Makanan Puncak Haji Bisa Jadi Oleh-oleh, Tahan hingga 18 Bulan
Sanib
Penulis
Admin
Editor
Laporan jurnalis MUI Digital, dari Makkah, Arab Saudi
Makkah, MUI Digital — Makanan siap santap atau ready to eat (RTE) yang dibagikan saat puncak haji aman disimpan hingga 18 bulan dan layak dijadikan oleh-oleh oleh jamaah haji Indonesia.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji Kemenhaj RI, Jaenal Effendi, mengatakan pemerintah menyiapkan sekitar 3,08 juta porsi makanan siap santap untuk mendukung kebutuhan konsumsi jamaah selama fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurut Jaenal, makanan tersebut kerap dibawa pulang oleh jamaah ke Indonesia karena dikemas rapat dan praktis disimpan di koper maupun tas.
Baca juga: 'Aku Cinta Indonesia' Kesan Petugas Bandara Jeddah Asal Pakistan Atas Kedermawanan Jamaah Haji
“Ini saking senangnya, kadang para jamaah membawa makanan siap santap saat puncak haji sebagai oleh-oleh pulang ke Indonesia,” ujar Jaenal di Makkah, Selasa (19/5/2026).
Ia memastikan makanan RTE tersebut aman dikonsumsi dalam jangka waktu lama karena telah diproduksi dan dikemas sesuai standar keamanan pangan.
“Daya tahannya ini 18 bulan. Kemarin juga sudah kita uji lagi di laboratorium dan masih sangat layak untuk dikonsumsi,” katanya.
Jaenal menjelaskan, makanan siap santap itu dapat langsung dimakan tanpa perlu dimasak atau dipanaskan terlebih dahulu sehingga memudahkan jamaah saat berada di tengah padatnya aktivitas puncak haji.
“Ini sudah bisa langsung dibuka dan dimakan. Tidak perlu dipanaskan,” ujarnya.
Selain praktis, kemasan makanan juga dirancang agar bisa langsung digunakan sebagai wadah makan.
Petugas pun akan memberikan edukasi kepada jamaah yang belum terbiasa mengonsumsi makanan RTE. Adapun menu yang disiapkan tetap mengusung cita rasa Nusantara, seperti nasi uduk, kari ayam, hingga rendang daging.
Jaenal menambahkan, makanan siap santap tersebut juga memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dengan minimal 50 persen bahan dalam paket berasal dari Indonesia.