Lewati ke konten utama
Rabu, 1 Juli 2026 / 15 Muharam 1448 H
Jadwal memuat...
Opini

Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq

5 menit baca 2.544 dibaca
Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I

Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah

Diunggah: Admin Admin Editor: Admin
Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq
Foto: Pinterest
Bagikan:

Jakarta, MUI Digital — Pernahkah kita merenungkan mengapa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW justru berbicara tentang membaca dan proses penciptaan manusia?

Dalam ayat pertama surat Al-‘Alaq, Allah secara sengaja “mengintroduksi” diri-Nya melalui atribut “Al-Khalaq” (Sang Maha Pencipta) sebagai sebuah pernyataan eksistensial yang fundamental.

Pemilihan sifat Al-Khalaq ini merupakan sebuah imperatif teologis untuk menegaskan kedaulatan mutlak-Nya atas seluruh alam semesta. Meski banyak nama-nama lain dalam Asma’ul Husna seperti Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki), Al-Qadir (Maha Kuasa), Al-Bashir (Maha Melihat) dan lainnya, penekanan pada sifat Al-Khalaq berfungsi sebagai instrumen meniadakan segala bentuk tandingan Tuhan.

Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban

Ini adalah sebuah penegasan bahwa kelayakan untuk disembah hanya berhak disandang oleh Dzat yang mampu mewujudkan eksistensi dari ketiadaan.

Manusia diajak untuk melakukan lompatan kesadaran: bahwa segala sandaran hidup, otoritas, dan ketergantungan harus bermuara hanya kepada Allah, karena selain Allah hanyalah entitas yang diciptakan (makhluq) dan tidak memiliki daya cipta sedikit pun.

Kemudian, kita beralih pada ayat kedua: “Khalaqal insaana min ‘alaq” yang artinya: “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Pada ayat kedua surat Al-‘Alaq ini, Allah melakukan spesifikasi penciptaan dengan mengangkat manusia sebagai “prototipe” utama dari seluruh ciptaan-Nya.

Muncul sebuah diskursus mendasar: mengapa di tengah kemegahan makrokosmos seperti galaksi, pegunungan yang kokoh, langit tanpa atap, lautan luas hingga entitas gaib seperti malaikat dan jin, Allah justru memilih manusia sebagai titik tekan dalam wahyu pertama ini?

Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam

Pemilihan manusia bukanlah sebuah kebetulan puitis, melainkan sebuah pendidikan tauhid. Allah ingin menegaskan bahwa manusia adalah subjek sentral dalam dialektika peradaban.

Saat Allah memperkenalkan diri sebagai Pencipta manusia (Khalaqal Insan), Allah sedang membangun kesadaran eksistensial pada diri manusia: bahwa ilmu pengetahuan, kemampuan membaca (Iqra’), dan kekuasaannya di bumi hanya akan bermakna jika manusia mengenali jati dirinya sebagai makhluk yang diciptakan.

Spesifikasi penciptaan manusia ini berfungsi murni untuk meruntuhkan kesombongan intelektual dan kekuasaan. Betapapun hebatnya manusia menyingkap rahasia langit dan bumi, ia tetaplah entitas sebagai makhluq yang bermula dari kerendahan biologis yang sangat bergantung pada Al-Khaliq.

Pandangan ini sangat sejalan dengan penafsiran Prof M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah. Beliau menggarisbawahi bahwa kata ‘alaq tidak sekadar dipahami secara biologis sebagai “segumpal darah”, tetapi akar bahasanya berarti “sesuatu yang bergantung atau melekat”. Diksi ini menyiratkan pesan sosiologis dan teologis yang kuat bahwa manusia tidak akan pernah bisa mandiri secara absolut.

Fitrah manusia adalah bergantung, baik bergantung secara spiritual kepada Sang Pencipta, maupun bergantung secara sosial kepada sesama manusia di lingkungannya.

Baca juga: Tadabbur Surat Ar-Rum dalam Membaca Gejolak Geopolitik

Dalam perspektif ma’rifatunnas (pengenalan terhadap hakikat manusia), pemahaman mengenai jati diri kita berpijak pada proses kausalitas biologis dan hakikat penciptaan teologis. Meskipun secara empiris manusia lahir melalui perantara (wasilah) kedua orang tua, namun secara hakiki, eksistensi manusia merupakan hasil langsung dari tindakan kreatif Allah Maha Pencipta.

Pengakuan akan hakikat penciptaan ini menjadi fondasi bagi pembangunan karakter yang rendah hati (tawadhu’) sekaligus merdeka, karena ia menyadari bahwa kemuliaan dirinya tidak bersumber dari silsilah makhluk, melainkan dari hembusan ruh dan mandat yang diberikan oleh Penciptanya.

Dalam ayat ini, Allah memilih diksi ‘alaq (segumpal darah yang menggantung/melekat) sebagai titik mula asal-usul manusia. Hal ini mengandung inspirasi filosofis yang mendalam mengenai hakikat ketergantungan mutlak sebagai makhluk kepada Sang Khaliq.

Allah secara sengaja tidak menyebut “tanah” dan “nuthfah” dalam ayat ini, melainkan ‘alaq untuk menegaskan bahwa karakter dasar manusia adalah “sesuatu yang bergantung”.

Ketergantungan manusia bukan hanya secara sosial, tetapi sejak dalam kandungan hingga kelak di akhirat. Saat di alam rahim, manusia memiliki ketergantungan biologis total pada asupan dan perlindungan Allah melalui perantara ibu.

Saat di alam dunia, ada ketergantungan pada oksigen, rezeki, dan petunjuk hidayah-Nya. Di alam kubur dan akhirat, ada ketergantungan mutlak pada rahmat Allah sebagai satu-satunya kunci keselamatan, karena sejatinya amal pun tidak akan mampu membeli surga tanpa rahmat-Nya.

Senada dengan hal tersebut, Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar juga memaparkan bahwa manusia memang diciptakan untuk memimpin dunia dengan akal dan ilmu pengetahuannya. Namun, peringatan bahwa kita berasal dari sekumpulan benda beku yang melekat di dinding rahim bertujuan untuk menjaga agar kita tidak lupa diri.

Kemuliaan derajat yang kita sandang hari ini semata-mata adalah karena limpahan kemurahan dari Allah yang telah mengangkat “benda kecil” tersebut menjadi sosok yang utuh. Oleh karenanya, tidak ada sedikit pun celah bagi akal dan ilmu pengetahuan untuk melahirkan sifat sombong.

Penegasan mengenai bahan baku “al-‘alaq” yang secara kasatmata hina dan berbau ini berfungsi sebagai instrumen untuk mengikis bibit kesombongan (kibr) dan keangkuhan intelektual, status sosial, kedudukan dan jabatan.

Secara historis dan sosiologis, akar kesombongan diidentifikasi sebagai hulu dari keruntuhan peradaban; ketika manusia merasa angkuh dan melupakan hakikat ketergantungannya kepada Allah, maka tatanan nilai mulai mengalami pembusukan.

Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran

Lebih jauh lagi, ayat kedua ini juga menjadi sebuah penegasan kemerdekaan manusia dari segala jenis perbudakan makhluk menuju penghambaan mutlak kepada Allah.

Sejak awal Islam datang, telah menentang bentuk diskriminasi ras atau berbagai hal yang terkait dengan sentimen SARA. Seluruh entitas kemanusiaan, apa pun warna kulit, suku, dan asal-usulnya, berada pada derajat kemanusiaan yang setara.

Implikasi sosiologisnya adalah lahirnya peradaban egaliter yang menolak segala bentuk stratifikasi sosial semu dan superioritas antarmanusia.

Di sisi lain, ayat kedua dalam surat Al-‘Alaq ini juga menghilangkan rasa inferior atau minder dari orang-orang yang merasa termarginalkan karena status sosial. Ayat ini mengangkat rasa percaya diri dan keberanian, karena yakin bahwa semua manusia asalnya sama yaitu ‘alaq.

Maka wajar jika sosok seperti Bilal bin Rabah, Amar bin Yasir bersama keluarga setelah beriman memiliki keberanian dan percaya diri luar biasa.

Pada akhirnya, sebuah peradaban yang kokoh mensyaratkan internalisasi nilai ketauhidan ini ke dalam struktur pemahaman sekaligus kesadaran ma’rifatullah (mengenal Allah) dan ma’rifatunnas (mengenal manusia).

Kesadaran inilah yang kelak akan menjadi episentrum tertanamnya tauhid yang kuat dan tumbuhnya moral yang mulia di tengah masyarakat.

Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.