Doa yang Terlupakan di Tengah Krisis
Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Ada satu jenis kelelahan yang tidak tampak di wajah, tetapi terasa di kedalaman jiwa. Ia tidak membuat tubuh rebah, tetapi membuat hidup kehilangan arah (disorientasi eksistensial). Ia tidak selalu disadari, tetapi diam-diam merusak makna hidup. Itulah kelelahan hati.
Hari ini, manusia
modern hidup dalam kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi
berkembang, akses informasi melimpah, mobilitas semakin mudah. Namun, di balik semua itu, tersimpan ironi yang sulit disangkal, yaitu semakin maju dunia, semakin rapuh jiwa manusia.
Di tengah hiruk-pikuk media sosial, kompetisi hidup, dan tuntutan eksistensi, banyak manusia, termasuk kaum muslimin, mengalami kegelisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Baca juga: Antara Istiqamah dan Ketergantungan Hati
Generasi muda muslim
hari ini adalah generasi yang paling terkoneksi, tetapi sekaligus paling
kesepian. Mereka memiliki banyak teman di dunia digital, tetapi kehilangan
kedalaman relasi di dunia nyata.
Mereka memiliki banyak
pilihan, tetapi justru bingung menentukan arah. Mereka memiliki akses luas
terhadap ilmu, tetapi sering kehilangan hikmah. Inilah paradoks zaman.
Dalam situasi seperti
ini, sebuah doa sederhana yang sering terucap tanpa penghayatan sejatinya
menyimpan kedalaman makna yang luar biasa:
اللَّهُمَّ
إِنْ ضَعُفَتْ قُلُوبُنَا فَقَوِّهَا بِذِكْرِكَ، وَإِنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُنَا فَاغْسِلْهَا بِعَفْوِكَ، وَإِنْ ضَاقَتْ دُنْيَانَا فَوَسِّعْهَا
بِرَحْمَتِكَ. اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ
رِزْقٍ لَا تُغْلَقُ، وَفَرَجٍ
لَا يَتَأَخَّرُ، وَخَيْرٍ لَا يَنْقَطِعُ. اللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا اتَّسَعَتْ بِهِ رَحْمَتُكَ، وَإِذَا اسْتُثْقِلَتْ بِهِ الْهُمُومُ رَفَعْتَهَا عَنَّا بِلُطْفِكَ