Sempat Menyentuh 50 Derajat, KH Cholil Nafis Sebut Cuaca Sejuk Saat Wukuf Adalah Pertolongan Allah
Sadam Al Ghifari
Penulis
Muhammad Fakhruddin
Editor
Arafah, MUI Digital--Pelaksanaan ibadah wukuf di Arafah tahun ini diwarnai dengan cerita haru dan rasa syukur yang mendalam dari para jamaah haji.
Setelah sempat diguyur suhu ekstrem yang menyentuh angka 49 hingga 50 derajat celsius pada hari-hari sebelumnya, cuaca di Arafah mendadak melandai dan terasa lebih sejuk saat puncak wukuf berlangsung.
Ketua Musyrif Diny, KH M Cholil Nafis, menyebut perubahan cuaca yang lebih bersahabat ini sebagai bentuk pertolongan nyata dari Allah SWT kepada para jamaah.
Baca juga: Musyrif Diny Prof Niam Apresiasi Skema Pergerakan Jamaah Haji Pasca-Arafah Demi Keselamatan
"Iya, kemarin pada tanggal 18-19 memang panas sekali, sampai 49, bahkan 50 (derajat). Tapi hari ini saya lihat masih di 40 ya, cuaca kita. Jadi nggak terlalu panas," ujar Kiai Cholil Nafis saat berada di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026) Waktu Arab Saudi (WAS).
"Di Arafah mungkin ya pertolongan dari Allah SWT lah pas wukuf hari ini dibandingkan hari-hari sebelumnya, hari ini tidak terlalu panas," sambungnya.
Penurunan suhu ke angka 40 derajat celsius ini disambut bahagia oleh jamaah yang sudah merindukan momentum wukuf setelah mengantre sekian lama untuk menunaikan ibadah haji.
Wakil Ketua Umum MUI ini menceritakan bagaimana para jamaah dengan nyaman beraktivitas di luar tenda tanpa terganggu oleh panas yang menyengat.
"Suasana ini diintipkan sehingga saya barusan keluar kontrol, sebagian jamaah itu dengan mudah (melihat) mereka di luar. Lihat sajalah, karena ada sedikit pohon-pohon mereka berpikir dan baca Al-Qur'an di luar. Seperti enggak terasa panas," ungkapnya.
Baca juga: Dari Padang Arafah, Kiai Ni'am Serukan Jamaah Bermunajat untuk Diri Hingga Pemimpin Bangsa
Lebih lanjut, Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah ini mengingatkan bahwa wukuf adalah inti atau rukun paling utama dalam ibadah haji yang tidak boleh ditinggalkan. Berbeda dengan wajib haji yang jika ditinggalkan bisa diganti dengan membayar denda (dam), wukuf di Arafah menentukan sah atau tidaknya haji seseorang (al-hajju Arafah).
Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini menjelaskan, realitas pakaian ihram yang dikenakan oleh seluruh jamaah haji, berupa dua helai kain putih tanpa jahitan, memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Pakaian tersebut menjadi simbol runtuhnya sekat-sekat sosial kemanusiaan.
"Itu menunjukkan tentang kita melepaskan diri kita dari semua atribut kemanusiaan. Apakah berpangkat, ataupun yang kaya, dan seterusnya. Bahkan mungkin yang merasa alim dan intelektual pun, itu di hadapan Allah tidak ada arti apa-apa, kecuali sebagai Ibadur Rahman, sebagai hamba Allah," tuturnya.
Lebih lanjut, CEO Amanah Zakat ini menjelaskan arti kata 'Arafah' yang secara harfiah artinya berhenti. Wukuf di Arafah menuntut jamaah untuk berhenti sejenak dari rutinitas dunia demi merenung, memahami, dan mengenal jati diri mereka yang sebenarnya.
"Saat kita tidak memakai apa-apa (atribut dunia), kita akan mengenal diri kita. Karena seringkali kita kan tidak mengenal pada diri kita sendiri, sehingga bertanya kepada orang lain, siapa saya? Dirinya sendiri tidak kenal, apalagi akan mengenal Allah yang menciptakan dirinya," kata Kiai Cholil.
Kiai Cholil menambahkan, proses mengenal diri di padang Arafah ini diharapkan bermuara pada pengenalan yang lebih kuat kepada sang pencipta.
Di tempat yang paling mustajab ini, Kiai Cholil juga mengingatkan jamaah untuk memurnikan tauhid. Momentum wukuf harus dijadikan sarana untuk memastikan bahwa hati seorang mukmin hanya menuhankan Allah SWT, bukan hal-hal yang bersifat duniawi.
"Memastikan bahwa yang dituhankan hanya Allah. Tidak mentuhankan atasan, bukan mentuhankan popularitas, bukan mentuhankan intelektual, bukan mentuhankan harta, dan bukan mentuhankan jabatan," tegasnya.
Ulama kelahiran Sampang, Madura ini mengajak jamaah untuk mengembalikan segala kepintaran, kekayaan, dan kekuasaan yang dimiliki di Tanah Air sebagai titipan dari Allah SWT.