RI-Saudi Komitmen Tekan Angka Kematian Jamaah Haji, Izin KKHI Dipermudah
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan MUI Digital, dari Makkah, Arab Saudi
Makkah, MUI Digital – Komitmen Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi dalam meningkatkan perlindungan kesehatan jamaah haji mulai menunjukkan hasil positif.
Kemudahan izin
operasional Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) disebut berhasil menekan
angka kesakitan hingga kematian jamaah secara signifikan pada musim haji 2026.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI,
Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan hal tersebut usai melakukan visitasi ke
fasilitas KKHI di Makkah serta memberikan pengarahan kepada ratusan tenaga
kesehatan haji.
Menurutnya, beroperasinya fasilitas klinik hingga tingkat sektor menjadi ujung tombak pelayanan darurat menjelang fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Hingga
kini, hampir 10 ribu jamaah telah mendapatkan penanganan medis akibat kelelahan
maupun risiko serangan panas (heatstroke).
Dahnil menjelaskan, kelancaran
operasional KKHI berdampak langsung pada percepatan intervensi medis terhadap
jamaah yang mengalami gangguan kesehatan. Hal itu dinilai menjadi faktor utama
turunnya angka kematian dibandingkan tahun sebelumnya.
“Secara statistik tahun ini akibat komitmen dari pemerintah Saudi Arabia dan kita, penurunannya signifikan. Kalau tahun lalu per tanggal ini sudah 120 orang yang meninggal, tapi tahun ini sampai dengan hari ini hanya sekitar 50 orang,” ujar Dahnil kepada Tim Media Center Haji.
Baca juga: Makanan Puncak Haji Bisa Jadi Oleh-oleh, Tahan hingga 18 Bulan
Meski demikian, pemerintah tetap
mengingatkan seluruh petugas dan jamaah agar mewaspadai peningkatan kasus
kesehatan menjelang fase Armuzna. Kemenhaj menyoroti fakta bahwa angka kematian
justru banyak terjadi pada jamaah usia produktif, bukan kelompok lanjut usia.
“Yang wafat itu kebanyakan justru
bukan lansia, yang wafat itu justru yang umur-umur 50-an atau 40-an. Karena
merasa sehat, kemudian memaksakan kegiatan, akhirnya tidak terasa tumbang,”
katanya.
Temuan tersebut, lanjut Dahnil, menegaskan bahwa indikator kelaikan berhaji tidak hanya ditentukan usia, tetapi juga kondisi kebugaran dan kesiapan fisik jamaah.
Dalam kesempatan itu, Wamenhaj
juga menyampaikan apresiasi kepada sekitar 1.600 dokter dan tenaga kesehatan
haji yang bertugas tahun ini. Dedikasi para petugas kesehatan dinilai menjadi
garda terdepan dalam menjaga keselamatan jamaah, terutama menjelang wukuf di
Arafah dan mabit di Mina.
Ia pun menginstruksikan seluruh tenaga kesehatan untuk menjaga stamina serta memperkuat strategi pelayanan jemput bola guna mencegah lonjakan angka kematian pada fase puncak ibadah haji.