Mengapa Rasulullah SAW Selalu Rindu Shalat?
Oleh: KH Khariri Makmun, Lc, DPL, M.A
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI/Pengasuh Pesantren Algebra, Bogor
Editor: Admin
Jakarta, MUI Digital — Selama berabad-abad, shalat dipahami terutama sebagai kewajiban spiritual dalam agama Islam. Namun, dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern, para ilmuwan mulai menemukan bahwa aktivitas ibadah seperti shalat ternyata memiliki pengaruh besar terhadap sistem saraf, kesehatan mental, stabilitas emosi, bahkan kondisi biologis tubuh manusia.
Apa yang dahulu dipahami sebagai
“ketenangan spiritual” kini perlahan dapat dijelaskan melalui pendekatan
psikologis, neurosains, dan ilmu kesehatan modern.
Dalam Islam, Rasulullah SAW
menjadikan shalat sebagai sumber ketenangan hidup. Beliau berkata: “Wahai
Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.” (HR Abu Dawud)
Kalimat ini menarik jika dikaji secara ilmiah. Mengapa shalat justru menjadi sarana istirahat psikologis? Mengapa manusia bisa merasa lebih tenang setelah shalat? Dan mengapa orang yang menjaga kualitas shalat cenderung memiliki daya tahan mental yang lebih baik? Ilmu pengetahuan modern mulai menemukan jawabannya.
Baca juga: Mengapa Allah Memanggil Manusia ke Baitullah?
Tubuh manusia memiliki dua sistem saraf
utama, yaitu sympathetic nervous system dan parasympathetic nervous
system.
Sistem saraf simpatik bekerja ketika
manusia mengalami stres, tekanan, ketakutan, atau kecemasan. Saat aktif, tubuh
memproduksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Detak jantung
meningkat, pikiran menjadi tegang, dan tubuh berada dalam mode “fight or
flight”.
Sebaliknya, sistem parasimpatik berfungsi
menenangkan tubuh, menurunkan tekanan mental, memperlambat denyut jantung, dan
memulihkan keseimbangan biologis.
Menariknya, aktivitas shalat yang dilakukan
dengan tenang, fokus, dan khusyuk memiliki efek kuat dalam mengaktifkan sistem
parasimpatik.
Gerakan teratur, pernapasan yang stabil,
bacaan yang repetitif, serta kondisi hening saat shalat membantu otak keluar
dari mode stres menuju mode relaksasi.
Karena itu, banyak orang merasa lebih ringan
setelah shalat, lebih tenang setelah sujud, dan lebih stabil emosinya setelah
berdzikir. Secara ilmiah, itu bukan sekadar sugesti, tetapi respons biologis
tubuh terhadap aktivitas spiritual.
Shalat dan Gelombang Otak
Dalam penelitian neurosains, otak manusia
menghasilkan beberapa jenis gelombang seperti beta, alpha, theta,
dan delta.
Gelombang beta dominan saat manusia
sibuk berpikir, cemas, atau stres. Sedangkan gelombang alpha dan theta
muncul ketika manusia berada dalam keadaan relaks, fokus mendalam, meditasi,
dan ketenangan batin.
Beberapa penelitian tentang meditasi dan aktivitas spiritual menunjukkan bahwa kondisi doa yang khusyuk mampu meningkatkan gelombang alpha dan theta dalam otak. Ini berkaitan dengan ketenangan mental, meningkatnya fokus, kestabilan emosi, dan menurunnya kecemasan.
Baca juga: Makna Filosofis Gerakan Ibadah Shalat
Dalam shalat, terutama ketika sujud dan
membaca ayat dengan penghayatan, manusia masuk ke kondisi konsentrasi mendalam
yang mirip dengan keadaan meditatif. Bedanya, dalam Islam kondisi ini tidak
hanya bersifat psikologis, tetapi juga spiritual karena terhubung dengan
kesadaran ketuhanan.
Karena itu, Alquran menyatakan: “Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Hari ini, ilmu saraf mulai menunjukkan
bahwa ketenangan tersebut memang memiliki dasar biologis dan neurologis.
Shalat juga unik karena menggabungkan
aktivitas mental dan gerakan fisik secara simultan. Setiap gerakan memiliki
dampak fisiologis, berdiri melatih keseimbangan tubuh, rukuk membantu
fleksibilitas tulang belakang, sujud meningkatkan aliran darah ke otak, sedangkan
duduk tahiyat membantu relaksasi otot dan persendian.
Dalam posisi sujud, kepala berada lebih rendah dari jantung sehingga suplai oksigen dan darah ke otak meningkat. Beberapa ahli kesehatan menyebut kondisi ini membantu relaksasi sistem saraf dan memperbaiki stabilitas emosi.
Baca juga: Uang adalah Energi, Perlu Cara dalam Mengalirkannya
Selain itu, pola gerakan shalat yang
dilakukan lima kali sehari menciptakan efek aktivitas fisik ringan yang
konsisten. Dalam ilmu kesehatan modern, aktivitas ringan yang rutin jauh lebih
baik dibanding aktivitas berat tetapi jarang dilakukan.
Artinya, shalat bukan hanya ibadah
spiritual, tetapi juga bentuk “mikro-olahraga” harian yang menjaga ritme tubuh
manusia.
Shalat dan Kesehatan Mental
Dunia modern mengalami krisis kesehatan
mental yang serius. Tingkat depresi, anxiety disorder, dan stres
meningkat hampir di seluruh dunia. Banyak manusia kehilangan kemampuan untuk
diam, tenang, dan terhubung dengan dirinya sendiri.
Shalat sebenarnya menyediakan mekanisme
psikologis yang sangat penting, jeda dari distraksi, refleksi diri, pelepasan
emosi, pengendalian pikiran dan rasa keterhubungan dengan sesuatu yang lebih
besar daripada diri sendiri.
Dalam psikologi modern, manusia membutuhkan rasa makna, rasa aman, rasa keterhubungan, harapan hidup. Shalat memenuhi keempat unsur tersebut sekaligus.
Baca juga: Isyarat Alquran dan Penjelasan Neurosains Modern tentang Ubun-Ubun sebagai Pusat Kebohongan
Ketika seseorang bersujud, ia tidak merasa
sendirian menghadapi hidup. Ada tempat mengadu, tempat meminta pertolongan, dan
tempat menyerahkan beban batin. Ini menciptakan efek psikologis yang sangat
kuat terhadap ketahanan mental manusia.
Karena itu, orang yang menjaga ibadah
biasanya lebih tahan menghadapi musibah, lebih stabil emosinya, tidak mudah putus asa, dan lebih mampu
mengendalikan stres.
Bukan karena hidup mereka tanpa masalah,
tetapi karena mereka memiliki sistem pemulihan batin yang terus bekerja.
Mengapa Rasulullah Merindukan Shalat?
Dari perspektif sains modern, kerinduan
Rasulullah SAW terhadap shalat sangat masuk akal. Nabi hidup dalam tekanan luar biasa, dihina, diperangi, kehilangan orang-orang tercinta, dan memikul tanggung jawab sosial besar.
Tetapi beliau tidak mencari pelarian melalui hiburan atau pelampiasan dunia. Beliau kembali kepada shalat. Karena shalat adalah mekanisme pemulihan total yang menenangkan sistem saraf, menstabilkan emosi, mengurangi stres, memperkuat makna hidup, dan membangun ketahanan psikologis.
Baca juga: Belajar dari Nabi Ibrahim dalam Menghadapi Gelombang Krisis Global
Dalam bahasa agama disebut ketenangan
ruhani. Dalam bahasa sains disebut regulasi neurologis dan psikologis. Namun, keduanya menunjuk pada realitas yang sama bahwa manusia membutuhkan hubungan
spiritual untuk tetap sehat secara mental dan emosional.
Mungkin ilmu pengetahuan modern baru mulai
memahami sebagian kecil manfaat shalat. Namun semakin banyak penelitian
menunjukkan bahwa praktik spiritual yang dilakukan secara sadar dan konsisten
memiliki dampak besar terhadap kesehatan manusia secara menyeluruh. Dan Islam
telah mengajarkan itu sejak lebih dari 14 abad lalu.
Karena itu, shalat seharusnya tidak dipahami hanya sebagai kewajiban agama yang menggugurkan dosa, tetapi sebagai kebutuhan biologis, psikologis, dan spiritual manusia. Sebab seiring dunia yang penuh tekanan dan kegelisahan, manusia tidak hanya membutuhkan makanan untuk tubuhnya, tetapi juga ketenangan untuk jiwanya.
Isi artikel tidak merepresentasikan suara redaksi serta merupakan opini sekaligus tanggungjawab penulis sepenuhnya.