Menemukan Jati Diri Manusia Melalui Surat Al-‘Alaq
Oleh: Dr Paryadi Abdul Ghofar, M.S.I
Anggota Komisi Pendidikan dan Kaderisasi MUI/Dosen STIS Hidayatullah
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Pernahkah kita merenungkan mengapa wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW justru berbicara tentang membaca dan proses penciptaan manusia?
Dalam ayat
pertama surat Al-‘Alaq, Allah secara sengaja “mengintroduksi” diri-Nya
melalui atribut “Al-Khalaq” (Sang Maha Pencipta) sebagai sebuah
pernyataan eksistensial yang fundamental.
Pemilihan sifat Al-Khalaq ini merupakan sebuah imperatif teologis untuk menegaskan kedaulatan mutlak-Nya atas seluruh alam semesta. Meski banyak nama-nama lain dalam Asma’ul Husna seperti Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki), Al-Qadir (Maha Kuasa), Al-Bashir (Maha Melihat) dan lainnya, penekanan pada sifat Al-Khalaq berfungsi sebagai instrumen meniadakan segala bentuk tandingan Tuhan.
Baca juga: Epistemologi Al-‘Alaq sebagai Fondasi Peradaban
Ini adalah sebuah
penegasan bahwa kelayakan untuk disembah hanya berhak disandang oleh Dzat yang
mampu mewujudkan eksistensi dari ketiadaan.
Manusia diajak
untuk melakukan lompatan kesadaran: bahwa segala sandaran hidup, otoritas, dan
ketergantungan harus bermuara hanya kepada Allah, karena selain Allah hanyalah
entitas yang diciptakan (makhluq) dan tidak memiliki daya cipta sedikit
pun.
Kemudian, kita
beralih pada ayat kedua: “Khalaqal insaana min ‘alaq” yang artinya: “Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Pada ayat kedua surat Al-‘Alaq
ini, Allah melakukan spesifikasi penciptaan dengan mengangkat manusia sebagai “prototipe”
utama dari seluruh ciptaan-Nya.
Muncul sebuah diskursus mendasar: mengapa di tengah kemegahan makrokosmos seperti galaksi, pegunungan yang kokoh, langit tanpa atap, lautan luas hingga entitas gaib seperti malaikat dan jin, Allah justru memilih manusia sebagai titik tekan dalam wahyu pertama ini?
Baca juga: Sistematika Wahyu sebagai “Manhaj” Membangun Peradaban Islam
Pemilihan manusia
bukanlah sebuah kebetulan puitis, melainkan sebuah pendidikan tauhid. Allah
ingin menegaskan bahwa manusia adalah subjek sentral dalam dialektika
peradaban.
Saat Allah
memperkenalkan diri sebagai Pencipta manusia (Khalaqal Insan), Allah
sedang membangun kesadaran eksistensial pada diri manusia: bahwa ilmu
pengetahuan, kemampuan membaca (Iqra’), dan kekuasaannya di bumi hanya
akan bermakna jika manusia mengenali jati dirinya sebagai makhluk yang
diciptakan.
Spesifikasi
penciptaan manusia ini berfungsi murni untuk meruntuhkan kesombongan
intelektual dan kekuasaan. Betapapun hebatnya manusia menyingkap rahasia langit
dan bumi, ia tetaplah entitas sebagai makhluq yang bermula dari
kerendahan biologis yang sangat bergantung pada Al-Khaliq.
Pandangan ini
sangat sejalan dengan penafsiran Prof M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah.
Beliau menggarisbawahi bahwa kata ‘alaq tidak sekadar dipahami secara
biologis sebagai “segumpal darah”, tetapi akar bahasanya berarti “sesuatu yang
bergantung atau melekat”. Diksi ini menyiratkan pesan sosiologis dan teologis
yang kuat bahwa manusia tidak akan pernah bisa mandiri secara absolut.
Fitrah manusia adalah bergantung, baik bergantung secara spiritual kepada Sang Pencipta, maupun bergantung secara sosial kepada sesama manusia di lingkungannya.
Baca juga: Tadabbur Surat Ar-Rum dalam Membaca Gejolak Geopolitik
Dalam perspektif ma’rifatunnas
(pengenalan terhadap hakikat manusia), pemahaman mengenai jati diri kita
berpijak pada proses kausalitas biologis dan hakikat penciptaan teologis.
Meskipun secara empiris manusia lahir melalui perantara (wasilah) kedua
orang tua, namun secara hakiki, eksistensi manusia merupakan hasil langsung
dari tindakan kreatif Allah Maha Pencipta.
Pengakuan akan
hakikat penciptaan ini menjadi fondasi bagi pembangunan karakter yang rendah
hati (tawadhu’) sekaligus merdeka, karena ia menyadari bahwa kemuliaan
dirinya tidak bersumber dari silsilah makhluk, melainkan dari hembusan ruh dan
mandat yang diberikan oleh Penciptanya.
Dalam ayat ini,
Allah memilih diksi ‘alaq (segumpal darah yang menggantung/melekat)
sebagai titik mula asal-usul manusia. Hal ini mengandung inspirasi filosofis
yang mendalam mengenai hakikat ketergantungan mutlak sebagai makhluk kepada
Sang Khaliq.
Allah secara
sengaja tidak menyebut “tanah” dan “nuthfah” dalam ayat ini, melainkan ‘alaq
untuk menegaskan bahwa karakter dasar manusia adalah “sesuatu yang
bergantung”.
Ketergantungan manusia bukan hanya secara sosial, tetapi sejak dalam kandungan hingga kelak di akhirat. Saat di alam rahim, manusia memiliki ketergantungan biologis total pada asupan
dan perlindungan Allah melalui perantara ibu.
Saat di alam
dunia, ada ketergantungan pada oksigen, rezeki, dan petunjuk hidayah-Nya. Di
alam kubur dan akhirat, ada ketergantungan mutlak pada rahmat Allah sebagai
satu-satunya kunci keselamatan, karena sejatinya amal pun tidak akan mampu
membeli surga tanpa rahmat-Nya.
Senada dengan hal
tersebut, Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar juga memaparkan bahwa
manusia memang diciptakan untuk memimpin dunia dengan akal dan ilmu
pengetahuannya. Namun, peringatan bahwa kita berasal dari sekumpulan benda beku
yang melekat di dinding rahim bertujuan untuk menjaga agar kita tidak lupa
diri.
Kemuliaan derajat
yang kita sandang hari ini semata-mata adalah karena limpahan kemurahan dari
Allah yang telah mengangkat “benda kecil” tersebut menjadi sosok yang utuh.
Oleh karenanya, tidak ada sedikit pun celah bagi akal dan ilmu pengetahuan
untuk melahirkan sifat sombong.
Penegasan mengenai bahan baku “al-‘alaq” yang secara kasatmata hina dan berbau ini berfungsi sebagai instrumen untuk mengikis bibit kesombongan (kibr) dan keangkuhan intelektual, status sosial, kedudukan dan jabatan.
Secara historis dan sosiologis, akar kesombongan diidentifikasi sebagai hulu dari keruntuhan peradaban; ketika manusia merasa angkuh dan melupakan hakikat ketergantungannya kepada Allah, maka tatanan nilai mulai mengalami pembusukan.
Baca juga: Mengukur Masa Depan Peradaban dalam Literasi Alquran
Lebih jauh lagi,
ayat kedua ini juga menjadi sebuah penegasan kemerdekaan manusia dari segala
jenis perbudakan makhluk menuju penghambaan mutlak kepada Allah.
Sejak awal Islam
datang, telah menentang bentuk diskriminasi ras atau berbagai hal yang terkait
dengan sentimen SARA. Seluruh entitas kemanusiaan, apa pun warna kulit, suku, dan asal-usulnya, berada pada derajat kemanusiaan yang setara.
Implikasi
sosiologisnya adalah lahirnya peradaban egaliter yang menolak segala bentuk
stratifikasi sosial semu dan superioritas antarmanusia.
Di sisi lain,
ayat kedua dalam surat Al-‘Alaq ini juga menghilangkan rasa inferior atau
minder dari orang-orang yang merasa termarginalkan karena status sosial. Ayat
ini mengangkat rasa percaya diri dan keberanian, karena yakin bahwa semua
manusia asalnya sama yaitu ‘alaq.
Maka wajar jika
sosok seperti Bilal bin Rabah, Amar bin Yasir bersama keluarga setelah beriman
memiliki keberanian dan percaya diri luar biasa.
Pada akhirnya,
sebuah peradaban yang kokoh mensyaratkan internalisasi nilai ketauhidan ini ke
dalam struktur pemahaman sekaligus kesadaran ma’rifatullah (mengenal
Allah) dan ma’rifatunnas (mengenal manusia).
Kesadaran inilah yang kelak akan menjadi episentrum tertanamnya tauhid yang kuat dan tumbuhnya moral yang mulia di tengah masyarakat.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.