Mina, Madrasah Kesabaran dan Dzikir di Hari-Hari Tasyriq
Sadam Al Ghifari
Penulis
Admin
Editor
Makkah, MUI Digital— Di tengah hamparan tenda putih yang memenuhi kawasan Mina, jutaan jamaah haji menjalani mabit—bermalam dalam rangkaian ibadah haji yang sarat makna spiritual.
Di tempat yang kerap dipenuhi kepadatan manusia dan aktivitas ibadah itu, Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis, justru mengajak jamaah untuk menemukan ketenangan batin dan menghadirkan hati yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Kamis (28/5/2026) waktu Arab Saudi, Kiai Cholil melaksanakan mabit di Masjid Al-Khayf, salah satu masjid bersejarah di Mina yang memiliki kedekatan kuat dengan perjalanan ibadah haji sejak masa Rasulullah SAW.
Di masjid yang terletak tidak jauh dari area jumrah itu, suasana malam terasa berbeda. Lantunan doa dan dzikir jamaah mengalun pelan di sela langkah para peziarah yang datang silih berganti.
Bagi banyak jamaah, Masjid Al-Khayf bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang spiritual untuk merenungi perjalanan panjang menuju Allah.
“Nabi Muhammad SAW juga pernah shalat dan berkhutbah di tempat ini ketika Haji Wada’,” ujar Kiai Cholil yang juga Wakil Ketua Umum MUI ini.
Baca juga: Ketua MUI Prof Niam Tegaskan Qurban Presiden dari Banpres Tak Perlu Diperdebatkan, Ini Alasannya
Masjid Al-Khayf memang menyimpan jejak sejarah penting dalam manasik haji. Sejak dahulu, tempat ini menjadi lokasi persinggahan jamaah yang menjalani hari-hari tasyrik di Mina.
Namun bagi Kiai Cholil, makna Mina jauh melampaui sekadar lokasi geografis dalam peta ibadah haji.
“Mina adalah madrasah ketundukan dan penghayatan makna hidup sederhana di hadapan Allah SWT,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan ruang, cuaca panas, antrean panjang, hingga padatnya aktivitas jamaah, Mina mengajarkan kesabaran dan kesetaraan.
Semua mengenakan pakaian ihram yang sama, tidur berdekatan di tenda-tenda sederhana, dan menjalani ritual yang serupa tanpa membedakan status sosial ataupun asal negara.
Baca juga: KH Cholil Nafis: Wukuf di Arafah adalah Momen Melepaskan Atribut Duniawi dan Mengenal Diri
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu, para ulama sejak dahulu memaknai mabit di Mina sebagai momentum untuk memperbanyak dzikir dan rasa syukur.
Sebab, inti perjalanan haji bukan semata perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan hati menuju ketundukan total kepada Sang Pencipta.
Di tengah kelelahan fisik yang dialami banyak jamaah, Kiai Cholil mengingatkan agar ibadah di Mina tidak berhenti pada rutinitas ritual belaka.
“Mabit yang ideal bukan hanya hadir secara fisik di Mina, melainkan juga menghadirkan hati yang penuh dzikir, sabar, syukur, dan penghambaan total kepada Allah SWT,” kata Kiai Cholil yang juga Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional MUI ini.
Pesan itu terasa relevan di tengah suasana Mina yang penuh dinamika. Sebagian jamaah tampak beristirahat setelah melempar jumrah, sebagian lain sibuk berbagi makanan dan air minum, sementara tak sedikit yang memilih duduk tenang melafalkan doa di sudut-sudut tenda
Bagi Kiai Cholil, justru di tempat yang penuh keterbatasan itulah manusia belajar tentang hakikat hidup: bahwa kesederhanaan, kesabaran, dan rasa syukur merupakan inti dari perjalanan spiritual seorang hamba.
Mina akhirnya bukan hanya tempat mabit. Ia menjadi ruang perenungan, tempat manusia belajar mengecilkan ego dan membesarkan rasa tunduk kepada Allah SWT.