Lewati ke konten utama
Senin, 29 Juni 2026 / 13 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Tadabbur Surat Ar-Rum dalam Membaca Gejolak Geopolitik

4 menit baca 1.352 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Tadabbur Surat Ar-Rum dalam Membaca Gejolak Geopolitik
Foto: AI Modified/ChatGPT
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini menghadirkan suasana batin yang sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Eskalasi militer yang berujung pada peperangan terbuka antara Amerika Serikat dan Israel berhadapan dengan Iran, telah mengubah lanskap keamanan global secara radikal.

Perang besar ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, dan tidak ada yang bisa memprediksi titik garis finisnya.

Namun, satu hal yang disepakati oleh para pakar hubungan internasional: daya rusak konflik ini tidak hanya melokalisir pada tiga entitas negara yang bertikai atau kawasan Timur Tengah semata.

Efek dominonya merangsek hingga ke jantung ekonomi, keamanan, dan stabilitas politik seluruh penduduk bumi.

Peristiwa ini bukan sekadar letupan regional, melainkan episentrum dari perubahan tata dunia yang kemungkinan jauh lebih dahsyat.

Baca juga: Bahan Bakar Iman di Tengah Ancaman Krisis Dunia

Oleh karena itu, umat Islam memerlukan kacamata pembacaan (Iqra') yang lebih komprehensif, memadukan analisis politik modern dengan ketajaman tadabbur wahyu.

Untuk memahami konflik ini, kita harus melepaskan kacamata sempit yang hanya melihatnya sebagai friksi bilateral.

Perang di Timur Tengah saat ini adalah palagan dari konflik supremasi tatanan dunia baru (New World Order).

Seluruh kekuatan besar (Great Powers) dunia terseret ke dalam poros kutub yang saling berhadapan: Iran mendapat sokongan strategis dari Rusia dan Tiongkok, belum lagi negara-negara lain menyusul seperti Irak, Lebanon, kelompok Houthi Yaman. Sementara Israel dan negara-negara Teluk tertentu berada di bawah payung aliansi Amerika Serikat.

Maka konstelasi ini menjadikan seluruh bagian dunia sebagai battlefield (medan konflik) yang saling terhubung.

Dalam tinjauan studi pertahanan, apa yang dimainkan saat ini adalah “perang asimetris”. Karakteristik utama perang ini bukan hanya benturan militer frontal yang mencari kemenangan cepat. Sebaliknya, ini adalah “perang gesekan”  yang dirancang untuk menguras sumber daya lawan secara perlahan namun mematikan.

Baca juga: Perang Iran, Antara Narasi Armageddon dan Tanda Akhir Zaman

Bagi Iran dan aliansinya, secara strategis kemenangan tidak diukur dari kemampuan menaklukkan daratan AS atau Israel secara frontal. Kemenangan adalah kemampuan untuk bertahan dan tidak runtuh setiap harinya. Semakin lama perang ini berlarut, semakin dalam luka sistemik yang diderita lawan.

Hal itu akan menyebabkan terjadinya destabilisasi ekonomi-politik. Dengan kata lain perpanjangan konflik akan menekan situasi politik domestik Amerika Serikat dan Israel, merugikan petahanan seperti Donald Trump dan Netanyahu, menurunkan kepercayaan kepada kepada negaranya dan memicu krisis pasokan global.

Selain itu, juga akan menyebabkan kelumpuhan rantai pasok minyak dunia. Artinya terganggunya keamanan di perairan Teluk akan menghentikan aliran minyak dan logistik. Investasi global akan membeku karena setiap negara beralih ke mode bertahan (resource hoarding).

Selat Hormuz yang sudah mulai ditutup dan pembatasan kapal-kapal untuk melintas semakin memperparah krisis akibat perang ini.

Tadabbur Surat Ar-Rum

Menghadapi turbulensi global ini, Alquran sebenarnya telah memberikan fondasi epistemologi geopolitik yang sangat kokoh. Mari kita bertadabbur terkait asbabun nuzul surat Ar-Rum.

Surat ini diturunkan pada fase Makkiyah, masa di mana umat Islam masih sangat sedikit, lemah secara politik, belum memiliki kedaulatan teritorial, dan sehari-hari hidup di bawah intimidasi represif elit kafir Quraisy.

Di tengah himpitan masalah domestik yang begitu mencekik, Allah SWT justru menurunkan wahyu surat Ar-Rum yang menceritakan fluktuasi geopolitik dua negara adidaya saat itu: Imperium Romawi dan Persia.

Mengapa umat Islam yang sedang tertindas di Makkah harus diberikan wahyu tentang perang antara dua entitas raksasa di luar Jazirah Arab?

Di sinilah letak pendidikan peradaban (tarbiyah hadhariyah) Alquran. Allah SWT sedang menanamkan paradigma Outside-In. Ini adalah sebuah mukadimah visi untuk membangun peradaban Islam, bahwa kelak sejarah umat Islam akan bersinggungan langsung dengan sejarah kekuatan-kekuatan global tersebut.

Baca juga: Mungkinkah Perang di Iran tanpa Akhir?

Alquran memaksa umat Islam awal untuk keluar dari tempurung pemikiran lokal kabilah Quraisy dan mulai membangun wawasan internasional.

Pelajaran fundamental dari tadabbur surat Ar-Rum ini bermuara pada prinsip esensial keislaman: Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin (Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam).

Jika risalah ini ditujukan untuk semesta, maka secara logis, umat Islam harus memahami konstelasi semesta itu sendiri. Pertemuan sejarah antara Islam, Romawi, dan Persia di masa lalu yang diawali dengan diplomasi surat-menyurat oleh Rasulullah adalah bukti nyata bahwa literasi geopolitik menjadi prasyarat bagi tegaknya peradaban Islam.

Dengan kata lain, kita tidak bisa menebarkan rahmat kepada dunia jika kita tidak memahami bagaimana dunia itu beroperasi.

Baca juga: 8 Dusta Amerika Serikat dalam Perang Iran

Ironisnya, saat ini, banyak elemen dan gerakan Islam di Indonesia yang masih terjebak dalam cara kerja Inside-Out. Kita sangat fasih membicarakan seperangkat idealisme dan teks suci di ruang-ruang internal (Iqra’ qauliyah), namun abai dan gagap dalam membaca realitas lingkungan global yang ada di luar kita (Iqra’ kauniyah).

Kita sibuk merumuskan solusi untuk dunia, tanpa pernah benar-benar membaca kondisi aktual dunia yang akan menjadi visi kita dalam membangun peradaban.

Gejolak yang terjadi di Timur Tengah menyadarkan umat Islam untuk berpikir lebih global. Alquran sejak awal diturunkan mengajarkan umat Islam berpikir besar dan lebih peduli dengan permasalahan keumatan di seluruh pelosok dunia. Tidak asyik dengan masalah-masalah domestik dan lokal.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.