Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Allah menurunkan Al-‘Alaq sebagai surat pertama yang tampak jelas menyajikan tesis orisinal mengenai konstruksi peradaban. Bahwa suatu umat ditentukan oleh pandangan berpikirnya.
Perintah iqra’
mendahului perintah shalat, puasa, zakat dan haji, mengindikasikan sebuah pesan
filosofis bahwa kesalehan sosial dan ritual hanya akan memiliki dampak
peradaban jika berdiri di atas dasar intelektual yang kokoh.
Sejak fajar kemunculannya, Islam telah memproklamirkan diri sebagai sebuah peradaban berbasis teks dan riset (literasi), yang meletakkan aktivitas intelektual sebagai fondasi eksistensialnya.
Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam
Penempatan
perintah “membaca” (Iqra’) sebagai perintah pertama merupakan sebuah
imperatif filosofis yang menegaskan bahwa kesalehan ritual maupun sosial hanya
akan memiliki dampak peradaban jika berdiri di atas basis intelektual yang
kokoh.
Dalam sistematika
ini, membaca bukan sekadar proses kognitif, melainkan sebuah proklamasi
epistemologis yang menyatukan nalar manusia dengan sumber transendentalnya.
Hal ini
menjadikan Islam sebagai agama yang menempatkan tradisi penelitian dan literasi
bukan hanya sebagai instrumen kemajuan, melainkan sebagai bentuk ibadah paling
primordial yang menjadi ruh bagi seluruh transformasi peradaban.
Perintah “Iqra’
bismi Rabbik” bukanlah sekadar seruan profan untuk melek aksara, melainkan
sebuah imperatif teologis yang mendesak dilakukannya reintegrasi antara nalar
intelektual dengan sumber transendentalnya.
Pesan ini
menegaskan bahwa segala bentuk aktivitas saintifik, baik berupa eksplorasi
riset empiris maupun pendalaman observasi fenomenologis, tidak boleh direduksi
menjadi entitas yang “bebas nilai” atau terputus dari akar ketuhanan.
Dalam perspektif ini, ilmu pengetahuan kehilangan legitimasi hakikinya saat ia memisahkan diri dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, memfungsikan akal untuk membedah realitas semesta haruslah dipandang sebagai bentuk ibadah intelektual yang bertujuan menyingkap kebenaran Ilahiah di balik setiap fenomena material.
Baca juga: Tadabbur Surat Ar-Rum dalam Membaca Gejolak Geopolitik
Melalui paradigma
surat Al-‘Alaq, pencarian kebenaran tidak diperkenankan berhenti pada deskripsi
fenomenologis atas realitas fisik semata, yakni pada dimensi what (apa)
dan how (bagaimana). Lebih jauh, ia harus melakukan lompatan kualitatif
menuju dimensi aksiologis (for whom), yang mempertanyakan tujuan dan
kemanfaatan ilmu bagi kemanusiaan.
Tanpa poros “Bismi
Rabbik” sebagai jangkar moral, sains dan teknologi akan kehilangan kompas
etisnya; ia hanya akan mengeksplorasi kecerdasan teknokrasi yang “gersang
nurani”, yang pada akhirnya berisiko menjadi instrumen destruktif bagi tatanan
semesta.
Oleh karena itu,
restorasi peradaban hanya dapat terwujud apabila seluruh aktivitas intelektual
mengalami metamorfosis: dari sekadar pencarian data menjadi manifestasi
pengabdian yang integral kepada Sang Khaliq.
Akhir ayat
pertama “Alladzi Khalaq”, Allah “mengintroduksi” diri-Nya sebagai subjek
absolut yang memanifestasikan eksistensi dari ketiadaan (creatio ex nihilo).
Hanya melalui
satu ayat pertama ini, surat Al-‘Alaq secara frontal melakukan dekonstruksi
sekaligus degradasi terhadap otoritas “tuhan-tuhan artifisial” yang menjadi
pusat penyembahan masyarakat Quraisy.
Secara filosofis,
entitas berupa berhala batu, patung, maupun personifikasi ruhani yang mereka
agungkan terbukti mengalami kelumpuhan ontologis; mereka sepenuhnya nihil dari
kapasitas khalaq (penciptaan).
Ironi eksistensial muncul ketika fakta menunjukkan bahwa berhala-berhala tersebut hanyalah artefak hasil kreasi tangan manusia sendiri yang tidak memiliki daya guna sedikit pun.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Dengan demikian,
penegasan sifat pencipta pada awal wahyu ini bukan sekadar informasi teologis,
melainkan sebuah proklamasi intelektual yang meruntuhkan legitimasi segala
bentuk ketuhanan selain Allah di atas muka bumi.
Secara
sosiopolitis, artikulasi ayat pertama dalam wahyu pertama telah mengintroduksi
ancaman eksistensial terhadap tatanan sosial mapan kaum kafir Quraisy.
Penobatan
Muhammad SAW sebagai Nabi serta turunnya surat Al-‘Alaq memicu reaksi keras
yang sistematis, mengingat elite Quraisy yang sangat menyadari sepenuhnya bahwa
implikasi teologis dari ayat tersebut akan mendegradasi legitimasi tuhan-tuhan
artifisial, kedudukan politik, serta hegemoni ekonomi mereka.
Sebagai bentuk
upaya pertahanan “status quo”, mereka melakukan pembunuhan karakter (character
assassination) dengan menyematkan label peyoratif. Seperti pendusta,
penyair, hingga tukang sihir terhadap Nabi Muhammad, sosok yang sebelumnya
mereka akui sebagai al-Amin (pribadi terpercaya).
Resistensi
agresif ini membuktikan bahwa kaum Quraisy memahami esensi revolusioner Islam;
bahwa satu ayat pertama saja cukup untuk meruntuhkan fondasi kekuasaan mereka.
Oleh karena itu, segala instrumen penindasan dikerahkan untuk menghambat laju dakwah Rasulullah di Makkah demi mempertahankan struktur kekuasaan yang mulai terancam oleh narasi ketauhidan.
Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia
Sebagai sebuah
konklusi, ayat pertama surat Al-‘Alaq bukanlah sekadar teks sejarah, bukan
membaca biasa melainkan batu penjuru (keystone) dalam arsitektur
peradaban Islam yang menyatukan secara utuh antara nalar intelektual dan
kemurnian tauhid.
Inilah antitesis
radikal bagi dunia modern; sebuah jawaban tegas atas sekularisme yang telah
menjadi hulu dari kerapuhan jiwa dan keruntuhan moral manusia hari ini.
Jadi, sekali lagi,
saya tegaskan bahwa “membaca” dalam ajaran Islam bukanlah sekadar aktivitas
literasi profan, melainkan sebuah mandat primordial. Ketika menempatkan “Bismi
Rabbik” sebagai jantung dari setiap pencarian ilmu, maka akan membuka peta
jalan pencerahan yang tidak hanya mengejar kemegahan materi, tetapi juga
menjaga kesucian spiritual.
Tanpa poros
ketuhanan, kecerdasan hanya akan menjadi alat penghancur semesta; namun di
bawah naungan-Nya, ilmu pengetahuan menjadi sarana pengabdian yang paling
tinggi.
Satu ayat pertama ini telah cukup untuk meruntuhkan kesombongan para penyembah berhala-berhala, kekuasaan, materi, dan ego manusia dengan memperkenalkan Allah sebagai satu-satunya Al-Khaliq (Sang Pencipta).
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.