dibarengi dengan penegasan bahwa “Tuhanmu adalah Yang Maha Pemurah” (wa Rabbukal Akram). Secara epistemologis dan psikologis, penyebutan sifat ini merupakan sebuah penegasan nikmat dan rahmat untuk memberikan stabilitas emosional kepada Rasulullah di tengah guncangan dahsyat saat menerima wahyu pertama.

Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam

Diangkat menjadi Nabi dan mengemban risalah langit bukanlah tugas yang ringan; ia adalah beban tugas yang melampaui kapasitas manusia biasa. Maka Nabi Muhammad Saw pulang dengan menggigil dan meminta diselimuti oleh istrinya Khadijah. Padahal saat itu sedang musim panas.

Allah menyebut diri-Nya sebagai Al-Akram, menyatakan bahwa Allah ingin memberikan ketenangan (sakinah) kepada Muhammad. Dzat yang memerintahkannya membaca tidak akan membiarkannya sendirian, dan kemurahan Allah akan menutupi segala keterbatasan hamba-Nya, serta proses transformasi peradaban ini akan senantiasa dalam naungan kemuliaan-Nya.

Aktivitas membaca (Iqra’) dalam konteks ini adalah instrumen untuk menyingkap tabir kemurahan tersebut. Tanpa tradisi literasi dan riset yang mendalam, manusia akan terjebak dalam “kebutaan hati” untuk menerima kebenaran.

Orang yang enggan membaca tidak akan mampu meraih kedalaman pemahaman mengenai luasnya samudra kebaikan Allah. Ketidaktahuan menyebabkan krisis keyakinan bahwa setiap napas dan fasilitas kehidupan adalah bukti konkret dari sifat Maha Pemurah-Nya.

Baca juga: Tadabbur Surat Ar-Rum dalam Membaca Gejolak Geopolitik

Nabi Muhammad diutus menjadi nabi sekaligus pemimpin. Membaca adalah modal penting bagi seorang pemimpin. Perintah membaca diulang dua kali menandakan pentingnya bagi orang beriman, seorang pemimpin atau pejabat publik untuk membaca.

Pemimpin yang berhenti membaca adalah pemimpin yang membiarkan dirinya kalah oleh realitas. Sering kali kita menemui pemimpin yang hanya bisa mengeluh atau menyalahkan keadaan.

Mengapa itu terjadi? Karena mereka mengalami defisit inspirasi atau kekurangan insight. Tanpa tradisi membaca, seorang pemimpin tidak akan memiliki cadangan solusi ketika badai tantangan datang menerjang.

Terlebih lagi, jika seorang pemimpin salah membaca. Salah membaca realitas, salah membaca data, atau salah dalam mengambil referensi kebijakan. Maka yang terjadi bukan sekadar kekeliruan administratif, melainkan sebuah malapetaka bagi orang-orang yang menggantungkan harapannya pada kepemimpinan tersebut.

Harry S. Truman, seorang presiden Amerika Serikat ke-33, bahkan sempat mengatakan, “Tidak semua pembaca adalah pemimpin, tetapi semua pemimpin (yang ideal) adalah pembaca.

Membaca tidak hanya menyenangkan untuk dilakukan, tetapi juga sangat berperan penting dalam membantu seseorang menjadi pemimpin yang lebih baik.

Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia

Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan yang lahir dari spiritualitas, moral, pengetahuan dan kebijaksanaan. Untuk mencapainya, pemimpin perlu membangun budaya membaca.

Buku bukan hanya hobi, melainkan sumber inspirasi, visi, dan etika dalam memimpin. Kebiasaan membaca bisa menjadi bekal penting untuk memimpin dengan lebih bijak dan berpandangan luas.

Kepemimpinan sejati lahir dari kedalaman pikiran, kemampuan mengambil keputusan, dan kebijaksanaan. Semua itu tidak datang begitu saja. Salah satu cara terbaik untuk memperkaya diri sebagai pemimpin adalah dengan membaca buku.

Dengan membaca, pemimpin belajar memahami, mengkritisi, lalu menghubungkan isi bacaan dengan kehidupan nyata.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.