KH Cholil Nafis: Wukuf di Arafah adalah Momen Melepaskan Atribut Duniawi dan Mengenal Diri
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Arafah, MUI Digital--Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis, menegaskan bahwa esensi dari pelaksanaan wukuf di Arafah adalah momentum bagi umat Muslim untuk melepaskan seluruh atribut duniawi yang selama ini melekat pada diri manusia.
Menurutnya, wukuf bukan sekadar ritual fisik semata, melainkan sebuah puncak spiritual (inti ibadah haji) di mana seorang hamba berdiri setara di hadapan Allah SWT.
"Di haji itu beda dengan ibadah lainnya, ada rukun dan ada wajib. Kalau rukun tidak boleh ditinggal, kalau ditinggal jadi tidak sah. Dan inti dari haji itu adalah wukuf di Arafah," ujar Kiai Cholil di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026) Waktu Arab Saudi (WAS).
Baca juga: Sempat Menyentuh 50 Derajat, KH Cholil Nafis Sebut Cuaca Sejuk Saat Wukuf Adalah Pertolongan Allah
Wakil Ketua Umum MUI ini menjelaskan, realitas pakaian ihram yang dikenakan oleh seluruh jamaah haji, berupa dua helai kain putih tanpa jahitan, memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Pakaian tersebut menjadi simbol runtuhnya sekat-sekat sosial kemanusiaan.
"Itu menunjukkan tentang kita melepaskan diri kita dari semua atribut kemanusiaan. Apakah berpangkat, ataupun yang kaya, dan seterusnya. Bahkan mungkin yang merasa alim dan intelektual pun, itu di hadapan Allah tidak ada arti apa-apa, kecuali sebagai Ibadur Rahman, sebagai hamba Allah," tuturnya.
Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat ini menjelaskan arti kata 'Arafah' yang secara harfiah artinya berhenti. Wukuf di Arafah menuntut jamaah untuk berhenti sejenak dari rutinitas dunia demi merenung, memahami, dan mengenal jati diri mereka yang sebenarnya.
"Saat kita tidak memakai apa-apa (atribut dunia), kita akan mengenal diri kita. Karena seringkali kita kan tidak mengenal pada diri kita sendiri, sehingga bertanya kepada orang lain, siapa saya? Dirinya sendiri tidak kenal, apalagi akan mengenal Allah yang menciptakan dirinya," kata Kiai Cholil.
Baca juga: Wukuf di Arafah, Musyrif Diny Prof Niam: Momentum Refleksi Diri dan Simbol Kesetaraan Manusia
Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini menambahkan, proses mengenal diri di padang Arafah ini diharapkan bermuara pada pengenalan yang lebih kuat kepada sang pencipta.
Di tempat yang paling mustajab ini, CEO Amanah Zakat ini juga mengingatkan jamaah untuk memurnikan tauhid. Momentum wukuf harus dijadikan sarana untuk memastikan bahwa hati seorang mukmin hanya menuhankan Allah SWT, bukan hal-hal yang bersifat duniawi.
"Memastikan bahwa yang dituhankan hanya Allah. Tidak mentuhankan atasan, bukan mentuhankan popularitas, bukan mentuhankan intelektual, bukan mentuhankan harta, dan bukan mentuhankan jabatan," tegasnya.
Ulama kelahiran Sampang, Madura ini mengajak jamaah untuk mengembalikan segala kepintaran, kekayaan, dan kekuasaan yang dimiliki di Tanah Air sebagai titipan dari Allah SWT.